Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 56 Sebar Benih


__ADS_3

Kebahagiaan kini tengah dirasakan oleh keluarga kecil Gilang. Pasalnya, dokter memperkirakan kemungkinan Amanda tengah hamil. Namun, dia harus memastikan lagi kehamilannya dengan memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Kabar yang menggembirakan itu mampu membuat Gilang lupa akan pertemuannya dengan Melisa. Namun, tidak bagi Langit. Bocah kecil yang kini sudah berusia delapan tahun itu hatinya was-was takut wanita yang menyebut dirinya sebagai mama memisahkan dia dengan keluarga baru papanya. Meskipun memang benar Amanda bukan ibu kandungnya, tetapi dia sangat menyayangi ibu sambungnya itu.


"Alhamdulillah, akan ada anggota keluarga baru di sini. Langit, tolong kasih tahu Om Rama untuk makan malam di sini. Kita akan barbeque untuk merayakan kabar bahagia ini," suruh Gilang.


"Baik, Pah!" Langit langsung pergi ke rumah Rama yang memang bersebelahan dengan rumahnya.


Tanpa mengetuk pintu, Langit langsung masuk seraya memanggil nama omnya. "Om Rama, dipanggil papa."


Suara Langit yang terdengar di ruang tamu rumahnya, membuat Rama langsung menghentikan kegiatan panasnya. Dia khawatir Langit malah mencarinya sampai ke kamar. Dengan tergesa dia pun segera memakai kembali bajunya.


"Ampun nih anak kebiasaan gak ketuk pintu dulu," gerutu Rama.


"Mungkin Langit sudah terbiasa dari kecil masuk ke rumah ini tanpa permisi. Coba kamu beri dia pengertian, pasti Langit juga mengerti." Tania pun segera membereskan bajunya yang terlihat sudah berantakan.


"Iya sih. Aku yang bilang ke dia kalau mau masuk ke sini gak usah ketuk pintu dulu." Rama merapikan penampilannya agar tidak terlihat berantakan.


Setelah keduanya rapi, Rama pun segera keluar kamar untuk menemui Langit. Sementara Tania pergi ke dapur untuk melanjutkan acara memasaknya. Memang Tania memakai jasa pembantu rumah tangga untuk membersihkan rumahnya, hanya saja tidak menetap di situ. Hanya datang di pagi hari dan pulang sore hari. Saat hari libur dan tanggal merah maka pembantunya pun libur. Bukan apa-apa Tania tidak mencari yang bisa menetap di rumahnya, tetapi dia ingin sedikit kebebasan untuk berdua saja bersama suaminya di saat hari libur.


"Ada Langit, datang ke rumah Om teriak-teriak?" tanya Rama setelah berhadapan dengan Langit.


"Kata papa, nanti malam mau barbeque. Om disuruh makan malam di rumah," jawab Langit.


"Wah, ada pesta apa nih?" tanya Rama heran. 'Masa iya Gilang mau merayakan pertemuannya dengan Melisa,' pikir Rama.


"Langit mau punya adik bayi, Om. Kata dokter, bunda sedang hamil," jawab Langit.

__ADS_1


"Wah, hebat sekali papaku sudah jadi aja benih yang disebarnya," puji Rama.


"Memang papa tanam benih di mana, Om? Papa kan tidak pernah menanam bunga di taman?" tanya Langit heran dengan apa yang Rama katakan .


"Papa kamu sebar benih di perut bunda biar nanti jadi adik bayi," jawab Rama asal.


"Masa sih, Om? Benihnya ditabur di perut bunda? Langit mau nyobain nyebar benih juga, siapa tahu jadi adik laki-laki yang lucu seperti Azka." Langit membayangkan dia akan menanam benih seperti yang diajarkan di sekolahnya saat dia belajar cara menanam bunga matahari. Namun yang keluarnya bukan bunga tetapi adik kecil seperti yang dia harapkan. "Om, beli benihnya di mana? Antar Langit dong!"


Rama langsung meneguk ludahnya kasar. Dia bingung harus menjawab apa? Untung saja Tania datang dengan membawa puding coklat di tangannya.


"Langit, ayo kita makan puding saja! Jangan dengarkan apa yang Om Rama katakan. Dia suka ngarang," ajak Tania dengan menyimpan puding coklat di atas meja.


