
Hari ini Lia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya, setelah puas menangis seharian tubuhnya terasa lelah.
"Nona butuh sesuatu?"tanya Cika.
"Uumm Cika bisa kau belikan aku kue yang ada didepan, aku tiba-tiba ingin memakan itu."pinta Lia.
"Baik nona saya akan membelikannya untuk Nona."ucap Cika Lia tersenyum dan memberikan selembar uang pada Cika.
"Kembaliannya untuk mu saja."ucap Lia.
"Terimakasih nona. Uumm nona, apa boleh saya membeli kue saja untuk sisa uangnya dan dibagi kan untuk anak-nak yang lainnya?"tanya Cika.
Lia tersenyum."Pakai saja, tidak papa."jawab Lia.
"Terimakasih banyak nona."ucap Cika lalu pamit pergi.
Lia kembali menonton acara tv diruang kumpul, Mikael sudah berangkat berkerja 3 jam yang lalu. Pria itu memintanya untuk istirahat saja jangan banyak keluar rumah.
Saat sedang asiknya menonton bunyi bel rumah terdengar. "Siapa tamu pagi-pagi begini."gumam Lia melangkah menuju pintu depan.
Saat berada didepan pintu itu, Lia membuka pintunya dan dia terdiam saat didepannya berdiri sosok ibunya yang menatapnya dengan amarah.
"Di mana suami mu itu?"tanya Rita emosi sambil melangkah masuk begitu saja kedalam rumah.
"Ii...ibu..dia sedang berkerja."jawab Lia menahan ibunya.
Rita menatapnya. "Kau tau gara-gara suami mu itu bisnis ku hancur."teriak Rita membuat Lia terdiam.
"Suami mu itu sama tidak ada gunanya dengan mu, apa maksud dari surat ini hah? Dia menunjukan semua bukti atas penipuan yang aku lakukan."teriak Rita melempar semua kertas itu pada Lia.
"Aku pikir setelah kau menikah dengannya, aku tidak perlu lagi berurusan dengan mu dan suami mu itu, kemarin aku mengundang kalian hanya sebagai ucapan terimakasih. Tapi apa yang aku dapatkan, dia menghancurkan bisnis yang ku bangun selama hidup ku. KAU ANAK PEMBAWA SIAL LIA."teriak Rita.
Lia mengepalkan tangannya, belum sembuh luka yang kemarin sekarang ibunya menyakitinya lagi.
"Ibu sungguh menyesal menikahi mu dengan pria angkuh itu,dasar menantu kurang ajar dimana tata kramanya berani sekali dia menghancurkan ku, dan kau, kau sama tidak berguna sepertinya. Untuk apa kau hidup jika hanya menyusahkan ku saja."
"CUKUP."teriak Lia lalu menatap ibunya penuh emosi.
__ADS_1
"Selama ini aku selalu menahannya, menahan rasa amarah ku rasa benci ku dan rasa kecewa ku pada mu tapi sekarang tidak. Aku tidak bisa lagi menahannya, ku mohon hentikan. Hentikan semua siksaan itu...aaaaaakh."teriak Lia melempar semua benda-benda yang ada dimeja.
Kaca-kaca itu berserakan dimana-mana,Rita memundurkan langkahnya menghindari pecahan kaca itu.
"Apa kau belum puas terus menyiksa ku dengan semua perilaku kejam mu itu, aku sebagai anak masih terus menghormati mu sebagai ibu ku. Tapi apa yang kau lakukan kau terus melukai ku dengan semua kata-kata tajam mu itu, apa aku terlalu buruk bagi mu. Kau bahkan menjual ku demi perjanjian itu tapi kenapa kau masih terus mengisik kehidupan ku, apa kau begitu membenci ku sampai terus mengangguk?"ucap Lia.
Cika yang baru saja datang terkejud melihat semua itu. "Nona.."ucap Cika dia harus menghubungi tuan muda.
Sedangkan Rita hanya diam menyaksikan amarah putrinya.
Nafas Lia memburu. "Aku sudah muak ibu,jadi aku mohon hentikan. Kenapa kau selalu menyiksa ku....kenapa? KANAPA KAU DIAM, JAWAB AKU."teriak Lia membaut Rita terkejud.
"Lia..."
Lia meremas rambutnya kenapa ini begitu begitu berat baginya, kenapa masalah itu selalu saja datang.
