Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
terlambat


__ADS_3

Disebuah kafe terlihat seorang wanita yang hanya duduk diam menatap keluar jendela kafe.


"Hah....aku merindukannya, Lia sedang apa ya."gumamnya sahabatnya itu semenjak menikah menjadi sibuk dengan suaminya sampai lupa pada sahabatnya.


"Hy.."tegur seseorang membuat wanita itu terkejud.


"Dimas...kau mengejutkan ku saja."ucap Tasyah pria itu hanya terkekeh.


"Kau sedang apa?"tanya Dimas.


"Sedang betapa, kau tidak lihat aku sedang apa? Kau membuat ku kesal saja."ucap Tasyah.


"Santai nona, aku tidak bermaksud membuat mu kesal tadi."ucap Dimas Tasyah hanya memutar matanya malas.


"Kau kenapa?"tanya Dimas.


"Aku? Aku tidak papa, hanya merindukan seseorang saja."jawab Tasyah.


"Pasti Lia."tebak Dimas.


"Kau membaca pikiran ku."ucap Tasyah menyipitkan matanya menatap Dimas.


"Tidak....aku hanya menebak saja, kaliankan dahabat baik tidak mungkin tidak saling merindukan."ucap Dimas.


"Ya kau benar juga. Hah....aku begitu merindukannya, dia sedang apa ya? Apa dia bahagia bersama suaminya."ucap Tasyah.


"Dia sepertinya tidak bahagia."ucap Dimas.


"Hy kenapa bicara seperti itu. Doakan saja yang terbaik untuknya, kau tau pernikahan mereka baru terjalin 2 bulan lebih, jangan mengatakan hal aneh seperti itu."ucap Tasyah Dimas terseyum.


"Justru itu yang ku inginkan, agar mereka cepat bercerai."ucap Dimas pelan.


"Hah? Ingin apa?"tanya Tasyah yang kurang jelas mendengarnya.


"Tidak....tidak papa."


Lalu hanya ada keheningan antara mereka, Dimas sibuk memikirkan bagaimana cara untuk menjauh kan Lia dari Mikael.


"Tasy."panggil Dimas.


"Kenapa?"tanya Tasyah.


"Apa kau pernah mencintai seseorang?"tanya Dimas.


"Hy tuan muda, aku masih wanita normal jelas aku pernah mencintai seseorang bahkan sampai sekarang aku mencintainya."ucap Tasyah.


"Lalu apa kau memperjuangkannya?"tanya Dimas.


"Tidak, dia tidak pernah melihat ku sebagai seorang wanita yang tertarik padanya, dia hanya memandangku sebagai teman."jawab Tasyah.

__ADS_1


"Malang sekali nasip mu." Tasyah terseyum miring.


"Bukan aku yang malang, tapi pria itu yang bodoh tidak pernah mau menerima wanita yang mencintainya tulus."balas Tasyah.


"Mana mungkin dia tau kau mencintainya kalau kau tidak memberitahunya."ucap Dimas.


"Hahaha, sayangnya aku yang terlalu takut akan hal itu. Aku takut setelah mengatakannya dia tidak akan mau berteman lagi dengan ku, kehilangan teman hanya karena cinta itu tidak terlalu menyakitkan karena kau hanya kehilangan teman mu bukan cinta mu, teman mu tau kalau kau juga mencintainya di lebih memilih menjauhi mu. Tapi kehilangan cinta karena teman itu lebih menyakitkan karena akan kehilangan keduanya cinta dan teman, teman mu tidak tau kalau kau mencintai orang itu tapi teman mu lebih dulu mendapatkannya."ucap Tasyah Dimas menatapnya.


"Lalu jika kau kehilangan cinta karena keluarga? Apa juga menyakitkan?"tanya Dimas.


"Uuumm mungkin, kalau penghianatan itu terjadi maka keluarga itu bisa saja akan hancur."jawab Tasyah.


"Kau bernar, hubungan antar sorada akan renggang karena cinta."ucap Dimas.


"Tapi tali persaudaraan tidak akan pernah putus."ucap Tasyah.


Dimas terseyum. "Baiklah, aku sudah mendapatkan jawabannya."ucap Dimas.


"Apa?"


"Aku akan memperjuangkan cinta ku, walau cinta itu tidak akan mungkin aku dapatkan. Selagi masih ada kesempatan kenapa tidak digunakan."ucap Dimas lalu beranjak.


"Dan kau sebaikanya perjuangkan juga cinta mu, sebelum semua terlambat, tidak mengatakan yang sebenarnya adalah kesalahan terbesar saat kau masih diberi kesempatan."ucap Dimas lalu menepuk bahu Tasyah dan melangkah pergi.


