
Setelah pesta pernikahan selesai, Amanda dan Gilang langsung buru-buru kembali ke kota industri. Entah kenapa, dia merasa bosan terus diganggu oleh Galih, adik bungsu yang paling rese diantara tiga bersaudara. Galang yang anak kedua, sama kakunya dengan Gilang yang jarang berbicara jika bukan dengan orang yang penting menurut mereka. Apalagi, dia seorang abdi negara mengikuti jejak ayahnya. Membuat dia menjadi seorang yang tegas dan serius.
Bukan tanpa alasan Gilang cepat-cepat membawa Amanda dan anak-anak. Masalahnya Galih sukses menggagalkan malam pertama pengantin baru. Adiknya itu sengaja memberi obat tidur di minuman Gilang, sehingga kakak kesayangannya melewatkan malam yang sudah dinanti-nanti itu.
Sesampainya di Cikarang, Amanda langsung pulang ke rumah Gilang. Karena sebelum mereka berangkat ke puncak, barang-barang Amanda sudah terlebih dahulu dipindahkan. Tak ketinggalan juga Bi Isah yang akan ikut kemana Amanda akan pergi. Ibu paruh baya itu sudah merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga kecil Amanda. Apalagi, Azka mengingatkan Bi Isah pada cucunya yang jauh di seberang pulau.
"A, bukannya besok masih ambil cuti ya?" tanya Amanda saat mereka baru saja sampai di rumah.
"Masih, memang kenapa?" tanya Gilang.
"Gak sih, heran saja kho A Gilang buru-buru ngajak pulang," jawab Amanda.
Kenapa kamu tidak mengerti, Manda? Apa kamu tidak mengharapkan malam pertama kita?
"Aku malas di sana terlalu banyak orang," jawab Gilang enteng. "Manda, nanti Azka tidur dengan Langit dan Kia punya kamar sendiri," lanjutnya.
"Aku mau beresin barang anak-anak dulu A, kemarin asal disimpan saja belum dibereskan," pamit Amanda.
Gilang hanya melihat punggung istrinya menuju ke kamar anak-anak. Dia hanya mendessah kesal karena Amanda tidak juga mengerti dengan keinginannya. Sampai malam menjelang, ibu muda itu masih sibuk mengurus ketiga anaknya. Gilang akhirnya hanya pasrah menerima keadaan. Memang sudah menjadi resiko dia karena menikahi janda muda beranak dua.
Saat ketiga anaknya sudah anteng di dalam kamar masing-masing, barulah Amanda menghampiri suaminya yang sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya. Amanda nampak ragu-ragu saat ingin mendekati Gilang. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar Gilang.
Menyadari istrinya yang tidak menghampiri dia, Gilang secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya. Disimpannya laptop dengan merk apel merah itu ke atas nakas. Gilang pun langsung menghampiri Amanda dan tiduran di atas paha istrinya.
"A," lirih Amanda kaget.
"Kenapa? Gak boleh Aa tiduran di sini? Bukankah sekarang kita sudah halal?" Gilang menatap manik coklat milik Amanda, begitupun dengan Amanda yang memang sedang menunduk melihat ke arah suaminya.
__ADS_1
Keduanya terhanyut dengan mata yang terus saling memandang, sampai Gilang merasa tidak tahan dengan hasratnya. Perlahan tangannya terulur menarik tengkuk Amanda sehingga istrinya kini menunduk. Gilang pun langsung meraup bibir tipis Amanda yang sedari tadi menggodanya. Sampai akhirnya ciuman itu semakin lama semakin bergelora. Gilang langsung bangkit dari tidurnya dan langsung membalik keadaan. Kini Amanda sudah berada dalam pangkuan Gilang. Tangan nakal Gilang terus bergerilya mencopot pengait yang ada di belakang punggung Amanda. Saat sudah berhasil, tangan nakalnya kini sudah masuk menelusup ke dalam blouse yang Amanda kenakan dan memainkan kedua bukit kembar yang pas di tangannya. Sampai akhirnya malam panjang pun mereka lalui dengan peluh kenikmatan yang membasahi tubuh sepasang pengantin baru.
...***...
