
"Sorry, Aku hanya minta kamu buat periksa obat ini. Sama cari kegunaan dan efek sampingnya."
"Sini aku lihat dulu!" Dokter Mitha menengadahkan tangannya meminta obat yang dimaksud Gilang.
Setelah mendapatkan obat itu, dokter cantik itu langsung membukanya dan melihat huruf yang tertera di dalam obat seraya bergumam, "Seperti obat penenang. Milik siapa?"
"Melisa! Aku tahu kamu berteman dengannya, tapi coba kamu pikir jika Langit jatuh ke tangannya? Bagaimana masa depan dia nanti? Aku tidak mungkin membiarkan putraku menjadi rusak karena berada di tangan Melisa," sahut Gilang.
"Sebenarnya aku tidak ingin terlibat dengan masalah kalian berdua. Tapi ada baiknya juga Langit berada di tanganmu. Melisa selalu mood swing, aku juga khawatir akan berimbas pada Langit. Apalagi setelah perpisahannya dengan Jack, membuat dia sering lepas kontrol." Dokter Mitha pun terpaksa mengatakan yang sebenarnya pada Gilang.
Selama ini dia selalu berusaha menutupi semua yang terjadi pada Melisa karena tidak ingin membela siapa pun. Akan tetapi, ketika dia melihat psikologis Melisa yang semakin mengkhawatirkan, membuat dia berpikir kembali. Dia tidak ingin Langit menjadi korban keegoisan mamanya.
"Mitha bisa tidak kamu bersaksi di pengadilan tentang keadaan Melisa yang sesungguhnya. Aku akan memberikan apapun yang kamu minta," ucap Gilang dengan mata penuh harap.
"Memberikan apapun yang aku minta?" tanya Dokter Mitha.
"Iya, kamu mau beli mobil baru atau rumah baru, aku pasti akan memberikannya."
"Kalau aku ingin jadi istri baru kamu?" todong Melisa.
"Kalau itu aku gak bisa. Aku gak mau menyakiti wanita yang aku cintai," tegas Gilang.
"Beruntung sekali istri kamu. Mendapatkan suami yang tahan godaan," puji Dokter Mitha.
__ADS_1
"Bukan dia yang beruntung tapi aku yang beruntung memiliki dia. Seorang wanita yang sabar dan tidak menyerah pada keadaan. Saat dia sedang terpuruk justru dia bangkit menjadi wanita yang mandiri," terang Gilang.
"Baiklah aku pikirkan," ucap Dokter Mitha. "Aku pulang dulu sudah malam," pamitnya.
Selepas kepergian dokter cantik itu, Rama yang sedari mengantuk menemani Gilang langsung terbangun karena cipratan air yang Gilang berikan. Matanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi karena lelah meeting sedari siang sampai malam.
"CK! Kamu tuh disuruh nemenin malah tidur," gerutu Gilang.
"Aku ngantuk, Lang. Udah kan? Kita pulang yuk!" ajak Rama
"Ya sudah, ayo!" Gilang pun langsung bangun dari duduknya. Namun, saat dia keluar tanpa sengaja melihat Melisa dan Melani lewat di depannya.
"Mau ke mana Melisa malam-malam begini?" gumam Gilang yang masih bisa didengar oleh Rama.
"Ayo, kita ikutin, Ram!" Gilang langsung ke dalam mobil yang langsung diikuti oleh Rama.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Rama. Melisa dan Melani pergi ke diskotik. Nampak dua wanita cantik itu sedang duduk bersama dengan dua orang lelaki. Terlihat mereka begitu intim saling merangkul satu sama lain. Gilang pun langsung membidiknya dengan kamera ponsel canggihnya. Tak lupa dia juga membuat rekaman video agar bisa dijadikan bukti di pengadilan kalau Melisa menyukai kehidupan malam.
Setelah mengantongi beberapa cukup bukti yang bisa dia pakai di pengadilan, Gilang pun langsung mengajak Rama untuk segera pulang. Dia tidak ingin kalau sampai Amanda merasa khawatir karena dia pulang terlalu larut malam.
"Rama, sepertinya perburuan malam ini cukup memuaskan. Aku akan memberi kamu bonus karena sudah menemaniku," ucap Gilang dengan tersenyum senang.
"Syukurlah, Bos. Aku sudah lelah ingin segera tidur. Entah kenapa akhir-akhir ini aku mudah sekali ngantuk dan lelah. Apalagi saat masih pagi, rasanya mata enggan terbuka." Curhat Rama.
__ADS_1
"Mungkin kamu akan memiliki anak," celetuk Gilang.
"Syukurlah kalau begitu, biar aku bisa menyusul kamu." Rama tidak hentinya menguap. Dia benar-benar sudah tidak bisa menahan matanya untuk terpejam.
Sesampainya di rumah, nampak lampu sudah banyak yang dipadamkan. Pertanda penghuni rumah sudah terlelap tidur. Gilang perlahan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Gilang pun membuka pintu kamar dengan perlahan. Nampak Amanda yang sudah tertidur dalam cahaya remang. Pria tampan dan mapan itu pun langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum dia bergabung tidur bersama dengan Amanda.
Setelah dirasa semuanya bersih, Gilang langsung merebahkan badannya di samping Amanda yang terlihat tidur memunggunginya. Dikecupnya kening Amanda singkat sebelum akhirnya dia ikut terlelap. Amanda yang sebenarnya belum tertidur karena gelisah menunggu Gilang akhirnya membuka mata.
"A, kenapa baru pulang?" tanya Amanda langsung membalikkan badannya menghadap ke arah Gilang.
"Maaf, sayang. Tadi habis mengintai musuh sehingga pulangnya telat. Apa kamu menunggu Aa?" tanya Gilang dengan menatap lekat istrinya.
"Aku gak bisa tidur kalau Aa gak ada," keluh Amanda.
"Maaf ya bikin kamu menunggu. Sekarang aku sudah ada di sini, ayo peluk Papa, Twins!" Gilang langsung merengkuh tubuh istrinya dan mencium bibir merah muda itu sekilas.
Awalnya hanya ingin memberikan ciuman selamat malam tetapi si otong sepertinya sudah menegang sehingga dia pun langsung memulai aksinya agar bisa mempertemukan keduanya.
"Sayang, kita bermain dulu ya! Kasian Otong ingin bertemu dengan Nyai. Aa janji akan hati-hati."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...