
Hari-hari pun terus berlalu, usaha konveksi Amanda pun berkembang semakin pesat, sedangkan hubungannya dengan Gilang semakin lengket. Entah kenapa, setiap hari Gilang semakin menempel pada Amanda. Kemana pun Amanda pergi, dia pasti ingin ikut serta. Seperti hari ini, saat Amanda ingin berbelanja kebutuhan bulanan dengan Tania, Gilang memaksa ikut serta hingga akhirnya menjadi acara jalan-jalan keluarga.
"Manda, kenapa suami kamu jadi posesif sekali. Kita mau jalan saja pengen ikut. Udah kaya anak kecil yang ke mana-mana mengekor emaknya," protes Tania yang sedikit kesal dengan keberadaan para suami.
"Udah biarin aja! Kita kan bisa berhemat, biar mereka yang membayar belanjaan kita." Amanda tersenyum senang dengan pemikirannya.
"Ya ampun, Manda! Cuma dibayarin satu juta saja kamu udah senang, padahal Pak Bos bisa bayarin kamu belanja yang lebih mahal. Besok-besok kita ajak ke Plaza Indonesia yuk! Biar ditraktir barang-barang branded di sana," ajak Tania.
"Hus! Kamu mau palak suami aku?" tanya Amanda.
Saat kedua sahabat itu sedang asyik berbincang, rama datang menghampiri mereka. Sementara Gilang mengikuti kemauan Azka untuk mencari mainan. Begitupun dengan Kia dan Langit yang sedari tadi mengikuti ke mana Gilang dan Azka pergi.
"Sayang, habis belanja kita nonton yuk! Sekali-kali nonton bareng anak-anak. Ada film kartun yang baru tayang," ajak Rama menyela obrolan Tania dan Amanda.
"Boleh tuh A! Yuk Manda, kita nonton bareng!" Tania mendadak sumringah saat diajak nonton oleh suaminya.
"Boleh saja, asal film yang ditonton aman untuk anak-anak." Amanda langsung menyetujui ajakan Tania.
Setelah semua kebutuhan bulanan masuk ke dalam keranjang belanjaan dan membayarnya di kasir, kini mereka langsung menuju ke bioskop yang masih satu lantai dengan supermarket. Anak-anak terlihat begitu senang saat diajak menonton, sedangkan Rama dan Gilang menyimpan dulu barang belanjaan mereka ke mobil
"Bunda, kenapa sama ayah Kia belum pernah ngajak nonton film?" tanya Kia saat mereka sudah berada di dalam studio.
"Karena ayah Kia sibuk, nanti kalau ayah ingin bertemu, Kia ajak saja ya!" suruh Amanda.
"Iya Bunda," jawab Kia.
Kia yang awalnya merasa senang kini mendadak murung saat teringat dengan ayahnya. Dia tidak bisa menikmati menonton seperti Azka dan Langit yang selalu ikut tertawa saat ada adegan yang lucu. Amanda yang menyadari perubahan Kia hanya bisa menghela napas dalam.
Maafkan Bunda, Kia. Bukannya Bunda egois karena telah memilih berpisah dengan ayahmu, tapi bunda sudah tidak kuat dengan semua tekanan batin yang selalu Bunda simpan. Bunda takut, jika Bunda terus bertahan akan berimbas buruk untuk kita semua. Semoga suatu hati nanti kamu mengerti, bisik hati Amanda.
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya, Gilang sudah terbangun dari tidurnya dengan wajah yang terlihat segar. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna melihat Amanda yang masih bergelung dengan selimut. Dia teringat dengan pertempurannya semalam yang membuat keduanya sama-sama terbang melayang hingga entah berapa kali mereka melakukan pelepasan.
"Sayang, Aa mau joging dulu ya! Kalau kamu masih ngantuk, tidur saja lagi. Nanti Aa suruh Bi isah membawa sarapan ke sini," pamit Gilang yang dibalas deheman oleh Amanda.
Setelah berpamitan dengan istrinya, Gilang pun segera bersiap untuk joging mengelilingi komplek bersama dengan Rama dan Langit yang selalu ikut jika papanya joging.
