
Mata itu perlahan terbuka karena silau dari cahaya matahari yang masuk melalui celah horden.
"Uugh.."saat ingin bergerak dia merasa ada sesuatu yang berat diperutnya.
Matanya perlahan menatap tangan itu lalu menatap kesampingnya betapa terkejudnya dia melihat Mikael yang tertidur disampingnya.
Lia menatap wajah itu, lalu mengelus pipi pria itu pelan. "Kau melakukannya, kau melanggar janji mu. Bahkan kau melakukannya dalam keadaan mabuk, kau pasti tidak akan mengingatnya."ucap Lia.
Perlahan Lia beranjak dari ranjang itu mengambil bajunya dan memakainya, bagian bawahanya masih terasa perih. Lia meringis saat melangkah, tapi dia tidak bisa berada dikamar itu terus dia harus kembali kekamarnya.
Dengan susah payah akhirnya Lia bisa keluar dari kamar Mikael dan pergi kekamarnya untuk membersihkan dirinya.
Tak lama kemudian Mikael perlahan membuka matanya, dan pertama kali dilihatnya adalah keadaan kamar yang kacau.
"Ada apa ini? Apa terjadi badai tadi malam?."
Bayang-bayang kejadian tadi malam terlintas dikepalanya, dari perkelahiannya bersama Dimas dan sampai dia minum-minuman di club malam dan sisanya begitu kabur.
Dilihatnya baju yang ia kenakan tadi malam tergeletak dilantai. "Apa yang terjadi?"gumamnya.
Saat menyibak selimutnya, matanya menatap bercak darah disaprai ranjangnya. "Darah siapa ini?"
"Aaakhhh...kepala ku sakit sekali." ucapnya menyentuh kepalanya.
Mikael beranjak dari ranjangnya dan melangkah menuju kamar mandi sepertinya air dingin bisa membuat sakit kepalanya hilang.
Selesai dari mandinya, Mikael bersiap dan melangkah keluar kamar saat melangkah menuju tangga matanya menatap pintu kamar Lia yang tertutup, apa wanita itu belum bangun.
"Apa dia sudah berangkat?."gumam Mikael.
Mikael melangkah menuruni tangga dan pergi menuju ruang makan tapi dia tidak menemukan wanita itu.
"Cika apa istri ku sudah makan?"tanya Mikael.
"Belum tuan, nona dari tadi pagi belum ada turun."jawab Cika.
Mikael tampak berpikir, apa wanita itu masih marah padanya.
"Tuan butuh sesuatu, apa tuan merasa pusing saya akan membuatkan susu untuk meredakan pusing tuan."ucap Cika.
"iya...umm Cika apa yang terjadi tadi malam?"tanya Mikael.
"Tuan tidak mengingatnya, tadi malam tuan diatar seorang pria dia mengatakan tuan mabuk berat dan berkelahi dengan seseorang, nona Lia yang mengantar tuan kekamar. Saya pikir tuan dan nona....ah tidak jadi, saya akan buatkan susunya."ucap Cika lalu pergi kedapur.
__ADS_1
Mikael tampak berpikir, Lia yang membawanya kekamar dalam keadaan mabuk. Lalu apa yang terjadi setelah itu.
Mikael menatap kelantai atas, "Apa kami? Ah tidak mungkin pasti dia tidak menginginkannya."gumam Mikael tapi bibirnya terseyum jika itu bernar terjadi seharusnya dia dalam keadaan sadar.
■□■□■□■□
Tok tok tok
"Nona ini saya."ucap Cika.
"Masuklah Cika."balas Lia.
Cika masuk kedalam kamar Lia dengan membawakan nampan, "Nona ini sarapan untuk nona, tuan Mikael menghawatirkan nona yang tidak turun untuk makan."ucap Cika.
"Aku hanya tidam enak badan Cika, terimakasih untuk makanannya."ucap Lia menerima nampan itu.
"Apa nona mau saya panggilkan dokter?"tanya Cika Lia terseyum dan menggeleng.
"Tidak perlu, aku tidak papa hanya pusing sedikit nanti minum obat pasti sembuh"jawab Lia.
"Baiklah nona, kalau begitu Cika pergi dulu."ucap Cika Lia mengangguk. Cika keluar dari kamar itu dan menutup pintu.
Lia menatap makanan itu dan ada secarik kertas.
