
Setelah perbincangan tadi malam bersama dengan adiknya dan Amanda, Gilang terlihat seperti sedang termenung sendiri. Dia merasa sayang harus menjual rumahnya, karena rumah itu dia bangun dari hasil tabungannya selama masih sekolah. Setelah Gilang tahu kalau keluarganya menjodohkan dia dengan Melisa, gilang selalu menyisihkan uang jajannya. Bahkan dia bekerja freelance saat masih kuliah tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Dia ingin membangun rumah dari hasil kerja kerasnya bukan karena pemberian kedua orang tuanya.
Berkali-kali pria tampan itu menghela napas. Dia terus meyakinkan dirinya untuk tidak kembali k rumah itu bersama keluarga barunya, sehingga akhirnya dia memutuskan untuk tetap tidak menjual rumah itu. Namun, dia juga tidak akan kembali ke sana bersama dengan Amanda dan anak-anaknya.
"Biarlah, rumah itu untuk Langit jika nanti dia sudah dewasa. Lebih baik aku mencari rumah baru yang lebih nyaman untuk keluarga baruku," gumam Gilang.
Gilang pun segera menghubungi Rama untuk mencarikan lahan yang bagus untuk dia tempati bersama keluarganya. Namun, Rama sepertinya keberatan untuk pindah ke ibu kota. Mengingat di sana tingkat kemacetan yang lebih tinggi di banding dengan kota yang sekarang mereka tempati. Apalagi, jarak rumah dan pabrik lebih sangat dekat. Membuat dia enggan untuk pindah dari rumahnya.
"Gilang, tahun depan saja kita pindahnya. Sayang konveksi Amanda masih baru. Kalau kita langsung pindah sekarang, aku khawatir orang yang pegang konveksi Amanda tidak bisa menghandle," saran Rama. "Lagipula, mantan suami Amanda mau mutasi. Sudah pasti dia tidak akan mengganggu lagi.
"Memang kamu cerita apa sama Bapak, Ram?" tanya Gilang.
"Sudahlah, kamu kepo! Yang jelas, apapun yang aku katakan pada Om Ageng. Itu untuk kebaikan kamu," elak Rama.
"Jangan ngadu yang aneh-aneh, Ram! Kamu tahu, Bapak kalau sudah emosi kadang tidak berperasaan pada lawannya." Gilang menatap lurus ke arah sahabatnya yang dia tahu kadang suka memberi tahukan apapun tentang dia pada bapaknya.
"Iya, aku tahu!" sahut Rama.
...***...
Sementara di lain tempat, Bu Rianti sengaja datang ke rumah putranya karena dia mendapat kabar kalau putra bungsunya sudah pulang ke tanah air. Namun, bocah yang susah diatur itu malah pulang ke rumah kakaknya bukan menemuinya.
"Kamu tuh, Ibu menunggu di rumah! Kamu malah pulang ke sini, memang kamu tidak kangen sama Ibu?" tanya Bu Rianti mencak-mencak pada putra bungsunya.
"Maafkan hamba Bunda Ratu! Aku hanya kangen dengan kakak patung es yang kata Ibu sekarang sudah mencair." Galih merapatkan kedua telapak tangannya meminta maaf pada Ibunya.
"Ibu tidak mau memaafkan kamu sebelum kamu menyuruh kakak ipar kamu untuk datang kemari. Ibu ingin mengajak dia shopping untuk mencari barang seserahan buat pernikahan mereka yang tinggal beberapa hari lagi," ketus Bu Rianti.
"Mana bisa aku menghubungi Kak Manda, kalau salaman saja gak boleh?"
"Kamu berpikir bagaimana caranya agar Amanda menemani Ibu belanja. Masa lulusan luar negeri tidak bisa berpikir hal sepele," cibir Bu Rianti.
__ADS_1
"Iya, iya, keinginan Ibu itu perintah untuk anak-anaknya." Galih pun langsung menghubungi Gilang. Meskipun malas, tapi dia tetap melakukan apa yang Ibunya suruh.
"Hallo Kak! Tolong suruh Kak Manda untuk menemani Ibu belanja! Sekarang Ibu ada di rumah Kakak," ucap Gilang to the points saat panggilan teleponnya tersambung.
"Galih, kalau menelpon itu ucap salam dulu yang bener. Jangan asal nyerocos!" tegur Gilang di seberang sana.
"Iya, maaf Kak! Soalnya bunda ratu menyuruh aku untuk buru-buru menghubungi kakak," adu Galih.
"Ibu ada di rumah?" tanya Gilang memastikan.
"Iya Kak! Makanya cepat hubungi Kak Manda untuk datang ke rumah kakak," suruh Galih dengan tidak sabaran.
"Iya, tunggu! Aku sekalian pulang," ucap Gilang langsung menutup ponselnya.
