
Disebuah apartemen terlihat seorang pria sedang bersiap dengan baju kantornya. Lau pria itu melangkah keluar dari kamar.
"Kau mau kemana?"tanya seorang wanita.
"Kekantor kau pikir aku pengangguran, aku hanya meminjam kamar mu sehari saja."jawab pria itu.
"Jika kau bukan pengangguran dan memiliki perusaha yang besar seharusnya kau memiliki tempat tinggal sendiri."balas wanita itu si pria menghelakan nafasnya sambil terseyum miring.
"Kau menyindiri ku?"tanya pria itu.
"Tidak, tapi apa yang aku bilang betul bukan."balas wanita itu.
"Cih....berisik seklai mulut mu itu."ucap pria itu ingin melangkah pergi.
"Kau tidak bisa seperti itu terus Dimas, kau harus jadi diri mu sendiri. Kau tidak bisa meminta apa pun harus sesuai dengan kehendak mu, kau tidak bisa memaksakan apa yang bukan milik muharus jadi milik mu. Itu bukan keinginan tapi itu serakah."ucap Tasyah langkah Dimas terhenti.
"Kau tidak perlu mengajari ku, mengerti apa kau tentang masalah ku."ucap Dimas.
"Cinta, kasih sayang dan kekayaan. Kau tidak bisa memilikinya sescara bersamaan, kau harus berjuang untuk mendapatkannya."ucap Tasyah.
"Tutup mulut mu itu."ucap Dimas menatap Tasyah tajam.
"Kenapa? Apa kau tersinggung?. Bagus kalau begitu, satu hal Dimas. Hentikan."ucap Tasyah.
"Siapa kau ini sebenarnya hah? Apa kau pikir kau bisa mengajari ku dengan kata-kata mu itu? Apa kau pikir kau merasa hebat dengan apa yang sudah kau lakukan itu tanpa bantuan orang tua mu?"
"Ya dan aku bangga, aku berhasil dengan jerih payah ku sendiri. Walau toko kecil tapi itu hasil keringat ku sendiri."balas Tasyah Dimas mendekatinya dan mencekram wajah wanita itu, membuat Tasyah meringis.
"Kau siapa-siapa ku, JADI BERHENTI DENGAN OMONG KOSONG MU ITU."teriak Dimas menghempas wajah itu.
Tasyah mengusap pipinya. "Kenapa aku bisa mencintai pria kasar seperti mu."ucap Tasyah.
"Apa?"
"Ku mohon hentikan Dimas, Lia bukan untuk mu dia milik orang lain. Kau tidak bisa mendapatkannya."ucap Tasyah.
"KAU....AKHHH....pasti kakek tua itu yang memberitahu mu kan? Atau kau ini suruhannya?"tanya Dimas Tasyah terseyum.
"Bukan, aku bukan suruhannya. Aku teman mu, yang tidak kau anggap sama sekali, aku cinta yang tidak pernah kau anggap ada. Aku mencintai mu Dimas."ucap Tasyah.
"Cihh omong kosong apa lagi ini, aku menyesal ikut pergi bersama mu."ucap Dimas lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Tasyah dengan cepat berlari dan memeluk Dimas dari belakang. "Ku mohon, cintai aku Dimas. Aku sangat tulus mencintai mu."ucap Tasyah Dimas berusaha melepas pelukan itu.
"Hentikan Tasyah. Hentikan omong kosong mu itu, bagi ku wanita yang ku cintai itu hanya satu, ya itu Lia."ucap Dimas melepas pelukan itu keras lalu pergi begitu saja.
"DIMAS...."teriak Tasyah wanita itu menangis.
"Aku tidak akan menyerah, aku akan membuat mu jatuh cinta pada ku."gumam Tasyah.
(#)(#)(#)(#)
"Baaa." Lia terdiam Mikael tidak ada disini.
"Dimana dia bersembunyi."gumam Lia lalu melangkah pergi dari raung kerja itu.
Para pelayan yang melihat hanya berusaha menahan seyum, ada apa dengan suami istri itu. Mereka sedang bermain petak umpet dan sekarang giliran Mikael yang bersembunyi.
"Sayangg....dimana kau? Aku akan menemukan mu."ucap Lia terus melangkah.