"Aku sudah mengatakannya, tapi kau yang tidak sadar."gumam Tasyah lalu menunduk.


"Hah....kenapa masalah percintaan itu terjadi begitu berat, semua orang pasti pernah mencintai seseorang begitu besarnya tapi tidak bisa memiliki dan semua orang pasti pernah memiliki cinta yang begitu besar untuknya tapi tidak bisa menjaganya."gumam Tasyah terseyum miring.


Hari terus berlalu minggu pun semakin berlalu. Tidak terasa sudah hampir 3 bulan hubungan pernikahan Mikael dan Lia, hanya tinggal menghitung hari maka semuanya selesai.


Dimeja kerjanya wanita itu terduduk termenung, memikirkan bagaimana nasip pernikahannya.


"Lima hari lagi maka semuanya selesai."gumam wanita itu.


"Hoy..."


"Dimas kau mengejutkan ku."ucap Lia kesal pria itu hanya terkekeh.


"Kau ini kenapa? melamun terus."ucap Dimas lalu menarik kursi dan duduk disamping Lia.


"Tidak papa, hanya pusing sedikit saja."ucap Lia.


"Kau sakit? Apa perlu aku membawa mu kerumah sakit?"tanya Dimas.


"Dimas jangan berlebihan ini hanya pusing biasa, tidak perlu khawatir."ucap Lia terseyum kecil.


Dimas terseyum. "Kau sudah makan siang?"tanya Dimas.


"Uuumm belum."jawab Lia terseyum.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo, kita makan siang bersama."ucap Dimas menggenggam tangan Lia dan nenariknya.


"Eeee tunggu tas ku."ucap Lia.


......


"Uuummm aroma makanan disini sangat enak dan wangi aku menyukainya."ucap Lia sambil menikmati makan siangnya Diams terseyum sambil mengusap pucuk kepalanya.


Mereka sedang makan siang disebuah kafe.


"Makanlah yang banyak, aku melihat wajah mu terlihat sedikit tirus."ucap Dimas.


"Hah? Benarkah? Padahal aku merasa nafsu makan ku meningkat akhir-akhir ini, tapi kenapa aku tirus."ucap Lia menekan pipinya membuat Dimas gemas.


"Uumm kau berbohong."ucap Lia menunjuk wajah Dimas.


"Hahaha..kau tau pipi mu itu seperti bakpau hidup, hy nona apa kau memakan bakpau dan kau simpan dipipi mu?"tanya Dimas tertawa.


"Ishh kau itu, kenapa tidak sekalian pentol hidup juga."ucap Lia kesal tapi bibirnya terseyum.


Disela makannya seseorang menghampiri mereka. "Wahhh bagus."ucap orang itu menglihkan perhatian Lia dan Dimas.


"Mikael." Lia beranjak dari duduknya.


"Hah....aku mencari mu dan kau malah makan siang bersamanya. Oh apa kau sengaja mematikan ponsel mu agar tidak ada yang mengganggu kencan kalian?"tanya Mikael.


"Mikael kau salah paham kami hanya makan siang, tidak lebih dan mengenai ponsel ku, dia tertinggal diatas meja tidak terbawa oleh ku. Percayalah."ucap Lia mengenggam tangan Mikael.


"Aku pikir kau tidak akan lagi berdekatan denganya, tapi apa ini. Kau tidak menuruti perkataan ku Lia, apa selama ini perhatian yang aku tunjukan pada mu hanya kebohongan sampai kau masih mendekati pria ini?"tanya Mikael.


"Mikael tidak seperti itu."ucap Lia Mikael menepis tanganya.


Dimas hanya diam menyaksikan. "Drama."batin Dimas.


Mikael terseyum miring. "Surat cerai itu harus kau tanda tangani besok." ucap Mikael lalu prgi begitu saja.


"Mikael."Lia mengejar pria itu tapi Mikael.lebih dulu masuk kedalam mobil dan melaju pergi.


Lia mengejarnya sampai kepinggir jalan tapi terlambat mobil itu sudah sangat jaub. "Hah....kau salah paham."


Dimas yang menyusul Lia tidak sengaja matanya melihat mobil yang melajut kearahnya.


Tinnnnn


"LIA.." teriak Dimas berlari kearah Lia.


Lia menoleh mata membulat dan.....


Brakkk

__ADS_1


Tubuh itu melayang begitu saja bagai kertas tertiup angin.


__ADS_2