Keesokan harinya, Amanda terbangun saat terdengar sayup-sayup suara adzan subuh di mesjid yang tidak jauh dari komplek perumahan Gilang. Perlahan Amanda melepaskan belitan tangan Gilang dari tubuhnya. Dia langsung berlari kecil ke kamar mandi setelah bisa melepaskan diri dari suaminya. Selesai membersihkan dirinya, Amanda pun membangunkan Gilang agar sholat berjamaah dengannya.
"Rasanya sudah lama sekali tidak sholat berjamaah di rumah," gumam Amanda.
Tak lama kemudian, Gilang sudah siap dengan baju koko dan sarung. Amanda sampai terkesiap melihat aura yang berbeda dari Gilang. Menurutnya terlihat sangat tampan memakai baju itu.
Setelah keduanya melaksanakan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Amanda pun berniat untuk membantu Bi Isah menyiapkan sarapan seperti biasanya. Namun, tangannnya tertahan oleh Gilang yang menariknya sehingga dia menubruk dada bidang suaminya.
"Manda, jangan turun dulu! Ayo kita ulangi yang semalam," bisik Gilang.
"Tapi A ...." belum selesai Amanda bicara, Gilang sudah memotongnya.
Amanda akhirnya hanya menurut apa yang Gilang katakan. Meskipun sebenarnya dia juga sangat menikmati setiap sentuhan suaminya. Akan tetapi hatinya tidak tenang khawatir putra bungsunya menangis karena mencarinya.
Tubuh Amanda sangat nikmat, membuat si Ujang menggila menginginkan lagi dan lagi. Apa karena selama ini aku berpuasa tidak menyentuh wanita manapun setelah perceraianku dengan Melisa, sehingga saat si Ujang berbuka puasa menjadi kalap. Bodoh banget jaksa itu yang menyia-nyiakan Amanda. Aku berjanji, sampai kapan pun tidak akan melepaskan kamu selama sisa hidupku, batin Gilang.
Setelah mendapatkan pelepasan untuk yang kedua kalinya, akhirnya pasangan pengantin baru itu kembali mandi besar sebelum mereka turun kebawah. Wajah Gilang terlihat berseri dengan senyum tipis menghias bibirnya. Sementara Amanda berjalan perlahan di sampingnya.
"Waduh, pengantin baru jam segini baru turun. Anak-anak baru saja aku antar," ucap Rama menyambut kedatangan Gilang dan Amanda.
"Hari ini, aku kan masih cuti. Untuk apa kamu masih di sini? Bukannya langsung ke kantor setelah mengantar anak-anak?" cela Gilang.
"Santai Pak Bos! Aku memang mau ke kantor, tapi ada beberapa berkas yang butuh tanda tanganmu." Rama langsung menyerahkan beberapa berkas yang dibawanya.
__ADS_1
"Rama, kenapa kamu mengganggu hari liburku?" tanya gilang kesal.
"Sedikit, Lang! Sebentar juga selesai, tingal kamu tanda tangan saja." Rama tersenyum mesem melihat ekspresi Gilang yang sangat jelas tidak ingin diganggu.
"Aku belum sarapan, Ram!" elak Gilang.
"Kalau A Gilang sibuk, biar nanti sarapannya aku suapin sambil A Gilang kerja," tawar Amanda.
"Boleh, Manda!" Wajah Gilang kembali berseri saat mendengar akan disuapi oleh istrinya.
Dulu saja tidak mau saat mau aku jodohkan dengan Amanda. Sekarang malah lengket kayak perangko, batin Rama.
Amanda pun langsung pergi ke meja makan mengambil sarapan untuk Gilang. Hanya butuh waktu beberapa menit saja dia pergi. Sekarang dengan telaten Amanda menyuapi Gilang seperti dia menyuapi Kia yang sedang malas makan.
"Manda, hati-hati nanti Gilang keterusan minta disuapinnya," ucap Rama menggoda sahabatanya yang langsung mendapat delikan dari Gilang.
"Gak apa A Rama! Selama aku bisa, aku tidak keberatan untuk menyuapi A Gilang makan," ucap Amanda dengan tersenyum manis.
"Sudah cukup, Sayang! Sini biar gantian, kamu yang aku suapin sarapan." Gilang langsung menyimpan berkas yang sudah selesai dia tanda tangani. Kini tangannya terulur mengambil piring yang ada di tangan Amanda. Gilang pun mulai menyuapi Amanda dengan lembut.
"Ya Ampun kalian tuh! Aku masih ada di sini, kalian sudah mesra-mesraan depan aku."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Langsung klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1