
Sesampainya di rumah pria itu terus menarik Lia membawanya kelantai atas.Mikael menarik tangan Lia sampai mereka memasuki kamar. Lia terlempar saat Mikael melepas genggamannya itu membuatnya terduduk di tepian ranjang.
"Kau sepertinya tidak memahami perjanjian yang ku buat, bodoh."ucap Mikael
"Apa kau tidak bisa berpikir. Aku berusaha bersikap baik pada mu bukan berarti kau bebas begitu saja bertemu dengan pria lain di luar sana."ucap Mikael
"Kau salah paham tuan, aku tidak ada niatan untuk bertemu dengan Dimas. Saat di kafe tadi Dimas yang lebih dulu menegur ku, aku hanya bertemu dengan tasyah." ucap Lia
"Cih kau pikir aku bodoh hah? Saat aku pulang Cika menjelaskan jika Dimas mencari mu dan ingin bertemu tapi kau sudah lebih dulu pergi sebelum Dimas datang dan apa yang aku liat tadi kau dan Dimas bertemu bukan."ucap Mikael Lia menggeleng.
"Kau salah paham tuan, sungguh kami tidak memiliki janji untuk bertemu."ucap Lia dia sudah mengatakan hal jujur apa pria itu tidak bisa percaya padanya.
Mikael mendekat padanya dan menyentuh kedua bahunya dan meremasnya membuat Lia kesakitan.
"Tuan..."
"Jika aku sudah membuat peraturan seharusnya kau menurutinya. APA KAU PAHAM." Lia meringis sakit remasan itu begitu kuat.
"Iya...iya aku paham."ucap Lia Mikael mendorong wanita itu begitu saja.
"Wanita murahan."ucap Mikael membuat Lia terdiam.
Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Lia yang terdiam. Benar bukan dugaannya tuan muda itu tidak mungkin baik padanya.
"Tidak ada yang bisa kau percaya Lia, setiap manusia memiliki sisi sifat yang berbeda dimana pun dia berada atau dalam keadaan apa pun. Cih...kau tertipu oleh dua muka."gumam Lia.
>■<>■<>■<>■<>■<
Sore harinya Lia sedang menyiram bunga-bunga yang ada dihalaman belakang.
"Nona biar saya saja yang melakukannya."ucap Cika kepala pelayan disana.
"Tidak Cika biar aku saja, kau buatkan makan malam saja agar tuan muda tidak menunggu lama setelah selesai berkerja."ucap Lia terseyum.
__ADS_1
"Baik nona."balas Cika lalu pergi dari sana.
Lia terus memperhatikan bunga-bunga itu. "Kalau sangat beruntung, kalian tumbuh karena dapat perahatian dari manusia, aku ingin menjadi bunga."ucap Lia.
"Kau menganggap bunga itu beruntung karena dapat perhatian, tapi kau tidak memikirkan bagaimana rasanya mereka saat diambil bunganya dan dipatahkan oleh manusia."ucap Mikael yang berada dibelakangnya.
Lia hanya diam dan terus melanjutkan kegiatannya menyiram bunga.
"Percuma kau menyiram mereka terus-terumasan, mereka tidak akan mengucapkan terimakasih pada mu."
"Tuan saja yang tidak tau, sebenarnya mereka mengucapkan terimakasih setiap kali ada yang menyiram mereka, dengan memberikan keindahan dari bunga yang dimekarkan."balas Lia.
"Itu artinya kau ingin menjadi bunga untuk mengucapkan terimakasih pada seseorang yang telah menyakitimu begitu, kau hidup penuh dengan kesengsaraan. Hidup dengan seorang ibu yang tidak menganggap mu dan menjual mu hanya untuk mendapatkan harta...cihh kau seperti wanita murahan saja."ucap Mikael tangan Lia terkepal kuat.
"Kenapa diam kau tidak ingin membalas ucapan ku?"tanya Mikael.
"Tidak ada pentingnya membalas ucapan mu tuan."balas Lia pria itu mendekat dan menarik bahu Lia keras membuat wanita itu meringis.
