
Tangan Lia meremas baju Mikael saat ciuman itu semakin dalam pada bibirnya. Tangan Mikael perlahan masuk kedalam kaos yang Lia pakei.
Mata Lia terbuka saat merasakan remasan itu membuatnya terkejud, Lia berusaha melepaskan dirinya tapi gagal Mikael menahannya.
Ciuman itu terlepas dan Mikael menatapnya dengan mata yang menggelap. Lia menarik tangan Mikael keluar dari kaosnya.
"Lepaskan aku, kita tidak bisa seperti ini."ucap Lia.
"Kenapa?"tanya Mikael.
"Mikael lepaskan aku."ucap Lia berusaha melepaskan dirinya.
"Jawab dulu pertanyaan ku. Bukan kah kau istri ku, jadi aku berhak atas diri mu."ucap Mikael.
"Kita tidak bisa melakukannya."ucap Lia.
"Kenapa? Apa mencintai peria lain?"tanya Mikael.
"Apa maksud mu? Aku tidak mencintai siapa pun, kita memang tidak bisa melakukannya. Bukan kah kau sendiri yang berjanji tidak menyentuh ku, bahkan pernikahan ini hanya pernikahan kontrak waktu kita hanya tersisa 2 bulan. Lepaskan aku, aku tidak mau melakukan kesalahan yang hanya akan membuat ku dan kau menyesal telah melakukannya."ucap Lia lalu mendorong tubuh Mikael melapas dirinya lalu pergi dari kamar itu meninggalakan Miakel yang terdiam.
Lia masuk kedalam kamarnya dan bersandar pada pintu itu. Lia menyentuh bibirnya, ciuman pertamanya direnggut oleh suaminya sendiri harus kah Lia bahagia atas hal itu.
Tapi kenapa dada Lia berdetak tidak karuan saat Mikael menciumnya, tidak mungkin Lia menyukai pria angkuh itu hanya dalam waktu sesingkat itu.
"Tidak mungkin."guman Lia bayangan Mikael yang menciumnya dan rasa bibir tebal itu menciumnya masih begitu terasa.
"Aaaa aku sudah gila."ucap Lia mengacak rambutnya lalu dia teringat akan sesuatu.
Tangan pria itu sudah menyentuh aset kembarnya, pipi Lia memerah. "Aaaakhhh....aku sudah ternodai oleh suami ku sendiri."teriak Lia lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan telapak tanganya.
"Tidak...ini tidak baik,aku harus melupakannya. Iya aku harus melupakannya."ucap Lia.
^^^^^^
Ini sudah saatnya jam makan siang dan perut Lia sudah sangat merasa lapar.
"Apa aku harus keluar dari kamar? Tapi bagaimana kalau bertemu dengannya? Ya ampun aku begitu malu untuk bertemu dengannya."ucap Lia menyembunyikan wajahnya diselimut.
Tok toktok
"Nona, tuan muda meminta anda untuk turun makan siang."ucap Cika.
"Uuumm i...iya Cika, aku akan segera turun."balas Lia.
Wanita itu mengudap dadanya. "Aku pasti bisa."gumam Lia lalu melangkah turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar.
Lia menuruni tangga dan melangkah menuju ruang makan, dilihatnya Mikael yang sudah memakan makan siangnya dalam diam. Pria itu terlihat biasa saja. Tapi Mikael seperti tidak menyadari kedatanganya.
__ADS_1
Lia duduk dikursi yang berhadap dengan Mikael, lihatlah bahkan pria itu tidak meliriknya sama sekali. Ada apa dengan pria itu.
Tapi Lia berusaha tidak peduli, mungkin pria itu memang hanya ingin diam. Saat sudah selesai dari makannya Mikael meminum air putihnya lalu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
Lia masih merasa tidak ada yang salah dari Mikael mungkin benar pria itu memang sedang ingin diam saja dan Lia akan bersikap biasa saja.
......
Sudah 2 minggu Mikael dan Lia seperti orang tidak mengenal, awalnya Lia berpikir Mikael memang sedang sibuk atau banyak pikiran tapi semakin hari Lia semakin menyadari ada yang berbeda dari pria itu.
Bahkan Lia sampai tidak fokus dengan perkerjaannya karena memikirkan Mikael. Lia melamun dijam kerjanya.
"Lia." panggil Dimasembuat Lia tersadar.
"Iya apa?"tanya Lia sekarang mereka sedang rapat antar karyawan.
"Kau kenapa? dari tadi hanya diam termenung."tanya Dimas karyawan lainnya pun manatapnya heran.
"Ahh....maafkan aku, aku tidak papa."jawab Lia.
