Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 65 Ikhlas Memaafkan


__ADS_3

Jarak yang tidak begitu jauh dari rumah, membuat Amanda hanya butuh waktu singkat untuk sampai ke rumah sakit. Nampak Gilang yang terlihat cemas dengan keadaan istrinya. Tak hentinya dia berdoa untuk keselamatan istri dan bayi kembarnya.


"Sayang, yang kuat. Sebentar lagi bayi kita akan lahir," ucap Gilang dengan terus mengelus perut Amanda.


"A tolong elus pinggang belakangku. Rasanya panas sekali," keluh Amanda.


"Sabar ya, sayang. Baru pembukaan lima." Tangan Gilang tanpa lelah terus mengelus pinggang belakang Amanda.


Sementara Tania yang tidak ikut dengan mobil Gilang, Dia membersihkan badannya dulu yang berkeringat setelah tadi senam. Dia juga sengaja berangkat belakangan karena menunggu anak-anak pulang dari sekolah. Namun, saat dia akan pergi ke rumah Amanda untuk menemui Kia dan Langit, ponselnya berbunyi dan tertera di layar nama suaminya yang melakukan panggilan. Tania pun langsung menerima panggilan telepon dari Rama.


"Hallo, assalamu'alaikum," ucap Tani.


"Wa'alaikumsalam, Sayang Amanda sudah melahirkan, bayinya sepasang." Heboh Rama di seberang sana.


"Alhamdulillah, Aa kapan mau jemput aku buat nengokin Manda?" tanya Rani.


"Ya sudah Aa pulang sekarang. Sekalian bawa baju ganti untuk Gilang. Kalau begitu Aa tutup dulu ya, Assalamu'alaikum." Rama langsung menutup panggilan teleponnya sebelum Tania menjawab salamnya.


"Wa'alaikumsalam," gumam Tania.


Dia langsung bergegas ke rumah Amanda untuk memberitahukan kabar bahagia tentang kelahiran anggota baru dalam keluarga sahabatnya. Sesampainya di sana, terlihat anak-anak sedang menonton televisi ditemani oleh Bi Isah.


"Hallo ponakan Tante yang ganteng dan cantik. Ada yang mau ikut Tante gak?" tanya Tania.


"Ikut ke mana, Tan?" tanya Kia.


"Lihat dedek bayi kalian. Bunda sudah melahirkan," ucap Tania.


"Aku ikut, Tan. Aku ikut," Heboh ketiga bocah yang sedang asyik menonton televisi.


"Boleh saja, tapi ada bayarannya. Sun Tante dulu dong!" Tania menepuk pipinya dengan telunjuk. Ketiga anak itu dengan antusias mencium pipi Tania.


"Mbak Tania, bibi boleh ikut?" tanya Bi Isah.


"Boleh Bi, bersiap saja dulu. Nanti A Rama akan menjemput," suruh Tania.


Bi Isah dan anak-anak pun begitu bersemangat untuk berganti baju. Tania membantu Azka memakai baju sedangkan Kia dan Langit sudah bisa memakai baju sendiri. Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara klakson mobil di luar. Tania dan yang lainnya segera bergegas keluar dan tidak lupa mengunci pintu rumah. Terlihat di sana Rama sedang menunggu setelah memarkirkan mobilnya.


"Bagaimana keadaan, Manda?" tanya Tania saat sudah berada di mobil.


" Alhamdulillah sehat, bayinya juga sehat." Rama terus saja memandang ke depan.

__ADS_1


"Om, bayinya mirip siapa?" tanya Kia.


"Mirip Bunda dan Papa," jawab Rama.


"Kenapa tidak mirip Kia dan Kak Langit biar cantik dan ganteng," keluh Kia.


"Azka juga ganteng," protes Azka.


"Iya mirip kalian semua. Kan anaknya Papa sama Bunda," timpal Tania menghentikan perdebatan di antara anak-anak sahabatnya.


Sesampainya di parkiran, ketiga bocah itu segera keluar dari mobil dan ingin berlari agar secepatnya melihat adik kembar. Namun, karena kecerobohannya Kia hampir saja tertabrak mobil yang baru memasuki parkiran.


"Astagfirullah, Kia!" pekik Tania yang melihat dari kaca mobil.


Rama dan Tania pun segera bergegas menghampiri Kia yang terjatuh di depan mobil berwarna silver. Begitupun dengan pengendara mobil yang kaget karena Kia datang tiba-tiba di depan mobilnya.


"Astagfirullah, Kia!" seru Apandi saat mengetahui kalau putrinya sendiri yang akan tertabrak mobil miliknya.


"Ayah," ucap Kia langsung memeluk Apandi yang berjongkok di depannya.