Galih melihat ponsel nanar. Kakak kesayangannya selalu saja begitu. Menutup telpon tanpa pamit. Coba kalau yang ditelpon Ibu atau Bapak, pasti Gilang menunggu kedua orang tuanya yang menutup telpon terlebih dahulu.
"Lihat, Bu! Putra kesayangan Ibu asal main tutup saja," keluh Galih.
"Sudahlah, aku mau main game saja sama Langit." Galih pun langsung beranjak pergi ke kamar sepupunya.
Tak berselang lama, Gilang dan Amanda datang pun datang. Setelah cukup berbasa-basi, Bu Rianti langsung mengajak Amanda untuk pergi belanja. Meninggalkan Gilang di parkiran karena dia selalu tidak sabaran kalau diajak shopping oleh Ibunya.
"Manda, ayo pilih buat seserahan kamu. Tinggal beberapa hari lagi tapi belum ada barang buat seserahan. Ibu lupa karena terlalu fokus dengan acara pestanya," suruh Bu Rianti saat mereka sudah berada di pusat perbelanjaan. "Jangan sungkan dengan harganya dan jangan memilih barang dengan kualitas rendah apalagi harga murah! Pilih saja yang paling bagus dan paling mahal!"
"Iya Bu, tapi Manda tidak biasa memakai barang-barang yang mahal," ucap Amanda jujur.
"Tidak bisa, Manda! Uang Gilang mau dia pakai untuk apa? Kalau tidak untuk memanjakan istrinya." Bu Rianti langsung memilih bagus dengan kualitas premium yang ada di mall itu. Namun terlebih dahulu menanyakan pendapat Amanda karena khawatir selera mereka berbeda.
Awalnya Amanda merasa sungkan untuk memilih barang-barang bermerek. Namun, atas dorongan dari Bu Rianti, akhirnya dia pun mengikuti apa yang calon mertuanya itu katakan. Sampai akhirnya, begitu banyak tentengan di tangan kanan dan kirinya. Belum lagi yang di bawa oleh Bu Rianti.
"Ibu, ini sudah cukup! Lebih baik kita istirahat dulu," saran Amanda.
__ADS_1
"Iya boleh! Sepertinya segar kalau kita minum es teler. Ayo kita cari duduk!" ajak Bu Rianti.
Kedua wanita beda generasi itu langsung mencari tempat duduk, untuk mengistirahatkan badannya setelah berkeliling mencari barang yang mereka mau. Bu Rianti nampak senang karena memiliki teman untuk shopping. Selama ini dia hanya bersama pengawalnya saja jika ingin shopping, karena ketiga anak lelakinya selalu banyak alasan jika diajak berbelanja.
"Manda, Ibu mau ke toilet dulu ya! Kamu tunggu di sini saja, aja pengawal yang mengikuti Ibu," bisik Bu Rianti.
"Baik, Bu!" ucap Amanda dengan tersenyum manis.
Setelah Bu Rianti pergi, Amanda pun memainkan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhan selama menunggu hidangan yang dipesannya. Namun, ketenangannya harus terusik saat ada seorang ibu yang langsung melabraknya.
"Bagus ya kamu, Manda! Sudah menjadi janda sekarang uangnya banyak. Lihat Bu ibu, belanjaan saja banyak begitu. Pasti semalam dia habis melayani bos tua yang perutnya buncit," hina Bu Sopiah yang datang ke mall bersama teman-teman arisannya.
"Manda, semenjak cerai dari Apandi wajahnya jadi berseri lagi," puji Bu Sri tetangganya Bu Sopiah.
"Bagaimana tidak berseri, kalau yang dia layani bos-bos berduit," cibir Bu Sopiah.
"Ibu sudah puas belum menghina aku? Asal Ibu tahu, aku tidak pernah melakukan hal yang ibu katakan. Tidak tahu kalau putra Ibu yang jelas-jelas berselingkuh saat menikah denganku. Lagipula, apa urusannya dengan Ibu? Kita sudah bukan siapa-siapa sekarang. Aku harap, Ibu tidak usah ikut campur dengan urusanku." Amanda pun langsung membalikkan ucapan mantan ibu mertuanya.
"Manda, ada apa? Siapa mereka?" tanya Bu Rianti memandang satu persatu ibu-ibu yang mengelilingi Amanda.
"Ibu siapa? Tidak usah ikut campur kalau tidak mengerti urusannya," ketus Bu Sopiah.
"Aku mertuanya Amanda," jawab Bu Rianti.
Melihat Bu Rianti seperti dalam masalah, kedua pengawalnya langsung mendekati. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada majikannya. Bisa kena hukuman dari Pak Jenderal kalau sampai Nyonya besar lecet karena kelalaiannya.
"Ibu ada masalah apa? Apa mereka telah mengganggu Ibu?"
...~Bersambung~...
Sambil menunggu Author up, yuk kepoin juga karya Author yang lain. Tinggal klik profil Author dan pilih judul karya yang kakak suka.
__ADS_1