Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 42 Maafkan Ayah


__ADS_3

Hati yang sudah hancur kini bertambah remuk dengan apa yang dilihat di depannya. Apandi semakin yakin untuk pindah ke kota lain demi menenangkan dirinya. Dia butuh waktu untuk menata kembali hidupnya yang hancur berantakan.


Apandi mengajak Kia dan Azka untuk bermain di Timezone. Namun, Langit lebih memilih bersama dengan Gilang dan Amanda. Bocah tujuh tahun itu merasa kurang nyaman saat berdekatan dengan Apandi.


"Kia, kalau nanti Ayah jadi pindah, Kia jaga adik ya!" pesan Apandi sebelum dia pulang.


"Memang, Ayah mau pindah ke mana? Jangan jauh-jauh Ayah! Nanti kalau Kia kangen bagaimana?" tanya Kia cemberut.


"Kia tinggal telpon Ayah saja, nanti Ayah juga akan sering-sering telponin Kia." Apandi mengelus dengan sayang rambut putrinya.


Ada rasa sesak di hatinya. Penyesalan demi penyesalan datang silih berganti. Seandainya dulu dia tidak menuruti hawa napsunya, mungkin saat ini dia masih bisa bersama dengan anak-anaknya. Apalagi, saat melihat sikap Azka yang seperti orang asing padanya, membuat Apandi semakin menyesal karena sudah menyia-nyiakan keluarganya.


Maafkan Ayah Kia, Azka! Ayah tahu, kalau Ayah sudah salah besar pada kalian. Mungkin, kesalahan Ayah tidak bisa dimaafkan. Tapi kalian harus tahu, kalau Ayah menyayangi kalian, batin Apandi.


Saat menjelang magrib, Apandi pun mengajak kedua anaknya untuk kembali menemui bundanya. Nampak Amanda sedang bercengkrama bersama dengan Langit dan Gilang. Azka pun langsung meminta diturunkan dari gendongan Apandi. Bocah tiga tahun itu langsung berlari ke arah Amanda. Melihat kedatangan Azka, Gilang langsung membawa calon anak sambungnya ke dalam pangkuan dia.


"Bagaimana mainnya, sudah puas?" tanya Gilang dengan mengelus rambut Azka.


"Iya, Papa. Kak Langit dak ikut?" tanya Azka pada Langit yang duduk di antara Gilang dan Amanda.


"Kakak main game aja, Dek!" jawab Langit.


Apandi pun datang bersama dengan Kia. Dia membawa boneka yang besar untuk Kia dan mainan mobil untuk Azka. Dia tersenyum samar melihat Azka yang lebih memilih bersama Gilang.


"Manda, aku pulang dulu. Titip anak-anak!" pamit Apandi.


"Bunda, Bunda, ayah mau pergi jauh! Bunda bilangin ayah jangan lama-lama perginya, nanti Kia kangen." Kia menggoncang tangan Amanda.

__ADS_1


"Memang Mas mau pindah ke mana?" tanya Amanda.


"Aku mau mutasi ke kota kecil yang sejuk," jawab Apandi sekenanya karena sebenarnya dia baru berencana untuk mutasi.


"Oh, semoga di tempat yang baru, istri Mas bisa hamil lagi," ucap Amanda.


"Aku sudah bercerai dengan Citra," ucap Apandi dengan nada getir.


"Loh, kenapa? Bukannya Mas sangat mencintainya?" tanya Amanda yang terkejut mendengar apa yang Apandi katakan.


"Mungkin aku memang tidak berjodoh dengannya," jawab Apandi.


Mana mungkin aku bicara jujur pada Amanda. Aku malu mengakuinya kalau sebenarnya Citra telah mengkhianati aku, batin Apandi.


Setelah Apandi berpamitan pada Amanda dan Gilang, dia pun langsung pulang. Begitupun dengan Amanda dan Gilang yang langsung membawa ketiga anaknya pulang. Namun, Gilang membawa Amanda untuk mampir dulu ke rumahnya. Ada yang mengganjal di hatinya saat tadi Apandi mengatakan kalau dia sudah bercerai dengan istrinya yang sekarang.


