
Disebuah rumah sakit ternama, seorang pria terus menunggu dengan gelisah.
"Semoga Lia baik-baik saja."gumamnya mengusap tanganya.
"Tuan Dimas.."panggil seseorang membuat pria itu menolah.
"paman."ucap Dimas.
"Apa yang terjadi dengan putri ku?"tanya Hiro khawatir Dimas yang menghubungi ayah Lia setelah sampai dirumah sakit karena memang Dimas dekat dengan Hiro.
"Lia tertabrak mobil paman, dan sekarang dokter sedang mengananinya."jawab Dimas.
"Kenapa putri ku bisa sampai tertabrak mobil?"tanya Hiro.
Dimas menceritakan semua kejadian itu dan membuat amarah Hiro naik.
"Pria itu, aku mempercayakan putri ku padanya berharap Lia akan bahagia bersamanya tapi apa yang terjadi ini tidak bisa aku terima. Mereka harus bercerai aku tidak terima putri ku diperlakukan seperti itu."ucap Hiro marah.
"Paman tenang saja, Lia pasti akan baik-baik saja dan mengenai kak Mikael dia memang ingin menceraikan Lia besok."ucap Dimas.
Sepertinya pria itu memang memancing amarah ayah Lia.
"Bagus kalau begitu, maka putri ku akan aman."ucap Hiro. Dimas terseyum senang hatinya bersorak.
"Lia akan menjadi milik ku."batin Dimas.
■■■■■■■
Disebuah kamar inap, Lia terbaring lemah. Kaki yang diperban dan kepalnya, Dimas dan Hiro ada diruangan itu menunggu Lia sadar.
"Ugh."
"Lia..." Dimas dan Hiro langsung beranjak mendekati Lia.
"Ayah....Dimas....aku dimana?"tanya Lia.
"Kau dirumah sakit sayang."jawab Hiro.
"Apa yang terjadi?"tanya Lia.
"Kau mengalami patah kaki, dan benturan di kepala mu da....." Dimas tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Dan apa?"tanya Lia.
"Kita panggil dokter lebih dulu."ucap Dimas lalu menekan tombol samping ranjang pasien Lia.
Tidak lama dokter datang dan memeriksa keadaan Lia.
__ADS_1
"Semua sudah stabil, nona Lia hanya lerlu banyak istirahat dan harus melakukan rutin pengobatan untuk kakinya."
"Baik dokter."balas Hiro.
Dokter itu pergi setelahnya. Hiro mendekat pada Lia.
"Lia jujur pada ayah, apa kau sebelumnya hamil anak pria itu?"tanya Hiro membuat Lia terdiam.
"Maksud ayah?"
"Lia katakan saja, apa bayi dalam kandungan mu...adalah anak Mikael?"tanya Hiro Dimas hanya diam.
"Ayah....aku.."
"Apa apa Mikael tau tentang kehamilan mu?"tanya Hiro Lia menggeleng pelan Hiro menghelakan nafasnya kasar.
"Kenapa kau merahasia ini Lia? Kau tau itu sangat berbahaya dan apa sekarang, kau keguguran Lia."ucap Hiro Lia terdiam air matanya mengalir.
"Apa....Lia keguguran?" tangan Lia mengis sambil mengelus perutnya.
Dimas menatap Lia, dia tidak menyangka bahwa Lia dan Mikael pernah melakukannya. Dimas pikir pernikahan kontrak ini tidak akan membawa mereka sampai kehal itu.
"Liaaa....kenapa kau merahasiakannya sayang?"tanya Hiro.
"Ayah...Lia tidak bermasud merahasiakannya."jawab Lia.
"Mikael melakukannya tanpa sadar pada ku."jawab Lia.
"Apa maksud mu?"tanya Hiro.
"Malam itu....Mikael pulang dalam keadaan mabuk berat."ucap Lia.
"Ya tuhannn..."ucap Hiro.
"Tuan muda harus tau tentang ini."ucap Hiro.
"Tidak ayah....Lia mohon jangan memberitahunya ayah."ucap Lia menatap ayahnya memohon.
Hiro menatap putrinya. "Kenapa sayang?"
"Semua sudah terlamabat walau ayah memberitahunya, itu tidak akan mengubah segalanya. Mikael tidak akan menerima hal itu dan dia juga sudah mengajukan perceraian pada ku. Ku mohon ayah, biarkan saja. Biar Lia sendiri yang menanggung semuanya."ucap Lia.
