Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
sebuah kenyataan


__ADS_3

Mikael terus menatap istrinya. "Sayang..."panggil Mikael mengelus pipi Lia lembut.


Perlahan mata itu terbuka, pandangan pertama yang dia lihat adalah atap putih di ruangan itu. Mikael langsung beranjak menatap Lia.


"Sayang."ucap Mikael lalu mencium kening Lia.


Lia menatap Mikael. "Apa yang terjadi? Sayang anak kita baik-baik saja kan?" Tanya Lia mengusap perutnya.


"Iya sayang anak kita baik-baik saja." Jawab Minho mengelus kepala Lia.


"Sayang tadi kepala ku sakit sekali." Ucap Meira menyentuh keningnya yang tertempel plester dan kapas.


"Dokter bilang hanya robek kecil, mereka sudah mengobatinya." Ucap Mikael Lia menghelakan nafasnya.


"Aku boleh pulang kan?"


"Setelah infus mu habis kau boleh pulang, sabar ya." Ucap Mikael Lia mengangguk.


Pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan hang. "Tuan...ini rekaman cctv yang di kirimkan oleh Ji pada ku." Ucap Hang Mikael mengambil ponsel itu dan melihat yang ada dilayar ponselnya itu.


Mikael menatap dengan lekat bagaimana kejadia itu terjadi. "Sudah jelas Cika tidak sengaja mengunci nona Lia di dalam gudang tuan, kalau mau lebih jelasnya kita bisa tanya langsung pada Cika." Ucap Hang.


"Kau begitu membelanya." Ucap Mikael kembali menyerahkan ponsel itu pada Hang.


"Saya tidak membelanya tuan, saya hanya mencari kebenarannya." Ucap Hang.


"Ya terserah kau saja." Ucap Mikael.


"Sayang jangan marah dengan Cika, dia tidak bersalah. Seharusnya aku juga tau, gudang bukan tempat persembunyian yang baik." Ucap Lia mengelus perutnya.


"Setidaknya anak kita baik-baik saja." Ucap Lia lagi Mikael menghelakan nafasnya.


Menarik Lia dalam pelukannya. "Iya baiklah, aku tidak akan memarahinya..tapi dia akan tetap aku hukum.." Lia langsung menatap Mikael.


"Sayang.." Mikael mencolek hidung Lia.


"Dengarkan dulu suami ngomong jangan di potong. Dia harus Melayani mu dengan baik sampai kau sampai benar-benar pulih." Ucap Mikael Lia terseyum.


******


Karena hari sudah malam terpaksa Lia harus menginap malam ini, Mikael tidak mau membawa Lia pulang malam ditambah lagi di luar sedang hujan deras.


"Sayang kenapa tadi tidak pulang aja sih pas aku udah sadar, bosan tau di sini terus." Ucap Lia cemberut, Mikael melangkah mendekatinya dan duduk ditepian ranjang pasien Lia..


"Kata dokter, infusnya harus sampai habis dulu baru kau boleh pulang. Karena bukan cuman luka mu yang di obati, tapi vitamin tubuh mu juga, kenapa kau tidak bilang jika lapar tadi sebelum kita lanjut main. Kau sampai kelaparan menunggu ku mencari mu." Ucap Mikael sambil mengelus pipi Lia.


"Maaf...aku terlalu asik mengajak mu main. Kau jarang bisa menghabiskan waktu bersama ku setelah kita pindah ke kota ini. Aku juga terkadang takut untuk meminta waktu mu." Ucap Lia menunduk sedih.


"Hy..kenapa jadi sedih, jika kau ingin meminta waktu ku, bilang saja sayang tidak perlu takut." Ucap Mikael menangkup wajah Lia menatap wajah istrinya lekat.


"Aku takut kau marah pada ku. Jika aku memaksa mu, kau akan memarahi ku." Ucap Lia menatap Mikael.


"Memangnya suami mu ini suka marah-marah ya?" Tanya Mikael Lia mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Baiklah maafkan aku, aku terlalu sering marah-marah ya. Aku janji tidak akan marah-marah lagi." Ucap Mikael memeluk Lia mengelus punggung itu lembut.


"Sayang.." panggil Lia.


"Ada apa?"


"Boleh aku minta tolong." Pinta Lia.


"Minta tolong apa sayang sayang?" Tanya Mikael melepas pelukannya.


"Sudah 1 tahun lebih aku tidak tau kabar tenang ibu ku, aku hanya ingin tau kabarnya. Ayah bilang jika ibu pergi ke rumah nenek, aku sudah sempat menelpon nenek untuk menanyakan kabar ibu tapi nenek bilang ibu tidak ada di sana, itu membuat ku khawatir. Ku mohon sayang bantu aku mencari ibu." Ucap Lia.


"Kenapa kau ingin tau kabarnya? Bukan kah dia sudah jahat pada mu." Ucap Mikael.


"Mikael dia tetap ibu ku walau dia sudah melukai ku." Ucap Lia.


