
Setelah perkerjaannya selesai Mikael melangkah menuju kamarnya. Saat membuka pintu itu, dilihatnya Lia yang masih tertidur.
"Tidurnya pulas sekali."gumam Mikael sambil terseyum lalu mendekat kearah Lia dan duduk ditepian ranjang itu.
"Maaf aku sudah membentak mu sayang, aku hanya terlalu takut saat melihat mu hampir terjatuh tadi."ucap Mikael sambil mengelus pipi Lia lembut.
Perlahan mata itu terbuka membuat Mikael tertegun. "Maaf, aku membangunkan mu ya?"tanya Mikael menatap Lia.
Lia hanya diam menatapnya. Lalu dia mendudukkan dirinya manunduk tidak berani melihat Mikael.
"Kenapa? Hhmm? Apa kau mau sesuatu?"tanya Mikael Lia menggeleng.
"Lalu kenapa?"tanya Mikael menarik dagu Lia agar bisa melihat mata indah itu.
"Apa kau masih marah pada ku?"tanya Lia dengan suara pelan Mikael pura-pura berpikir.
"Sedikit."jawab Mikael wajah Lia terlihat sedih lalu memeluk Mikael.
"Maaf."ucap Lia Bibir Mikael melengkung.
"Untuk apa?"tanya Mikael.
"Karena membuat mu marah."
"Marah karena apa?"balas Mikael.
"Marah karena kecerobohan ku, maafkan aku. Aku terlalu ceroboh."ucap Lia Mikael semakin terseyum.
"Maaf diterima, tapi jangan kau ulangi lagi ya.... Sudahlah sayang jangan sedih lagi. Aku sudah tidak marah."ucap Mikael mencium pucuk kepala Lia.
"Kau tidak akan mengurungku dalam kamar terus kan?"tanya Lia.
"Tidak sayang, itu hanya ancaman agar kau menuruti ku."jawab Mikael lalu menangkup wajah Lia.
"Mana mungkin aku tega mengurung istri ku yang cantik ini hmm."lanjut Mikael membuat Lia terseyum.
"Uuuhh menggemaskan sekali istri ku ini."ucap Mikael mencubit kedua pipi Lia pelan sambil menggoyangkannya.
Lia hanya terseyum dan terkekeh. "Sayang aku lapar."ucap Lia.
"Kalau begitu, kita mandi dulu lalu makan."ucap Mikael.
"Kita mandi bersama?"tanya Lia Mikael mengangguk.
"Kenapa?"
"Apa kau ingin menghukumku?"tanya Lia Mikael menunjukan seyumnya.
"Mungkin seperti itu. Ayo."ucap Mikael lalu langsung mengakat tubuh Lia.
"Sa..sayang tidak...aku tidak mau."ucap Lia memberontak.
"Hy kau memulai lagi."ucap Mikael menatap Lia membuat wanita itu terdiam.
__ADS_1
"Tenang saja, aku akan bermain lembut."ucap Mikael lalu membawa Lia masuk kedalam kamar mandi.
Wanita itu hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi. "Habislah aku."batin Lia.
●○●○●○○○●○●○●
Di kota berbeda.
"Ayah ku mohon katakan dimana Lia."ucap Dimas pada tuan Sanjaya.
"Ayah tidak tau Dimas, Mikael membawa Lia begitu saja tanpa memberitahu ayah."jawab tuan Sanjaya tenang.
"Ayah bohong, ayah pasti tau dimana keberadaan mereka kan?"ucap Dimas.
"Dimas ayah mohon sudah cukup, kau tidak bisa seperti ini terus."ucap tuan Sanjaya.
"Dimas, ibu mohon. Jangan seperti ini sayang."ucap Sera.
"Diam kau, karena putra mu itu membuat hidup ku hancur."
"DIMAS."bentak tuan Sanjaya.
"Jaga ucapan mu Dimas, ayah sudah bosan meladeni segala sikap mu kenapa kau selalu bersikap kurang ajar pada ibu mu, padahal dia terus memberi mu perhatian dan kasih sayang pada mu. Kau bukan anak kecil lagi Dimas, kau bisa berpikir dewasa. Ada banyak wanita diluar sana kenapa kau terus mengejar Lia."ucap tuan Sanjaya.
"Dimas, sampai kapan pun tidak akan menerimanya sebagai ibu Dimas, ibu Dimas sudah mati dan itu semua karena ayah."
Plak.
"Suami ku."tegur Sera menahan tangan Sanjaya.
"Kau tidak tau Dimas, ibu mu Sera menikahi ayah atas ijin ibu kandung mu. Karena dia memikirkan mu Dimas, karena ibu mu tidak ingin kau kehilangan sosok ibu disamping mu dan dia meminta ayah menikahi sahabatnya yaitu ibu mu sekarang. Kau tau Dimas, ibu mu harus menahan sakitnya selama hamil diri mu karena kehamilannya terganggu oleh penyakit yang selama itu dia derita. Dia selalu berjuang mempertahan mu agar kau tetap hidup. Tapi apa? Apa balasan mu sekarang?, apa kau tidak kasihan pada ibu mu yang melihat kau dari atas sana. Dia menangis melihat putranya seperti ini Dimas."ucap tuan Sanjaya air mata Dimas mengalir.
