
Sepulang dari dokter kandungan, Rama dan Tania memutuskan untuk mampir dulu ke mall. Mereka ingin mengabiskan waktu berdua untuk merayakan kebahagiannya, karena dokter mengatakan kalau usia kandungan Tania sudah memasuki minggu ke sepuluh. Selain itu, Tania juga akan membeli susu khusus ibu hamil. Sementara Rama hanya mengikuti ke mana pun Tania pergi.
"A, setelah dari supermarket kita ke toko buku ya!" ajak Tania. "Aku ingin beli buku tentang kehamilan," lanjutnya.
"Siap Mommy," ucap Rama.
Keduanya pun begitu asyik memilih dan memilah buku yang sekiranya menarik untuk dibaca. Sampai tidak sadar ada karyawan konveksi yang terus memperhatikan mereka. Reina yang diam-diam menyukai Rama terus memandang lelaki yang pernah menolongnya saat dulu dia terjatuh dari motor.
Aku pikir Pak Rama masih lajang, ternyata dia sudah punya gandengan. Pupus sudah harapanku bisa bersanding dengan pria tampan itu.
Rama yang menyadari keberadaan Reina, akhirnya dia pun menyapanya. "Rei, beli buku juga?"
"Eh Pak Rama, Bu Tania. Tumben barengan?" tanya Reina kikuk.
"Tentu saja bareng, Rei. Tania kan istriku, sekarang malah sedang hamil anakku," jelas Rama dengan tersenyum bangga. "Memangnya kamu gak kerja?" lanjutnya.
"Kerja, Pak. Saya ijin untuk beli alat tulis kantor, persediaannya sudah sedikit." Reina pun bicara dengan tersenyum.
"Rei, kita duluan ya! Kamu lanjutkan saja." Tania langsung menarik Rama agar mengikutinya ke kasir.
Kenapa aku tidak suka dengan tatapan Reina? Dia seperti menyukai A Rama. Semoga saja perasaanku saja, batin Tania.
Setelah Tania membayar semua barang yang ingin dibelinya, dia pun segera mengajak pulang pada Rama. Mood-nya mendadak berubah setelah bertemu dengan Reina, sehingga Rama pun hanya mengikuti apa yang istrinya inginkan.
"Aa memang ada hubungan apa dengan Reina?" tanya Tania menanyakan unek-unek di hatinya saat sudah sampai ke rumah.
"Aa gak punya hubungan apapun. Kita sering bertemu saat Aa pergi ke konveksi Amanda. Hanya say hello saja," jelas Rama.
"Beneran gak ada hubungan apapun?" tanya Tani terus menyelidik.
"Nggak sayangnya aku. Aa hanya cinta sama Eneng seorang," rayu Rama yang sukses membuat pipi ibu hamil itu merona.
__ADS_1
"Aa gombal ikh," ucap Tania dengan mencubit dada Rama pelan.
"Kenapa mau? Cubit-cubit Aa segala," tanya Rama dengan mengerlingkan mata nakalnya.
"Ikh, siapa juga yang mau?" Tania mencoba jual mahal.
Rama langsung mencondongkan badannya ke arah Tania dan siap untuk memberinya sebuah sapuan lembut di bibirnya. Namun, secepat kilat dia membenarkan duduknya saat mendengar suara teriakan dari luar.
"Om Rama," teriak Langit
"Tante Tania," teriak Kia
Dua bocah itu terus bersahutan memanggil dua orang dewasa yang siap bertempur di siang bolong. Membuat Rama langsung keluar untuk menemui kedua ponakannya itu. Dia melihat Langit dan Kia membawa bungkusan plastik di tangannya.
"Kalian bawa apa?" tanya Rama heran.
"Kita bawa rujak buat Tante Tania. Kata Mak Isah, Tante sedang hamil seperti bunda jadi harus dikasih rujak," jawab Kia.
"Iya ini buat Tante." Kia langsung memberikan kantong plastik yang sedari tadi dipegangnya.
"Makasih, Kia! Ayo masuk! Tante tadi beli pizza pas mau pulang. Ayo kita makan sama-sama!"
Yah, itukan pizza punyaku. Nanti hanya kebagian satu potong, apalagi ada Langit yang doyan pizza, batin Rama.
