
Kafe Lia hari ini begitu ramai pengunjung, dari anak muda sampai dewasa pun ada disana. Lia begitu sibuk melayani mereka. Dia hanya memiliki 1 karyawan.
"Qila, kau antarkan ini kemeja 5."ucap Lia memberikan sebuah nampan berisikan pesanan.
"Baik kak." Qila mengambil nampan itu dan mengantar ke meja no 5.
Saat ingin melangkah bari kemeja pemesanan, langkah Qila terhenti melihat seorang pria yang masuk kedalam kafe itu.
"Oh bukan kah itu tuan muda, anak kedua dari tuan sanjaya."
"Iya itu tuan muda Dimas. Aku baru lihat dia kesini."
Bisik-bisik para pengunjung. Dimas mendekati Qila.
"Dimana Lia?"tanya Dimas.
"Didalam tuan muda."jawab Qila.
"Tapi tuan duduk lah dulu, saya akan mencatatkan pesanan untuk tuan."ucap Qila.
Dimas duduk disalah satu meja dekat dengan jendela dan memesankan makanan, setelah itu Qila kembali kedapaur dan mendatangi Lia.
"Kakak.....ada seseorang mencari kakak."ucap Qila.
"Hah? Siapa?"tanya Lia tanganya sibuk meletakan makanan-makanan dinampan.
"Tuan...tuan muda Dimas."jawab Qila.
"Benarkah, aku kira dia akan datang nanti malam. Ya sudah kau antar ini kemeja no 8."ucap Lia.
"Baik kak, ini pesanan tuan muda."ucap Qila memberikan catatan pesanan lalu pergi.
Lia menyiapkan pesanan Dimas, setelah selesai dia sendiri yang mengantarkannya.
"Ini pesanan anda tuan, kue kacang dan jus alpukat dengan tambahan ceri diatasnya."ucap Lia Dimas menatapnya lalu terseyum.
"Apa kau masih sibuk?"tanya Dimas.
"Uuummm...masih ada 3 pesanan pelanggan lagi yang baru datang kau tunggu saja dulu, aku akan kembali sebentar lagi."jawab Lia lalu melangkah pergi.
"Dia cantik sekali jika mengikat rambutnya seperti itu, ah tidak-tidak.....dia cantik dengan gaya apa pun."gumam Dimas.
.....
Akhirnya ada waktu longgar untuk Lia, dia melangkah keluar dari dapur dan melangkah menuju meja tempat Dimas menunggunya.
"Maafkan aku, kau pasti lama menunggu."ucap Lia.
"Tidak, tidak papa. Duduklah apa kau ingin berdiri terus?"tanya Dimas.
__ADS_1
"Tidak enak dilihat pengunjung yang lain, kau ini tuan muda tidak mungkin aku duduk bersama mu"jawab Lia Dimas menghelakan nafasnya lalu menarik Lia untuk duduk dikursi sampingnya.
Beberapa pengunjung menatap mereka heran. "Apa pemilik kafe ini dekat dengan tuan muda."
"Lihatlah bahkan mereka mengobrol, seperti sudah akrab saja."
"Apa mereka sepasang kekasih?"
"Tidak mungkin, hubungan mereka tidak akan berjalan dengan baik jika mereka sungguh-sungguh pasangan kekasih."
Bisik-bisik para pengunjung. Lia merasa risih.
"Aahh sudahlah, kau membuat ku malu saja."ucap Lia beranjak berdiri.
"Tidak nyamna dilihat oleh para pengunjung."omel Lia kesal.
"Apa peduli ku, biarkan saja mereka mau bicara apa. Lagi pula kita memang cocok bukan?"goda Dimas.
"Jangan mimpi tuan muda."ucap Lia.
"Okey okey baiklah, sekarang duduklah didepan ku."ucap Dimas menunjuk kursi didepannya.
Lia menghelakan nafasnya lalu duduk.
"Sekarang apa?"tanya Lia.
"Cih membuang waktu ku saja, tuan muda aku masih banyak kerjaan."ucap Lia tapi Dimas hanya diam menatapnya.
"Lia..."panggil Dimas.
"Apa?"
"Apa kau masih mencintainya?"tanya Dimas membuat Lia terdiam.
"Haha kenapa kau jadi membicarakan ini?seperti tidak ada pembahasan lain saja."ucap Lia melihat kaluar kaca.
"Karena....aku masih melihat cinta dimata mu untuknya."ucap Dimas.
"Kau ini, sudahlah aku kedalam saja. Tidak ada gunanya mengobrolkan tentang hal itu."ucap Lia lalu beranjak pergi.
