Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 24 Duda


__ADS_3

Gilang begitu senang bisa mengajak Amanda berbincang di kafe. Entah kenapa hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali melihat wajah Amanda yang terkesan natural. Semakin lama dia mengenal Amanda semakin kuat rasa penasarannya untuk mengenal lebih dekat lagi dengan janda dua anak itu.


"Manda, boleh aku nanya sesuatu?" tanya Gilang dengan menatap lekat wajah Amanda.


"Mau tanya apa, A?" Amanda terus saja memakan cookies yang ada di depannya.


"Sudah berapa lama kamu bercerai dengan mantan suamimu?" tanya Gilang.


Amanda menghentikan makannya sesaat sebelum dia menjawab apa yang ditanyakan oleh Gilang. Meski sebenarnya dia enggan membahas tentang kegagalan rumah tangganya. Pada akhirnya dia pun bicara jujur pada Gilang.


"Kurang lebih satu tahun, A." jawab Amanda.


"Oh, sudah lumayan lama," gumam Gilang.


"Kenapa memangnya? A Gilang sendiri kenapa gak sama istri liburannya?" tanya Amanda kemudian.


"Aku duda, istriku pergi saat Langit berumur satu tahun. Dia lebih tertarik dengan pria bermata biru dibandingkan dengan aku," sarkas Gilang.


"Maaf A, aku tidak bermaksud mengungkit masa lalu kamu." Amanda merasa menyesal dengan apa yang dia tanyakan.


"Tidak apa, kamu juga harus tahu agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari." Gilang tersenyum saat melihat Amanda merasa bersalah.


"Manda, boleh aku tahu penyebab perceraian kalian?" Gilang sudah seperti detektif terus saja bertanya tentang kehidupan Amanda.


"Ada pihak ketiga dalam pernikahanku," lirih Amanda. Rasa sakit itu kembali terasa setiap kali ada yang bertanya tentang pernikahannya.


"Maaf Manda, jika pertanyaanku menyinggung kamu." Gilang dapat merasakan rasa sakit yang Amanda rasakan karena dia juga pernah berada di posisi Amanda saat awal-awal perpisahan dengan mamanya Langit.


"Aku sebenarnya tidak suka membahas tentang kegagalan pernikahanku, karena itu hanya membuka kembali luka lamaku." Amanda menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, Tania datang bersama dengan Rama dan anak-anak. Ada dua kantong besar di kanan kiri tangan Rama. Dia sengaja membeli banyak cemilan agar anak-anak itu anteng saat nanti dia ajak foto prewedding.


"Ya Ampun! Kalian mau jualan, bawa jajanan sebanyak itu?" tanya Amanda menggoda pada Rama.


"Iya jualan! Nanti yang belinya Kia, Langit dan Azka," jawab Rama dengan pura-pura kesal.


"Dede rewel gak, Tan?" tanya Amanda kemudian.


"Nggak kho! Tadi kita abis naik odong-odong ya!" Tania menjawab dengan tersenyum senang. Bagaimana tidak senang, dia merasa sudah seperti seorang ibu yang sedang menjaga ketiga anaknya. Apalagi, Rama terlihat begitu menyukai anak-anak.


"Papa, Langit mau main pasir tapi gak mau ajak adik itu. Dia maunya dekat-dekat Langit terus," tunjuk Langit pada Kia.


"Kia kan mau berteman dengan Kak Langit," bela Kia.


"Aku gak suka berteman dengan perempuan! Merepotkan," ketus Langit.


Kia langsung menghambur ke pelukan bundanya saat mendapat penolakan dari Langit.


Mendapat panggilan yang tidak biasa dari papanya, Langit pun menundukkan kepalanya. Anak tujuh tahun itu selalu merasa takut saat papanya sudah bicara dingin padanya, karena itu berarti papanya sedang marah padanya. Sudah dipastikan dalam beberapa hari ke depan, Langit pasti tidak akan bertemu dengan Gilang. Padahal bocah kecil itu setiap saat selalu merindukan papanya.


"Maaf, Pah!" ucap Langit.


"Cepat minta maaf sama Kia!" suruh Gilang masih dengan nada datar.


