
3 minggu sudah berlalu.
Dirumah yang besar terlihat seseorang yang marah besar.
"Kemana perginya mereka?"teriak orang itu.
"Cukup Dimas, jangan kau mencari Lia lagi."ucap tuan Sanjaya.
"Lia hanya milik ku ayah, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskannya. Aku hampir membunuh pria itu tapi kenapa kalian menyelamatkannya."
Plak.
Ini pertama kalinya tuan Sanjaya menapar putra bungsungnya. "CUKUP DIMAS...sudah cukup kau terus menyiksa kakak mu dengan semua keinginan mu yang ingin kau ambil alih dari nya, apa kau tidak sadar dia sudah bersabar menghadapi segala luka dari perbuatan mu."ucap tuan Sanjaya marah.
"Kanapa ayah jadi membelanya? Apa ayah tidak memikirkan ku lagi?"tanya Dimas.
"Ayah sudah lelah melandeni segala sikap kekanak-kanakan mu Dimas. Mikael sudah cukup terluka oleh mu tapi sekarang tidak, ayah tidak mengijinkan mu melukai kakak mu lagi."
"DIA BUKAN KAKAK KU."teriak Dimas.
"Dasar anak tidak tau di untung." hampir saja tangan itu kembali menapar wajah putranya tapi Sera lebih dulu menahannya.
"Jangan suami ku, ini demi kesembuhan Dimas."ucap Sera tuan Sanjaya melemah.
Benar, mereka harus menyembuhkan putra bungsu mereka.
"Dimas kembali kekamar mu."ucap tuan Sanjaya.
"Tidak."
"Kembali kekamar mu."balas tuan Sanjaya Dimas pergi begitu saja dalam keadaan marah.
"Aku akan mencari dimana wanita ku, aku tidak akan melepaskannya."gumam Dimas.
Tuan Sanjaya terduduk di sofa itu, Sera mengelus bahunya.
"Anak itu sudah sangat kelewatan."ucap Sanjaya.
"Aku tau sayang,tapi aku yakin dia pasti bisa memahaminya perlahan-lahan."ucap Sera Sanjaya menatapnya.
"Terimakasih saya, kau sudah mau menerima putra ku."ucap Sanjaya.
"Dimas juga putra ku, aku juga sangat menyayanginya. Kau tenang saja, semua akan kembali normal."ucap Sera Sanjaya memeluk istrinya erat.
"Ku harap begitu."
******
Lia melangka menuju ruang kerja Mikael dan membuka pintu itu pelan.
"Sayang."panggil Lia.
"Ada apa sayang? Masuklah."balas Mikael.
Lia melangkah masuk dan kembali menutup pintu ruangan itu dan mendekati Mikael.
"Kau masih sibuk?"tanya Lia berdiri disamping Mikael.
"Sebentar lagi, kenapa hmm?"tanya Mikael menatap Lia.
__ADS_1
Wanita itu memutar kursi Mikael untuk menghandapnya lalu naik keatas pangkuan Mikael.
"Aku bosan."ucap Lia yang duduk menghadap Mikael memeluk leher pria itu.
Mikael terseyum. "Lalu kau ingin apa hhm?"tanya Mikael Lia hanya mengangkat bahunya lalu memeluk Mikael membenamkan wajahnya di leher pria itu.
Mikael terkekeh melihat tingkah manja Lia. Dipeluknya wanita itu dengan satu tangan, dan satu tangan yang lain mematikan komputer itu.
"Sudah, aku sudah selesai. Kau ingin apa?"tanya Mikael Lia melepas pelukannya dan menatap Mikael.
Dikecupnya bibir itu. "Sayang.."
"Kenapa?"balas Mikael tanganya berada dipinggang wanita itu.
"Aku tadi baru melihat-lihat diinternet, katanya ada kafe eskrim terenak di kota ini."ucap Lia.
"Lalu?"
"Ayo kita kesana."ajak Lia manja matanya berbinar menatap Mikael.
Mikael terkekeh di cubitnya pelan pipi itu. "Menggemaskan sekali istri ku ini."ucap Mikael.
"Sayang ayooooo..."ucap Lia menggoyangkan tubuh Mikael.
"Ya ya ayo, sekarang turun."ucap Mikael Lia menggeleng.
"Gendong."ucap Lia semakain membuat Mikael semakin gemas.
"Hah...menggemaskan sekali, apa kau ingin aku makan hmm?"ucap Mikael Lia hanya terseyum membuat pipinya mengembung terlihat imut.
"Ayooo."ucap Lia.
.....
Mereka sekarang sudah berada dalam mobil menuju sebuah kafe, sesampainya di sana Lia lebih dulu turun.
