
Pagi telah menyingsing, sinar mentari menelusup masuk lewat celah jendela sebuah kamar yang bernuansa abu. Rama yang kembali tidur setelah setelah dia melaksanakan sholat subuh, masih asyik bergelung dengan selimutnya. Entah kenapa, hari ini terasa sangat malas dan sudah merencanakan untuk mengambil cuti. Kepalanya terasa sangat pusing dan badannya juga terasa lemas.
Melihat suaminya yang sedikit agak pucat dan mengeluh sakit, Tania pun berinisiatif untuk membuat bubur sop ayam kesukaan Rama. Dia dengan semangat mengolah bahan dengan dibantu oleh Bi Tini yang bekerja di rumahnya. Saat buburnya sudah siap, Tania pun segera membawanya ke kamar untuk Rama sarapan sebelum meminum obat.
"Sayang, bangun! Ayo sarapan dulu lalu minum obat!" suruh Tania dengan membuka selimut yang membungkus tubuh Rama.
"Bawa apa, Yang? Kenapa baunya gak enak banget?" Rama langsung bangun kemudian berlalu ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya karena mual mencium aroma bubur sop ayam yang Tania bawa.
Melihat Rama yang terus muntah, Tania pun segera menghampiri suaminya dan mengurut tengkuk Rama. Setelah puas memuntahkan isi perutnya, Tania pun memberikan satu gelas air hangat pada suaminya dan mengoleskan minyak kayu putih di leher Rama agar mengurangi rasa mual.
"Sayang, itu buburnya bawa ke dapur lagi. Aku mual melihatnya," suruh Rama.
"Lho, bukannya itu bubur kesukaan kamu ya?" tanya Tania.
"Iya, tapi gak tahu kenapa aku merasa mual melihatnya. Aku ingin nasi kuning saja. Tolong carikan untukku!" pinta Rama.
"Oh, aku delivery aja ya!" Tania pun langsung memesan di aplikasi nasi kuning seperti yang diminta oleh suaminya.
Sambil menunggu pesanan makanannya datang, Tania pamit dulu ke rumah Amanda untuk mengantarkan bubur sop ayam yang dibuatnya. Karena Kia dan Azka sangat menyukainya sehingga dia sengaja membuat lebih.
"Assalamu'alaikum," ucap Tania.
"Wa'alaikumsalam, masuk Tan!" ajak Amanda. "Kamu gak kerja? Kenapa masih pakai daster?"
"A Rama sakit, jadi aku ikutan cuti hari ini. Gak tahu kenapa udah beberapa hari ini dia terlihat tidak bersemangat kalau pagi. Mukanya pucat, katanya pusing terus badannya lemas. Tapi kalau malam dia semangat sekali menggempur aku," adu Tania seraya menyimpan rantang yang dibawanya.
"Mungkin karena kelelahan malamnya kali," tebak Amanda.
"Aku juga gak tahu, tadi aja aku bikinin bubur kesuakaannya, dia malah muntah. Malah minta nasi kuning," ucap Tania.
"Ngidam kali, Tan." tebak Amanda.
__ADS_1
"Ngidam? Dia kan cowok masa iya hamil. Kamu tuh suka ngada-ngada," elak Tania dengan tersenyum samar.
"Kenapa, Sayang? Rama ngidam? Ternyata karma is reel ya. Dulu dia suka mengejek aku pas ngidam sama Langit, ternyata sekarang dia merasakannya juga," ucap Gilang yang sudah duduk di samping Amanda.
Sementara dua wanita cantik itu hanya saling berpandangan merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun, saat mereka menyadari sesuatu, keduanya saling berpelukan dengan tertawa bahagia.
"Manda, kalau A Rama ngidam, berarti yang hamil aku dong!" seru Tania dengan tertawa bahagia.
"Alhamdulillah," kompak keduanya.
"Wah, Tania selamat! Nanti kita bisa jagain anak bareng-bareng. Nungguin di sekolah bareng. Aku senang bisa barengan punya anak kecil sama kamu." Amanda pun tak kalah hebohnya dengan Tania. Sementara Gilang hanya menggelengkan kepalanya melihat kehebohan istrinya.
"Sekarang bagaimana keadaan Rama?" tanya Gilang.