"Untuk apa kau ingin tau keadaannya, walau dia ibu mu apa pantas dia memperlakukan mu seperti itu."


"Ya sudah jika kau tidak mau mencarikannya untuk ku, aku akan cari sendiri." Ucap Lia menyandarkan tubuhnya kesadaran ranjang pasien dan melihat kearah lain.


"Sayang.."


"Sudahlah, aku ingin tidur." Ucap Lia merebahkan dirinya dan membelakangi Mikael.


Pria itu menghelakan nafasnya, bukan maksud Mikael menolak dia hanya tidak suka jika istrinya mencari tau seseorang yang telah melukai istrinya.


"Selamat malam sayang." Ucap Mikael mencium kening Lia lalu melangkah menuju sofa.


Mikael merebahkan dirinya di sofa yang mengarah pada Lia, wanita itu masih membelakanginya.


*"*"*"*"*"*"


Lia sekarang di ijinkan pulang, setelah merapikan barang-barang Lia. Mikael dan Lia melangkah melewati lorong rumah sakit, wanita itu masih enggan bicara dengan Mikael.


"Sayang.."


Lia hanya diam, Mikael sudah berkali-kali memanggilnya mengajak bicara tapi Lia tidak menghiraukannya.


Saat mereka melewati loby rumah sakit, beberapa orang suster dan dokter berjalan cepat kearah mereka.


"Maaf permisi beri jalan."


Dengan cepat Mikael menarik pelan Lia untuk menyingkir. Mata Lia melihat siapa yang mereka bawa.


Lia memperhatikan wajah pasien itu, seorang wanita yang menggenakan selang pernafasan di hidungnya.


"Ibu." Ucap Lia.


Mikael menatapnya. "Ibu? Siapa sayang?"


"Itu ibu ku Mikael." Ucap Lia melepas genggaman Mikael dan menyusul dokter dan suster tadi.


"Sayang." Mikael mengejar Lia takut jika istrinya kenapa-kenapa.

__ADS_1


Lia terus mengikuti mereka sampai masuk kedalam ruang UGD. Saat salah satu suster keluar dan Lia menghentikannya.


"Maaf sus, ada apa dengan pasien itu?" Tanya Lia.


"Pasien dalam keadaan kritis, kanker otak yang menyerang dirinya sudah sangat parah." Jawab suster itu.


"Ka..kanker otak?..siapa nama pasien itu?" Tanya Lia.


"Nyonya Rita Desi Mila." Jawab suster itu membuat Lia terdiam.


Bahkan Mikael pun terkejud mendengarnya. "Apa nyonya Rita."


"Iya tuan, maaf saya harus pergi." Ucap suster itu.


Lia terdiam, air matanya mengalir. "I..ibu.." Lia hampir saja terjatuh untung saja dengan sigap Mikael menahannya.


"Sayang.."


"Mikael...ibu...hiks....ibu sakit.." ucap Lia dia tidak mampu berkata apa-apa dia sudah menangis.


Mikael memeluk Lia erat. "Ibu sakit Mikael...ayah bilang ibu ku baik-baik saja tapi kenapa sekarang dia seperti itu...hiks..." Lia terus menangis.


Mikael mengusap punggung Lia. "Sayang tenang lah, kita akan menunggu sampai dokter selesai mengananninnya." Ucap Mikael.


"Hiks...ibu..." Pelukan itu semakin erat.


Mikael terus berusaha menenangkan istrinya. "Aku harus telpon ayah." Ucap Lia.


"Sayang sebaiknya jangan.." ucap Mikael.


"Kenapa? Kau kenapa Mikael, tadi malam kau menolak menolong ku mencari tau tentang ibu  dan sekarang aku melihatnya dalam keadaan kritis, sekarang kau melarang ku menelpon ayah untuk menanyakan hal itu, sebenarnya apa yang kau sembunyikan." Ucap Lia menatap suaminya.


"Bukan maksud ku melarang mu sayang, ini demi menjaga keadaan mu." Ucap Mikael.


"Kau menutupi sesuatu dari ku." Ucap Lia Mikael terdiam.


"Aku tua kau pasti menutupi sesuatu dari ku bukan?" Tanya Lia Mikael hanya diam.


"Jawab aku....kau tega membohongi istri mu sendiri."


"Tidak sayang tidak...ini semua demi diri mu, aku mau kau tertekan, kau sedang hamil sayang." Ucap Mikael.


"Aku akan semakin tertekan jika kau tidak mengatakannya." Ucap Lia Mikael menatap Lia yang.


"Sayang.."


"KATAKAN PADA KU MIKAEL APA YANG SEBENARNYA." teriak Lia dia sudah sangat marah air matanya terus mengalir.


Mikael memejamkan matanya. "Dia...dia bukanlah ibu kandung mu."


Lia terdiam.. "Apa?"


.......

__ADS_1


beri like dan komen kalian ya, karena itu semua gratis 🙏🙏🤗🤗


__ADS_2