
"kalian sudah menemukan di mana mereka berada?" Tanya orang yang duduk di sofa ruang tengah dari kamar hotel itu.
"Belum tuan, kami masih bum bisa menemukan alamatnya." Jawab lawan bicaranya.
"Lanjutkan pencarian, cari kemana pun kalian bisa aku tidak mau tau kalian harus menemukannya."
"Baik tuan."
*-*-*-*-*-
Mikael terus menatap istrinya yang sedang duduk dihalaman belakang rumah mereka. Lia hanya bermain bersama kelinci-kelinci itu.
Mikael menghelakan nafasnya, sampai pagi ini Lia sama sekali tidak ada bicara padanya. Padahal Mikael sudah terus mengajak Lia bicara tapi wanita itu hanya diam.
"Cika.." panggil Lia. Cika melewati Mikael sambil menunduk hormat.
"Iya nona."
"Uumm apa kau tau dimana orang punya mangga muda, aku tiba-tiba ingin makan itu." Ucap Lia.
"Di pasar banyak nona. Mau saya belikan?" Tanya Cika.
"Aaaa aku maunya yang langsung di petik dari pohonnya." Ucap Lia cemberut.
"Saya tidak tau nona, yang saya pernah lihat hanya ada di pasar." Ucap Cika yidak tega melihat wajah sedih Lia.
"Aku ingin mangga muda." Ucap Lia mengusap perutnya.
Cika tanpak bingung harus apa. "Aku akan mencarikannya untuk mu." Ucap Mikael.
Cika langsung berpindah posisi agar tidak membelakangi tuannya.
"Cika carikan untuk ku ya, aku ingin yang langsung dari pohonnya." Ucap Lia menatap Lia dengan berbinar.
Cika tampak bingung, dia antara mengiyakan keinginan nonanya tapi tidak tau harus mencari kemana tau menyarankan tuan mudanya saja yang mencarikan tapi nona dan tuanya sedang tidak bicara.
"Cika kau pergilah." Ucap Mikael.
"Saya permisi nona tuan." Ucap Cika lalu melangkah pergi.
Lia terdiam lalu berbalik membelakangi Mikael.
"Aku akan mencarikannya untuk mu." Ucap Mikael.
__ADS_1
"Tidak perlu kau pasti sibuk." Ucap Lia akhirnya membuka suara.
"Aku tidak sibuk, Hang yang mengurus pekerjaan itu." Ucap Mikael Lia hanya diam.
"Sayang..kumohon maafkan aku, aku salah bicara seperti itu. Kau benar, aku yang tidak peka dan tidak bisa mengerti keinginan mu. Seharusnya aku bisa menahan amarah ku." Ucap Mikael.
"Aku yang salah, kau sedang sibuk tapi aku memaksa ingin dekat dengan mu. Aku yang salah tidak bisa mengerti keadaan dan waktu mu." Ucap Lia tanpa menatap Mikael.
"Sayang tidak seperti itu." Ucap Mikael.
"Lalu seperti apa? Mungkin jika aku tidak hamil aku tidak mungkin mengganggu waktu mu, tapi sayangnya aku sedang hamil membuat ku tidak bisa mengerti keadaan mu. Ya sudah aku tidak akan menganggu mu lagi, itu kan yang kau minta dan aku akan berusaha menahan keinginan ku."
"LIA KU MOHON.." Mikael hampir kehilangan kesabarannya tapi dia berusaha menahanya. Lia menatap Mikael.
"Sudahlah, mulai sekarang kita saling mengerti saja. Jika kau sibuk aku tidak akan mengganggu mu dan kau jika sibuk jangan hiraukan aku. Mudah bukan." Ucap Lia Mikael memejamkan matanya.
"Tidak seperti itu caranya Lia. Aku tidak mungkin tidak bisa menghiraukan mu, kau istri ku sudah kewajiban ku perhatian dan memikirkan istri ku." Ucap Mikael menatap Lia lirih.
"Ku mohon sayang jangan seperti ini." Ucap Mikael menggenggam tangan Lia.
"Akut tidak mau kita seperti ini, aku tidak bisa seperti ini sayang. Jangan mendiamkan ku, aku tidak sanggup melihat mu seperti itu pada ku." Ucap Mikael lirih.
"Kau sendiri yang meminta ku untuk mengerti, sekarang aku berusaha mengerti keadaan mu apa salahnya. Jika kau sibuk lanjutkan kesibukan mu dan aku hanya bisa diam." Ucap Lia Mikael menundukkan kepalanya.
"Jangan hiraukan aku, biarkan saja aku sendiri." Ucap Lia.
"Tidak bisa seperti itu."
"Tentu bisa, jika kau sibuk kau tidak akan menghirukan ku." Ucap Lia.
"Oohh tuhan...kenapa jadi seperti ini." Ucap Mikael menunduk, sungguh dia tidak mau seperti ini.
