Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
hubungan baru


__ADS_3

Hari ini Lia sungguh malas ingin membuka kafenya.


"Hallo Qila."ucap Lia.


"Hallo kak, ada apa?"tanya Qila.


"Kau tidak perlu datang hari ini, kafe tidak buka. Istirahatlah hari ini."ucap Lia


"Benarkah, baiklah kalau begitu."ucap Qila.


"Hhhmm."ucap Lia lalu mematikan sambungan telpon itu.


Lia kembali menidurkan dirinya di kasur empuk itu, kenapa dia begitu malas hari ini untuk melakukan sesuatu.


"Sudah jam 10, dan perkerjaan ku hanya tidur-tiduran saja."gumam Lia.


"Mikael sedang apa ya?"gumamnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering dengan ceoat Lia meraih ponselnya dan melihat nama si penelpon.


"Ayah..."


"Hallo ayah."ucap Lia.


"Hy putri ku, kau sedang apa?


"Hanya santai-santai saja ayah, Lia hari ini malas membuka Kafe."jawab Lia.


"Kenapa seperti itu? Apa kau sakit?"tanya Hiro.


"Tidak yah, Lia baik-baik saja."


"Baiklah kalau begitu, ayah ingin mengajak mu makan malam. Apa kau mau?"tanya Hiro.


"Kapan?"tanya Lia.


"Hari ini jam 8 nanti di restoran X apa kau bisa datang?"tanya Hiro.


"tentu ayah Lia akan datang."jawab Lia terseyum senang.


"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu jam 8 sayang."


"Sampai bertemu ayah, aku sayang ayah."ucap Lia terseyum.


"Ayah juga."balas ayahnya lalu sambungan telpon itu terputus.


"Hah....aku sudah lama tidak berkumpul dengan mereka, kabar ibu bagaimana ya."gumam Lia.


Semenjak hari itu, Lia tidak pernah mendengar kabar ibunya lagi. Padahal Lia sudah mencarinya kemana pun tapi tidak menemukan ibunya. Lia menghelakan nafasnya.


Tok tok.


Lia menolah kearah pintu lalu beranjak. "Tunggu sebentar."ucap Lia melangkah menuju pintu.


Saat membuka pintu itu Lia terkejud melihat sebuah buket bunga ukuran besar dihatapannya.


"Si...siapa?"tanya Lia seseorang memunculkan kepalanya dari balik buket itu.


"Ini untuk mu."ucap orang itu Lia terdiam.

__ADS_1


"Tapi...ini untuk apa? Aku pikir kau marah pada ku."ucap Lia menerima buket itu Mikael terseyum lalu mendekat kearahnya, memeluk Lia erat.


"Aku paham perasaan mu, maafkan aku yang tidak berani berucap."ucap Mikael Lia hanya diam dilepasnya perlukan itu.


"Lia, sebagai bukti keseriusan ku. Apa kau ingin menjadi kekasih ku, walau hanya kekasih setidaknya aku memberi mu sebuah hubungan yang pantas antara kita. Aku tidak ingin kau ragu tentang ku."ucap Mikael Lia diam menatapnya.


"Aku tau kau belum bisa memaafkan dan menerima ku sepenuhnya, tapi setidaknya kita bisa menjalin hubungan ini dulu, agar aku bisa membuktikan kalau aku serius tentang semua ini."ucap Mikael menatap Lia lekat.


"Jadi apa kau mau jadi kekasih ku?"tanya Mikael.


Lia diam, sambil mengelrucutkan bibirnya sambil berpikir. "Uuummm wajah mu tidak menyakinkan."ucap Lia.


"Ooohhh ayo lah, aku sudah serius pada mu. Aku tidak mau kita bertengkar lagi karena masalah hubungan ini. Aku tau, aku pasti takut jika aku hanya mempermainkan mu. Tapi sungguh sayang aku sangat mencintai mu, aku menunggu siap untuk semua ini kare...."ucap Mikael terhenti karena Lia menciumnya.


Lia melepas ciuman itu lalu terseyum. "Ya aku mau."ucap Lia membuat bibir Mikael melengkung sempurna.


Dipeluknya wanita itu erat. "Terimakasih."ucap Mikael.


"Tidak perlu berterimakasih, kita jalani saja dulu hubungan ini. Maafkan aku yang sempat meragukan mu."ucap Lia membenamkan wajahnya didada Mikael


"Tidak masalah sayang, setidaknya sekarang kau mau bersama ku."ucap Mikael mencium kening Lia


......


Mereka menghabiskan waktu bersama duduk berdua di sofa empuk itu, Lia bersandar pada Mikael dan pria itu memeluknya dari belakang.


"Nanti malam apa kau ada acara?"tanya Mikael.


"Uuumm ayah mengajak ku makan malam di restoran, kenapa?"tanya Lia mengakat kepalanya melihat wajah Mikael yang berada diatas kepalanya.


"Tidak papa, aku hanya ingin mengajak mu jalan."ucap Mikael mencium kening Lia.


"Iya sayang."ucap Mikael memeluk Lia erat.


"Mikael boleh aku bertanya 1 hal?"tanya Lia.


"Banyak hal pun tidak papa."jawab Mikael. Lia menyingkir dari depan Mikael dan duduk disamping pria itu.