Langit pun hanya menuruti apa yang dikatakan papanya. Asalkan dia bisa selalu bersama papanya, bocah tujuh tahun itu pasti akan melakukan apapun yang Gilang katakan. Meskipun sebenarnya dia tidak menyukainya.


"Kia, aku minta maaf! Ayo kita berteman!" Langit langsung mengulurkan tangannya mengajak bersalaman pada Kia. Yang langsung disambut dengan senyum manis oleh gadis lima tahun itu.


"Langit, main pasirnya besok pagi saja ya! Sudah mau gelap, lebih baik kita masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri." Rama langsung mencairkan suasana yang sedikit tegang.

__ADS_1


"Iya bener tuh, ayo Kia sama Tante! Azka minta turun mau sama bundanya," ajak Tania langsung menuntun Kia dan membawanya ke kamar.


Amanda dan yang lainnya pun segera menyusul Tania menuju ke kamar. Sesampainya di sana, Tania pun membantu Amanda memandikan Kia. Sementara Amanda sendiri memandikan Azka. Saat semuanya sudah rapi, kini giliran orang dewasa yang membersihkan dirinya secara bergantian.


Saat malam menjelang, anak-anak sudah terlelap tidur, kini para orang dewasa yang sedang asyik menikmati hembusan angin malam di balkon kamar. Amanda menatap jauh ke depan, pikirannya sedang melayang ke masa lalunya saat dia masih dalam masa pacaran dengan Apandi. Saat itu teman satu kost dia mengajaknya berlibur ke Pangandaran. Tentu saja, Amanda mengajak Apandi untuk ikut serta. Begitu pula dengan Tania yang mengajak pacarnya untuk ikut liburan. Namun, di antara dua sahabat itu hanya Amanda yang hubungannya sampai ke jenjang pernikahan. Sementara Tania, sudah putus sedari mereka masih sama-sama kuliah.


"Manda, aku jadi teringat saat dulu kita liburan ke Pangandaran. Apa kamu masih mengingatnya?" tanya Tania.


"Tentu saja! Aku gak penah berpikir, Mas Pandi yang dulunya kalem, baik dan perhatian akan berubah setelah dia menjadi orang." Kenang Amanda.


"Laki-laki suka begitu, saat dia sudah memiliki harta dan tahta maka godaannya wanita. Manda, kenapa aku jadi teringat dengan Sandy ya! Dulu aku putus dengannya gara-gara aku ketahuan jalan sama Ivan. Padahal kamu kan tahu aku dan Ivan hanya berteman." Tania pun ikut mengenang masa biru mereka.


"Kamu sih terlalu welcome sama cowok, jadi mereka salah paham dengan kita. Ivan kan mengira kalau kamu itu menyukainya," jelas Amanda.


Amanda dan Tania larut dalam obrolan mengenang masa muda mereka. Sampai suara ponsel Tania menghentikan percakapan dua sahabat itu. Tania sedikit menjauh dari Amanda untuk menerima panggilan telepon dari Rama. Saat sudah cukup bercakap-cakap, dia pun pamit pada sahabatnya untuk menemui Rama yang sudah menunggunya di depan pintu kamar hotel.


"Manda, aku keluar dulu ya! A Rama sudah nunggu di luar," pamit Tania.


"Jangan terlalu malam ya, Tan! Ingat, gak boleh buka segel dulu sebelum halal!" Amanda langsung memberi peringatan pada sahabatnya. Dia tidak mau kalau Tania sampai terbuai dan menyerahkan sesuatu hal yang berharga dalam hidupnya pada Rama. Meskipun mereka sebentar lagi akan menikah.


"Iya Bunda! Kamu tenang saja, A Rama gak aneh-aneh kho. Dia sangat menghormati perempuan. Masa mau cium aja dia minta ijin dulu," keluh Tania.


"Masa sih, Tan? Kelihatannya kan slebor gitu, ternyata sopan juga," puji Amanda.


"Sudah Akh, aku pergi! Kamu juga hati-hati kalau Pak Bos tiba-tiba masuk ke kamar."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima Kasih!...


__ADS_2