Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 52 Pencuri


__ADS_3

Keesokan harinya, Melani datang ke kantor Gilang untuk meminta pekerjaan. Gilang yang merasa sungkan karena mengingat hubungan baik keluarganya dengan keluarga Melani, membuat dia menyerahkan pada Rama untuk penempatan tugasnya. Namun, Gilang meminta pada Rama agar pekerjaan Melani tidak berhubungan langsung dengannya.


"Mel, lowongan yang kosong hanya di bagian marketing. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Rama pada Melani saat berada di ruangan Gilang.


"Kak, kenapa aku tidak jadi sekretaris kamu saja. Aku lebih kompeten dari sekretaris yang ada di depan ruangan kamu itu." Melani membanggakan dirinya sendiri.


"Makanya itu, kamu lebih cocok jadi marketing. Kamu cantik, penampilan wow. Pasti banyak customer kita yang terpesona dengan penampilan kamu sehingga mereka akan membeli kain dari perusahaan kita," rayu Rama.


"Benarkah? Tapi kenapa Kak Gilang tidak pernah melirikku? Padahal semua lelaki terpesona dengan penampilan aku," tanya Melani heran.


"Karena kamu itu adiknya Melisa sehingga Gilang hanya menganggap kamu adik. Sekuat apapun kamu berusaha mendekatinya, tapi di mata Gilang kamu hanya adik kecilnya," jelas Rama


...***...


Sementara itu, Amanda sudah kembali bekerja karena kesehatan Azka sudah membaik. Amanda yang selalu ramah pada karyawannya, membuat dia dekat dengan semua orang yang bekerja di konveksi miliknya.


"Seto, bagaimana penjualan daster? Apa mengalami peningkatan bulan ini?" tanya Amanda.


"Alhamdulillah, Bu! Untuk bulan ini total pesanan daster naik dua puluh lima persen," jawab Seto yang memegang laporan penjualan. "Kalau saya boleh saran, bagaimana kalau kita mencoba memasarkan model lain selain daster. Gamis misalnya, Bu. Pasti banyak peminatnya, asalkan kita menawarkan gamis dengan model yang tidak pasaran dan bahannya nyaman dipakai."


"Boleh juga Seto idenya. Nanti aku diskusikan dulu dengan Pak Gilang. Agar kita bisa melakukan uji coba dulu dan untuk bahannya biar disiapkan oleh Green Textile," ucap Amanda.

__ADS_1


Setelah cukup berbincang-bincang dengan tim penjualan, Amanda pun berkeliling untuk melihat kendala yang dialami pekerjanya sehingga dia bisa mengambil tindakan cepat jika ada hal yang menghambat produksi daster. Namun, dia dikagetkan dengan keributan di pintu keluar karyawan saat adanya pergantian shift satu dan shift dua, sehingga Amanda pun segera menuju ke sana.


"Ada apa, Pak? Kenapa ribut-ribut?" tanya Amanda saat sudah sampai di sana.


"Ini Bu Manda, ada pencuri. Dia mencuri lima potong daster dengan dililitkan ke pinggangnya dan sebagian dia pakai doble," adu Sukri, satpam di konveksi.


"Oh! Apa dia sudah mengaku kenapa melakukan hal itu?" tanya Amanda.


"Katanya dia ingin memiliki daster yang diproduksi di sini," jawab Sukri.


"Boleh melihat orang itu?" tanya Amanda.


"Tentu saja, Bu! Ibu yang lebih berhak menghukum dia." Sukri pun memberi jalan pada Amanda untuk masuk ke dalam pos satpam yang berukuran 2x2 meter itu.


"Pak Sukri, bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Amanda.


"Bisa, Bu!" Sukri segera memberi ruang pada Amanda untuk menginterogasi pencuri daster di tempatnya bekerja.


Setelah kepergian Sukri, Amanda pun langsung duduk di depan Lola yang sedari tadi tidak berani mengangkat wajahnya. Sebenarnya Amanda merasa kasihan pada gadis itu, tetapi keadilan harus ditegakkan dan yang bersalah harus mendapatkan hukuman agar ada efek jera untuk karyawan yang lainnya.


"Lola, untuk apa kamu mencuri daster sebanyak itu?" tanya Amanda dengan menatap lekat pada Lola.

__ADS_1


"Mbak Manda, maafkan aku! Sebenarnya, sebenarnya aku disuruh oleh Kak Lela agar pulang membawa daster untuknya, sehingga aku terpaksa mengambil daster di sini, karena aku tidak punya uang untuk membelinya." Lola hanya menatap sekilas pada Amanda yang sedang menatapnya, kemudian di pun kembali menundukkan kepalanya.


"Apa harus, kamu mengambil daster sebanyak itu? Bukankah cukup satu?" tanya Amanda.


"Karena aku, karena aku juga menginginkannya," jawab Lola.


"Baiklah, karena aku mengingat kita dari kampung yang sama. Maka, aku akan memberikan daster ini padamu cuma-cuma. Hanya saja, besok kamu tidak perlu datang lagi ke sini. Aku akan menyuruh orang untuk mengurus gaji terakhirmu." Amanda langsung berdiri meinggalkan Lola yang kini sedang terisak. Lola tidak menyangka, pekerjaan yang susah payah dia dapat harus berakhir karena kesalahannya.


"Makanya Neng, jangan suka mencuri! Masih mending Bu Amanda tidak menyuruh kita melaporkan ke polisi. Dia masih merasa kasihan padamu jika harus berurusan dengan polisi," ucap Sukri panjang lebar saat Amanda sudah keluar dari pos satpam.


Lola diam saja tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Sukri. Dia sangat menyesal telah mengikuti apa yang kakaknya katakan. Andai saja waktu bisa diputar, sudah pasti Lola memilih untuk membangkang pada kakaknya Lela, ketimbang harus mencuri di tempatnya bekerja.


Sementara Amanda langsung menghubungi Reina dan menyuruhnya untuk mengurus gaji terakhir Lola. Setelah semuanya beres, dia pun kembali ke ruangannya untuk membuat draf tentang produk baru yang akan diluncurkan oleh konveksi miliknya. Setelah Amanda cukup menimang-nimang, akhirnya dia memutuskan untuk memproduksi pakaian muslim yang banyak digemari masyarakat negeri ini karena memang mayoritas penduduknya muslim.


"Sepertinya aku harus membuat logo terpisah untuk brand pakaian muslim, tapi kira-kira apa ya? Aku tidak mau memakai namaku untuk brand pakaian yang akan aku produksi," gumam Amanda.


Amanda terus menimang-nimang nama apa yang sekiranya cocok untuk produk barunya. Hingga akhirnya dia teringat pada anak-anaknya dan memutuskan untuk memakai nama salah satu anaknya, ADZKIYA COLLECTION.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2