"Oh iya, aku kan sedang menunggu nasi kuning untuk dia. Aku pulang dulu ya!" pamit Tania dengan senyum yang tak surut dari bibirnya.
"Sebentar, Tan! Aku ada testpack yang masih baru. Kamu coba cek dulu. Kalau hasilnya garis dua langsung periksa ke dokter kandungan sekalian A Rama berobat." Amanda langsung beranjak pergi menuju ke kamarnya untuk mengambil testpack yang dia janjikan.
Setelah mendapatkannya, Tania pun langsung pulang dengan wajah yang berseri. Tak henti dia bersyukur karena akhirnya akan memiliki seorang anak yang selama ini dia harapkan. Saat sampai ke rumahnya, terlihat Abang Delivery sedang menunggu seseorang membukakan pintu rumahnya.
"Iya Mbak, dari tadi saya menekan bel tapi tidak ada yang membuka pintu," ucap Abang Delivery
seraya memberikan bungkusan pada Tania.
"Oh, maaf tadi aku di rumah sebelah. Makasih ya, Bang!" ucap Tania seraya memberikan uang tips.
"Makasih juga, Mbak! Saya permisi."
Setelah kepergian Abang Delivery, Tania segera masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil piring dan sendok sebelum dia pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"A, ayo bangun! Nasi kuningnya sudah datang," ucap Tania saat sudah ada di kamarnya.
__ADS_1
Rama yang memang sebenarnya tidak tertidur, dia pun langsung bangun dari tidurnya. Matanya berbinar melihat nasi kuning di depannya. Rama pun begitu lahap memakannya. Sementara Tania langsung menuju ke kamar mandi untuk memeriksa urine-nya.
"Alhamdulillah, dua garis merah." Tania tak hentinya mengucapkan syukur saat melihat hasil testpack.
Dengan wajah yang berseri, Tania pun kembali mendekati Rama yang sedang menikmati nasi kuning. "Aa mau punya anak gak?" tanya Tania.
"Tentu saja mau! Memangnya kenapa? Apa kamu hamil?" tanya Rama dengan mata yang terlihat keluar dari tempatnya.
"Aku gak tahu, tapi tadi saat aku coba pakai testpack hasilnya dua garis merah. Kata Pak Gilang kemungkinan Aa ngidam seperti dia saat kehamilan Langit," jelas Tania
"Apa??? Aku yang ngidam???" Rama seketika syok mendengar apa yang istrinya katakan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya mengidam.
"Kenapa? Apa Aa gak mau? Ya sudah kalau gak mau, aku mau siap-siap pergi ke doker kandungan."
"Bukan begitu, jangan marah dong Sayang. Ayo kita pergi bersama-sama," rayu Rama dengan mencium pipi Tania dan memeluknya erat.
Alhamdulillah akhirnya dipercaya juga jadi seorang ayah. Meskipun perjuangan di awalnya pasti berat, batin Rama melas.
Saat suami istri itu dalam perjalanan akan pergi ke dokter, Rama tiba-tiba menghentikan mobilnya saat berada di depan rumah Melisa. Terdengar suara keributan di dalam rumah itu. Rama mempertajam pendengarannya dan tidak lupa merekam apa yang sedang terjadi.
"Tidak Ayah! Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Langit. Hanya dengan memilikinya, Jack mau kembali padaku." teriak Melisa.
"Lisa, sadarlah! Lelaki itu hanya ingin memanfaatkan keluarga kita. Dia memperdayamu untuk memuluskan bisnisnya di negeri ini, tapi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Dia dengan sengaja menendangmu. Buka matamu lebar-lebar, agar bisa melihat siapa yang tulus dan siapa yang tidak," sentak seorang lelaki paruh baya.
"Tapi aku mencintainya, Ayah! Aku hanya ingin selalu bersamanya," ucap Melisa dengan menangis tersedu-sedu.
"Biarkan Langit bersama Gilang, Nak. Jangan merusak kebahagiaan putramu sendiri. Cukup, dulu kamu menyakiti Gilang dan membuat Ayah malu dengan Pak Ageng. Ayah mohon jangan permalukan Ayah lagi."
Sepertinya usahaku berhasil, Pak Tirta terpengaruh dengan kata-kataku, batin Rama.
...~Bersambung~...
__ADS_1
Sambil nunggu update yuk kepoin juga karya teman othor yang pasti seru