"Berarti, Om Rama bohong ya, Tan?" tanya Langit dengan merengut tidak suka.


"Om kamu hanya bercanda. Dia ingin menanam bunga tapi tidak bisa," Bohong Tania.


"Sama Tante saja ya, Om Rama kan sibuk harus kerja sama papa kamu," cetus Tania.


"Boleh deh, Tan." Langit langsung menerima puding yang diberikan Tania padanya dan mencicipinya. "Pudignya enak Tan."


"Langit pinter banget bikin Tante bahagia," puji Tania.


Setelah cukup bersenda gurau dengan Rama dan juga Tania, akhirnya Lnagit punijin pulang karena sebentar lagi jam makan siang. Namun, saat sampai depan rumah, dia menghentikan langkah kakinya saat mendengar pertengkaran dari dalam rumahnya.


"Dengar Gilang! Aku akan mengambil hak asuh Langit. Aku yang lebih berhak merawat Langit karena aku ibunya. Apalagi, sekarang kamu sudah memiliki istri baru dan anak tiri. Yang sudah pasti perhatian kamu pada Langit sudah berkurang tidak seperti dulu lagi," sentak Melisa.


"Setelah tujuh tahun lamanya kamu baru ingat dengan putramu? Ibu macam apa kamu yang meninggalkan anak dan suaminya demi mengejar cinta laki-laki lain? Sekarang, saat kamu sudah dicampakan karena tidak bisa memiliki anak bersamanya, kamu datang kembali merecoki hidupku yang sudah jauh lebih baik dari saat masih bersama kamu," geram Gilang.

__ADS_1


"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan, yang jelas aku akan mengambil hak asuh anakku. Tapi ada satu pilihan jika kamu benar-benar ingin terus bersama Langit, nikahi aku! Aku akan bersamamu membesarkan putra kita." Seperti tanpa beban Melisa mengatakan keinginannya.


Duar!


Amanda yang sedari menguping di ruang tengah keributan suami dan mantan istrinya serasa mendengar suara petir di siang hari. Dia tidak pernah menyangka, ibunya Langit ternyata ingin rujuk dengan suaminya. Amanda hanya bisa menunduk dengan mengelus perutnya yang masih rata, menahan semua rasa perih di hati jika ternyata Gilang menyetujui keinginan mantan istrinya.


"Kamu Gila Melisa! Aku tidak pernah menyangka, ternyata perempuan yang pernah aku nikahi hanya seorang wanita yang sudah kehilangan akalnya. Jangan harap, aku mau kembali padamu setelah aku menemukan seseorang yang mampu membuat aku bahagia! Untuk masalah hak asuh Langit, mari kita mengambil jalan hukum. Akan aku pastikan, kamu tidak akan pernah mendapatkan sesuatu yang dulu pernah kamu buang." Gilang yang kini sudah terprovokasi oleh kata-kata Melisa, tidak akan tinggal diam jika benar Melisa memperebutkan hak asuh putranya.


Sementara Langit yang mendengar perdebatan itu langsung pergi menuju ke tepi danau buatan. Dia duduk seorang diri melihat jauh ke depan. Sungguh hatinya sangat sakit saat harus membayangkan berpisah dengan papanya. Selama ini, Langit menggantungkan semua harapannya pada Gilang.


Saat Melisa sudah selesai urusannya dengan Gilang, tanpa sengaja dia melihat Langit yang sedang duduk sendiri di bangku taman pinggir danau. Melisa pun segera menghentikan mobil dan menghampiri putranya.


"Langit, kamu di sini Nak?" tanya Melisa.


"Mama, jika Mama sayang sama aku, tolong jangan pisahkan aku dengan papa! Karena kalau Mama tetap memaksa untuk membawa aku jauh dari papa, aku tidak akan sayang sama Mama lagi."


Degh!


Dada Melisa terasa sakit terhantam batu besar. Dia tidak pernah menyangka putranya akan bicara seperti itu. Bukankah ikatan batin ibu dan anak itu kuat tapi kenapa putranya seperti tidak memiliki ikatan seperti itu dengannya.


"Langit, Mama yang sudah melahirkan kamu. Kenapa kamu lebih menurut pada papamu bukan pada Mama?"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Amanda dan Gilang ya, dengan klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2