
Orang-orang itu menunggu dengan khawatir, apa yang terjadi dengan Lia.
Mikael bahkan tidak bisa diam, dia dari tadi hanya memutar seperti setrikaan didepan pintu kamar itu.
"Tuan tenanglah, nona Lia pasti baik-baik saja."ucap Hang.
"Bagaimana aku bisa tenang Hang, istri ku seperti itu apa kau pikir aku bisa tenang."ucap Mikael marah.
Mereka semua terdiam, Mikael tidak bisa diganggu sekarang. Saat pintu itu terbuka baru Mikael bisa berhenti.
"Apa yang terjadi dengan istri ku?"tanya Mikael cepat.
"Tidak sabaran sekali."batin Hang. (Sepertinya pria ini memiliki dendam pribada pada tuanya-author ๐๐)
"Tuan tenang saja, hal ini wajar terjadi."ucap Dokter itu.
"Wajar bagaimana, istri ku sampai pingsan seperti itu kau bilang wajar."teriak Mikael.
"Tuan tenang lah."ucap Hang menahan Mikael.
"Maaf tuan muda, saya belum menyelesaikan ucapan saya. Maksud saya hal itu wajah, saat nona Lia sedang mengandung. Wanita akan merasa mual dan moodnya akan berubah-ubah."ucap dokter itu membuat mereka terdiam.
"Apa? Istri....istri ku hamil?"tanya Mikael dokter itu terseyum.
"Iya kehamilan nona Lia masih sangat muda, sebaikanya besok nona Lia melakukan pemeriksaan saja. Nanti akan saya buatkan jam periksanya."ucap dokter itu.
"Baiklah dokter terimakasih."ucap Mikael lalu pergi masuk kedalam kamar.
"Terimakasih dokter."ucap Hang.
"Iya sama-sama, saya permisi."ucap dokter cantik itu lalu pergi dari rumah itu.
Semua orang dirumah itu merasa senang dengan kabar itu. "Jadi mood nona yang selama 1 minggu ini hancur karena nona hami, rumah ini akan meriah karena kehadirannya."ucap Tata.
"Iya kau benar, kita harus siapkan makanan yang sehat untuk nona dan bersihkan rumah ini jangan sampai ada debu. Kita harus jaga kesehatan nona Lia."ucap Cika bahagia lalu mereka pergi dari depan kamar itu.
Didalam kamar, Mikael terus menatap wajah istrinya. "Sayang...aku bingung ingin berkata apa. Aku sangat bahagia."ucap Mikael lalu mengelus perut Lia.
"Terimakasih sayang."ucap Mikael mencium kening Lia lembut.
"Tuan..."panggil Hang.
"Aku tidak tau jika mood istri ku karena kehamilannya, sungguh Hang aku sangat bahagia mendengarnya."ucap Mikael Hang terseyum.
"Iya tuan saya pun sangat bahagia mendengarnya, tapi bagaimana dengan keluarga tuan dan nona. Mereka juga harus tahu kabar ini."ucap Hang Mikael terdiam.
"Kau benar, ibu dan ayah harus tau. Tapi bagaimana? Kita bisa saja menelpon mereka, tapi aku takut Dimas akan mengetahuinya."ucap Mikael.
"Apa sebaiknya kita rahasiakan saja untuk sementara tuan, sampai semua benar-benar aman."saran Hang.
"Ya kau benar, untuk sementara ini kita harus merahasiakannya. Demi menjaga keaman istri ku."ucap Mikael lalu kembali menatap wajah Lia.
"Istirahatlah bidadari ku."ucap Mikael menyelimuti Lia lalu mereka pergi dari kamar itu.
__ADS_1
....
Dikota berbeda. Pria itu terus berusaha mencari keberadaan wanita yang dia cintai.
"Kau dimana Lia, kemana pria itu membawa mu."ucap Dimas menatap foto Lia.
"Kau tau aku sangat merindukan mu Lia."ucap Dimas.
โกโกโกโกโกโก
Mata itu perlahan terbuka, dilihatnya sekitar kamar.
"Sayang.."panggil Lia. Sepertinya pria itu tidak berada dikamar.
Lia turun dari ranjang itu dan melangkah menuju pintu, saat membuka pintu itu Lia terkejud melihat Mikael juga berdiri didepan pintu dan terseyum padanya.
"kau sudah bangun hhmm? Kau ingin sesuatu?"tanya Mikael mengelus pipi Lia.
Wanita itu menggeleng. "Aku mencari mu."ucap Lia.
"Aku tadi ruang kerja, saat aku merasa kau sudah bangun jadi aku kekamar ternyata benar kau sudah bangun."ucap Mikael Lia mendekat dan memeluk pria itu.
Mikael terseyum lalu membalas pelukan itu. "Kenapa hmm? Kau ingin apa sayana?"tanya Mikael.