"Bohong."ucap Dimas nafas pria itu terasa berhenti.
"Kalian pasti berbohong hahahaha, ini akal-akalan kalian karena ingin menghentikan ku bukan. Yakkk...kalian pikir aku bodoh hah? Tidak...aku tidak percaya ini, dan aku tidak percaya pada kalian semua. Aku akan tetap merebut Lia dari pria itu, karena Lia hanya milik ku."teriak Dimas lalu pergi begitu saja.
"Dimas..."panggil Sera ingin mengejar pria itu tapi Sanjaya menahanya.
"Biarkan dia, dia akan mengerti secara perlahan dia hanya butuh waktu."ucap Sanjaya.
Sera mendekat dan memeluk suaminya. "Aku hanya khawatir padanya."ucap Sera.
"Iya aku paham sayang, tapi biarkan Dimas sendirian. Dia butuh waktu."ucap Sanjaya Sera mengangguk.
.....
Mobil itu terus melaju memecah jalanan. Air mata itu tidak ada hentinya mengalir.
Saat dia melihat sebuah hewan menyebrangi jalan membuatnya mengijak rem secara mendadak. Karena tidak sempat pria itu membelokan mobilnya membuat sedikit menabarak pohon.
"Akh sial."dia mengumpat lalu melihat hewan itu lari kembali ke hutan.
Dimas keluar dari mobil itu dan melihat depan mobilnya yang rusak. "Hewan sialan."ucap Dimas lalu menendang ban mobilnya kesal.
__ADS_1
"Aaakkhhh....bodohhhh."teriak Dimas.
"Hy apa kau sudah gila?"tanya seseorang membuat Dimas terkejud.
"Siapa kau?"tanyanya orang itu perlahan mendekat.
"Tasyah.."ucap Dimas.
"Kau pikir siapa? Hantu? Kau itu kenapa? Seperti orang gila saja."ucap Tasyah.
"Kau tidak akan mengerti."ucap Dimas.
"Benarkah? Beegitu ya?, masalah keluarga dan cinta itu memang rumit, kau akan sulit memahaminya jika kau hanya terus memikirkan tentang diri mu tidam dengan orang lain. Sudahlah aku pergi pergi dulu."ucap Tasyah tapi Dimas menahan tangannya.
"Kau mau kemana?"tanya Dimas.
"Pulang lah, kau pikir mau kemana."balas Tasyah melepas genggaman itu lalu berbalik pergi.
"Tunggu....boleh aku ikut, aku tidak mau pulang kerumah malam ini."ucap Dimas Tasyah terseyum senang.
"Ya sudah ayo."ucap Tasyah.
"Kau tidak membawa mobil?"tanya Dimas.
"Bawa tapi aku memakirkannya disana."tunjuk Tasyah didepan toko kecil.
"Kenapa berada disitu?"tanya Dimas.
"Karena toko itu milik ku, sudahlah. Kau ingin ikut tidak. Banyak tanya sekali."ucap Tasyah melangkah mendahuluai Dimas.
"Ya ya aku ikut."ucap Dimas menyusul Tasyah.
Wanita itu terseyum, rencananya berhasil. Dia diam-diam mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang lalu kembali menyimpan ponselnya kedalam tasnya.
"Kau tinggal dimana?"tanya Dimas.
"Di apartemen."jawab Tasyah.
"Apartemen? Lalu kau membuka toko itu untuk apa jika kau memiliki apartemen?"tanya Dimas.
"Memangnya kenapa? Hy tuan, walau orang tua ku adalah keluarga orang kaya dikota ini bukan berarti aku harus meminta uang terus pada mereka, aku juga ingin memiliki usaha sendiri."jawab Tasyah.
Dimas diam menatap wanita itu. "Mandiri, tidak seperti ku."batin Dimas.
"Hidup itu sulit, kau akan di anggap mampu jika kau bisa berhasil dengan usaha mu sendiri. Jika kau berhasil karena orang tua mu itu bukan keberhasilan mu tapi itu keberhasilan orang tua mu yang hanya mereka titipkan pada mu. Belajarlah berusaha sendiri, agar kau tau bagaimana susahnya seseorang mendapatkan sesuatu. Bukan hanya meminta instan dan ingin mendapatkannya dengan cara yang salah."ucap Tasyah lalu membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam mobil.
Dimas terdiam mendengar ucapan Tasyah. "Jadi ikut tidak? Masuk lah."ucap Tasyah lalu menyalakan mobilnya.
Dengan cepat Dimas masuk kedalam mobil itu dan mobil itu melaju memecah jalan.
Di rumah tuan Sanjaya mendapatkan pesan dari seseorang.
"Tuan, Dimas bersama ku sekarang. Aku akan menjalankan rencana tuan."isi pesan itu membuat tuan Sanjaya terseyum.
__ADS_1
"Terimakasih nak Tasyah."balas tuan Sanjaya.
"Semoga rencana ini berhasil."batin Sanjaya.