"Manda, boleh Aa tanya sesuatu?" tanya Gilang dengan menatap lekat Amanda.


"Boleh, memangnya Aa mau tanya apa?" tanya Amanda yang merasa bingung dengan pertanyaan Gilang.


"Apa kamu masih memiliki perasaan pada mantan suamimu?" tanya Gilang.


"Aa mau jawab jujur apa bohong?" tanya Amanda yang malah menggoda Gilang.


"Tentu saja jujur!" tegas Gilang.


Amanda menghela napas dalam sebelum dia menjawab pertanyaan calon suaminya. "Aa pernah lihat kaca pecah kan? Mungkin seperti itu perasaan aku sama dia. Meskipun masih ada serpihannya, tapi tidak bisa kembali utuh jika disambung lagi. Dulu, setelah kedua orang tuaku meninggal, aku menggantungkan harapanku sepenuhnya pada dia sehingga aku selalu menurut apa yang Mas Pandi dan Ibu katakan. Akan tetapi, lama-kelamaan sikap mereka berubah. Mereka selalu mempermasalahkan aku yang selalu memakai daster dan tidak berdandan. Padahal aku ...."

__ADS_1


"Sudah cukup! Jangan diteruskan jika itu akan membuat hatimu sakit. Maafkan aku, jika membuka luka lamamu." Gilang menggenggam tangan Amanda erat. Dia berjanji dalam hatinya untuk membahagiakan wanita yang ada di depannya.


Keduanya terdiam, hening. Hanya tangan mereka yang terus saling bertautan. Sampai akhirnya keheningan itu pecah saat ada suara di ambang pintu yang menghubungkan taman dengan ruang tengah.


"Duh, calon pengantin tangannnya gak mau lepas. Bikin iri yang jomblo saja," Entah kapan datangnya, Galih sudah berdiri di ambang pintu.


Amanda dan Gilang yang merasa kaget karena merasa tertangkap basah, langsung melepaskan genggaman tangannya. Hal itu justru membuat Galih menjadi terkekeh melihat reaksi dari kakaknya. Apalagi saat melihat pipi calon kakak iparnya sudah bersemu merah.


"Galih, kamu kapan datang?" tanya Gilang.


"Barusan, Bapak menyuruhku untuk menggantikan Kak Gilang mengurus pabrik Cikarang," jawab Galih.


"Oh, iya! Mungkin nanti Galih, setelah anak-anak kenaikan kelas. Kasian kalau dalam waktu dekat, soalnya Kia baru pindah sekolah," tutur Gilang. "Manda, kenalin ini adik bungsuku. Namanya Galih, orangnya iseng suka ngeselin dan ini calon kakak ipar kamu, Amanda." lanjut Gilang memperkenalkan Amanda pada adiknya.


"Hai Galih, aku Amanda!" Amanda pun tersenyum manis pada Galih. Namun, saat dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman pada Galih, Gilang langsung mencegahnya.


"Tidak usah bersalaman dengannya! Ayo kita ke dalam!" ajak Gilang yang langsung diikuti oleh Amanda.


Kini, ketiga orang dewasa itu sedang duduk di sofa ruang keluarga. Galih yang baru datang dari luar negeri, setelah mengenyam studi di negeri Paman Syam selama lima tahun, langsung menuju ke rumah kakaknya ketimbang pulang ke rumah. Dia begitu mengagumi kakaknya dengan semua prestasi yang dimilikinya, sehingga diaZSDW3 lebih dekat dengan Gilang dibanding dengan kedua orang tuanya.


"Kakak, memang Kakak yakin mau menempati rumah yang di Jakarta? Kalau menurut aku sih, lebih baik Kakak jual saja rumah itu dan membeli rumah baru. Tidak baik membawa kenangan lama yang ada di rumah itu pada hubungan yang baru terjalin," saran Galih yang tahu dari orang tuanya kalau Gilang akan menempati rumah lamanya yang ada di ibu kota.


"Memangnya ada kenangan apa dengan rumah itu?" tanya Amanda bingung dengan arah pembicaraan adik iparnya.


"Rumah itu sebenarnya, rumah yang aku tempati bersama dengan mamanya Langit."


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2