"Jawab jujur, apa kau dan Dimas memiliki hubungan yang baik?"tanya Lia.


"Pertanyaan itu ya"ucap Mikael.


"Apa kau tidak ingin menjawabnya, baiklah tidak apa. Aku akan..."


"Tidak...aku dan Dimas tidak seperti saudara."ucap Mikael menghentikan ucapan Lia.


"Dimas selalu berusaha mencari perhatian dari ayah dan ibu, dia selalu ingin dilihat maka dari itu dia pada ku yang memiliki kesuksesan ku sendiri. Dimas ingin seperti itu, tapi dia tidak bisa. Ayah yang selalu memanjakannya, memberikan apa pun yang Dimas mau tanpa berpikir bahwa Dimas perlu berkembang dengan sendirinya."ucap Mikael menatap Lia.


"Aku bukan tidak menyayangi Dimas, aku sayang padanya karena aku mengerti bagaimana perasaannya."lanjut Mikael.


"Karena masalah itu Dimas selalu ingin menjadi diri mu?"tanya Lia.


"Iya....dia ingin seperti ku, memiliki apa pun yang ku mau dengan usaha ku sendiri. Bahkan aku membiarkan ibu ku lebih perhatian padanya dari pada aku, aku juga tidak meminta mereka memperhatikan ku. Tapi....jujur aku juga ingin mendapatkan perhatian dari mereka, tapi aku sadar Dimas lebih membutuhkannya."ucap Mikael tangan lembut itu mengelus pipinya.


"Kau bisa mendapatkan perhatian dari ku."ucap Lia Mikael terseyum.


"Karena itu aku tidak mau kehilangan mu."ucap Mikael.


"Kesadaran ku sangat lambat ya, sadar akan pentingnya diri mu dihidup ku dan sadar betapa berartinya kau di hati ku."ucap Mikael Lia terseyum lalu mendekat memeluknya.

__ADS_1


"Jangan sedih lagi, aku akan selalu di samping mu."ucap Lia Mikael membalas pelukannya.


"Terimakasih sayang, aku mencintai mu."ucap Mikael Lia terkekeh.


"Apa yang tertawakan?"tanya Mikael.


"Apa kau lapar, suara perut mu terdengar tadi."ucap Lia.


"Benarkah? Aku memang belum makan dari pagi tadi, karena aku ingin cepat menemui mu."ucap Mikael.


"Baiklah, aku akan memasakan makanan untuk mu."ucap Lia beranjak dari duduknya tapi Mikael menahan tanganya.


"Kau belum membalas ucapan ku tadi."ucap Mikael.


"Yang mana?"


"Aku mencintai mu, apa kau tidak ingin membalasnya?"tanya Mikael.


"Uuummm entah."jawab Lia lalu pergi kedapur.


"Baiklah aku akan menunggu kau untuk membalasnya."ucap Mikael menyusul Lia.


"Tunggu saja sampai kau tua."ucap Lia terkekeh.


"Ya aku akan menunggunya sampau tua, karena aku akan menua bersama mu."ucap Mikael memeluk Lia dari belakang.


Lia terseyum dan mengelus tangan Mikael. "Kenapa tuan muda Mikael yang dikenal dinginnya bisa jadi seperti ini?"tanya Lia Mikael terseyum dan mencium pipi Lia.


"Itu semua karena mu, kau yang berhasil merubah ku seperti ini."jawab Mikael Lia terseyum dan membalas ciuman di pipi Mikael.


"Aku juga mencintai mu."batin Lia.


Mereka melanjutkan kegiatan memasak mereka, Mikael sesekali menjahili Lia membuat wanita itu kesal.


"Kau ini hanya mengganggu ku."ucap Lia memukul tangan Mikael.


"Aku menjahili mu sayang."ucap Mikael lalu mencium pipi Lia dalam dan menggigitnya.


"Akh akh...sakit Mikael."ucap Lia mengusap pipinya.


"Aaaa sakit...awas kau ya."ucap Lia siap memukul pria itu tapi Mikael lebih dulu kabur.


"Jangan lari kau tuan muda."ucap Lia mengejar Mikael.


"Tangkap aku jika kau bisa"ucap Mikael belari dari Lia.


"Awas kau ya aku akan membalas mu."ucap Lia mengejar Mikael.


Saat melewati meja makan tidak mengaja kaki Lia tersandung dengan kaki meja, Mikael yang melihat itu langsung dengan cepat menangkap Lia membuat mereka jatuh di atas lantai begitu saja.


Lia yang berada di atas Mikael menatap pria itu lekat. Mikael terseyum dan memutar posisi mereka.


Lia terdiam mematung. Tangan Mikael bergerak merapikan anak rambut Lia.


"Kau canti sekali."ucap Mikael Lia hanya diam menatap mata Mikael.


"Dan aku sangat mencintai mu."lanjut Mikael lalu mencium bibir Lia.


Lia perlahan memejamkan matanya dan membalas ciuman itu, mikael terseyum dibalik ciumannya dan semakin memperdalam ciuman itu.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat kejadian itu. "Aku akan memisahkan kalian bagaimana pun caranya."gumam orang itu lalu pergi begitu saja.


__ADS_2