Hiro menatap putrinya dan mengelus pipi putrinya lembut. "Lia tuan muda harus tau tentang ini, bagaimana pun dia harus bertanggung jawab atas kejadian ini."ucap Hiro Lia menggeleng.
"Lia mohon ayah....ku mohon turuti permitaan putri mu. Lia hanya ingin tenang ayah, Lia ingin mengikhlaskan semuanya. Aku mohon."ucap Lia.
Hiro mengalihkan wajahnya dan menghelakan nafasnya. "Baiklah...ayah akan menuruti kemauanmu."ucap Hiro Lia terseyum lalu memeluk ayahnya.
__ADS_1
"Terimakasih ayah."ucap Lia.
"kau tidak perlu berterimakasih, kau putri ayah. Permintaan mu adalah printah untuk ayah, putri kecil ayah ini sangat berharga."ucap Hiro Lia terseyum. Dimas hanya diam memperhatikan.
"Yah...aku boleh meminta sesuatu? Ini untuk yang terakhir."ucap Lia melepas pelukannya.
"Apa itu?"tanya Hiro.
"Lia ingin sekali memiliki Kafe kecil dan rumah diatasnya, Lia ingin memiliki usaha Lia sendiri selain berkerja dikantoran."pinta Lia Hiro terseyum.
"Baiklah ayah akan membuatkannya untuk mu." Lia terseyum senang.
"Aku akan membantu mencari lahannya paman, yang pastinya bagus untuk tempat usaha Lia nanti."ucap Dimas.
Lia terseyum pada Dimas. "Tentu saja...terimakasih tuan muda Dimas."ucap Hiro.
"Tidak perlu memanggil ku tuan muda paman, cukup dangan Dimas saja. Kau sudah ku anggap ayah ku sendiri."ucap Dimas Hiro terseyum dan mengangguk.
Lia menatap kedua pria itu bergantian lalu menunduk mengusap perutnya. "Maafkan bunda sayang, bunda janji akan mengantikan semuanya. Bunda menyayangi mu."batin Lia.
______
Surat cerai itu telah sampai ditangan Lia, dan tentunya Dimas yang mengambil surat itu dari Mikael.
Mereka memang merahasiakan keadaan Lia pada Mikael.
Lia menatap surat itu, tanganya ragu untuk mencoret kertas putih itu untuk dia tanda tangani.
"Lia..."panggil Dimas membuat wanita itu menatapnya.
"Apa kau rag?" Lia mengangguk.
"Aku mencintainya Dimas."ucap Lia.
"Tapi dia tidak mencintai mu Lia, jika dia merasakan hal yang sama Mikael tidak mungkin melakukan hal ini. Dia tidak akan sampai hati menceraikan mu, walau memang hanya sebuah pernikahan kontrak tapi pasti cinta itu tumbuh tapi Lia. Apa pria itu mencintai mu?"tanya Dimas Lia menggeleng.
"Lalu apa yang kau ragukan, apa kau masih berharap bahwa dia mencintai mu. Jika dia mencintai mu Lia, dia pasti menanyakan keadaan mu tapi apa, saat aku mengambil surat ini dia sama sekali tidak menanyakan hal apa pun tentang mu dan hanya memberikan surat ini pada ku."ucap Dimas Lia terdiam.
"Lia....buka mata mu, kebahagiaan mu tidak ada bersamanya. Pria itu tidak pernah menghargai mu, bahkan dia tidak ingat telah melakukan itu pada mu."ucap Dimas.
Semua yang dikatakan Dimas benar, Mikael tidak pernah membahas soal kejadian malam itu lagi. Bahkan pria itu seolah tidak peduli.
Lia mendekatan ujung polpen itu pada kolom tampat tanda tanganya dan mulai mencoret tempat itu, Dimas terseyum senang. Lia akan menjadi miliknya dan wanita itu akan membenci Mikael.
"Kau membuang berlian berharga mu Mikael, maka aku yang akan memungutnya. Liat saja Lia akan bahagia bersama ku." batin Dimas.
Lia melihat tanda tanganya lalu menghelakan nafasnya. "Semoga pilihan yang aku pilih benar, tuhan jika benar pria itu tidak mencintai ku maka jauhi dia dari hidup ku. Tapi....jika benar dia mencintai ku, aku mohon berikan kesempan pada ku agar bisa merasakan hal itu."batin Lia memejamkan matanya.
__ADS_1
Tanpa sadar air mata Lia mengalir, dia tidak ingin perpisahan ini. Tapi pria itu yang menginginkannya.