...***...
Seminggu sudah berlalu, Gilang sudah bersiap untuk sidang perebutan hak asuh Langit. Semua bukti yang dia kumpulkan sudah diserahkan pada pengacara kondang tanah air yang menangani kasusnya. Meskipun dia merasa yakin akan memenangkan perebutan hak asuh Langit, tetap saja hatinya merasa was-was.
"Manda, do'akan Aa ya! Kamu jaga anak baik-baik," pesan Gilang sebelum dia pergi ke pengadilan.
"Iya, A! Manda do'akan agar kita bisa terus bersama-sama dengan Langit," ucap Amanda.
__ADS_1
Meskipun dengan berat hati, Gilang pergi bersama dengan Rama meninggalkan anak dan istrinya. Sementara Langit hanya melihat dari kaca jendela kamarnya. Dia mengurung diri di kamar, takut. jika keluar dari kamar, mamanya akan datang untuk membawanya pergi. Menyadari dengan kegelisahan putra sambungnya, Amanda pun menemui Langit di kamarnya.
"Sayang, jangan cemas ya! Papa sama Bunda pasti akan berusaha agar bisa terus bersama Langit," ucap Amanda seraya mengelus kepala Langit dengan lembut.
"Bunda, kenapa bukan Bunda saja yang jadi mama Langit seperti Kia dan Azka. Langit gak mau punya mama seperti Mama Melisa," keluh Langit.
"Sayang, jangan bicara seperti itu! Allah tidak akan suka. Walau bagaimanapun, Mama Melisa berjasa besar untuk Langit. Dia telah bersusah payah mengandung dan melahirkan Langit. Kalau pun Mama Melisa sekarang seperti itu, tapi bunda yakin sebenarnya dia sayang sama Langit hanya saja cara dia mengungkapkannya membuat kita menjadi salah paham," ucap Amanda.
"Iya Bund. Boleh Langit peluk Bunda?"
"Tentu saja, Nak!" Amanda langsung merengkuh tubuh kecil Langit ke dalam pelukannya. Meskipun Langit bukan anak kandungnya tapi Amanda menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.
Sementara itu, Melisa tidak bisa berkutik setelah semua bukti dari pihak Gilang menyudutkannya. Dia pun tidak bisa mengelak saat Dokter Mitha memberikan kesaksiannya dengan riwayat penyakit yang sedang dalam pengobatan akibat depresi pasca perceraiannya dengan Jakson. Selain itu, Melisa juga terbukti sering keluar malam dan pecandu alkohol. Hingga akhirnya, dia pun harus menerima kekalahannya saat hakim memutuskan hak asuh Langit jatuh pada Gilang.
"Gilang, meskipun sekarang kamu menang tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Langit," ucap Melisa setelah berakhirnya persidangan.
"Mel, aku tidak melarang kamu bertemu dengan Langit tapi aku tidak mengijinkan kamu mengasuh Langit. Karena apa? Karena kamu harus bisa mengendalikan diri kamu dulu. Aku tidak mau masa depan Langit rusak karena mengikuti jejak mamanya yang seorang pecandu alkohol," seru Gilang kemudian berlalu pergi karena dia ingin cepat-cepat pulang untuk memberitahukan berita bahagia pada anak dan istrinya.
"Mel, sebaiknya kamu merubah dirimu dulu agar Langit bisa menerima kamu sebagai ibunya. Harusnya kamu tahu kalau sikap kamu selama ini justru membuatnya ketakutan," ucap Rama seraya menepuk pundak Melisa kemudian dia pun menghampiri ayahnya Melisa yang akan masuk ke dalam mobil.
"Om, terima kasih atas bantuannya," ucap Rama.
" Tidak usah berterima kasih, Om hanya titip Langit. Tolong jaga dia dengan baik! Jangan khawatirkan Melisa, Om akan memasukkan dia ke pusat rehabilitas," ucap Tirta kemudian masuk ke dalam mobil.
Padahal Om Tirta orang baik tapi kenapa kedua putrinya seperti itu? Gak Melisa gak Melani bisanya hanya merepotkan saja. Hanya Melati yang terlihat baik. Tapi sayang tidak berjodoh, batin Rama.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1