Hanya Ingin Bahagia

Hanya Ingin Bahagia
membuat mu terseyum


__ADS_3

Hari sudah telihat gelap, sedangkan wanita itu masih mengerjakan berkasnya. Karena posisinya tergantikan menjadi sekretaris dadakan membuatnya masih bingung mengerjakan berkas itu.


"Kau bisa mengerjakannya lagi besok."ucap seseorang membuat Lia terkejud.


"Tuan...kau mengejudkan ku saja."ucap Lia Dimas terseyum lalu mendekat padanya dan bersandar pada meja Lia.


Diruangan itu hanya mereka berdua kantorterlihat sepi karena memang sudah lewat jam pulang.


"Aku tidak meminta mu mengerjakannya smapai selesai hari ini juga, itu hanya sebagai pelajaran pertama mu."ucap Dimas menatap Lia.


"Tapi aku tidak suka menunda perkerjaan tuan."ucap Lia.


"Hah....hanya kita berdua disini, jangan memanggil ku tuan."ucap Dimas Lia menatapnya.


"Tapi kau atasan ku, jadi aku harus ingat batasan."ucap Lia Dimas mendekati wajahnya membuat Lia termundur.


Dimas terseyum membuat Lia terpaku. "Tapi aku yang meminta kau tetap seperti biasa saja saat bersama ku, aku tidak peduli saat ada orang lain kau memanggil ku tuan tapi untuk saat seperti ini cukup seperti biasa saja. Aku tetap teman mu."ucap Dimas menatap wajah Lia lekat tapi wanita itu dengan cepat mengalihkan wajahnya.


"Baiklah, aku mengikuti mu."ucap Lia Dimas menegakan badanya.


"Ayo pulang aku akan mengantar mu."ucap Dimas.


"Tapi perkerjaan..."belum selesai Lia berucap Dimas lebih dulu menarik tanganya dan mengambil alih tas Lia.


"Dimas..."


"Ini sudah malam, lebih baik kita pulang. Aku akan mengantar mu."ucap Dimas Lia hanya diam sudahlah Dimas bosnya disini.


Saat sudah sampai parkiran Dimas membukakan pintu untuk Lia dan mendorong pelan Lia untuk masuk.


"Kau ini berlebihan sekali."ucap Lia sambil terkekeh pelan.


Dimas hanya terseyum lalu mumutar mobilnya dan masuk kedalam mobil. "Aku ingin mengajak mu jalan sebentar, tidak masalahkan?"tanya Dimas.


"Uummm..." Lia tampak berpikir tapi belum selesai menjawat Dimas memotong.


"Baiklah kalau gitu kita jalan."ucap Dimas.


"Aku belum menjawab."ucap Lia.


"Tidak perlu menjawab."balas Dimas.


"Kalau begitu tidak perlu bertanya jika aku tidak boleh menjawab."ucap Lia kesal Dimas terkekeh lalu mengusap pucuk kepalanya pelan.


Hal itu membuat Lia terdiam. Dimas terseyum padanya lalu mengalihkan pandanganya kedepan dan melajukan mobilnya. Kenapa Lia merasa senang saat bersama Dimas.


Lia diam-diam terseyum lalu melihat keluar jendela. Dima melirik Lia yang terseyum kecil. "Kau cantik saat terseyum."batin Dimas.




Dimas mengajaknya ketaman hiburan yang diadakan hanya dalam 3 hari ini saja, dan malam ini hari pertama mereka buka.



"Kenapa kita kesini?"tanya Lia Dimas mendekat padanya.



"Aku ingin membuat ku terseyum hari ini."jawab Dimas lalu menggenggam tangan Lia dan menariknya masuk kedalam taman bermain itu.



Mereka sudah banyak mencoba berbagai permainan, bahkan tidak ada kata lelah dari mereka. Dimas benar-benar membuat Lia terseyum dari tadi dari tingkah Dimas bahkan cara Dimas menunjukan bakat menembak kaleng-kaleng itu membuat Lia tertawa.

__ADS_1



"Kau cocok untuk menjadi pelawak Dimas."ucap Lia tertawa melihat gaya Dimas yang memegang pistol, Lia mendekat padanya memberikan topi koboy yang mereka beli tadi tawa Lia pecah.



"Kau sungguh imut."ucap Lia Dimas terseyum melihat tawa Lia.



"Baiklah aku akan mulai menebaknya."ucap Dimas mulai memasang kuda-kuda dan mengarahkan pistol itu pada kaleng-kaleng yang disusun seperti piramida satu sisi.



Lia menatap pria itu fokus, sampai beberapa tembakan luput tapi Dimas tidak menyerah dan tembakan terakhir Dimas mendapatkanya membuat Lia bersorak riang.



