Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 54 Berbeda


__ADS_3

Setelah dari rumah Ustadz Jalal, Amanda pun mampir ke rumah Bude Marni yang menjaga rumahnya selama Amanda tinggalkan. Bude Marni pun menyambut hangat kedatangan Amanda ke rumahnya,


"Manda, memang benar Lola kamu pecat? Kata Lela dia dituduh mencuri padahal tidak, sehingga kamu memecatnya karena ingin balas dendam padanya," tanya Bude Marni saat sedang berbincang dengan Amanda.


"Memang Manda pecat, Bude. Tapi bukan karena ingin balas dendam pada Lela, Lola memang mencuri lima buah daster. Tadinya sama satpam mau diserahkan ke polisi tapi aku gak tega jadi hanya memecatnya. Dasternya pun aku berikan cuma-cuma," jawab Amanda.


"Pintar sekali ya Lela membalikkan kata. Apa dia tidak takut lidahnya jadi belibet?" Bude Marni bergidik ngeri membayangkan jika ada lidah orang yang kebalik.


"Udah ah Bude, jangan ngomongin orang! Manda pamit dulu ya, anak-anak pasti nungguin Manda pulangnya telat." Amanda pun langsung berpamitan karena hari sudah malam.


"Salam saja ya buat Kia dan Azka, Bude kangen sama mereka." Bude Marni pun langsung mengantar Amanda ke luar untuk menemui Gilang yang sedang mengobrol dengan suaminya Bude Marni.


"Iya Bude, nanti Manda sampaikan. Ayo A kita pulang!" ajak Amanda.


"Sudah ngobrolnya?" tanya Gilang.


"Sudah, Assalamualaikum." Amanda dan Gilang pun langsung menuju ke mobil setelah berpamitan pada Bude Marni dan suaminya.


Bude Marni hanya melihat mobil Gilang yang semakin jauh sebelum akhirnya dia masuk ke rumah. Begitupun dengan suaminya yang mengikuti dari belakang.


"Bu, suami Amanda yang sekarang kelihatannya memang diam tapi dia enak untuk diajak ngobrol cepat nyambungnya. Sangat berbeda dengan Apandi yang selalu asyik dengan dunianya sendiri. Saat kumpul-kumpul pun Apandi selalu lebih fokus ke ponselnya," cerocos suami Bude Marni.


"Iya, Pak benar! Manda juga sekarang terlihat lebih bahagia," timpal Bude Marni. "Bapak tahu, sekarang kan Apandi sudah tidak tinggal di kota ini lagi. Setelah dia bercerai dengan selingkuhannya, katanya dia selingkuhin. Udah gitu ibunya stroke," lanjutnya.

__ADS_1


"Ibu tahu darimana, kayaknya semua berita Ibu tahu."


"Gimana Ibu gak tahu, ibu-ibu komplek banyak yang cerita. Makanya Bapak jangan pernah berpikir untuk selingkuh, karena do'a istri yang didzolimi itu pasti dikabulkan."


"Loh jadi ke Bapak sih?"


"Yah laki-laki kan suka gitu, baru naik pangkat dikit aja langsung cari cewek lain untuk hiburan, terus mencela yang di rumah karena gak dandan." Cebik Bude Marni.


"Ibu tenang saja, Bapak tidak seperti itu. Buktinya Bapak setia pada Ibu. Ayo, sekarang kita buktikan kesetiaan Ibu pada Bapak!" Pada akhirnya ranjang menjadi tempat perdamaian antara suami istri yang sedang berselisih.


...***...


Hari pun sudah berganti, semenjak kejadian meninggalnya Citra di jalan raya, Amanda selalu menolak jika diajak lewat ke jalan tempat kejadian kecelakaan itu. Dia masih selalu terbayang saat Citra meminta tolong untuk menyelamatkannya dari kematian. Namun, tidak ada seorang pun yang berani menolongnya.


"Gak usah datang! Yang penting amplopnya saja ditebelin," sahut Gilang.


"Dari Aa ya!" Amanda langsung menengadahkan tangannya meminta uang pada Gilang.


Gilang yang sedang mengunyah makanan hanya menggelengkan kepalanya dengan apa yang dilakukan istrinya.


Duh Manda, kenapa jadi seperti Kia yang sedang meminta uang buat jajan. Padahal aku sudah kasih kamu kartu sakti, tapi kenapa gak dipakai?


"Nanti aku kasih, tapi harus ada bayarannya." Gilang mengetuk pipinya sendiri dengan telunjuk pertanda meminta ciuman pada Amanda.

__ADS_1


"Iya nanti, masa di sini."


"Loh, Kak Gilang! Makan di sini juga," sapa Melani yang langsung duduk di samping Gilang.


"Kamu dengan siapa ke sini?" Bukannya menjawab, Gilang malah balik bertanya.


"Sama anak marketing. Kita sedang merayakan karena bulan ini melebihi target penjualan," jawab Melani dengan memegang tangan Gilang.


"Mel, bisa dikondisikan tidak tangannnya? Tolong hargai perasaan istri Kakak!" Gilang langsung melepaskan tangan Melani yang memegang tangannya.


"Kak Gilang kho gitu sih? Padahal Kak Melisa sekarang sudah cerai dengan suaminya dan berencana untuk menetap di sini. Bukankah Kakak sangat mencintai Kak Melisa?" tanya Melani.


"Dengar Melani, Kakak menghargai persahabatan yang terjalin diantara keluarga kita, makanya Kakak memberi kamu kesempatan untuk bekerja di perusahaan. Bukan karena Kakak masih memiliki perasaan pada Melisa. Kakak harap kamu bisa menempatkan diri dengan baik," tegur Gilang panjang lebar.


Mendengar penuturan Gilang, Melani langsung pergi bergabung kembali bersama teman-temannya, sedangkan Amanda langsung tersenyum senang. Dia bahagia karena Gilang mementingkan perasaannya.


A Gilang sangat berbeda dengan Mas Pandi dulu. Mereka berdua seperti dua sisi mata uang yang berbeda.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya Kawan! Langsung klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih 🙏🏻...

__ADS_1


__ADS_2