"Aku lapar."ucap Lia pelan.
"Lapar, ya sudah ayo kita makan."ajak Mikael lalu membawa Lia pergi.
"Sore."balas Lia tapi dia merasa aneh, kenapa dengan dua pria ini terus terseyum padanya.
Mereka sampai di ruang makan para pelayan yang ada didapur langsung terseyum melihat Lia.
"Selamat sore nona, nona ingin makan apa?"tanya Cika.
"Uumm aku ingin yang pedas-pedas."jawab Lia.
"Tidak...kau tidak boleh makan yang pedas-pedas."ucap Mikael.
"Tapi kenapa?"tanya Lia.
"Karena tidak baik untuk dia sayang."jawab Mikael mengusap perut Lia membuat wanita itu menyerit bingung.
"Maksudnya?"tanya Lia bingung.
Mikael terseyum lalu memeluk Lia. "Dia ada diperut mu sayang, tuhan memberikannya pada kita."ucap Mikael membuat Lia terdiam.
"Maksud mu, aku hamil?"tanya Lai Mikael mengangguk lalu mencium keningnya.
"Iya kau hamil sayang." Lia langsung memeluk Mikael erat.
"Aku akan menjadi ibu."ucap Lia menangis.
"Dan aku akan jadi ayah."ucap Mikael.
__ADS_1
Mereka yang lain terharu melihat pemandangan itu.
"Aku akan terus menjaga mu, tidak akan ku biarkan kita kehilangnya lagi."ucap Mikael Lia mengangguk.
"Aku mencintai mu."ucap Lia.
"Aku lebih mencintai mu."balas Mikael.
"Oh ayolah tuan nona, hargai yang masih sendiri disini."ucap Hang.
Lia tertawa dan melepas pelukannya. "Makanya cari Hang, jangan sendiri terus."ucap Lia.
"Dia itu akan sulit mendapatkan pasangan sayang karena sikapnya yang seperti itu membuat wanita malas mendekatinya."ucap Mikael.
"Memangnya kenapa dengan sikapnya?"tanya Lia heran.
"Dia terlalu kaku dan dingin, dan dia gampang sekali mengomel seperti wanita, yang lebih parahnya dia ini lebih cerewet dari mu."ucap Mikael membuat wajah Hang berubah masam.
Lia hanya menahan tawa. "Tidak papa Hang kau tetap tampan, pasti banyak wanita yang menyukai mu. Bukan begitu Cika?"tanya Lia membuat wanita itu terdiam.
"Ah...i..iya nona."jawan Cika gugub Lia hanya terseyum.
"Kau ini jahil sekali."ucap Mikael mencium pipinya.
Hang memutar matanya malas. "Terus tuan, lanjutkan, tingkatkan, pertahankan tuan, tunjukan keromantisan kalian di depan ku. Ingin sekali rasanya ku hancurkan wajah mu itu tuan."batin Hang kesal.
"Tidak perlu menyumpah Hang, aku tau isi hati mu."ucap Mikael membaut Hang terdiam.
"Sudah-sudah jangan mengganggunya, Cika ayo kita masak."ucap Lia berniat pergi tapi Mikael menarik tangan Lia membuat wanita itu terjatuh bersandar ditubuh Mikael.
"Kau tidak boleh melakukan perkerjaan rumah apa pun perkerjaannya, sudah banyak pelayan di rumah ini. Mereka bisa mengerjakannya sendiri."ucap Mikael.
"Tuan benar nona, kami yang akan melakukannya seterusnya. Nona tidak perlu membantu kami."ucap Cika.
"Tapi aku ingin masak sendiri..."ucap Lia.
"Tidak boleh."ucap Mikael Lia menghentakan kakinya membuat mereka tertegun.
"Aku akan masak sendiri, atau aku tidak akan makan sama sekali."ucap Lia menatap Mikael tajam.
"Oo...ohh iya terserah kau saja."ucap Mikael mengalihkan wajahnya dari Lia.
Ibu hamil itu galak sekali. Lia terseyum senang lalu pergi kedapur. Mikael ingin menahanya tapi terlambat.
"Ahhh sudahlah dari pada dia marah lagi pada ku."ucap Mikael.
"Tenang saja tuan, ada pelayan yang akan membantu nona jadi nona tidak akan kelelahan."ucap Hang.
"Ya kau benar, ya sudahlah."balas Mikael lalu pergi menuju ruan santai.
"Tuan mau kemana?"tanya Hang.
"Bersantai, kau mau ikut nonton bersama ku. Aku tau kau pasti stres karena perkerja itu, ayo kita nonton film saja."ajak Mikael Hang terseyum senang lalu menyusul tuannya keruang santai yang terdapat Tv layar lebar tapi berukuran sedang.
__ADS_1