Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 22 Saat hujan


__ADS_3

Angin berhembus dengan kencang mengiringi guyuran air hujan yang deras jatuh ke bumi. Amanda sudah bersiap untuk tidur bersama kedua anaknya selepas dia melaksanakan sholat magrib. Sampai suara ketukan pintu depan membuat dia mengurungkan niatnya untuk tidur cepat. Amanda bergegas ke depan dengan menggendong Azka dan menuntun Kia yang tidak ingin dia tinggalkan.


Nampak di teras, Apandi mematung kedinginan menunggu pintu rumah Amanda dibuka. Sampai sambutan hangat dari kedua anaknya mampu mengusir rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya.


"Ayah!" pekik Kia saat melihat Apandi berdiri di depan rumahnya.


"Kia sayang," sahut Apandi dengan langsung menggendong putrinya. Lalu dia pun mencium putranya yang ada dalam gendongan Amanda.


"Mas, kenapa hujan-hujan ke sini?" tanya Amanda heran.


"Mas kangen sama anak-anak. Memang Mas tidak boleh ketemu dengan anak-anak?" tanya Apandi dengan menatap lekat mantan istrinya.


Kenapa Manda semakin hari semakin seksih meski hanya memakai daster? Kenapa dulu saat menikah denganku dia nampak kumal dan kucel?


Apandi terus melihat ke arah Amanda, menelisik dari bawah sampai ke atas kepala. Membuat Amanda menjadi jengah dengan apa yang dilakukan mantan suaminya.


"Mas, tunggu dulu di sini! Nanti aku ambilkan handuk untuk mengeringkan rambut," ucap Amanda seraya menurunkan Azka karena dia ingin bersama dan ayahnya.


Amanda langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil handuk kecil. Namun saat dia berbalik, Apandi sudah ada di belakangnya langsung memeluk erat tubuhnya. Tanpa menunggu persetujuan dari mantan istrinya, Apandi langsung meraup bibir yang sedari tadi menggodanya. Apandi terus memperdalam ciumannya, membuat Amanda menjadi kelabakan dengan kelakuan mantan suaminya. Meski dia terus memukul dada Apandi dengan tangan kecilnya. Akan tetapi, mantan suaminya itu tidak mau melepaskan pagutannya sebelum dia merasa kehabisan napas.


"Mas, apa yang Mas Pandi lakukan? Kita sudah bukan suami istri lagi, aku harap Mas Pandi bisa menjaga sikap," sentak Amanda setelah Apandi melepaskan pagutannya.


"Manda, aku tidak bisa melupakanmu. Entah kenapa aku selalu merindukan percintaan kita," lirih Apandi dengan tidak tahu malunya.


"Setelah satu tahun kamu baru ingat sama aku?Apa karena sekarang istrimu sedang hamil besar, sehingga dia tidak bisa memuaskanmu? Maaf Mas, jangan datang padaku disaat kamu butuh seseorang untuk memuaskan hasratmu! Aku bukan perempuan yang dengan suka rela memberikan tubuhnya pada lelaki tanpa ikatan pernikahan." Amanda langsung keluar kamar menuju ke ruang tamu untuk menemui kedua anaknya.


Pantas saja Mas Pandi bisa menyusulku ke kamar, ternyata anak-anak diberi makanan kesukaannya dan juga mainan, batin Amanda.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Apandi datang dengan handuk di kepalanya. Meski tak memungkiri pesona seorang Apandi masih mempengaruhinya. Akan tetapi Amanda menahan perasaannya sekuat mungkin. Dia tidak ingin jika harus terjerat kembali oleh cinta yang hanya membuatnya sakit hati.


"Manda, Mas pulang dulu! Citra tadi menelpon, sepertinya dia mau melahirkan. Mertua Mas sudah membawanya ke rumah sakit," ucap Apandi.


"Ayah, tidur di sini saja!" rengek Kia.


"Sayang mama Citra mau melahirkan. Kia sama Bunda saja," bujuk Amanda.


"Kia masih kangen sama Ayah, Kia mau sama Ayah!" Kia terus merengek ingin ikut dengan Apandi yang tentu saja hal itu tidak akan dikabulkan oleh Amanda.


