
"Sayang." panggil Mikael mencari keberadaan istrinya.
"Cika di mana istri ku?" tanya Mikael saat Cika melangkah melewatinya.
"Nona Lia ada di taman belakang tuan, sepertinya nona tidak mendengar tuan karena sedang mendengarkan musik." jawab Cika lalu ijin pergi.
Mikael melangkah menuju taman belakang rumah itu dan benar istrinya sedang duduk di kursi di temani musik yang dia dengar dari aerphone. Mikael tersenyum dan mendekat Lia.
Dia perlahan menutup mata Lia membuat wanita itu terdiam lalu tersenyum. "Sayang kau mengejutkan ku." ucap Lia Mikael terkekeh.
"Sedang apa cantik?" tanya Mikael mencium pipi Lia.
"Sedang mendengarnya lagu, untuk menghibur anak mu." jawab Lia.
Mikael tersenyum lalu ikut duduk di samping Lia. "Lagu apa yang kau dengar?" tanya Mikael.
Lia melepas aerphonenya dan memasangkannya pada Mikael. "Suara alam?" tanya Mikael Lia mengangguk.
"Aku ingin mendengarkan ini sambil memandangi taman ini, bagus bukan?" tanya Lia Mikael mengangguk.
Lia kembali memasangkannya di telinganya dan Mikael sibuk menatapnya.
"Kau tidak sibuk sayang?" tanya Lia.
"Tidak, ini waktu ku untuk bersama mu." jawab Mikael sambil mengelus kepala Lia lembut.
Lia tersenyum. "Aku senang kau bisa membagi waktu mu untuk bersama ku." ucap Lia menyandarkan kepalanya di bahu Mikael.
Mikael merangkul Lia dan mencium pucuk kepala istrinya. "Apa kau ingin sesuatu?" tanya Mikael Lia menjawab dengan gelengan.
"Apa kalian sudah menemukan di mana Dimas?" tanya Lia menegakan tubuhnya menatap Mikael.
"Hampir sayang, Hang sudah berusaha untuk mencarinya." jawab Mikael sambil merapikan rambut Lia yang tertiup angin.
Lia menatap Mikael lekat. "Ada apa?" tanya Mikael Lia tersenyum.
"Kau tau? Aku merasa bahagia." ucap Lia.
"Benarkah? apa yang yang membuat mu bahagia sayang ceritakan pada ku." ucap Mikael.
"Kau yang membuat ku bahagia sayang, dari awal aku mengenal mu dan masalah pernikahan palsu kita aku tidak pernah berpikir bahwa akhirnya kita akan seperti ini, cinta tumbuh dengan sendirinya tanpa kita sadari." ucap Lia dia menatap tangan Mikael dan menggenggamnya, kembali menatap Mikael.
"Aku tidak sadar bahwa diri ku yang wanita biasa ini bisa meluluhkan hati pria dingin seperti mu." lanjut Lia membuat Mikael tersenyum.
"Kau tau, aku juga awalnya tidak menyangka bahwa pria dingin seperti ku bisa mendapatkan wanita keras kepala seperti mu." balas Mikael.
"Aku tidak keras kepala sayang." ucap Lia cemberut.
"Kata siapa tidak, kau sadar yang tidak sadar." ucap Mikael.
"Iissh kau ini awalnya aku ingin serius bicara pada mu tapi kau malah merubah mood ku." ucap Lia kesal membuat Mikael tertawa.
"Maaf sayang, aku paham maksud mu. Aku pun merasakan hal yang sama sayang, dari awalnya kita saling tidak suka perlahan cinta tumbuh tanpa di minta. Tapi kau tau apa hal yang lebih membuat ku bahagia?" tanya Mikael Lia menatapnya.
"Apa?"
"Mendapatkan mu adalah hal terbahagia yang pernah aku rasakan, rasa penyesalan atas kesalahan ku dulu mungkin masih ada sampai sekarang tapi aku bersyukur kau masih mau menerima ku dari semua kesalahan yang pernah aku buat pada mu." ucap Mikael Lia tersenyum.
"Karena aku mencintai mu." ucap Lia Mikael tersenyum dan mengelus pipi Lia.
"Tetaplah bersama ku sayang, kau adalah kebahagiaan ku aku tidak bisa hidup tanpa mu." ucap Mikael Lia mengangguk lalu memeluk Mikael erat.
__ADS_1
"I love you." ucap Lia.
"I love you too." ucap Mikael membalas pelukan Lia.
;;;;;;;
Di rumah berbeda terlihat seorang pria memandangi sebuah foto seorang wanita cantik.
"Aku merindukan mu, kau di mana? Di pria itu menyembunyikan mu." ucapnya pada foto itu.
"Kau membuat ku gila Lia, aku tidak bisa seperti ini. Kau di mana, aku membutuhkan mu."
Pria itu mengepalkan tangannya marah. "AAKKHH SIAL...jika bukan karena pria itu aku pasti sudah memiliki Lia, kenapa kau lebih memilih dia dari pada aku Lia...KENAPA?"
"Dimas ada apa?" tanya seorang wanita yang datang mendekatinya.
"Diam kau, aku muak melihat mu." ucap pria itu Dimas, wanita itu menatapnya bingung apa salahnya.
"Dimas ada apa? Kenapa kau kesal pada ku, aku berbuat apa?" tanya wanita itu Tasyah.
"Ini semua terjadi karena mu, kau yang membuat Lia tidak menyukai ku dengan memberitahu padanya kalau aku mencintainya iya bukan?" ucap Dimas marah menatap Tasyah.
