
Keesokan harinya, nampak dua anak muda yang masih bergelung di dalam selimut. Dani yang sudah terbangun lebih dulu hanya tersenyum melihat Melani yang masih tertidur kelelahan. Setelah semalaman dia menggempurnya smpai beronde-ronde.
Aku tidak menyangka akan bertemu dengan lawan yang sebanding denganku. Dia begitu liar tadi malam dan aku sangat menyukainya. Apa aku jadikan simpanan saja, agar selalu menghangatkan tempat tidurku, batin Dani.
Saat Dani sedang asyik dengan pikirannya, Melani pun mengucek matanya dan menggeliatkan badannya yang terasa pegal, karena permainannya semalam dengan Dani. Melihat gerakan erotiss Melani di depannya, membuat sesuatu yang tadi ingin berdiri langsung tegak sempurna.
"Melani, aku sangat menyukai permainan kamu. Apa kita bisa melakukannya lagi nanti. Aku pasti akan sering mengunjungi kamu," ucap Dani dengan tangannya mulai memainkan bukit yang terlihat menantang.
"Dani, kamu pintar sekali membuatku terbang melayang. Kamu boleh datang ke rumahku sesuka hatimu, karena aku tinggal sendiri di sana," ucap Melani.
"Terima kasih, aku pasti akan sering menemui kamu," ucap Dani dengan membenamkan bibirnya pada bibir Melani.
Melani pun langsung mengimbangi permainan Dani. Lima tahun kuliah di negeri yang menganut kebebasan, ditambah lagi lelaki yang menjadi pacarnya di sana merenggut kehormatannya, Namun setelah hal itu terjadi, justru dia diselingkuhi. Hal itu membuat Melani menjadi terbiasa untuk melakukan percintaan semalam dengan lelaki yg disukainya
Akhirnya pagi ini mereka awali dengan percintaan berbalut dosa. Melani dan Dani saling memburu untuk mencapai puncak bersama-sama. Sampai keduanya merasa lelah, barulah dua anak manusia itu mengehentikan permainan yang membuat darah berdesir dan jantung memompa lebih cepat dari biasanya.
Hari-hari pun terus berlalu, hampir tujuh bulan Melani melakukan percintaan tanpa ikatan pernikahan. Sampai akhirnya dia dinyatakan hamil oleh Dokter. Namun sayangnya, dia tidak bisa menemukan keberadaan ayah dari anak yang dikandungnya. Dani seperti menghilang tanpa jejak , setelah meninggalkan benih di rahim Melani.
...***...
Sementara itu, bayi kecil yang hanya 2,2 kilogram saat baru lahir ke dunia, kini sudah menjadi bayi yang sehat dengan badan yang padat dan berisi meskipun tidak terlihat gemuk. Amanda yang memutuskan untuk bekerja dari rumah agar bisa menjaga bayinya, membuat beberapa staf di usaha konveksi-nya sering bolak-balik ke rumah dia jika sedang memerlukan tanda tangan Amanda.
Seperti hari ini saat salah satu orang staf konveksinya datang ke rumah, dia tidak sengaja melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat. Reina langsung mematung saat melihat bosnya sedang berpagutan di ruang kerja Amanda yang berada di lantai satu.
Sepertinya aku datang tidak di waktu yang tepat. Pak Bos kamu terlihat begitu bergairah, membuat jiwa jombloku meronta ingin merasakan seperti yang Mba Amanda rasakan, batin Reina.
Amanda yang tidak sengaja menangkap Reina mematung sedang berdiri di ambang pintu, dia pun segera mengehntikan pagutannya lalu berbisik pada GIlang, "Ada Reina yang sedang melihat kita."
Gilang mendengus kasar karena merasa kesenangannya terganggu dengan kehadiran karyawan Amanda. Dia langsung menatap tajam pada Reina yang sukses membuat gadis itu langsung menunduk ketakutan. Melihat karyawannya yang ketakutan dengan suaminya, Amanda pun segera mengelus tangan Gilang agar suaminya itu tidak menakuti Reina.
"Sayang, jangan begitu! Nanti kita sambung lagi kalau urusanku sudah selesai, ok!" rayu Amanda.
"Baiklah, aku tunggu di kamar!" Gilang langsung berlalu setelah mencium pipi istrinya sekilas.
__ADS_1
Namun saat dia berpapasan dengan Reina, Gilang langsung memberikan ancaman pada gadis itu. "Ini pertama dan yang terakhir kalinya kamu melakukan hal itu. Jika terjadi lain kali, maka surat pemecatan kamu akan keluar."