"Tapi kau yang membuat ku sakit."gumam Lia lalu memakan sarapannya.
Diluar kamar Cika menghampiri Mikael yang menunggunya.
"Ada apa denganya?"tanya Mikael.
"Nona hanya bilang dia sedikit merasa pusing tuan, wajah nona juga terlihat sedikit pucat."jawab Cika.
"Hah....begitu ya, baiklah kembali keperkerjaan mu."ucap Mikael.
"Baik tuan."Cika pergi dari hadapan Mikael.
Pria itu mendekati pintu dan mendengar Lia seperti sedang menelpon seseorang.
"Maaf Dimas hari ini aku tidak bisa datang, aku tidak enak badan."ucap Lia disambungan telpon itu.
"Apa kau sudah minum obat? apa kau mau aku bawakan sesuatu?"tanya Mikael.
"Tidak perlu, terimakasih perhatianya. Tapi aku tidak papa, aku akan meminum obat setelah ini."ucap Lia.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, beristirahat lah. Aku tidak mau kau sakit."ucap Dimas.
"Baiklah terimakasih."
Sambungan telpon itu terputus, "Andai kau tuan muda yang perhatian pada ku, pasti aku lebih senang."gumam Lia melanjutkan makannya.
Sedangkan diluar kamar Mikael sudah mengepalkan tangannya dan memukul meja samping pintu membuat tanganya sakit.
"Aaaww....cih mengesalkan sekali, dia bilang tadi malam tidak akan mengganggu Lia lagi. Tapi apa itu dia menelpon istri ku, awas saja kau Dimas aku akan membalas mu."gumam Mikael lalau pergi dari depan pintu itu.
Lia membuka pintu kamarnya, dia seperti mendengar sesuatu tadi tapi apa. "Apa ada kucing? Tapi tidak mungkin Mikael benci kucing."ucap Lia lalu kembali menutup pintu kamarnya.
......
Lia perlahan turun dari ranjang syukurlah rasa sakit dibawah sana sudah sedikit hilang tidak sesakit yang tadi pagi.
Lia keluar kamar dengan membawa nampan berisikan piring kotor sisa dia makan tadi pagi. Dengan perlahan Lia menuruni tangga, takut jika saja dia terjatuh ditangga itu.
Saat sampai didapur Lia meletakan nampan itu ditempat cucian piring, saat berbalik dia terkejud dengan Mikael yang berada didepannya.
"Ya ampun."Lia mengusap dadanya.
"Kau sedang apa? Kenapa jam segini baru keluar kamar?"tanya Mikael menatap wajah Lia yang tidak mau menatapnya.
"Aku hanya mengantar nampan."jawab Lia.
"Kau kenapa? Cika bilang kau sakit."ucap Mikael menangkup wajahnya dan mengusap pipi Lia lembut.
"Aaa....aku tidak papa."ucap Lia melepas tangan Mikael.
"Lia soal yang direstoran itu.."
"Sudahlah lupakan saja, lagi pula apa hak ku untuk marah pada mu. Aku bukan siapa-siapa mu, aku hanya istri kontrak yang tidak kau inginkan lagi pula mau kau berkencan dengan wanita lain aku tidak peduli."ucap Lia lalu pergi begitu saja.
Mikael terdiam, kenapa hatinya sakit mendengar kalimat itu keluar dari mulut Lia. Apa wanita itu sangat kecewa padanya sampai mengatakan hal seperti itu. Walau hanya kontrak Lia tetap istrinya.
Ada apa dengan wanita itu? Kenapa dia seperti menghindarinya. Mikael terus memikirkan ada apa dengan Lia, kenapa cara jalan wanita itu berbeda.
"Sebenarnya apa yang terjadi semalam."gumam Mikael berusaha mengingat apa yang terjadi saat dia pulang malam itu.
Didalam kamar Lia hanya duduk diam, dadanya kembali berdenyut. Benar bukan pria itu tidak mengingatnya, seharusnya malam itu Lia bisa lebih menahan dirinya agar tidak terbawa tapi apalah daya semuanha terlambat. Lagi pula Mikael memang memiliki hak itu bukan, walau waktu yang tersisa sekarang 2 bulan biarkan waktu yang meneruskannya.
"Aku tidak mau memaksakan keadaanan."gumam Lia
__ADS_1