"Kamu tidak apa-apa, Nak? Mana yang sakit?" tanya Apandi cemas.


"Lutut Kia berdarah," keluh Kia dengan memegang lututnya.


"Kia kenapa lari-lari, memangnya mau ke mana?" tanya Apandi


"Kia mau lihat dedek bayi. Bunda kasih Kia adik kembar," jawab Kia.


"Apa? Bunda sudah punya bayi kembar?" tanya Apandi kaget.


"Iya Ayah, kata Tante Tania cantik dan ganteng seperti Kia, Azka dan Kak Langit." jawab Kia.


"Syukurlah," ucap Apandi dengan suara yang bergetar.


Kamu sudah bahagia dengan keluarga barumu, tapi aku masih terpenjara dengan rasa bersalah, batin Apandi.


"Ayah boleh ikut jenguk bunda?" tanya Apandi lagi.


"Boleh, Ayah!"


Kia pun langsung dibawa ke ruang UGD untuk diobati luka yang bekas tadi terjatuh. Setelah mengobati luka Kia, Apandi menemui Dimas dan Bu Sopiah dulu. Dia khawatir Dimas mencarinya jika tidak memberi tahu kepergiannya untuk menengok Amanda yang baru melahirkan.

__ADS_1


"Dimas, ngantrinya masih lama tidak?" tanya Apandi.


"Masih, Mas!" jawab Dimas.


"Mas, melihat Amanda dulu ya sebentar," ucap Apandi.


"Kita barengan saja, Mas." Dimas langsung bangkit dari duduknya. Dia segera mendorong Bu Sopiah menuju ke ruang perawatan Amanda.


Sesampainya di sana, nampak Amanda sedang dikelilingi oleh anak-anaknya. Jangan lupakan Gilang yang tidak mau jauh dari istrinya. Dia benar-benar terlihat mendominasi Amanda.


Apandi hanya tersenyum kecut melihat pemandangan di depannya. Apa yang Gilang lakukan pada Amanda sangat jauh berbeda dengan yang dia lakukan pada mantan istrinya itu. Dia malah selalu menjauh dari Amanda disaat-saat Amanda akan melahirkan kedua anaknya. Hanya mertuanya yang selalu menemani di saat mereka masih hidup.


"Manda, bagaimana keadaan kamu?" tanya Apandi yang sukses membuat raut wajah tidak suka dari Gilang.


"Alhamdulillah baik, Mas!" jawab Amanda tersenyum ramah.


"Sayang, aku tidak suka kamu tersenyum seperti itu. Awas saja kalau senyum lagi, aku pasti menghukum kamu setelah masa nifas berakhir," bisik Gilang yang sukses membuat Amanda langsung menarik bibirnya ke dalam.


"Syukurlah, aku ikut bahagia dengan kelahiran bayi kembar kamu. Selamat ya Pak Gilang! Semoga jadi anak yang sholeh dan sholehah," ucap Apandi.


"Mbak, sepertinya ibu ingin bicara," potong Dimas saat Bu Sopiah menggoyangkan tangannnya. Dimas pun mendorong Bu Sopiah agar lebih dekat pada Amanda.


"Ibu, bagaimana keadaannya? Sudah baikan?" tanya Amanda.


Bu Sopiah hanya menganggukkan kepalanya dengan buliran air mata yang menetes dari pelupuk matanya. "Ma-ma-ma-af-kan I-I-bu."


"Insya Allah, Manda sudah memaafkan Ibu! Semoga Ibu cepat pulih kembali," ucap Amanda dengan meraih tangan Bu Sopiah dan mengelusnya.


"Te-te-te-ri-ma ka-ka-sih."


"Sama-sama Bu." Amanda tersenyum hangat pada mantan mertuanya. Meskipun dia sering menyakiti hatinya, tapi Amanda sudah ikhlas dengan apa yang mantan mertuanya itu lakukan.


Terbuat dari apa hatimu, Manda. Dengan mudahnya kamu memaafkan orang yang selalu menghina dan merendahkan kamu, batin Tania.


Aku bersyukur karena memiliki istri yang kaya hatinya. Dia dengan mudah memaafkan orang-orang yang telah membuat hidupnya terpuruk. Mungkin aku juga harus bisa memaafkan pengkhianatan Melisa seperti Amanda memaafkan mantan suaminya, batin Gilang.


Mungkin aku yang harus berterima kasih padanya, karena semua hinaan dan caci makinya, aku bisa seperti sekarang. Bisa hidup bahagia dengan orang-orang yang mencintai aku dengan tulus dan mencapai kesuksesan dalam karir sebagai pengusaha daster, batin Amanda.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya nya kawan! Langsung saja klik like, comment vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2