Apa dia begitu hina dimata orang sampai semua orang membencinya. Apa dirinya selama ini sudah berbuat salah sampai semua orang menatapnya sebelah mata.
"Tuan, makan malam telah siap."ucap Cika.
"Sebagai hukuman mu karena kejadian tadi siang, kau tidak ku ijinkan makan sampai besok pagi. Jika kau melanggarnya lagi maka aku tidak akan segan-segan mengurung mu dikamar bawah tanah."ucap Mikael lalu pergi begitu saja.
Lia menjatuhkan alat penyiram itu begitu saja. "Kenapa kau tidak membunuh ku saja dari pada kau menghukum ku dengan tidak memberikan ku makan, bukan kah jika membunuh ku, wanita murahan ini tidak lagi mengganggu mu."ucap Lia menghentikan langkah Mikael.
"Kau ingin cepat mati rupanya, baiklah. Akan aku kabulkan keinginan mu tapi aku lebih suka menyiksa mu itu lebih menyenangkan."ucap Mikael lalu melanjutkan langkahnya.
Tangan Lia terkepal kuat bahkan kuku jarinya sampai memutih. Tangannya memukul dadanya keras tapi kenapa air matanya tidak keluar.
"Apa kau sudah kering disana, kenapa kau tidak pernah keluar dari mata ku. Apa semua itu masih belum cukup menyiksa mu Lia."ucap Lia bibirnya sampai bergetar menahan amarahnya tapi kenapa mata itu enggan menangis.
"Mau sampai kapan kau menyiksa diri mu sendiri."lanjut Lia terduduk dilantai begitu saja.
__ADS_1
"Aku capek."
sampai kapan dia akan terus merasakan siksaan itu dari orang, Lia tidak sanggup lagi menahannya.
Dibalik tembok pria itu berdiri menunggu wanita itu menangis. "Mau sampai kapan dia menahanya, apa perkataan ku belum menyakitkan sampai dia tidak menangis mendengar ucapan ku."gumam Mikael.
"Tunjukan diri mu kalau kau lemah Lia, jangan menahannya."batin Mikael lalu pria itu pergi dari tempat itu.
.....
Sesuai dengan perkataan tuan muda Lia sama sekali tidak makan, wanita itu hanya diam didalam kamar. Bukankah pria itu memintanya menuruti peraturan yang dibuat pria itu.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampilnya seorang pria tinggi dan gagah masuk kedalam kamar itu dengan sebuah nampan ditanganya.
"Ini makanlah."ucap Mikael Lia menatapnya.
"Jangan menatap ku seperti itu, jika kau mati kelaparan aku yang repot mengurus pemakaman mu lagi. Aku tidak mau mengeluarkan uang pemakaman hanya untuk wanita seperti mu."ucap Mikael Lia masih diam.
"Lalu untuk apa makanan itu, jika aku mati tidak ada urusannya dengan mu."batin Lia.
"Kau ini keras kepala sekali ya."ucap Mikael lalu meletakan nampan itu dimeja.
"Makan itu atau kau akan ku kurung dikamar ini selama 1 bulan tanpa makan."ucap Mikael Lia hanya diam menatapnya.
"Wahhh kau menguji kesabaran ku, ooohh apa kau ingin aku menyuapi mu begitu? jangan harap, aku tidak pernah sudi menyuapi wanita seperti mu."ucap Mikael.
"Aku pun tidak memintanya."batin Lia.
"Sudahlah terserah kau saja. Jika kau mati pun tidak ada urusannya dengan ku."ucap Mikael lalu keluar dari itu.
Lia masih diam menatap pintu itu. "Untuk apa kau repot mengantar makanan itu hanya untuk menghina ku, aku sudah kenyang hanya mendengarkan hinaan dari mu."ucap Lia lalu pergi ke kamar mandi dia butuh air dingin untuk mendinginkan otaknya.
Mikael kembali membuka pintu itu. "Kenapa sulit sekali untuk membuat mu menangis, aku ingin melihat kau menangis, hanya itu."gumam Mikael lalu kembali menutup pintu kamar itu dan pergi kekamarnya.
__ADS_1