
Setelah kematian Apandi, Kia selalu saja terlihat murung. Dia masih belum bisa menerima kenyataan dengan kepergian ayah yang selalu dia rindukan. Berbeda dengan Azka yang tidak begitu terpengaruh dengan kematian ayahnya karena dia tidak memiliki kedekatan emosi dengan Apandi. Meskipun darah yang mengalir di tubuhnya sama dengan Apandi. Melihat Kia yang tidak lagi ceria seperti biasanya, Amanda pun mencoba mengajak berbicara dengan putrinya. Dia tidak ingin Kia terus menerus terpuruk karena kematian ayahnya.
"Sayang, Kia sayang kan sama ayah? Biarkan ayah tenang, Nak. Kasian ayah, kalau Kia terus bersedih. Pasti ayah juga sedih saat melihat putri kesayangannya menangis," ucap Amanda lembut dengan mengelus lembut surai hitam putrinya.
"Kenapa ayah datang pada Kia saat dia akan pergi untuk selama-lamanya? Kenapa dia tidak menemui Kia selama ini? Padahal Kia selalu menunggu Ayah, Kia ingin ayah melihat kalau Kia jadi juara kelas." Kia kembali terisak karena keinginannya tidak dapat ayahnya penuhi.
"Sayang, maafkan ayah kalau ayah tidak bisa memenuhi keinginan Kia. Tapi Kia bisa meminta Om Dimas untuk datang sebagai perwakilan ayah," ucap Amanda.
"Tidak mau! Kia maunya ayah," ketus Kia.
"Sayang, kalau Kia kangen sama ayah, Kia bisa main ke rumah nenek. Kan di sana masih ada foto-foto ayah, ada nenek juga yang butuh diperhatikan oleh cucunya."
"Kia gak mau ketemu nenek! Dia selalu memarahi Kia sama Bunda. Kia gak suka sama nenek," tolak Kia.
"Sayang, nenek sudah berubah. Tidak lagi marah-marah seperti dulu. Kia maafkan ya semua kesalahan nenek. Kita tidak boleh menyimpan dendam pada orang yang telah menyakiti kita. Karena itu hanya akan menjadi penghambat kita untuk terus berkembang dan maju. Kia lihat bunda sekarang! Seandainya Bunda selalu menyimpan dendam di hati untuk orang-orang yang sudah menyakiti bunda, tidak mungkin bunda akan mencapai kesuksesan seperti sekarang. Karena apa? Karena Bunda akan sibuk memikirkan cara untuk membalas sakit hati bunda, sedangkan kesempatan di depan mata untuk maju dan terus berkembang Bunda lewatkan begitu saja. Ingat sayang, dendam dan kebencian hanya akan membuat hidup kita tidak tenang."
__ADS_1
"Iya, Bund!" Kia langsung memeluk Amanda erat. Dia akui kalau selama ini dia selalu membenci neneknya. Namun mulai sekarang, dia akan mengikuti apa yang bundanya katakan.
Dulu memang aku tidak berarti di mata Mas Apandi dan ibunya tapi sekarang menjadi orang yang berarti di mata Mas Gilang dan keluarganya. Aku justru bersyukur karena dulu Mas Apandi mau menceraikan aku sehingga aku bisa bertemu dengan orang yang bisa menghargai aku, batin Amanda.
"Wah, Kalian curang! Papa tidak diajak pelukan nih," ucap Gilang yang baru datang dari kantor dengan menggendong Aileen
"Iya nih Pah, Langit juga gak diajak," timpal Langit yang mengikuti papa dari belakang bersama Azka seraya menggendong Aidan.
"Azka juga gak diajak," timpal Azka.
"Idan dan ilen uga," Kompak si kembar.
"Ayo sini kesayangannya Bunda!" ajak Amanda.
Gilang dan anak-anaknya langsung memburu ke dalam pelukan Amanda. Mereka langsung tertawa bersama-sama. Merasa lucu karena sudah seperti teletubies yang selalu berpelukan.
__ADS_1
Alhamdulillah ya Allah! Engkau menganugerahi keluarga yang kompak dan baik seperti keluarga suami hamba. Semoga keluarga hamba selalu dilimpahkan keberkahan, kebaikan, kesehatan, rejeki dan kekayaan hati, Aamiin.
...~Tamat~...
Terima kasih untuk semua readers yang mengikuti perjuangan Amanda sampai titik ini. Semoga tulisan othor ini ada yang bisa diambil hikmahnya. Satu hal yang ingin othor sampaikan, jangan pernah menyerah pada keadaan sesulit apapun itu. Asal kita mau berusaha diiringi dengan doa pada yang Maha Kuasa, yakinlah pertolongan Allah akan datang dari tempat yang tidak akan kita duga sebelumnya.
...Selamat Hari Raya Idul Fitri...
...Mohon Maaf Lahir dan Batin...
^^^With love,^^^
^^^Thatya0316^^^
mampir juga ke karya othor yang lain yuk!
__ADS_1