Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 68 Welcome Baby Boy


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Tania segera mendapatkan tindakan dari dokter. Apalagi, ternyata dia sudah pembukaan lima. Sehingga perawat segera menyiapkan ruang bersalin untuknya. Rama yang masih gugup hanya bengong melihat perawat memasang infus pada Tania. Bahkan saat dia disuruh mengurus administrasi, dia seperti orang linglung yang tidak tahu jalan. Menyadari Rama yang tidak fokus, Gilang pun langsung mengambil alih apa yang harus dilakukan sahabatnya.


"Rama, biar aku saja yang mengurus administrasi. Kamu temani saja Tania. Tapi gak boleh terlihat gugup di depan istrimu karena itu akan mempengaruhi dia," suruh Gilang.


"Baiklah, Lang! Terima kasih sudah membantu aku. Aku memang tidak bisa berpikir melihat Tania seperti sangat kesakitan begitu," ucap Rama lesu.


Gilang hanya tersenyum menanggapi perkataan Rama. Dia bisa memaklumi karena ini pengalaman pertama Rama menghadapi istri yang akan melahirkan. Berbeda dengan Gilang yang sudah beberapa kali menghadapi wanita yang akan melahirkan. Karena saat dulu istri kembarannya akan melahirkan, dia ikut serta mengantar ke rumah sakit. Belum lagi kelahiran Langit dan bayi kembarnya, membuat dia bisa bersikap tenang.


Setelah Gilang pergi ke bagian administrasi, Rama pun kembali menemui Tania yang masih di ruang IGD. Dengan wajah lesu, Rama pun menghampiri Tania yang sedang meringis kesakitan.


"Sayang, apa sakit banget? Aku minta maaf karena membuatmu seperti ini." Rama menundukkan kepala dengan tangan menggenggam tangan istrinya.


"Aa banyak-banyak berdoa untuk keselamatan aku dan anak kita. Rasanya memang sakit sekali, tapi aku ikhlas dengan semua ini. Aku harap Aa bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti," ucap Tania.


"Iya, sayang! Aa khawatir sekali sama kamu. Aa gak bisa bayangin kalau kamu gak ada, bagaimana dengan nasib si Roy, pasti dia kangen tidak berkunjung ke gua Nia," ucap Rama sendu.


"Astagfirullah Aa, Aku lagi kesakitan masih mikir main jungkat jungkit," geram Tania.


"Sayang jangan marah! Kasihan anak kita," ucap Rama dengan mengelus perut buncit Tania lalu mencium kening istrinya.


Tak lama kemudian, perawat datang akan memindahkan Tania ke ruang bersalin. Rama pun dengan setia mengekor istrinya sampai masuk ke dalam. Dia selalu menuruti apapun yang Tania minta, dari mengelus pinggangnya sampai memijat kakinya. Hingga saat sudah pembukaan sembilan, dokter pun sudah bersiap untuk membantu Tania melahirkan. Namun, calon papa itu semakin panik saat mendengar rintihan kesakitan istrinya.


"Dokter, apa yang Anda lakukan? Kenapa Tania semakin kesakitan. Bukannya membantu agar bayi kami cepat keluar," sentak Rama.


"Maaf Mas, kalau Anda hanya mengganggu proses kelahiran bayi Anda, sebaiknya menunggu di luar." Dokter yang tadi Rama sentak menjadi sewot karena merasa kinerjanya diragukan.


"Aa sudah diam, jangan bicara lagi! Sekarang cepat pejamkan mata dan baca doa untukku," suruh Tania.

__ADS_1


Rama yang seperti kerbau dicocol hidungnya hanya menuruti apa yang istrinya katakan. Dia pun langsung memejamkan matanya dengan mulut yang komat kamit membaca do'a dan tangannya menggenggam tangan istrinya. Tania sebisa mungkin tidak mengeluarkan suaranya keras-keras karena khawatir suaminya itu bertambah cemas. Hingga setelah usahanya yang ketiga kali mendorong bayinya agar keluar, barulah baby boy itu lahir di dengan selamat dan langsung menangis.


"Alhamdulillah anakku," ucap Rama dengan suara serak menahan tangis karena merasa sangat terharu.


"Selamat, Mas! Anaknya laki-laki," ucap dokter yang sudah membantu Tania melahirkan.


"Terima kasih, Dok!" ucap Rama. "Makasih, sayang. Kamu wanita yang hebat," lanjutnya dengan mencium kening Tania.


