Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
merindukannya


__ADS_3

Selesai dari berbelanja Lia dan Dimas kembali pulang kerumah Lia. Terlihat mereka sekarang sedang memasak untuk makan siang mereka.


"Dimas bukan seperti itu cara memotongnya."ucap Lia memegang tangan Dimas dan mengajarinya memotong kentang dengan benar.


"Seperti itu. Jadikan dia kotak, bukan prisma seperti ini. Ada ada saja."omel Lia.


"Aku sengaja saja agar kau mengajari ku."ucap Dimas Lia hanya menggeleng.


Mereka melanjutkan masak mereka dengan tenang, sesekali Dimas menanyakan apa yang dia lakukan selanjutnya dan Lia dengan sabar mengajarinya memasak.


"Setelah ini masukan kaldunya, setelah itu baru masukan jamurnya."ucap Lia Dimas mengangguk mengerti.


Dengan pelan Dimas melakukan apa yang diberitahu Lia sedang wanita itu sedang membuatkan supnya. Lia melirik pria itu, padahal awalnya dia yang ingin memasak tapi tiba-tiba pria itu yang meminta untuk memasaknya sendiri.


"Kau itu apa tidak pernah masak?"tanya Lia.


"Kalau masak mie rebus mungkin pernah jika memasak ini, aku tidak pernah."jawab Dimas.


"Kau ini aneh sekali,kau suka masakan itu tapi tidak tau cara memasaknya."ucap Lia.


Dimas terseyum. "Ibu ku yang biasanya memasakannya untuk ku."ucap Dimas membuat Lia terdiam.


"Maafkan aku."ucap Lia Dimas terseyum lalu mengusap kepala Lia lembut.


"Tidak papa santai saja."ucap Dimas.


Lia menatap Dimas. "Apa kau sudah bisa menerima ibu tiri mu?"tanya Lia.


Ya Dimas memang anak kandung dari tuan sanjaya tapi ayahnya itu menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki anak yang lebih tua dari Dimas dan ya itu Mikael.


"Aku bisa menerimanya, tapi tidak bisa menyanyanginya seperti aku sayang pada ibu ku sendiri."jawab Dimas.


Lia menunduk lalu terseyum. "Pasti perasaan mu sangat berbeda padanya, ibu kandung mu tetap nomor 1 dihati mu."ucap Lia.


"Ya itu tepat sekali."ucap Dimas "dan kau juga berada dihati ku."batin Dimas menatap Lia.


Setelah masakan mereka jadi, Lia dan Dimas menyiapkannya dalam sebuah mangkuk ukuran sedang dan meletakannya di atas meja makan.


"Wahhh enak sekali baunya aku sudah tidak sabar."ucap Lia.


Mereka mengambil piring dan peralatan makan lainnya dan memulai menyantap masakan mereka.


Dimas memakai sumpit untuk memakan jamur miliknya. "Kau mau mencobanya?"tanya Dimas menyuapi Lia.


"Tentu."jawab Lia dan menerima suapan itu.


"Uumm ini enak."ucap Lia.


"Tentu saja enak, kau yang mengajari ku jika aku melakukannya sendiri mungkin rasanya tidak akan seperti ini."ucap Dimas Lia terkekeh.

__ADS_1


Mereka menikmati makan siang dengan canda, Dimas tidak ada habisnya mengoda Lia membuat wanita itu kesal dan sesekali tertawa.


"Lalu apa yang terjadi?"tanya Lia saat Dimas menceritakan masa-masa sekolahnya dulu.


"Mereka berhasil menemukan ku dalam kumbangan lumpur, kau tua separuh badan ku sudah tenggelam dalam lumpur itu."ucap Dimas membuat Lia tertawa.


"Pengalaman kemping yang menyedihkan."ucap Lia Dimas juga ikut tertawa.


"Kau benar sekali, untung saja wajah ku masih terlihat tampan setelah terkena lumpur itu."ucap Dimas membuat tawa Lia terhenti.


"Kau itu terlalu lercaya diri sekali ya."ucap Lia lalu terseyum.


"Biarkan saja, aku memang tampan bukan?"tanya Dimas.


"Ya kau tampan, tapi sayang suka mempermainkan perasaan wanita."ucap Lia menyuap makanan terakhirnya.


"Hy nona, aku tidak permah seperti itu."ucap Dimas membela diri.


"Ya karena kau tidak sadar saat melakukannya, sudahlah aku sudah selesai."ucap Lia lalu beranjak mengantar piring kotornya kecucian piring dan membersihkannya.