"Sayang hati-hati"ucap Mikael menyusul Lia.
Saat hampir membuka pintu seseorang berbadan besar lebih dulu membukanya membuat Lia terkejud dan hampir terjatuh.
Untung saja Mikael dengan cepat menahanya. "Kau tidak papa?"tanya Mikael Lia mengangguk.
"Jalan hati-hati nona, kau bisa terluka nanti."ucap orang itu lalu pergi begitu saja.
"Kau ini sudah aku bilang hati-hati."ucap Mikael Lia menunduk.
"Maaf." Mikael mengusap kepala Lia lembut.
"Sudahlah tidak papa, ayo masuk kau bilang ingin makan eskrim."ucap Mikael membukakan pintu itu.
Lia terseyum lalu melangkah masuk. Di kafe itu bukan hanya menjual eskrim ada menu lain yang mereka siapkan.
Setelah memesan mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela tentu itu pilihan Lia karena dia ingin melihat pemandangan jalanan kota itu.
Kebanyakan orang lebih memilih berjalan kaki dari pada memakai kendaraan mereka, mungkin karena hari ini dingin jadi mereka memilih berjalan kaki.
Baru 3 minggu berada di kota ini, Lia sudah sangat dibuat jatuh hati. "Kota ini sangat indah."ucap Lia.
"Kota ini tidak ada berubahnyan, semenjak aku pindah bahkan sampai aku kembali kesini kota ini masih sama saja. Tidak ada perubahannya."ucap Mikael.
__ADS_1
"Kapan kalian pindah dari kota ini?"tanya Lia.
"Semenjak ayah ku meninggal,jadi ibu memutuskan untuk pergi agar bisa melupakan kenangan ayah bersamanya di kota ini."jawab Mikael Lia mengangguk mengerti.
"Oh lihat lah ada kuda."ucap Lia Mikael terseyum melihat Lia.
"Kau ingin pergi kepertenakan kuda?"tanya Mikael.
"Apa ada?"
"Tentu saja ada dan semoga saja tidak pindah, kita akan pergi minggu depan."ucap Mikael.
"Kenapa minggu depan?"tanya Lia.
"Karena untuk beberapa hari kedepan aku sibuk untuk mengurus perpindahan kita sayang, ditambah lagi aku kan haru mengurus cabang perusahaan ayah di sini."jawab Mikael.
"Ooohh begitu."balas Lia cemberut.
"Hyy..aku janji akan menyelesaikannya dengan cepat, jangan cemberut seperti itu."ucap Mikael mengelus pipi wanita itu, Lia mengangguk lalu kembali terseyum.
Pesanan mereka pun sampai, Lia dengan semangat menerima pesanan eskrimnya itu. Sedangkan Mikael hanya memesan kopi pahit kesukaannya.
"Uuummm ini enak sekali."ucap Lia.
"Pelan-pelan makannya, lihatlah belepotan sekali."ucap Mikael membersihkan sudut bibir Lia.
"Sayang ini sangat enak, kau mau?"tawab Lia.
"Tidak kau saja, aku ingin menghangatkan tubuh ku."ucap Mikael.
"Sekali saja...ayo lah aaaa"ucap Lia menyodorkan satu suap eskrim.
"Tidak sayang."tolak Mikael.
"Aishh ayo lah, satu kali saj."ucap Lia.
"Tidak...aku bilang tidak ya tidak."tolak Mikael membuat wajah Lia cemberut.
"Ya sudah tidak perlu marah seperti itu."ucap Lia menunduk sambil melahap eskrimnya.
"Sayang.."
"Jangan menyentuh ku."ucap Lia menangkis tangan Mikael yang ingin mengelus pipinya.
"Hy...maaf, aku tidak bermasud marah pada mu."ucap Mikael Lia hanya diam tanganya mengusap pipinya yang basah.
Mikael tertegun lalu pindah duduk disamping Lia. "Hy kau menangis."ucap Mikael menangkup wajah Lia, tapi wanita itu kembali menangkisnya.
"Sayang maafkan aku."ucap Mikael Lia hanya diam.
Mikael menghelakan nafasnya. "Sayang..."
"Jangan menyentuh ku, kau marah-marah saja jangan menyentuh ku."ucap Lia kesal air matanya kembali mengalir.
"Sayang jangan menangis."ucap Mikael menangkup wajah Lia menghapus air mata Lia.
"Kau marah tadi, jangan menyentuh ku"ucap Lia.
"Baiklah-baiklah maafkan aku."ucap Mikael tapi Lia tidak menghiraukannya.
__ADS_1
Mikael menghelakan nafasnya. Ada apa dengan Lia.