"Benarkah? Apa kau sedang sakit?"tanya Dimas menyentuh keningnya Lia menarik tangan Dimas yang menyentuh keningnya ini didepan karyawan lain dan Lia merasa tidak enak bagaimana pun Dimas tidak bisa terus perhatian padanya Lia memiliki seorang suami setidaknya untuk beberapa waktu kedepan.
"Ya aku baik-baik saja, tuan tidak perlu khawatir."jawab Lia Dimas tertegun tidak biasanya Lia menolak perhatiannya.
"Oh baiklah, kalau begitu kita lanjutkan."ucap Dimas melanjutkan rapat itu.
Rapat itu akhirnya selesai. Lia sedang merapikan meja rapat itu dan menyusun kembali berkas-berkas bekas rapat tadi. Tapi pikiran Lia sedang tidak berada ditempatnya.
"Hy." Dimas menepuk bahunya membuat Lia terkejud.
"Kau ini kenapa? Dari tadi aku memperhatikan kau banyak melamun apa yang kau pikirkan?"tanya Dimas.
"Aaa tidak, tidak papa."jawab Lia lalu melanjutkan perkerjaannya.
"Katakan saja ada apa?"tanya Dimas menahan tangan Lia dan mengeggamnya.
Saat seperti ini, Lia merasa biasa saja tidak seperti saat Mikael menggegam tangnya. Lia melepas tanganya dari Dimas membuat pria itu heran.
"Aku baik-baik saja, aku keruangan ku dulu."ucap Lia lalu pergi dari rauangan rapat itu.
Dimas menatapnya, ada yang berbeda dari wanita itu. "Kenapa kau seperti menghidari ku."
●|●|●|●|
Lia menyelesaikan perkejaan dengan cepat dan membersihkan meja kerjanya. Lia meraih tasnya dan melangkah menuju ruangan Dimas.
"Dimas."panggil Lia mengalihkan perhatian pria itu.
__ADS_1
"Ya.."balas Dimas terseyum padanya.
"Perkerjaan ku sudah selesai, aku pamit pulang duluan."ucap Lia.
"Oh baiklah, aku akan mengantar mu."ucap Dimas.
"Tidak..tidak, perkerjaan mu pasti masih banyak. Aku pulang dengan taksi saja, aku pulang dulu."ucap Lia lalu pergi dari ruangan Dimas.
Pria itu terdiam, Lia menolaknya lagi. Sesampainya dilantai dasar Lia melangkah keluar gedung itu dan mencari taksi. Tidak lama taksi itu dia dapatkan dan Lia menyebutkan alamat rumahnya lalu menaikitaksi itu.
Sepanjang jalan mata Lia menata keluar jendela. Saat taksi itu berhenti dilampu merah tidak.sengaja mata Lia meliaht sebuah mobil yang yang sepertinya Lia tau itu punya siapa.
"Pak bisa berhenti sebentar direstoran itu?"pinta Lia.
"Baik nona."balas supir taksi.
Saat sudah berhenti Lia turun dari taksi itu dan melangkah masuk kedalam restoran itu, dia melihat sekeliling sampai matanya mepihat seseuatu yang membuat hatinya berdenyut sakit.
Lia terdiam melihat Mikael bersama wanita, bukan hanya itu bahkan Mikael begitu perhatian membersihkan sudut bibir wanita itu.
Lia mendekati meja itu, "Mikael."panggil Lia mengalihkan perhatian mikael.
Pria itu terkejud melihat Lia ada disana. "Lia.." Mikael menyentuh tangan Lia tapi wanita itu menepisnya.
"Wahhh hebat. Bagus sekali, disaat aku terus memikirkan mu dan ingin cepat pulang tapi apa yang aku lihat kau..."
"Lia, kau salah paham.."ucap Mikael beranjak dari duduknya menggenggam tangan Lia tapi wanita itu lagi-lagi menepisnya.
"Seharusnya aku sadar diri."ucap Lia lalu pergi begitu saja.
"Lia...Lia..." Mikael mengejarnya.
Lia memasuki taksi itu. "Kita pergi pak."ucap Lia.
Mikael berlari mendekati taksi untuk dan mengetuk kaca mobil. "Lia dengarkan aku dulu....Lia..."ucap Mikael tapi Lia tidak memperdulikannya.
"Non.."
"Jalan terus pak."ucap Lia.
Pak supir itu hanya bisa menuruti kemauan Lia walau yang sekarang terjadi bahwa tuan muda itu mengejar mobilnya.
"LIA..."teriak Mikael.
"Aaahkh...." Mikael menendang angin begitu saja.
Wanita itu salah paham padanya, tapi kenapa Mikael begitu takut Lia kecewa padanya bahkan dia seperti melihat kilapan dimata wanita itu. Apa wanita itu menangis.
__ADS_1