Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
bertemu


__ADS_3

"Kakak, Qila pulang dulu. Ini sudah jam 10 dan kafe sepertinya sudah sepi."ucap Qila pada Lia yang membersihkan meja.


"Iya Qila, hati-hati."ucap Lia terseyum pada Qila.


Wanita itu melangkah menuju pintu dan keluar. Lia masih sibuk merapikan meja dan kursi.


"Semua sudah rapi, saatnya membuah sampah."gumam Lia lalu melangkah menuju dapur.


Diambilnya sampah-sampah itu dan dimasukanya dalam kantong sampah hitam dan menyeretnya keluar.


"Pelanggan hari ini banyak sekali, membuat ku harus berjuang membuang sampah sebanyak ini."gumam Lia lalu keluar kafe dengan sampah-sampah itu dan menyeretnya ketong sampah besar.


Ada seorang wanita yang lewat dan menatap Lia takut. "Apa yang kau tatap?"tanya Lia.


"Apa kau habis membunuh seseorang?"tanya wanita itu.


"Yakk apa buta, ini sampah."ucap Lia menumpahkan isi kantong plastik itu.


"Oh maafkan aku, aku hanya bertanya saja. Habisnya kau membawanya dengan menyeretnya seperti orang keberatan saja."ucap Wanita itu lalu melangkah pergi.


"Aiisshhh....kenapa orang-orang sekarang tidak punya hati. Begitu mudahnya menuduh seseorang yang tidak melakukan apa pun."ucap Lia kesal.


Lia berbalik dan melangkah menuju kafenya saat sudah sampai langkah Lia terhenti. Matanya menatap seorang pria yang berdiri menatap kafenya lalu berbalik melohat kearahnya.


Pria itu terseyum padanya. Lia terdiam mematung.


"Lia...aku.."


"Pergi."ucap Lia berniat melangkah masuk tapi pria itu menahannya.


"Lia ku mohon, aku ingin bicara pada mu."


"Pergi...tidak ada yang perlu kita bicarakan. Pergilah Miakel, aku tidak mau orang-orang bicara yang tidak-tidak melihat mu berada disini."ucap Lia berusaha melepas genggaman itu.


"Kau begitu takut saat aku yang datang kemari, tapi Dimas selalu datang kesini dan kau tidak merasa takut. Padahal sudah jelas dia anak kandung dari tuan Sanjaya."balas Miakel.


"Pergilah Mikael...."ucap Lia melepas genggaman itu dan melangkah menuju pintu kafe.


"Aku sudah mengetahui semuanya."ucap Miakel membuat Lia terdiam.


"Aku sudah mengetahui semuanya dan aku sudah mengingat semuanya. Lia....maafkan aku, ku mohon maafkan aku. Aku menyesal ku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya."pinta Mikael melangkah mendekati Lia.


"Lia..." wanita itu menolah padanya.


"Aku mencintai mu."ucap Mikael membuat Lia terdiam mematung.


"Ku mohon, kembalilah pada mu. Aku sangat merindukan mu, kau pikir selama 1 tahun ini aku bisa tenang tanpa mu? Tidak Lia, aku hancur tanpa mu. Aku tidak ada sehari pun tidak merindukan mu dan aku sadar bahwa aku sangat mencintai mu, tidak bukan dari 1 tahun ini saja. Tapi aku mencintai mu sebelum malam itu terjadi dan aku sadar bahwa aku sangat mencintai mu Lia. Kau ingat aku pulang dalam keadaan mabuk itu semua karena aku marah pada diri ku sendiri, kenapa aku tidak bisa menjaga mu dengan benar dan marah karena Dimas berada disamping mu."ucap Mikael Lia masih menunduk tanpa sadar air matanya mengalir.


"Aku sudah mengingatnya, dan asal kau tau aku senang mengingat hal itu. Tapi bodohnya aku, aku kembali menyakiti perasaan mu, dan karena  kajadian itu kita kehilangan buah hati kita. Lia aku mohon maafkan aku. Berikan aku waktu untuk memperbaikinya."ucap Miakel lirih Lia memejamkan matany.


"Pulanglah Miakel...inj sudah malam."ucap Lia berniat masuk tapi Mikael menahanya.


"Lia ku mohon beri aku kesempatan memperbaiki semuanya. Aku mohon.."ucap Mikael menggenggam tangan Lia.

__ADS_1


"Pergilah Miakel, kau tidak perlu memperbaikinya. Aku sudah mengikhlaskan semuanya."ucap Lia.


"Tidak Lia...aku mohon beri aku kesempatan."ucap Mikael menatap Lia lekat.


Wanita itu mentapnya. "Apa kau tuli, aku biilang pulang Mikael, dan lupakan semuanya. Kita tidak bisa bersam lahi seperti dulu."ucap Lia melepas genggaman itu dan melangkah masuk mengunci pintu itu.


"Lia aku akan terus berusaha sampai kau memaafkan ku.....Lia aku sungguh sangat mencintai mu...Lia..."teriak Mikael.


Lia bersandar dibali tembok dapur, air matanya mengalir deras. "Aku juga mencintai mu."gumam Lia dia merosot terduduk dilantai itu.


Tapi hatinya masih belum siap untuk kembali, luka sebelumnya yang telah Mikael buat belum sembuh sepenuhnya.