Setelah kepergian Gilang, Reina pun segera menghampiri Amanda yang ada di meja kerjanya. "Mbak, maaf tadi aku tidak sengaja!"
"Iya gak apa-apa! Aku ngerti kho," sahut Amanda. "Oh iya, ada apa ke sini?" lanjutnya.
"Aku butuh tanda tangan Mbak untuk pembayaran bahan baku," ucap Reina.
"Oh, buat Green Textile bukan? Sini aku lihat!" Amanda pun mengambil berkas yang diberikan oleh Reina. "Besok baru aku berikan, karena aku perlu konfirmasi dulu dengan pihak sana," lanjutnya.
Bagaimana ini? Bukannya Bu Amanda gak pernah konfirmasi dulu ya? Bisa gawat kalau ketahuan, batin Reina.
Reina kenapa gugup begitu? Sepertinya kecurigaanku benar. Ada pemalsuan laporan keuangan. Pantas saja sudah dua bulan ini pengeluaran konveksi membengkak, batin Amanda.
"Kenapa Rei? Kamu takut pihak sana kecewa karena tidak bayar tepat waktu? Kamu tenang saja, itu kan perusahaan milik suamiku," tanya Amanda.
Ya Allah, ampuni hamba dengan kesombonganku, batin Amanda.
"Nggak kho, Mbak! Kalau begitu, aku permisi pulang dulu," pamit Reina.
"Sayang, bunda sudah datang. Tadi nangis pengen Mimi," tunjuk Gilang pada Amanda yang baru masuk ke dalam kamar.
"Wah putri Bunda nangis, sini sayang sama Bunda!" Amanda pun mengambil alih Aileen untuk memberikan sumber kehidupan bayi kecil itu.
"Udah pulang?" tanya Gilang.
"Udah! A tolong cek total pembayaran konveksi aku. Rasanya udah dua bulan ini jadi bertambah besar. Bukannya harga masih tetap ya?" tanya Amanda.
"Masih, aku belum menyuruh mereka untuk menaikkan harga ke CV. Sahabat," jawab Gilang. "Nanti aku suruh Rama untuk melihat laporannya."
Gilang langsung menghubungi Rama. Namun, sepertinya Rama sedang panik saat Gilang menelponnya. Terdengar jelas dari suaranya saat panggilan telepon itu tersambung.
"Hallo, Lang ada apa?" tanya Rama dengan suara yang terburu-buru.
__ADS_1
"Rama, nanti kamu cek ...."
"Sebentar Lang, Tania memanggilku. Dia mengeluh terus perutnya mules. Aku bingung mau ngapain," potong Rama.
"Mungkin Tania melahirkan," ucap Gilang.
"Apa melahirkan? Aku harus bawa dia ke rumah sakit?" tanya Rama panik.
"Iya, cepat kamu siap-siap. Aku ke sana sekarang!" Gilang langsung menutup teleponnya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Sayang, Tania mau melahirkan. Aku mau bantu Rama dulu. Sepertinya dia panik," ucap Gilang.
"Apa mau melahirkan? Ajak Bu Isah untuk bantu bawa barang-barang yang diperlukan," suruh Amanda.
"Iya, Aa ke sana dulu. Cantik jangan rewel sama bunda, papa mau bantu Om kamu dulu," pamit Gilang lalu mencium putrinya dan Aidan yang sedang tertidur.
Sesampainya di rumah Rama, terlihat Rama yang seperti orang linglung. Dia panik sampai tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sehingga dia hanya mengelus perut Tania terus sedari tadi.
"Rama, ayo kita bawa ke rumah sakit! Keperluannya sudah kamu siapkan belum?" tanya Gilang.
"Belum. Bi Ijah belum pulang dari pasar," jawab Rama.
"Astaga, ayo kamu gendong Tania! Mobilku sudah ada di luar. Keperluannya biar Bi Isah yang urus," suruh Gilang.
"Bi tolong ambil keperluan untuk lahiran Tania di kamar anak!" suruh Tania.
Rama pun segera membawa Tania ke mobil Gilang. Namun, rasa panik dan gugup yang menguasainya, membuat dia melakukan kesalahan yang mengakibatkan kepala Tania menjadi benjol. Bagaimana tidak, kepala Tania kepentok pintu mobil saat Rama akan memasukkannya ke dalam.
"A Rama nyebelin banget, lihat kepalaku jadi sakit! Sudah perutku sakit ditambah kepala benjol," sungut Tania kesal.
"Maaf sayang, Aa tidak sengaja!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...