
"SAYANG..."teriak Mikael memenuhi rumah itu.
"Tuan ada apa?"tanya Hang yang keluar dari ruang kerja.
"Aku tidak menemukan istri ku, aku sudah mencarinya kesemua penjuru rumah tapi tidak satu pun ada istri ku."ucap Mikael gusar sudah 1 jam Mikael mencari tapi tidak menemukan istrinya.
"Aku akan membantu tuan mencarinya."ucap Hang Mikael mengangguk.
Mereka berpencar mencari Lia sedangkan didalam gudang wanita itu masih tertidur pulas.
"Kau menemukannya?"tanya Mikael.
"Tidak tuan, di taman belakang dan tempat lain tidak ada."jawab Hang.
"Aku sudah mencari di setiap tempat rumah ini, tapi tidak menemukan istri ku. Dimana dia sebenarnya bersembunyi?"ucap Mikael.
"Tuan tenanglah, mungkin saja nona ada di tempat yang tertutup tapi kita tidak melihatnya."ucap Hang
"Akkhhh bodoh...di mana kau bersembunyi sayang."teriak Mikael marah.
"Cika."teriak Mikael.
"Iy..iya tuan."ucap Cika berlari mendekati mereka.
"Kau melihat istri ku dimana?"tanya Mikael Cika menggeleng.
"Saya tidak ada melihatnya tuan dari tadi siang, saya pikir tuan dan nona sudah selesai bermainnya dan sedang istirahat dikamar."jawab Cika.
"Sayang...kau dimana."ucap Mikael mengacak rambutnya kasar.
"Cari sekali lagi, kalian harus temukan istri ku."teriak Mikael.
"Baik tuan."balas mereka.
Didalam gudang, Lia perlahan terbangun karena suara ribut itu. "Kenapa Mikael berteriak?" gumamnya sambil mengucek mata.
"Aaaah aku lapar sekali, apa dia belum menemukan ku."gumam Lia.
Lalu beranjak dari duduknya melangkah menuju pintu, dan tidak sengaja kakinya tersandung tumbukan kerdus berisikan barang berat membuatnya terjatuh.
"Akhh.."teriak Lia kepalanya terbentur sudut meja..
"Sakit..." Lia merasakan ada yang mengalir dikeningnya, diusapnya pelan keningnya dan melihat ada bercak darah.
"Da...darah...aku terluka."ucap Lia lalu menyentuh keningnya.
"Akh.."
Diluar ruang Mikael melewati gudang itu dan mendengar suara didalam gudang itu. "Apa Lia didalam."gumam Mikael mendekati pintu itu dan mengetuknya.
"Sayang.."panggil Mikael.
"Sayangg..."balas Lia membuat Mikael panik.
__ADS_1
"Sayang apa yang kau lakukan didalam? Buka pintunya."
"Tidak bisa....sakit..."ucap Lia semakin membuat Mikael panik.
"Apa yang sakit...sayang buka pintunya."ucap Mikael berusaha membuka pintu itu tapi tidak bisa bahkan tidak ada kunci yang terpasang.
"Hiks...sayang sakit..."ucap Lia kepalanya terasa berat.
"Bertahanlah sayang...aishhh..." Mikael mendobrak pintu itu.
Hang yang mendengar Mikael berteriak langsung mendekatinya. "Tuan."
"Istri ku ada didalam, cepat bantu aku."ucap Mikael.
"Apa?" Hang dengan cepat membantu Mikael mendobrak pintu itu.
Lia sudah tidak tahan kepalanya sudah terasa berat bahkan perutnya keram. "Sa...sayang..." Lia jatuh pingsan dan bertepatan pintu yang terbuka.
"LIA..."
Mikael dengam cepat mendekati istrinya dan melihat darah keluar dari kening Lia.
"Sayang buka mata mu, sayang....LIA.."teriak Mikael.
"Tuan sebaiknya kita bawa nona kedokter saja."ucap Hang..
"Cepat kau siapkan mobil."ucap Mikael Hang dengan cepat berlari keluar dari gudang.
Mikael mengangkat tubuh Lia dan membawanya keluar. Cika yang melihat itu terkejud.
"Tidak ada waktu aku harus membawa istri ku kerumah sakit."ucap Mikael melangkah pergi.
"Ya ampun, semoga nona baik-baik saja."gumam Cika lalu matanya menatap pintu gudang yang terbuka.
"Apa tuan menemukan nona Lia didalam gudang."mata Cika membulat.