"Pah, Bunda gak diajak?" tanya Langit.
"Bunda masih tidur, dia kecapean!" sahut Gilang.
"Ya ampun, Lang! Kamu main berapa ronde sampai Manda kecapean begitu?" celetuk Rama yang sukses mendapat pelototan dari Gilang karena bicara seperti itu di depan Langit.
"Langit, coba kita lari sprint. Siapa yang duluan sampai gerbang, nanti keinginannya dikabulkan sama yang kalah." Gilang langsung mengalihkan pembicaraan agar putranya tidak banyak bertanya.
"Boleh, ayo kita mulai! Papa hitung aba-aba ya, 1 ... 2 ... 3." Gilang dan Langit pun langsung berlari siapa yang cepat dia yang menang, yang langsung disusul oleh Rama. Namun karena ingin Langit yang merasa menang, akhirnya Gilang mengalah berpura-pura kalah.
"Hore! Aku menang, Om! Hore, nanti renang sama Dek Azka." Langit meloncat kegirangan karena merasa bisa mengalahkan papanya berlari.
"Hebat nih, ponakan Om! Nanti Om kasih coklat buat hadiahnya," ujar Rama
"Wah anak papa hebat! Hadiahnya bisa doble nih karena bisa ngalahin papa." Gilang menepuk pundak putranya bangga.
"Anaknya papa gitu loh!" sahut Langit dengan menepuk dadanya.
"Anaknya Mama juga pastinya," timpal Melisa yang entah datang dari mana karena tahu-tahu sudah berada di belakang ketiga laki-laki tampan itu.
"Melisa, sejak kapan kamu tinggal di sini?" tanya Gilang kaget saat melihat mantan istrinya yang memakai baju olahraga seperti dirinya.
__ADS_1
"Sudah beberapa hari yang lalu. Aku sengaja tinggal di sini agar lebih dekat dengan putraku," ucap Melisa dengan senyum yang mengembang.
"Langit sudah tahu Mama tinggal di daerah sini?" tanya Gilang lembut pada putranya.
"Iya, Pah! Mama beberapa kali datang ke rumah saat Papa dan Bunda kerja." Langit menundukkan kepalanya takut.
"Kenapa tidak bilang sama Papa?" tanya Gilang Lagi.
"Papa kan sibuk terus sama Bunda, Langit takut mengganggu." Langit masih saja menunduk. Dia tidak berani melihat mata papanya yang sudah dia pastikan akan marah.
"Sudahlah, Gilang! Langit putraku juga, jadi kamu tidak berhak melarang aku untuk bertemu dengannya. Apa kamu lupa kalau aku yang telah bertaruh nyawa melahirkannya?" tanya Melisa yang merasa tersinggung karena Gilang seperti keberatan karena dia menemui Langit.
"Aku tahu kamu yang telah melahirkannya, tapi kamu juga yang ...." Gilang tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat dia teringat kalau di sana ada Langit yaang sudah pasti mendengarkan perdebatannya. "Ayo kita pulang, Bunda pasti sudah menyiapkan sarapan!" ajaknya kemudian.
"Gilang, kamu jangan egois! Langit juga putraku, jadi kamu tidak berhak melarang aku untuk bertemu dengan putraku sendiri," sentak Melisa yang merasa kesal pada Gilang.
Aku harus bisa mendapatkan Langit. Aku harus bisa membuktikan kalau bukan aku yang mandul, batin Melisa.
Sementara Gilang dan Langit hanya diam seraya menyusuri jalan menuju ke rumahnya. Mereka berdua bergelut dengan pikirannya masing-masing. Sementara Rama yang tidak ingin mengganggu dengan lamunan ayah dan anak, akhirnya ikutan diam.
Sesampainya di rumah, Gilang dikagetkan dengan Amanda yang sedang muntah-muntah di kamar mandi. Dia pun bergegas menemui istrinya dan memijat tengkuk Amanda untuk meringankan rasa mual. Setelah Amanda puas muntah, dia pun kembali ke tempat tidurnya karena merasa lemas.
"Sayang, kamu tidak apa-apa? Aku panggilkan dokter ya!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1