Dimas menatapnya. "Apa aku tidak bisa masuk kedalam hati mu lagi Lia."gumam Dimas.
Di dapur Lia berdiri dia, diangkatnya kepanya menatap cermin didepannya.
"Ya....aku masih mencintainya, dan hati tidak ada ruang untuk mu Dimas."gumam Lia lalu menyibukkan diri dengan memberisihkan meja dapur yang sudah dia bersihkan.
Dilain tempat.
Seorang pria terlihat sedang pusing dengan berkas-berkas dimeja kerjanya.
__ADS_1
"Hah.....kenapa walau seperti ini masih saja ada dia dikepala ku."gumanya.
Diraih ponsel miliknya dan menatap foto seseorang diponselnya. "Aku merindukan mu Lia."gumamnya.
"Tuan."panggil Hang saat memasuki ruangan Mikael.
"Apa?"
"Ini berkas yang tuan minta."ucap Hang memberikan berkas berwarna hijau pada Dimas.
"Baiklah terimakasih."ucap Mikael membaca berkas itu.
"Tuan, apa tuan mencintai nona Lia?"tanya Hang.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"tanya Mikael.
"Saya hanya bingung, jika tuan menceraikan nona Lia kerena tidak mencintainya, dan karena perselingkuhan seharusnya tuan tidak lagi mengurusi nona Lia. Bukan maksud saya lancang tuan, tapi saya hanya bingung, tuan selalu meminta saya untuk melihat aktivitas apa saja yang dilakukan nona Lia, untuk apa tuan?. Jika tuan tidak mencintainya, seharusnya tuan tidak perlu melakukan itu. Bahkan tuan sering mendatangi kafe nona Lia tapi hanya memandanginya dari luar saja."ucap Hang Mikael menatapnya lalu menghelakan nafasnya.
"Seharusnya kau sudah bisa menebaknya Hang."balas Mikael Hang menunduk lalu melihat Mikael.
"Jika begitu seharusnya tuan bicara pada nona Lia."ucap Hang.
"Apa kau pikir itu gampang? Dia membenci ku Hang, itu tidak mudah. Walau aku sudah mengetahui semuanya itu tidak akan mempermudah ku untuk kembali padanya Hang."ucap Mikael.
Ini pertama kalinya Hang melihat bosnya yang selalu dingin dan kaku itu terlihat lemah hanya karena cinta.
"Jika tuan memang menginginkan nona Lia kembali, seharusnya tuan tunjuka bahwa tuan mencintainya dengan memperjuangkan nona kembali."ucap Hang Mikael hanya diam lalu menggeleng.
"Tidak....biarkan saja, aku tidak ingin melukainya lagi. Selama 3 bulan itu aku selalu menyakiti perasaannya dan aku tau dia pasti sangat terluka karena ku."ucap Mikael dia terseyum miring.
Kata-kata dari ayah Lia benar, dia menyesal. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tuan....jika tuan memang mencintainya perjuangkan, sebelum semua terlambat. Semua kesalahan itu bisa diperbaiki jika tuan benar-benar menunjukan bahwa tuan merasa bersalah, dan aku yakin nona Lia pasti bisa menerima tuan lagi."ucap Hang.
"Jika dia tidak menerima ku?"
"Maka perjuangkan, tuan tidak akan tau hasilnya jika hanya melakukannya sekali. Keberhasilan itu tidak diukur dari seberapa banyak tuan melakukan apa pun untuk mendapatkan keberhasilan itu, tapi keberhasilan itu diukur dari bagaimana cara tuan memperjuangkannya agar berhasil."ucap Hang Mikael terdiam memikirkannya.
"Jika tuan tidak bertindak, itu hanya akan membuat rasa penyesalan tuan semakin besar karena tidak melakukan apa pun. Jika tuan tidak ingin kehilangannya maka kejar tuan sebelum orang lain yang merebutnya dari tuan, selagi tuan diberikan kesempatan tunjukan bahwa tuan bisa."ucap Hang.
"Maafkan saya jika saya selancang ini, tapi saya hanya ingin kalian bersama lagi tuan. Karena...nona Lia pasti juga mencintai tuan. Tuan....lakukan sebelum terlambat.....hah baiklah saya permisi tuan."ucap Hang lalu melangkah pergi.
"Hang.." pria itu berhenti didepan pintu.
"Terimakasih."lanjut Mikael Hang terseyum.
"Sama-sama tuan."ucap Hang menunduk hormat lalu menutup pintu itu.
Mikael menatap keluar kaca diruangannya. "Kau hanya milik ku, tidak akan ku biarkan siapa pun merebut mu dari ku."gumam Mikael.
__ADS_1