Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 10 Pilih aku atau dia?


__ADS_3

Seminggu sudah Azka dirawat di rumah sakit. Apandi sama sekali tidak mau menemani istrinya menjaga Azka saat malam. Bahkan dia hanya datang sesekali menengok putranya dengan alasan pekerjaan. Sementara Kia, dia titipkan di rumah ibunya. Meskipun tetangga rumahnya bergantian menjenguk Azka, tapi rasa sepi selalu menderanya. Apalagi tiap malam dia hanya berdua dengan putranya, sedangkan pasien yang lain ada sanak saudara yang menemani.


Selama satu minggu ini, mertuanya Amanda hanya pernah menjenguk cucunya satu kali. Itupun dia datang hanya untuk memarahi Amanda. Masih teringat jelas di benak Amanda saat pas di hari ketiga Azka dirawat, mertuanya datang bersama dengan adik iparnya dan Kia.


Flashback on


Di saat Amanda baru selesai membersihkan badan Azka, Bu Sopiah dan Dimas tiba-tiba datang dengan membawa Kia. Amanda begitu senang saat bisa melihat putrinya, tapi itu tidak berlangsung lama karena hatinya langsung remuk redam saat mendengar apa yang mertuanya katakan.


"Ibu tuh heran sama kamu, Manda. Kamu seorang sarjana tapi tidak bisa merawat anak. Lihat! Kia kurus tidak terawat begini, sekarang Azka dirawat sakitnya muntaber. Gak elegan banget! Sakit kho muntaber. Memang selama ini kamu kasih makan apa anak-anakmu? Jangan-jangan uang untuk beli lauk, kamu pakai untuk beli baju dan make-up. Ibu lihat sekarang kamu agak kinclong dan bajumu juga gak yang itu-itu saja," tuduh Bu Sopiah.


"Daripada ibu menuduhku yang tidak-tidak lebih baik ibu tanya pada putra kebanggaan ibu. Lebih banyak siapa yang dia kasih uang? Aku, Ibu atau selingkuhannya itu," ketus Amanda kesal karena disudutkan. Bukannya datang untuk memberikan dukungan atau mendo'akan cucunya, dia datang hanya itu membuat hatinya tambah sakit.


Plak!


Tangan yang mulai keriput itu langsung melayang mengenai pipi mulus Amanda. Membuat teman satu kamar Azka kaget dengan apa yang dilihatnya.


"Menantu kurang ajar kamu! Berani membantah omongan orang tua. Pantas saja Pandi punya perempuan lain, istrinya model begini. Ayo Dimas, kita pulang!" Bu Sopiah langsung pergi meninggalkan Amanda yang masih memegang pipinya akibat tamparan ibu mertuanya.


"Mbak sabar ya! Maafkan ibu!" Dimas langsung membelai tangan Amanda lembut. Jiwa lelakinya terus meronta saat berdekatan dengan Amanda, hingga dia refleks mencium bibir Amanda sekilas membuat Amanda langsung membulatkan matanya kaget.


"Kamu jangan kurang ajar, Dimas!" sentak Amanda.


"Maaf Mbak! Aku reflek, aku pulang dulu!" Dimas langsung pergi dengan membawa Kia.

__ADS_1


Flashback off


Lamunan Amanda buyar saat dokter datang untuk memeriksa keadaan putranya.


"Hari ini sudah berapa kali anak ganteng ini buang air besar?" tanya dokter.


"Dua kali dok," jawab Amanda.


"Wah sudah sehat nih jagoan. Masih ada muntah tidak, Bu?" tanya dokter itu lagi.


"Nggak Dok! Hanya tiga hari kalau muntah," jawab Amanda.


Sambil menuliskan sesuatu di kertas laporan kesehatan Azka, dokter itu pun kembali bicara pada Amanda. "Ade Azka sudah bisa pulang hari ini, tapi nanti kontrol setelah tiga hari," ucapnya.


"Alhamdulillaah, terima kasih, Dok!" Amanda langsung menengadahkan tangannya seraya mengucap syukur.


Setelah kepergian dokter dan perawat yang memeriksa kondisi Azka, Amanda mencoba menghubungi suaminya melalui panggilan telepon untuk memberi tahu tentang kepulangan Azka.


"Hallo Manda! Ada apa?" tanya Apandi diseberang sana saat sudah terhubung.


"Mas, Azka sudah boleh pulang. Bisa jemput ke rumah sakit, tidak?" tanya Amanda.