Cika sudah menelpon Mikael dan ternyata pria itu juga sedang berada dijalan. Hang memberitahu kalau Rita akan datang kerumahnya untuk meminta pertanggung jawaban.
"Hiks...kenapa hidup ku seperti ini..kenapa....KENAPA? Aaaaaa..."teriak Lia ditatapnya pecahan kaca itu dan diambilnya, diremasnya pecahan itu membuat Rita dan Cika terkejud melihat darah segar mengalir dari telapak tangan Lia.
"Aaaaaaaa." teriak Lia darah itu semakin deras mengalir, Mikael yang baru datang bersama Hang melihat hal itu langsung dengan capat menghampiri Lia.
"Lia hentikan...ada aku disini, tenang lah."ucap Mikael menangkup wajah Lia menatap wanita itu yang masih terus menangis.
"Tenanglah."ucap Mikael memeluk Lia perlahan pecahan itu terlepas dari tangan Lia.
Lia masih terus menangis dalam pelukan Mikael.
"Hang usir wanita itu dari sini"ucap Mikael lalu membawa Lia untuk duduk.
"Nyonya pergilah."ucap Hang Rita masih terdiam menatap putrinya.
Kenapa Lia bisa semarah itu, bahkan ini pertama kalinya dia melihat Lia menangis.
Mikael mengusap wajah itu lembut, "haii tenanglah."ucap Mikael Lia menatapnya.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi."ucap Lia.
__ADS_1
"Iya iya...dia tidak akan datang lagi. Tenanglah, tenangkan diri mu."ucap Mikael lalu duduk disamping Lia menyandarkan kepala wanita itu dibahunya.
Cika datang membawakan air untuk Lia. "Nona minumlah."ucap Cika Lia menerima segelas air itu dan meminumnya.
Diletakannya gelas itu diatas meja dan kembali bersandar dibahu Mikael. Mikael terus mengusap bahunya memberikan kenyamanan agar wanita itu tenang sambil Cika membersihkan tangan Lia, sampai perlahan Lia tertidur.
"Tuan.."
"Sssttt istri ku tertidur, kita bahas ini nanti. Aku akan membawanya kekamar."ucap Mikael lalu dengan pelan mengangkat tubuh itu dan membawanya kelantai atas.
Hang menatap kepergian tuannya lalu menatap kearah Cika. "Apa yang terjadi?"tanya Hang.
"Saya tidak tau tuan, karena saat itu saya diperintahkan nona Lia untuk membeli kue dan saat saya kembali nona Lia sudah berteriak dan melepar semua barang."jelas Cika Hang menghelakan nafasnya.
"Apa belum puas hukuman yang tuan muda berikan sampai dia berani datang kerumah dan menganggu nona."gumam Hang.
Didalam kamar Mikael terus mengusap kepala itu lembut, agar Lia bisa tertidur nyenyak.
"Maafkan aku, karena ku kau jadi terkena imbasnya. Aku menghancurkan bisnis ibu mu karena dia sudah keterlaluan pada mu, kau pun pantas bahagia Lia."ucap Mikael lalu mencium kening Lia.
Mikael meninggalkan kamar itu dan pergi menuju lantai bawah.
"Wanita itu sungguh tidak bisa dibiarkan."ucap Mikael.
"Anda benar tuan, bahkan dia sudah mengajukan tuntutan atas penghancuran itu."ucap Hang.
"Biarkan saja dia melakukan apa pun yang dia mau. Kita lihat sampai mana dia mampu bertahan."ucap Mikael.
"Tuan, bukan kah nona Lia memiliki seorang ayah? Bagaimana kalau kita meminta bantuan pada ayah nona untuk menuntut balik perlakuan nyonya Rita atas anaknya?"tanya Hang.
"Iya kau benar, itu bisa dilakukan. Mereka dulu bercerai dan wanita itu membayar untuk bisa mendapatkan hak asuh atas putrinya dan sekarang lihat lah apa yang dia lakukan pada putrinya."ucap Mikael.
"Anda benar tuan, kalau begitu saya akan mengatur semuanya."ucap Hang."
"Aku percayakan pada mu."ucap Mikael Hang mengangguk lalu pamit dan mellangkah pergi.
Mikael meremas tangannya kuat. "Aku akan membalas perbuatan mu."gumam pria itu.
__ADS_1