
Apandi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perasaannya tidak karuan dengan apa yang telah terjadi. Hatinya terus menolak percaya kalau Citra tega mengkhianatinya. Apalagi lelaki selingkuhannya itu orang yang telah memperkenalkan dia dengan Citra. Apandi merasa hidupnya sudah dipermainkan oleh seseorang yang dia anggap sahabat.
"Brengsekk kamu Roni!!! Roni sialan, kamu sering banget kasih pinjaman uang sama aku. Ternyata kamu ingin bermain dengan istriku." Apandi memukul stir mobil untuk meluapkan kekesalannya.
"Kenapa hidupku jadi berantakan begini? Istri yang aku bela-belain ternyata mengkhianati aku dan istri yang sering membelaku malah aku sia-siakan. BODOH KAMU APANDI."
Apandi terus saja merutuki dirinya selama perjalanan menuju ke rumah sakit. Hatinya benar-benar tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Citra dan Roni. Sampai mobil memasuki parkiran rumah sakit, barulah dia mulai teringat kembali dengan istrinya yang sakit.
Setengah berlari ayah dari dua orang anak itu menuju ke ruang IGD. Terlihat Nino yang sedang menunduk menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Apandi pun langsung menghampiri kakak iparnya.
"Bagaimana keadaannya, No?" tanya Apandi.
"Gak tahu, Mas! Dokter masih menanganinya. Katanya Ina over dosis memakan obat pereda nyeri. Mas, apa Mas Pandi pernah menyinggung seseorang? Apa istri Mas Pandi sah tahu kalau Mas menikah dengan Ina? Tetangga banyak yang bilang kalau Ina seperti terkena penyakit busung. Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan membawanya ke Ustadz Jalal yang bisa mengobati penyakit yang tidak kasat mata. Tidak apa kalau Mas Pandi tidak mau bertanggung jawab atas Ina. Aku yang akan mencari uang untuk biaya pengobatannya. Tapi aku minta, setelah Ina sembuh segera ceraikan dia dan jangan mengganggunya lagi." tegas Nino.
Dia menyesal dulu malah meminta pertanggungjawaban dari Apandi. Seandainya dia tahu kejadiannya akan seperti ini. Nino lebih memilih bungkam. Toh sudah banyak di jaman sekarang yang masih gadis tapi sudah kehilangan kehormatannya. Daripada mendapatkan pertanggungjawaban dari orang yang telah melecehkan adiknya tetapi malah lebih menderita.
Apandi tertegun mendengar apa yang Nino katakan. Dia tidak bisa berpikir lagi dengan permasalahan hidupnya. Dia merasa tidak percaya dengan adanya penyakit yang tak kasat mata.
Tidak lama kemudian, seorang dokter keluar dengan wajah lelah. Terlihat jelas raut sedih di wajah tampannya. Dokter yang menangani Ina selama satu jam lebih untuk menyelamatkan nyawanya, kini bicara dengan hati-hati di depan Apandi dan Nino.
"Keluarga Bu Ina," panggil Dokter Arman.
"Iya, Dok!" Nino dan Apandi segera menghampiri dokter yang memanggilnya.
"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?"
"Bagaimana keadaan Ina, Dok?"
Tanya Nino dan Apandi secara bersamaan. Kedua orang itu merasa tidak sabar mendengar kabar yang dibawa oleh dokter itu. Dengan wajah penuh harap, keduanya siap mendengarkan apa yang akan dokter itu katakan.
__ADS_1
"Kami sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa pasien. Namun, kami hanya bisa berusaha. Selebihnya, kuasa Allah yang menentukan. Kami sangat menyesal harus memberitahukan kabar pada keluarga pasien, kalau nyawa pasien, tidak bisa kami selamatkan. Kami turut bela sungkawa atas kepergian saudara Ina," ucap Dokter Arman.
Duar!
Dunia Nino terasa runtuh mendengar adik satu-satunya harus pergi untuk selama-lamanya. Dia menyesal sangat menyesal karena telah menikahkan Ina dengan Apandi jika akhirnya dia harus kehilangan Ina untuk selama-lamanya. Sementara Apandi hanya diam membisu. Tidak sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Sampai akhirnya, dia angkat bicara.
"Nino, biar aku yang urus administrasinya," ucap Apandi seraya pergi.
Nino hanya menatap nanar kepergian Apandi. Seandainya Tuhan memberi kesempatan kedua untuk adiknya hidup, Nino akan membawa Ina pergi sejauh mungkin dari kehidupan Apandi. Dia tidak pernah menyangka seorang lelaki yang memiliki karier bagus ternyata hanya seorang suami yang tidak bertanggung jawab.
...***...
Sementara itu, setelah tadi siang semua warga mengusir Citra dan Roni dari komplek perumahannya, malam harinya Citra diam-diam kembali ke rumah yang selama ini dia tinggali bersama dengan Apandi. Citra mengambil semua barangnya. Tidak ketinggalan foto Apandi dan anak-anaknya yang terpajang rapi di dinding ruang tamunya. Dia bertekad untuk mengerjai mantan suaminya itu karena telah menceraikan dan mempermalukannya di depan warga.