"Kia, besok ayah ke sini lagi Nak! Kia sama Bunda dulu ya!" bujuk Apandi pada putrinya.


"Ayah janji ya, harus sering main ke sini! Kia bosan di rumah hanya sama Azka yang suka rewel terus sama Mak Isah. Bundanya sibuk terus," keluh Kia dengan mata yang berkaca-kaca.


Hati Amanda merasa tersayat dengan apa yang Kia katakan. Memang benar akhir-akhir ini dia sangat jarang menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Proyek kerjasama dengan Green textile dan banyaknya pesanan daster membuat dia selalu sibuk dengan usaha konveksinya.


"Iya sayang, Ayah janji besok ke sini lagi!" sahut Apandi lalu mencium kedua anaknya bergantian sebelum dia pergi menuju ke rumah sakit.


"Kakak, ayo bimbing dedenya do'a sebelum tidur," suruh Amanda yang memang sudah membiasakan Kia untuk membaca do'a sehari-hari.


Kia pun dengan lancar membaca do'a sebelum tidur karena dia memang sudah terbiasa membacanya. Amanda memang sengaja membiasakan anak-anaknya untuk membaca do'a bukan menyuruhnya untuk menghapalkan seperti di sekolah. Karena menurutnya, meskipun tidak langsung hapal tetapi lama kelamaan akan hapal dengan sendirinya.


Sementara itu, Apandi terus memacu kecepatan mobilnya di bawah derasnya hujan. Citra sedari tadi terus menerus menghubungi untuk segera menyusul ke rumah sakit Kasih Ibu tempatnya akan melahirkan anak pertamanya.


Setelah beberapa kali dia menerobos lampu merah sehingga makian dan cacian dia dapat dari para pengendara lain, tetap saja Apandi tidak bisa datang secepatnya ke rumah sakit karena dia akhirnya terjebak macet. Memang sudah bukan hal yang aneh, di daerah kawasan industri itu pemandangan macet sudah menjadi makanan sehari-hari.


Tring!

__ADS_1


Satu pesan masuk ke dalam ponsel Apandi. Saat dilihat, ternyata Citra banyak mengirim pesan padanya. Namun, dia belum sempat membaca semuanya.


Ayang Icit [Mas masih di mana? Aku harus caesar, anaknya sungsang]


Ayang Icit [Mas, cepetan datang! Kamu harus tanda tangan surat persetujuan]


Ayang Icit [Mas, cepetan! Perutku sakit banget, aku sudah gak kuat]


Apandi pusing membaca tiap pesan yang istrinya kirim. Dia terus menerus menyuruhnya untuk segera datang sampai akhirnya Apandi memina diwakilkan untuk persetujuan operasi.


Setelah dia bisa mengurai kemacetan, Apandi secepatnya menuju ke rumah sakit karena dari terakhir pesan yang dibacanya, Citra sudah pecah ketuban. Sehingga bayinya harus segera dikeluarkan karena ketuban Citra sudah keruh dan bau.


Sesampainya di rumah sakit, Apandi segera menuju ke ruang operasi. Nampak di sana mertuanya yang sedang menunggu dengan gelisah. Sampai akhirnya lampu ruang operasi itu mati pertanda operasi yang dijalani Citra sudah selesai. Seorang dokter keluar dengan wajah lesu menghampiri Apandi dan mertuanya.


"Keluarga pasien!" panggil seorang dokter berwajah cantik.


"Iya saya, dok!" sahut Apadi langsung menghampiri dokter itu.


"Operasinya berjalan dengan lancar. Namun, dengan sangat menyesal saya harus menyampaikan kabar yang tidak baik. Nyonya Citra keadaannya baik, tapi bayinya tidak bisa kami selamatkan. Dia keracunan ketuban, sehingga hanya bertahan lima menit setelah kami keluarkan." Dokter cantik itu nampak merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan bayi yang tidak berdosa.


Apandi hanya diam mematung mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. Dia syok karena harus kehilangan anak yang selama sembilan bulan ini dia tunggu bersama dengan Citra istrinya. Dengan perasaan yang hancur, dia pun berusaha untuk menerima kenyataan.


"Dokter, apa bisa saya melihatnya?"


"Silakan Pak, bayinya sedang dibersihkan sebelum dibawa ke ruang jenazah."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2