"Yeeee...kau mendapatkannya."ucap Lia memeluk Dimas dari samping lalu melepasnya. Dimas terdiam merasakan pelukan itu, bibirnya terseyum lebar.



"Aku ingin boneka itu."ucap Lia menunjuk boneka beruang berwarna coklat.



Penjaga permainan itu mengambilkannya untuk Lia. Wanita itu menyambutnya dengan senang hati.



"Terimakasih....ayo coba permainan lain."ucap Lia menarik tangan Dimas kearah permainan lain.



Sungguh malam ini Lia terlihat sangat bahagia, bahkan wanita itu tidak ada hentinya terseyum. Dia sampai lupa ada seseorang yang menunggunya pulang dirumah dengan khawatir, apa wanita itu baik-baik saja.




"Kau lelah? Ingin ku belikan minum?"tanya Dimas Lia mengangguk setuju.



"Baiklah tunggu disini."ucap Dimas lalu pergi dari sana melangkah menuju kedai yang menjual minuman.



Lia menatap keseliling, sudah banyak yang mereka coba hanya tinggal 1 yang belum mereka coba yaitu bianglala.



Dimas melangkah mendekatinya dengan minuman ditanganya. "Ini untuk mu."ucap Dimas Lia menerimanya dengan senang hati.



"Ayo kita coba itu."tunjuk Lia pada wahana bianglala.



"Boleh...ayo."ucap Dimas lalu mereka melangkah menuju biang lala itu.



Hanya sebentar untuk mereka mengantri sekarang gililiran mereka untuk masuk kedalam kabin, Lia diijinkan masuk lebih dulu oleh Dimas lalu pria itu menyusulnya.

__ADS_1



Bianglala itu perlahan berputar, Lia begitu memperhatikan pemnadangan luas dari atas bianglala besar itu.



"Cantik sekali."ucap Lia Dimas menatapnya smabil terseyum.



"Seperti mu."ucap Dimas membuat Lia menatapnya lalu terkekeh.



"Kau ini dari tadi melucu saja."ucap Lia lalu melihat keluar kabin.



Dimas terus memperhatikan wajah Lia yang terlihat cantik dengan cahaya kota. "Aku tua kau terluka saat bersama kakak ku."ucap Dimas membuat seyum Lia menghilang.



"Haha...apa yang ku harapkan dari pernikahan ini, aku terpaksa menerimanya."ucap Lia.



"Ya aku tau itu, bahkan aku tau kalian hanya membuat pernikahan kontrak bukan?"tanya Dimas membuat Lia terkejud.



"Dari mana kau tau?"tanya Lia Dimas terseyum.



"Lia....aku tua kau tidak bahagia dengan pernikahan ini. Kau tidak bisa memaksa keadaan Lia, jika kau tidak merasa nyaman maka jangan diteruskan."ucap Dimas Lia menunduk.



"Aku sudah terbiasa untuk itu Dimas, aku tidak masalah jika aku tidak mendapatkan kebahagia itu. Setidaknya aku tidak kehilangan diri ku sendiri, selama aku masih menjadi diri ku sendiri maka aku bisa menemukan kebahagia dalam diri ku sendiri walau itu sulit."ucap Lia Dimas menatapnya lekat.



"Kau tau, aku sebenarnya sangat membenci pernikahan. Karena apa? Karena aku tidak mau berakhir seperti keluarga ku, ayah dan ibu bercerai karena merasa ketidak kecocokan itu lagi setelah aku bernjak 7 tahun, mereka selalu cecok dan berakhir dengan perceraian."ucap Lia matanya terlihat kering walau sebenarnya hatinya terluka menceritikan hal itu.



"Apa ibu mu menyayangi mu?"tanya Dimas membuat Lia terdiam.



Lia menunduk lalu menggeleng. "Banyak orang melihat ku dan menilai ku bahwa aku selalu bahagia. Bahkan setelah perceraian orang tua ku, aku berusaha untuk tidak peduli dan menganggap semuanya hanyalah mimpi buruk yang telah terjadi dan aku harus melupakannya."ucap Lia.



"Apa kau bahagia?"tanya Dimas Lia menatap matanya.



Wanita itu menggeleng. "Tidak...aku tidak bahagia."jawab Lia ini kali pertamanya dia menceritakan apa yang dia rasakan selama ini.



"Kau tidak ingin menangis?"tanya Dimas Lia menatap kearah lain lalu menatap mata Dimas dan terseyum.


__ADS_1


"Tidak...aku tidak ingin menangis. Jika aku menangis itu artinya aku lemah, aku tidak mau terlihat lemah didepan orang."jawab Lia.


__ADS_2