"Tunggu! Mas, segera ke sana." Apandi langsung memutuskan sambungan telepon dan segera bergegas pergi ke rumah sakit

__ADS_1


Setelah urusan administrasi selesai, Azka pun segera di bawa pulang. Selama perjalanan dari rumah sakit sampai ke rumahnya, keduanya hanya bungkam tidak ada yang memulai percakapan.


Semenjak Citra datang ke rumah sakit, Amanda memang sering mendiamkan Apandi. Dia tidak mau memulai bicara kalau Apandi tidak mengajaknya bicara, terkecuali karena ada hal penting.


Sesampainya di rumah, para tetangga langsung datang menyambut kedatangan Azka karena mereka kebetulan sedang berkumpul di rumah Bude Marni. Hati Amanda sedikit menghangat mendapatkan sambutan dari tetangganya. Setelah mereka semua pergi, Amanda segera membersihkan dirinya setelah dia terlebih dahulu memandikan Azka. Namun saat dia keluar kamar mandi, Apandi seperti singa kelaparan melihat tubuh mulus Amanda yang hanya berbalut handuk. Tanpa membuang waktu, Apandi langsung menyerang istrinya karena merasa aman Azka sudah tertidur setelah tadi minum obat.


Entah setan dari mana, permainan Apandi begitu kasar pada Amanda. Dia terus memaksa Amanda untuk memuaskan hasrat meskipun istrinya itu memberontak sampai Amanda hanya pasrah saat Apandi memaksakan masuk pipa paralon miliknya ke sumur sempit Amanda. Ibu beranak dua itu hanya meneteskan air matanya mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Sampai Apandi mendapatkan pelepasan untuk yang kedua kalinya, barulah dia melepaskan istrinya.


Keesokan harinya, saat Apandi selesai sarapan, Amanda meminta suaminya untuk bicara sebentar.


"Mas, bisa kita bicara sebentar. Aku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk waktu berharga kamu," ucap Amanda.


"Ada apa?" tanya Apandi dengan memicingkan mata karena merasa nada bicara Amanda tidak seperti biasanya.


"Mas, aku tidak akan melarang kamu untuk mengejar kebahagiaanmu. Jika kamu merasa perempuan itu yang bisa membuatmu bahagia, silakan pergi dari rumah ini. Aku tidak ingin dimadu dan aku yakin anak-anak juga tidak akan keberatan jika hanya tinggal bersamaku saja. Namun, jika Mas masih ingin bersamaku dan anak-anak, aku minta tinggalkan dia," ucap Amanda.


"Aku tidak mungkin meninggalkan kamu, karena ada anak-anak bersamamu dan aku juga tidak mungkin meninggalkan dia, karena hanya dia yang mampu memuaskan hasrat aku." Seperti tanpa beban, Apandi bicara seperti itu pada Amanda.


"Lagipula, apa susahnya kamu tinggal menerima Citra. Toh dia tidak tinggal bersama kita, dan aku bisa mengatur waktu meskipun Citra jadi istri simpanan aku," imbuhnya.


"Kalau Mas tidak bisa meninggalkan Medusa itu, cepat ceraikan aku!" teriak Amanda.


"Aku tidak bisa menceraikan kamu, Manda! Prosesnya akan lama. Kamu tahu sendiri, kalau kamu sudah masuk dalam arsip negara sebagai istriku. Dalam data aku, kamu istri sah aku. Kamu tinggal diam di rumah menerima uang bulanan dariku dan membesarkan anak-anak. Apa susahnya sih Manda?"

__ADS_1


"Kenapa Mas Egois sekali? Kamu benar-benar sudah berubah, Mas! Aku sampai tidak bisa mengenali lelaki yang menikah denganku. Ternyata Mas tidak sebaik yang aku pikirkan." Amanda terisak mendengar apa yang suaminya katakan. Hatinya terasa perih.


"Tidak baik bagaimana? Aku yang setia menemani kamu di saat orang tuamu meningal. Mana saudara kamu, apa mereka peduli padamu? Lagipula salahmu sendiri yang tidak bisa memuaskan aku. Jadi wajar saja jika aku mencari kepuasan di luaran sana. Kamu tahu Manda, Citra selalu bisa memuaskan aku." Apandi langsung berlalu pergi meninggalkan Amanda yang diam tak bergeming di tempat duduknya. Hatinya semakin sakit dengan apa yang Apandi katakan.


__ADS_2