"Sama-sama, A! Makasih juga sudah menemaniku berjuang untuk kelahiran anak kita," lirih Tania.


...***...


Selama tiga hari Tania dirawat pasca melahirkan, Selama itu pula Rama mengambil cuti. Sedikit pun dia tidak mau jauh dari istrinya. Padahal sudah ada mertua dan ibunya yang menjaga Tania. Namun, Rama tetap bersikeras untuk menemani istrinya.


"Sayang, kata dokter hari ini sudah bisa pulang. Kamu ingin Aa gendong apa pake kursi roda," tanya Rama.


"Kamu maklum ya, Tan! Rama selalu panik kalau orang terdekatnya mau melahirkan. Karena dia melihat langsung kakak perempuannya meninggal setelah melahirkan. Dia sangat terpukul dan merasa gagal karena waktu itu jalanan macet sehingga Rima tidak tertolong," jelas Bu Raninn


"Iya Bu, Tania mengerti!"


Tidak berapa lama, Rama sudah kembali dengan mendorong kursi roda untuk istrinya. Rama benar-benar antusias ingin membawa istrinya untuk segera pulang. Sementara, Amanda dan Gilang sudah siap untuk menyambut kedatangan Tania dan putranya di rumah. Mereka sengaja mengadakan pesta dadakan untuk menyambut kepulangan Tania dari rumah sakit.


"Selamat datang baby boy!" Amanda langsung menyambut Tania dan putranya saat dia turun dari mobil.


"Makasih Tante!" Tania menyambut pelukan Amanda yang sedari tadi sudah merentangkan tangannya.


"Tante, apa kabar?" Amanda langsung bersalaman dengan orang tua Tania dan Rama yang memang ikut menjemput cucunya di rumah sakit.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, katanya Manda sudah punya bayi kembar. Wah senangnya jadi tidak usah berebut" ucap Bu Rani.


"Alhamdulillah, Tan. Anakku jadi banyak," ucap Amanda.


Ibu-ibu beda generasi itu terlibat obrolan seru sampai bapak-bapak hanya tersenyum kecut dengan kehebohan mereka. Pasalnya, bapak-bapak itu merasa dikacangin oleh istri mereka. Apalagi yang jadi bahan obrolan tentang bagaimana suami mereka saat menghadapi kelahiran anak pertamanya. Amanda yang tidak sengaja menyebut nama Apandi, membuat Gilang langsung menepuk pundak istrinya.


"Sayang, Aidan nangis! Sepertinya dia ingin mimi," ucap Gilang.


"Oh! Maaf Tante, Manda tinggal dulu," pamit Amanda kemudian beranjak pergi menuju rumahnya.


Gilang terus saja mengikuti langkah Amanda hingga masuk ke dalam kamar. Namun, Amanda tidak menemukan bayi kembarnya karena memang sedang diajak bermain oleh pengasuhnya di taman belakang. Amanda langsung berbalik melihat ke belakang. Terlihat jelas Gilang tersenyum miring karena berhasil membodohi istrinya.


"Aa bohong ya?" tuduh Amanda.


"Menurut kamu? Aku tidak suka, kamu mengenang kembali kebersamaan kamu dengan suamimu itu. Apalagi kalau menganggapnya sebagai kenangan terindah. Aku tidak suka!" tegas Gilang dengan terus mendekat ke arah Amanda.


Kenapa aku harus ikut-ikutan dengan mereka? Pasti aku kena hukuman enak lagi, batin Amanda.


"Nggak kho A, aku tidak menjadikan dia sebagai kenangan terindah tapi kenangan terpahit. Kamu juga tahu kan bagaimana dia padaku." Amanda terus berjalan mundur saat melihat Gilang melihatnya dengan tatapan lapar.


"Sudah terlambat, Manda. Kamu harus mendapatkan hukuman karena ketidaksengajaan itu." Gilang semakin mendekat hingga jarak mereka kini tinggal satu sentimeter lagi.


Namun, saat dia akan meraup candunya, terdengar suara tangisan bayi kembar mereka saling bersahutan. Rupanya, Aidan dan Aileen terbangun dari tidur siangnya. Mau tak mau Gilang pun melepaskan istrinya.


"Hukumannya cancel, kamu pasti mendapatkannya nanti malam," bisik Gilang.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Yuk dukung terus Amanda dan Gilang episode terakhir terakhirnya....


__ADS_2