"Apa aku...aku yang mengunci nona Lia."gumam Cika menutup mulutnya dengan tangan.
"Apa yang kau lakukan Cika, nona Lia terluka oleh mu."
☆☆☆☆
"HANG CEPATLAH."teriak Mikael.
"Tenanglah tuan, kita tidak bisa lebih laju itu akan membahayakan nyawa kita."balas Hang.
"Akh..sial...sayang...buka mata mu, sayang hy tatap aku buka mata mu sayang. Lia buka mata mu jangan membuat ku khawatir."ucap Mikael sambil menepuk pipi Lia.
"Sakit..."ucap Lia.
"Sayang....dimana sakitnya?"tanya Mikael tangan Lia menyentuh perutnya.
"Sakit..."
__ADS_1
Mikael semakin panik apa terjadi sesuatu pada anaknya. "Ku mohon bertahanlah sayang, kita akan membawa mu kerumah sakit."ucap Mikael.
Sesampainya di rumah sakit, Mikael langsung keluar dari mobil dan membawa Lia.
"Dokter..."teriak Mikael.
Beberapa suster langsung datang dan membawakan ranjang dorong untuk Lia. Para suster itu mendorong ranjang itu menuju ruang periksa.
"Tuan tunggulah di luar."ucap salah satu suter.
"Aku ingin melihat istri ku."ucap Mikael.
"Tidak bisa tuan, kau harus menunggu di luar."ucap suster itu lalu menutup pintu.
"Tuan tenanglah, nona Lia pasti baik-baik saja."ucap Hang.
"Bagaimana aku bisa tenang Hang, istri ku terluka dan dia bilang perutnya sakit, bisa saja anak ku kenapa-kenapa."ucap Mikael marah.
"Iya tuan, saya tau. Tapi setidaknya tuan bisa tenang, sekarang nona sedang di tangani dan kita berdoa saja semoga nona dan bayinya baik-baik saja."ucap Hang Mikael menghelakan nafasnya kasar.
Siapa yang mengunci gudang itu, pelayan di rumahnya hanya satu orang yang bertanggung jawab memegang kunci rumah.
"Cika..."
"Apa tuan?"
"Pasti Cika yang mengunci istri ku didalam gudang itu."ucap Mikael.
"Tuan, kenapa anda bicara seperti itu? Bisa saja itu tidak sengaja terkunci dari dalam."ucap Hang.
"Bagaimana mungkin terkunci dari dalam jika istri ku saja tidak bisa membukanya hah? Apa kau berusaha membela pelayan itu. Dasar pelayan tidak tau diri, beraninya dia."ucap Mikael tanganya terkepal kuat.
"Tidak tuan, saya tidak berusaha memebelanya. Saya hanya meminta tuan untuk bersabar dulu,kita bisa melihat cctv apa yang terjadi sebenarnya. Jangan langsung menuduh seperti itu."ucap Hang.
"Cihhh...bilang saja kau ingin membelanya agar tidak kena marah bukan?. Wanita siala itu akan mendapatkan hukumannya."ucap Mikael.
Hang menghelakan nafasnya Mikael tidak bisa mendenderkan pendapat siapa pun sekarang, Hang harus mencari tau kebenarannya terlebih dahulu.
Tidak beberapa lama dokter keluar dari ruang periksa itu.
"Anda suaminya tuan?"tanya dokter itu.
"Iya dok, bagaimana keadaan istri saya?"tanya Mikael.
"Tenang saja, istri anda baik-baik saja. Luka dikeningnya hanya robekan kecil kami sudah membersihkan lukanya dan untuk janinya baik-baik saja anda tidak perlu khawatir. Rasa keram itu syok karena benturan itu, benturannya tidak membahayakan nyawa janinnya."jelas dokter.
Mikael bernafas lega. "Terimakasih dok, apa saya bisa menemui istri saya?"tanya Mikael.
"Tentu saja, silahkan."ucap dokter itu lalu pamit pergi.
Mikael memasuki ruang itu sedangkan Hang hanya menunggu diluar. "Cika tidak mungkin sengaja mengunci nona dalam gudang itu."gumam Hang lalu dia meraih ponselnya.
"Hallo Ji, bisa kau kirimkan aku rekaman cctv yang berada diruang belakang tempat gudang?"
__ADS_1
"Baiklah aku tunggu, terimakasih."ucap Hang lalu telpon itu terputus.
Ji adalah penjaga di rumah Mikael atau lebih tepatnya anak buah Mikael dan Hang adalah pemimpin dari kelompok itu