Lia hanya diam menatapnya lalu terseyum. "Ku rasa ini sudah cukup." Batin Lia lalu mencium kepala Mikael membuat pria itu menatapnya.
"Selamat ulang tahun sayang." Ucap Lia Mikael terdiam.
"Semoga sehat selalu dan jadilah suami yang baik untuk ku, terimakasih atas kebahagiannya. Aku mencintai mu." Ucap Lia mata Mikael tidak lepas menatap Lia.
Cika datang dengan kue ditanganya. "Ini nona kuenya baru saja datang." Ucap Cika Lia menyambut kue itu.
"Terimakasih." Ucap Lia terseyum Cika terseyum dan mengangguk lalu pergi.
"Nah sekarang tiup lilin dulu tapi sebelum itu buat permohonan dulu." Ucap Lia Mikael masih diam menatap Lia.
__ADS_1
Lia menyalakan lili yang berbentuk angka 26 dan ada tulisan selama ulang tahun suami ku. Lia terseyum dan mengarahkannya pada Mikael.
"Sebenarnya aku ingin nanti malam memberikan kejutan ini, tapi aku tidak tega melihat mu yang pusing karena ku, maaf sayang ku." Ucap Lia Mikael masih diam menatap Lia bahkan matanya berkaca.
"Ayo tiup lilinnya." Ucap Lia Mikael meniup lilin itu setelah berdoa dalam hatinya.
"Yeyyy....selamat ulang tahun suami ku. Sehat selalu dan semoga kita bisa menua bersama." Ucap Lia meletakan kue itu di atas bangku di samping mereka lalu mencubit pipi Mikael pelan dan memeluk suaminya erat.
Air mata Mikael mengalir dan membalas pelukan itu erat. "Kau nakal sekali." Ucap Mikael mencium bahu istrinya.
Lia terseyum, dia merasakan basah di bahunya. Lia melepas pelukan itu dan melihat Mikael yang menangis.
"Hy kenapa menangis. Aku keterlaluan ya mengerjai mu." Tanya Lia khawatir Mikael menggeleng menatap Lia.
"Kau ingat mengingat hari ulang tahun ku yang membuat ku bahagia sayang, aku pikir kau lupa. Sudah lama aku tidak mendengar ucapan selamat ulang tahun itu setelah kepergiaan ayah, dan sekarang kau membuat kejutan ini untuk ku. Aku pikir kau benar-benar marah pada ku dan tidak mau menghiraukan ku lagi tapi ternyata semua itu demi memberikan ku kejutan." Ucap Mikael Lia diam menatapnya.
"Terimakasih sayang. Terimakasih.." Ucap Mikael air matanya kembali mengalir.
"Kenapa kau jadi cengeng seperti ini, tentu saja aku ingat hari ulang tahun suami ku mana mungkin aku melupakannya, ini adalah hari spesial. Maaf jika aku keterlaluan mendiamkan mu bahkan sampai membuat mu marah, aku hanya ingin mengerjai mu." Ucap Lia Mikael terkekeh lalu menunduk menghapus air matanya.
"Tidak papa sayang, maaf aku tidak bisa mengerti keinginan mu dan terimakasih untuk kejutannya sayang." Ucap Mikael Lia terseyum dan mengangguk.
"Maaf aku terlalu memaksa mu waktu mu. Aku juga tidak bisa mengerti keadaan mu, seharusnya aku bisa mengerti dan bisa mengendalikan diri ku." Ucap Lia.
Mikael terseyum dan mengecup kening Lia. "Sudahlah jangan saling menyalahkan diri sendiri, kau istri ku dan kau sedang hamil anak ku kebahagian mu adalah hal penting bagi ku. Sekarang katakan saja apa pun yang kau mau pada ku, walau aku sibuk atau pun sedang tidak sibuk, aku akan terus memenuhi keinginann mu." Ucap Mikael Lia mengangguk.
"Selamat ulangt tahun semua ku." Ucap Lia.
"Terimakasih sayang ku." Balas Mikael.
Bibir itu saling bertemu dan meresapi rasa yang ada, Mikael menarik tekuk Lia memperdalam ciuman mereka. Tangan Lia mengalungkan di leher Mikael.
"Hanya nona Lia yang bisa membuat tuan muda seperti itu." Ucap Cika.
"Kau benar, bahkan aku yang selalu bersamanya. Langka bagi ku melihat seyum setulus itu dari tuan Mikael." Ucap Hang.
"Tuan jika boleh tau, ayah tuan Mikael meninggal karena apa?" Tanya Cika.
Hang terseyum. "Karena demi menyelamatkan nyawa nyonya Sera." Jawab Hang.
"Nyawa nyonya Sera?"
"Ceritanya panjang, kau akan sulit memahaminya." Ucap Hang lalu pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Cika menatap kepergian Hang.