Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 36 Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Mobil terparkir rapi di depan sebuah rumah yang sangat megah dengan air mancur dan taman yang terawat rapi di halaman rumah. Langit langsung mengajak Azka dan Kia untuk segera turun. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan nenek kakeknya.


Berbeda dengan kedua orang dewasa yang ada di kursi depan. Gilang tidak langsung turun saat melihat Amanda begitu gugup di sampingnya. Terlihat dengan jelas keringat membasahi keningnya meski AC mobil masih menyala. Gilang lang mengambil tissue dan mengusap pelan keringat di dahi Amanda.


"Manda, jangan gugup! Orang tuaku, bukan orang tua yang kaku. Hanya saja, ayahku memang orangnya tegas. Mungkin karena dia lulusan militer jadi selalu bertindak tegas meskipun di rumah," terang Gilang. Dia tidak ingin nanti Amanda lebih gugup saat bertemu dengan ayahnya.


"A, aku takut ayah A GIlang tidak setuju karena aku hanya perempuan dari kalangan bawah. Apalagi, aku hanya anak yatim piatu," ungkap Amanda dengan suara lirih.


"Tidak mungkin, Manda! Ayahnya sangat penurut pada ibu. Kamu tahu sendiri kan kalau ibu begitu menyukai kamu. Jadi, sudah pasti ayah akan menyetujui hubungan kita. Percaya sama aku!" Gilang menggenggam tangan Amanda erat. Dia ingin menyalurkan energi positif pada calon istrinya agar tidak merasa insecure saat bertemu dengan keluarganya.


Amanda menatap lurus ke manik pekat Gilang. Sesaat mereka saling berpandangan, bicara dengan isyarat mata. Sampai akhirnya Gilang tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Ayo turun! Ibu pasti sudah menunggu," ajak Gilang.


Benar saja apa yang Gilang katakan, terlihat Bu Rianti ke luar rumah bersama dengan suaminya Bapak Ageng Nataprawira, seorang jenderal bintang empat yang sangat ditakuti di medan perang tetapi selalu menuruti semua keinginan istrinya.


"Gilang, kenapa lama sekali keluar mobilnya? Ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon mantu." Bu Rianti langsung mengomeli putra sulungnya yang baru ke luar dari mobil.


"Maaf, Bu! Tadi Manda nervous mau bertemu dengan calon bapak mertua. Tolong bilang bapak, Bu! Jangan galak-galak sama calon menantunya," ucap Gilang seraya mencium punggung tangan ibunya bergantian dengan bapaknya.


"Mana bisa Bapak galak sama calon menantu yang secantik ini meski sebenarnya lebih cantik ibumu," ucap Pak Ageng.


"Ibu, apa kabar? Maaf, Manda baru bisa ke sini," ucap Amanda seraya mencium punggung tangan calon ibu mertuanya dilanjut dengan cipika cipiki ala perempuan.


Amanda pun bergantian mencium punggung tangan Pak Ageng seraya berkata, "Apa kabar Pak?"


"Baik," jawab Pak Ageng datar.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Bu Rianti langsung menyenggol tangan Pak Ageng dengan bola mata yang sedikit keluar. Membuat Pak Ageng sedikit melunak nada bicaranya.


"Bapak baik, Manda! Ayo masuk ke dalam!" ajak Pak Ageng.


Gilang pun langsung menarik Amanda masuk ke dalam. Menghampiri ke tiga bocah yang sedang rebahan di atas karpet yang empuk di depan televisi. Sementara Pak Ageng dan Bu Rianti masih bisik-bisik di belakang.


"Bapak udah turuti mau Ibu, nanti malam Bapak mau gaya baru dan Ibu harus menuruti apa yang Bapak mau," bisik Pak Ageng.


"Beres, Pak! Yang penting Gilang cepat menikah. Kasihan sudah tujuh tahun pedangnya tidak dia asah. Ibu khawatir nanti tumpul," bisik Bu Rianti.


"Mana mungkin tumpul, mungkin sesekali dia jajan di luar," bisik Pak Ageng.


"Siapa yang jajan Kek? Kenapa Langit tidak diajak?" tanya Langit yang tiba-tiba sudah berdiri di depan dua paruh baya itu.


"Langit mau jajan apa? Nanti minta antar Mang Diman saja kalau mau jajan ke minimarket," sahut Pak Ageng.


"Tadi Kakek bilang jajan di luar, ayo kek kita beli batagor!" ajak Langit dengan menarik tangan Kakeknya.