Saat melewati ruangan olah raga dibukanya pintu itu dan hanya melihat Hang yang sedang berlari di tretmill.
"Hhhmmm dimana suami ku ini, Hang apa kau melihat suami ku?"tanya Lia pria itu hanya melambai tanda dia tidak melihatnya.
"Cihhh sok keren sekali pria ini."gumam Lia lalu pergi dan munutup pintu itu keras membuat Hang terkejud.
Buk..
"Jika bukan apa?"tanya Mikael yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Tu...tuan muda."ucap Hang bahkan membuat larinya tidak seimbang dan terjatuh.
"Akhh....akhh aduhh pantat ku."ucap Hang.
"Cihh lemah."ucap Mikael lalu pergi begitu saja.
"Apa katanya tadi, aishhh....aahhh kenapa dua orang itu menjengkelkan sekali."gumam Hang kesal.
Mikael diam-diam keluar dari ruang olahraga itu dan melihat sekitar. "Aman."gumam Mikael lalu perlahan keluar.
Belum jauh melangkah Mikael sudah dikejutkan dengan tepukan dibahunya.
"Mau kemana tuan muda, kau ketahuan."ucap Lia sambil melipat tangan di dada menatap Mikael dengan satu alis terangkat.
__ADS_1
"Haha...ketahuan ya."ucap Mikael menggaruk tekuknya yang tidak gatal.
"Kau kalah, aku sudah menang 2 kali dan kau baru 1 kali, kau payah sekali tuan muda."ucap Lia Hang yang baru keluar mendengar kalimat itu membuatnya menahan tawa.
"Payah..hahahaha."tawa Hang lepas membuat Lia dan Mikael menatapnya.
"Apa yang kau tertawakan?"tanya Mikael kesal.
"Tuan payah...hahahaha.."ucap Hang sambil melangkah pergi.
"Yak apa kau bilang tadi, kesini kau dasar lemah."teriak Mikael.
"Aishhh anak itu ingin ku pukul."ucap Mikael berniat menyusul Hang tapi Lia menahanya.
"Jangan marah padanya,kau memang payah dalam permainan ini. Sekarang giliran ku bersembunyi. Cepat tutup mata mu."ucap Lia mendorong Mikael menghadap dinding.
"Tapi sayang..."
"Tidak ada tapi-tapian, sekarang tutup mata mu dengan tangan dan merapatlah pada dinding itu lalu hitung 1 sampai 10 dan setelah itu baru kau cari aku mengerti. Tidak boleh curang kalau kau curang lagi maka kau kalah 3 kali, kita sudah sepakat apa hukumannya bagi yang kalah bukan?" Mikael mengangguk pasrah.
"Pintar, sekarang tutup mata mu."ucap Lia Mikael mulai menutup matanya dan wanita itu pergi bersembunyi.
"Satu......dua.....tiga...empat....." Mikael terus berhitung sedangkan Lia pergi kesebuah ruangan untuk tempat bersembunyinya.
"Enam....tujuh....delapan...sembilan....sepuluh.....sudah, sayang aku datang."ucap Mikael mulai mencari keberadaan Lia.
Cika yang saat itu lewat didepan ruangan tempat Lia bersembunyi heran melihat pintu gudang itu terbuka.
"Bukan kah aku sudah menguncinya."gumam Cika lalu mengunci pintu itu.
Didalam ruangan itu Lia tidak sadar jika ruangan itu sudah terkunci, dia duduk dibalik lemari besi lama yang disimpan digudang itu.
"Kenapa dia lama sekali mencari ku, aaaah membuat ku mengantuk saja."gumam Lia lalu menyandarkan tubuhnya dilemari besi itu dan tertidur.
Sedangkan diluar Mikael sudah melewati pintu itu tapi melihatnya tertutup rapat dia pergi begitu saja.
"Sayang..."panggil Mikael.
"Aishh aku memang payah, tidak mungkin dia menyahut jika sedang bersembunyi."gumam Mikael melanjutkan percariannya.
"Aku kali ini harus menang dari mu, lihat saja. Kau yang pasti mendapatkan hukumannya sayang."gumam Mikael lalu pergi kelantai dua.
__ADS_1
Pria itu terus mencari, tanpa sadar bahwa istrinya terkunci didalam gudang itu dengan penerangan yang remang.