Dengan cepat Dimas memakan makanan terakhirnya dan mengatarnya pada Lia.


"Apa maksud ucapan mu tadi?"tanya Dimas setelah tegukan air terakhirnya.


"Tidak papa lupakan saja, walau aku bilang kau tidak akan paham."ucap Lia Dimas menatap heran..


"Yakk...jangan gila, mana mungkin aku menyukai mi. Kau bukan tipe ku."ucap Lia Dimas terseyum kecut.


"Lalu seperti apa tipe mu?"


"Seperti Mi..." Lia tidak melanjutkan perkataannya.


"Mi...miehun?" Lia memukup kepala Dimas.


"Kau ini bodoh sekali, apa kau pikir miehun itu manusia?"ucap Lia kesal Dimas mengusap kepalanya yang berdenyut.


"Kau galas sekali, sedang siklus ya?"tanya Dimas.


"Bukan sedang siklus, tapi ada biang cari masalahnya disini jelas aku galak."ucap Lia.


"Jangan galak-galak nanti kau cepat tuan."ucap Dimas lalu berlari kabur.


"Yakkk awas kau pria aneh."teriak Lia mengejar Dimas dengan busa ditanganya.


Mereka kejar-kejaran dalam rumah itu, Dimas terus menghindar sampai tidak sengaja kakinya tersandung sofa membuanya jatuh terlentang didepan sofat dan Lia pun terjatuh diatasnya karena tidak sempat menghindar.


Mata mereka saling bertatapan, tapi dengan cepat Lia mengusap busa itu di wajah Dimas. "Rasakan busa ini tuan muda."ucap Lia lalu beranjak pergi sambil tertawa puas.


Dimas terdiam lalu mendudukan dirinya. Apa wanita itu tidak sadar bahwa pria itu sedang tidak tenang, atau lebih tepatnya jantungnya tidak tenang.

__ADS_1


Dimas terseyum miring. "Hah...menggemaskan."gumam Dimas.


][][][][][][


Hari sudah menundukan gelapnya, disebuah rumah ada seorang wanita dan pria yang sedang asik bermain game.


"Ayo Dimas lawan, itu pukul"ucap Lia.


"Iya-iya sabar."balas Dimas mengotak-atik layar ponselnya.


Sampai...."Yeeyyy.....kita menang"teriak mereka barengan.


"Kerja bagus."ucap Lia mereka pun saling kompak.


"Ini sudah malam apa kau tidak ingin pulang?"tanya Lia.


"Kau mengusir ku?"


"Hy tuan, aku ini seorang wanita menjaga diri adalah pilihan terbaik. Sebaiknya kau pulang,sudah cukup kau seharian ini di menemani ku bahkan aku sudah memasakan makan malam tadi untuk mu, kau sudah puas kan."ucap Lia.


"Lia aku masih merindukan mu, kau tau 3 hari perjalanan bisnis itu membuat ku jauh dari mu."ucap Dimas.


"Kau lebay sekali, pergilah sekarang."ucap Lia menarik tangan Dimas dan membawanya keluar.


Sesampainya dilantai bawah Lia memberikan mantel Dimas dan kuncil mobil Dimas. "Ini barang-barang mu dan sekarang pulang lah."ucap Lia.


Dengan malas Dimas memasuki mobilnya. "Aku akan kembali lagi besok."ucap Dimas.


"Yaya terserah kau saja, asalkan kau tidak lupa bayar."ucap Lia Dimas menjetikan jarinya lalu melambai.


"Aku pulang dulu."ucap Dimas Lia terseyum dan melambai.


"Da....hati-hati."balas Lia.


Mobil itu pergi dari hadapannya dan mulai menjauh. Perlahan seyum Lia menghilang.


"Kenapa aku jadi merindukannya."gumam Lia menyentuh dadanya.


Saat ingin melangkah pergi Lia menatap lampu jalan, tempat biasa seseorang berada disana.


"Dia tidak datang malam ini? Hah...Lia apa yang kau harapkan? Aku tau kau merindukannya tapi sadar dibukan lagi milik mu, dia hanya orang asing."gumam Lia lalu melangkah menaiki tangga.


tepat setelah Lia pergi seseorang muncul dan beridiri dibawah lampu jalan itu, tepat didepan kafe Lia.


Orang itu menatap jendela rumah Lia, terlihat bayangan wanita itu sedang membereskan kamarnya.


"Kau bertambah cantik."gumamnya.


"Cih....dia memang cantik sejak dulu Mikael, kau saja yang menyia-nyiakannya."gumam orang itu Mikael.

__ADS_1


__ADS_2