"Ya sudah, kita naik motor saja, Kakek bosan naik mobil terus." Pak Ageng langsung menarik tangan Langit untuk mengikutinya menuju garasi koleksi motornya. Dari jenis motor jadul sampai keluaran terbaru ada di sana.


"Kakek, kita naik Vespa saja!" usul Langit.


"Boleh, sebentar Kakek cari dulu kuncinya." Pak Ageng pun bergegas mencari kunci motor yang tersimpan rapi di lemari gantung yang ada di garasi.


Setelah mendapatkannya, dia pun segera pergi bersama dengan Langit mencari penjual batagor seperti keinginan Langit. Sementara itu, Amanda langsung ikut Bu Rianti ke dapur untuk membantu menyiapkan makan siang. Meskipun sudah dicegah karena khawatir capek, tapi Amanda tetap memaksa ikut ke dapur. Dia ingin tahu, makanan apa saja yang disukai keluarga Gilang.


Melihat Amanda yang ikut ibunya ke dapur, Gilang pun mengajak Kia dan Azka untuk melihat kebun binatang mini di rumahnya. Setiap pulang dari hutan, terkadang Pak Ageng membawa hewan hutan yang terluka karena ulah pemburu sehingga dia membawanya pulang untuk diobati dan dipelihara di halaman belakang rumahnya.

__ADS_1


"Om, itu kadalnya kho bisa berubah warna?" tunjuk Kia.


"Itu namanya bunglon. Kulitnya berubah menyesuaikan tempat yang dihinggapinya," jelas Gilang.


"Oh, gitu ya, Om!" Kia menempelkan telunjuk dan jempolnya di dagu membentuk huruf V. Membuat Gilang merasa gemas dengan tingkah calon anak sambungnya.


"Kita lihat burung yuk! Koleksi burung punya kakek banyak loh. Ada juga yang bisa bicara," jelas Gilang seraya menuntun Azka dan Kia


Amanda yang melihat keakraban diantara anak-anaknya dan Gilang, membuat hatinya menghangat. Dia semakin yakin kalau Gilang bisa menggantikan sosok Apandi yang seakan mulai pudar dari ingatan anak-anaknya terutama Azka yang belum mengingat dengan jelas sosok ayah saat perceraian itu terjadi.


Alhamdulillah Ya Rabb, Engkau telah mempertemukan aku dengan orang-orang baik seperti keluarga A Gilang. Mungkin ini yang dinamakan buah dari kesabaran. Kita tidak harus membalas kejahatan orang yang telah mendzolimi kita, karena akan ada karma yang menghukum mereka ketika di dunia, batin Amanda.


Setelah semua makanan siap untuk dihidangkan, Amanda pun membantu Bu Rianti menyusunnya di meja makan. Tak lama kemudian, Langit datang bersama dengan Pak Ageng disusul oleh Gilang, Kia dan Azka.


Acara makan siang yang dipimpin do'a oleh Pak Ageng berjalan dengan hening. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, Begitupun dengan Azka dan Kia yang patuh tidak mengeluarkan suara saat disuapi oleh Amanda. Saat semuanya sudah selesai makan, barulah Pak Ageng membuka obrolan di meja makan.


"Gilang, kapan rencana kalian menuju ke pelaminan?" tanya Pak Ageng.


"Kita belum ada rencana pasti, Pak." Gilang mengelap sudut bibir Azka yang terlihat masih belepotan.


"Tidak baik untuk menunda niat baik. Bapak usulkan, bagaimana kalau minggu depan kalian menikah. Untuk pestanya bisa menyusul. Lagipula, apalagi yang kalian tunggu? Bapak dan ibu sudah merestui hubungan kalian. Apa keluarga Amanda belum ada restu?" tanya Pak Ageng.


"Aku yatim piatu, Pak. Aku tidak begitu mengenal keluarga orangtuaku, karena kami perantau." Amanda menundukkan kepalanya.


"Tidak masalah, nanti ada wali hakim. Secepatnya kalian ziarah dulu ke makam orang tua Amanda. Untuk urusan acara pernikahan dan pestanya biar ibumu yang mengatur," ucap Pak Ageng.


"Terima kasih, Pak!" kompak Gilang dan Amanda.

__ADS_1


Aku tidak menyangka. Bapak yang raut wajahnya keras memiliki hati yang lembut. Memang benar apa yang orang katakan, don't judge book's by the cover. Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja, karena itu belum tentu mewakili isinya, batin Amanda.


...~Bersambung~...


__ADS_2