Apandi yang baru datang keesokan harinya karena telah mengurus pemakaman Ina, merasa kaget saat tidak mendapati barang Citra di rumahnya. Dia pun segera mencari surat rumah yang sengaja dia sembunyikan. Untung saja, Citra tidak menemukannya sehingga Apandi bisa bernapas dengan lega.
"Apa aku jual saja rumah ini, biar hutang-hutangku lunas. Rasanya aku ingin mengajukan mutasi. Aku merasa sudah tidak punya pijakan lagi di kota ini. Amanda dan anak-anak sudah menjauhiku. Citra malah mengkhianati aku dan Ina sudah pergi untuk selama-lamanya. Kenapa hidupku menjadi berantakan begini? Aku pikir jika bersama Citra hidupku akan lebih bahagia dibanding dengan Amanda yang selalu tampil apa adanya."
Apandi terus bergelut dengan pikirannya. Dia sengaja mengambil cuti karena ingin menenangkan pikiran. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan anak-anaknya. Apandi berharap, setelah bertemu dengan buah hatinya, dia akan mempunyai kekuatan baru untuk menyusun kembali hidupnya yang terasa kacau. Diambilnya ponsel yang tadi dia simpan di atas meja, lalu dia pun segera menghubungi Amanda.
"Hallo, Manda! Bisa aku minta waktu untuk bertemu dengan Kia dan Azka? Waktu itu aku ke rumah Tania, tapi katanya kamu sedang berlibur." Apandi langsung bicara saat panggilan teleponnya sudah tersambung.
"Boleh, nanti kamu tunggu saja di restoran Solari pukul lima sore. Aku akan mengajak mereka untuk bertemu denganmu."
Klik
Sambungan langsung diputus dari seberang sana membuat Apandi menjadi bingung dengan siapa dia bicara. Namun, saat dia melihat kembali nomor yang dihubunginya, Apandi yakin kalau itu nomor mantan istrinya.
"Apa tadi yang mengangkat telepon suami Amanda? Apa sekarang Amanda sudah menikah lagi?" gumam Apandi.
__ADS_1
Pusing memikirkan tentang hidupnya yang berantakan ditambah lagi mengira Amanda sudah menikah lagi. Akhirnya Apandi pun memutuskan untuk tidur dan berharap di saat bangun nanti semua masalah hidupnya sudah membaik.
Sore harinya, Apandi sudah siap untuk bertemu dengan kedua anaknya dan juga mantan istrinya. Ayah dua anak itu terlihat fresh dengan celana denim dan kaos berkerah. Tak lupa rambut yang dia sisir rapi dengan sedikit pomade rambut agar terlihat selalu rapi. Apandi terus berjalan menuju restoran yang sudah dijanjikan untuk bertemu dengan Kia dan Azka.
Saat sampai di tempat yang sudah dijanjikan, hatinya terasa teriris saat melihat kedekatan Azka dengan lelaki yang pernah bertemu dengannya saat di rumah Amanda. Entah kenapa ada rasa tidak rela saat melihat anaknya lebih dekat dengan lelaki lain bukan dengannya yang jelas-jelas ayah kandungnya. Namun, dia tetap menemui Kia dan Azka yang sedang asyik bercengkrama dengan Gilang. Sedangkan Amanda hanya tersenyum bahagia melihat kedekatan anak-anaknya dengan Gilang.
"Kalian sudah lama menunggu?" tanya Apandi.
"Ayah!" seru Kia langsung menghambur ke pelukan Apandi, sedangkan Azka masih anteng bersama Gilang. Seakan kehadiran Apandi tidak berarti apapun buatnya.
"Azka, salim dulu sama Ayah!" suruh Amanda.
Azka langsung menurut apa yang di suruh bundanya. Namun, setelahnya dia kembali duduk di dekat Gilang dan Langit. Sementara Apandi duduk diseberang Gilang karena Kia sudah duduk di depan bundanya.
"Kia, Azka apa kabar, Nak? Ayah sangat kangen sama kalian," tanya Apandi.
"Kia baik, Yah! Kia juga kangen sama Ayah. Ayah tahu gak? Bunda dan Papa Gilang mau kasih adik bayi buat Kia. Nanti Kia pasti akan senang punya adik bayi lagi, apalagi kalau adik bayinya cantik kaya Kia," cerocos Kia.
"Memang bunda sudah menikah lagi?" tanya Apandi dengan suara sendu.
"In sya Allah akhir minggu ini, Mas! Benarkan, A?" Amanda menanyakan kepastian pada Gilang yang duduk di sebelahnya.
"Tentu saja, Sayang!" ucap Gilang dengan merangkul pundak calon istrinya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1