"Dim..."
"Kau menemui Lia waktu itu, kau menceritakan semuanya pada Lia."
Flashback on
Kring
"Selamat datang." ucap Qila pada pelanggan yang datang ke kafe.
"Hay juga kak Tasyah." balas Qila.
"Di mana Lia?" tanya Tasyah.
"Kak Lia ada di atas, sedang bersama tuan muda Mikael." jawab Qila.
"Apa? Mereka sedang bersama di atas?" tanya Tasyah Qila mengangguk.
"Sepertinya mereka ingin rujuk kembali." ucap Qila Tasyah tersenyum.
"Wahh bukan kah itu bagus, aku akan senang mendengarnya jika mereka kembali bersama." ucap Tasyah.
"Iya kakak benar." ucap Qila.
Beberapa pelanggan bertambah, Qila terpaksa memanggil Lia karena dia tidak mungkin sendirian melayani pelanggan.
"Sebentar kak aku harus memanggil kak Lia." ucap Qila Tasyah mengangguk.
Qila melangkah keluar kafe dan berdiri di ujung tangga tapi tidak naik ke atas.
"Kak Lia." teriak Qila.
Tidak beberapa lama Qila melihat Lia keluar sambil tersenyum.
"Wahh lihat lah ada yang sedang berbunga." goda Qila.
"Ah kau ini menggoda ku saja, ayo cepat." ucap Lia.
"Oh iya kak, ada kak Tasyah datang." ucap Qila.
__ADS_1
"Benarkah? Syukurlah dia datang aku sudah sangat merindukannya." ucap Lia.
Mereka masuk kedalam dan Lia sebentar berbincang dengan Tasyah dan kembali bekerja, saat merasa sedikit ada waktu luang Lia menghampiri Tasyah yang duduk di pojok kafe.
"Hah...akhirnya ada waktu untuk mengobrol dengan mu." ucap Lia sambil membawa kopi buatannya.
Tasyah tersenyum. "Jadi?"
Lia menatap Tasyah. "Jadi apa?"
"Kau dan Mikael bagaimana?" tanya Tasyah membuat Lia terdiam lalu tersenyum.
"Entah dia belum memberi ku kepastian." jawab Lia.
"Apa dia sudah mengatakan kalau dia mencintai mu?" tanya Tasyah Lia mengangguk.
"Bahkan dia menyesal atas kesalahannya, apa aku memberikannya kesempatan lagi?" tanya Lia.
"Selagi dia mau berubah dan memperbaiki kesalahannya apa salahnya jika kau berikan kesempatan." ucap Tasyah.
"Ya kau benar, semoga kali ini kami memang bisa bersama." ucap Lia.
"Aku doakan yang terbaik untuk mu." ucap Tasyah.
"Terimakasih." ucap Lia tersenyum begitu juga Tasyah.
"Lalu? Bagaimana dengan Dimas?" tanya Tasyah Lia terdiam.
"Entahlah, aku hanya menganggapnya teman Tas tidak lebih. Aku harap Dimas juga seperti itu." ucap Lia Tasyah menghelakan nafasnya.
"Lia.." wanita itu menatap Tasyah.
"Aku menyimpan rahasia ini cukup lama dari mu, sebenarnya....aku mencintai Dimas." ucap Tasyah membuat Lia terkejut.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku tas." ucap Lia.
"Maaf, jika aku memberitahu mu mungkin kau akan memberitahu pada Dimas itu yang tidak aku inginkan." ucap Tasyah Lia menatap Tasyah sendu.
"Kenapa seperti itu, aku sahabat mu Tas. Jika kau dari awal memberitahunya pada ku, aku pasti membantu mu untuk bersama Dimas." ucap Lia.
Tasyah tersenyum. "Tapi Dimas tidak mencintai ku. Dia mencintai mu." ucap Tasyah membuat Lia terdiam.
"Awalnya aku ingin mengatakan padanya tentang perasaan ku tapi aku urungkan." ucap Tasyah.
"Kenapa begitu, kau tau aku akan di jodohkan dengan Mikael waktu itu kenapa kau tidak jujur. Kau harus jujur tentang perasaan mu Tasyah." ucap Lia Tasyah tersenyum.
"Awalnya aku berpikir jika kita membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain akan membuat kita bahagia juga tapi ternyata aku salah, kalimat itu tidak cocok untuk ku, aku menangis sepanjang malam hanya karena rasa penyesalan, aku menangis karena aku harus melepaskan orang yang aku cintai." ucap Tasyah sedih Lia menatap Tasyah.
"Kalau begitu sekarang perjuangkan, jadikan milik mu." ucap Lia.
"Tapi dia.."
"Kalau kau tulus mencintainya buktikan, buktikan bahwa kau pantas untuk memilikinya bukti kan bahwa cinta mu besar untuknya dan buat dia jatuh cinta pada mu. Tidak peduli dia cintai ku atau siapa pun, kalau kau memang tulus perjuangkan. Apa kau lupa aku hanya mencintai Mikael, akut idak mungkin bersama Dimas." ucap Lia Tasyah terdiam.
"Tas....tidak ada salahnya berjuang selagi kau masih memiliki waktu. Tidak ada salahnya kau menyatakan perasaan mu selagi kau yakin bahwa cinta mu tulus untuknya. Buktikan bahwa kau bisa." ucap Lia Tasyah menunduk lalu tersenyum.
"Akan aku coba." ucap Tasyah Lia tersenyum.
"Aku tau sahabat ku pasti bisa." ucap Lia Tasyah mengangguk.
flashback off
__ADS_1