Mikael terduduk ditangga depan pintu kafe itu. "Sampai kapan ku, aku akan terus berusaha sampai kau memaafkan ku."gumam Miakel.


|○|○|○|○|○|○|


Pagi harinya Lia merasa sedikit tidak enak badan mungkin dia kecapean. Lia beranjak dari kasurnya dan melangkah menuju jendela membuka jendela itu membiarkan sinar matahari pagi masuk kedalam kamarnya.


"Hah....selamat pagi."gumam Lia menatap pemandangan luas itu.


Dddrrrttt


Ponselnya bergetar.


"Hallo Qila.."


"Kak apa kafe buka hari ini?"tanya Qila.


"Kakak sebenarnya sedang tidak enak badan, tapi kita akan tetap buka."jawab Lia.


"Tapi kenapa?"


"Siapa yang tidur didepan kafe kakak?"tanya Qila membuat Lia tertegun.


"Apa? Kakak turun sekarang."ucap Lia.


Dia melangkah keluar ruamahnya dan menuruni tangga saat sampai dibawah matanya sudah melihat seorang pria yang tertidur didepan pintu kafenya.


Lia menatap pria itu. "Kenapa kau nekat tidur disini, kau akan sakit nanti."batin Lia.


"Qila bangunkan dia."ucap Lia.


Qila mendekati pria itu. "Tuan...permisi."ucap Qila mengoyangan tubuh pria itu.


Lia menatap wajah pria itu. "Lebih keras menggoyangkannya."ucap Lia.


"TUAN.." teriak Qila membuat Lia tertegun dan pria itu terbangun.


"Ohh tuan muda Mikael."ucap Qila bersembunyi dibelakang Lia.


"Aaahhh...aku ketiduran disini ya?"tanya Mikael mengucek matanya.


"Qila buka pintu kafenya."ucap Lia memberikan kunci kafe pada Qila.

__ADS_1


Mereka memang membuka kafe dari pagi tapi itu hanya untuk menyiapkan semuanya, setelah itu jam 1 siang baru mereka benar-benar membukanya.


"Mikael pulanglah.."ucap Lia.


"Kau ini jahat sekali, mengusir ku dari tadi malam. Aku ingin minum kopi."ucap Mikael.


"Kau pulang lah dan buat kopi mu sendiri."ucap Lia melangkah pergi menuju tangga.


Mikael mentapnya lalu mengikuti Lia membuat wanit itu heran..


"Aku bilang pulang kenapa kau mengikuti ku?"tanya Lia kesal.


"Kenapa kau marah pagi-pagi begini. Sudah aku bilang aku ingin kopi. Diatas rumah mukan, aku akan membuat kopi."ucap Mikael lalu melangkah mendahului Lia.


Lia melongo. "Apa-apaan pria itu. Yakkk tuan muda jangan masuk rumah ku."teriak Lia menyusul Mikael.


Qila mentap dua orang itu heran. "Mantan suami istri yang aneh."gumam Qila lalu melanjutkan kegiatannya.


Mikael masuk kedalam rumah itu dan melihat isinya, semua tertata rapi dan bersih. "Wah istri ku ini memang hebat, dia bersihan sekali."ucap Mikael lalu merebahkan dirinya dikasur lia.


"Aaahhh nyaman sekali."ucap Mikael Lia menatapnya.


"Mikael keluar lah...kenapa kau malah tidur disini."ucap Lia.


"Ssssstttt aku mengantuk biarkan aku tidur dulu."ucap Mikael mengayunkan tanganya.


"Aiiisshhh...Mikael keluar."ucap Lia menarik tangan pria itu.


"Keluar, kenapa kau malah tidur ditempat tidur ku."ucap Lia masih berusaha membangunkan mikael tapi pria itu tidak bergeming sama sekali.


"Mikael cepat keluar sebelum aku marah."ucap Lia berkacak pinggang Mikael membuka matanya satu dan terseyum melihat tingkah Lia.


"Kau menggemaskan seperti itu."ucap Mikael kembali memejamkan matanya.


Lia mengusap wajahnya. "Sekarang keluar..sebelum aku menyeret mu dari rumah ku."ucap Lia Mikael mengulurkan tangannya.


"Lakukan saja."ucap Mikael Lia menatapnya tajam.


"Baiklah."ucap Lia menarik tangan Mikael.


Bukan pria itu yang tertarik tapi dirinya yang ditarik, Mikael menjatuhkannya dikasur itu dan memeluknya.


"Mi...Mikael." Lia terlihat gugun setelah sekian lama akhirnya Lia merasakan pelukan itu lagi.


"Hhhmmm? Apa sayang?"tanya Mikael membuat Lia terdiam.


Jantungnya berdegub kencang, mikael membuka matanya menatap Lia yang hanya diam. Mikael meyandarkan kepalanya dengan satu tangan agar kepalanya lebih tinghi dari Lia.


"Kenapa?"tanya Miakel wanita itu meliriknya lalu menatap jearah lain.


Mikael terseyum, pria itu kembali memeluknya menarik kepala Lia dalam pelukannya. "Aku merindukan mu."ucap Mikael.


Lia terdiam hati bergerumuh. "Aku juga."batin Lia dia meremas kemeja Mikael.

__ADS_1


Pria itu semakin erat memeluknya. "Aku mencintai mu."ucap Mikael.


Perlahan tangan Lia membalas pelukan itu membuat bibir Mikael melengkuh. Mikael memeluk tubuh itu erat sambil mengelus kepala itu pelan. Nyaman itulah yang mereka rasakan.


__ADS_2