Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 9 Sebaiknya Melepaskan


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Amanda langsung menggendong Azka menuju ruang IGD. Dia semakin panik karena selama perjalanan menuju rumah sakit, Azka terus saja muntah sampai supirnya merasa kesal karena mencium bau muntahan Azka.


"Dokter, Dokter tolong putraku!" teriak Amanda seraya berlari membawa Azka.


Mendengar teriakan Amanda, beberapa perawat pun datang membantu Amanda mengambil alih Azka.


Saat sudah sampai di ruang IGD, perawat segera memberikan pertolongan. Mereka segera memasang infus pada tangan kecil Azka. Suara tangisan Azka yang ketakutan melihat jarum infus dan dipaksa untuk memasangnya, membuat hati Amanda terasa hancur. Apalagi beberapa kali perawat itu mencoba, tapi nadi Azka yang halus tidak teraba karena tubuh Azka yang lumayan gempal. Setelah perawat berusaha untuk yang ke lima kalinya, barulah jarum infus itu bisa terpasang dengan baik di tangan kiri anak kecil itu.


Setelah dokter memeriksa dan memberi obat yang disuntikan ke infusan, barulah Azka sedikit tenang dan tertidur karena kelelahan dan juga karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter.


"Ibu, tolong administrasinya diselesaikan dulu!" suruh salah satu perawat yang tadi ikut memberi tindakan pada Azka.


"Baik, Mbak! Mbak, bisa minta tolong jagain putraku dulu selama aku mengurus admistrasi?" tanya Amanda dengan wajah yang sayu.


"Tentu saja bisa, Bu! Silakan!" Perawat itu pun mempersilakan Amanda untuk mengurus adminitrasi Azka, sementara dia menjaga anak kecil yang menjadi pasiennya.


Selesai mengurus administrasi, Amanda pun mencoba menghubungi suaminya. Namun setiap kali tersambung pasti panggilannya ditolak. Sehingga Amanda memutuskan untuk mengirim pesan pada Apandi.


Send to Ayah Kia&Azka


[Mas, lagi di mana? Cepat pulang! Azka muntah terus, sekarang dirawat di rumah sakit Medika. Kia aku titipkan di rumah Bude Marni. Kalau Mas baca pesanku, cepat susul ke sini!]


Setelah mengirim pesan pada suaminya, Amanda pun buru untuk kembali ke ruangan putranya. Namun saat dia akan berbelok, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang pria dewasa yang bertubuh tegap dan berwajah tampan.


"Maaf, Mas! Aku tidak sengaja!" Amanda langsung meminta maaf pada orang yang ditabraknya seraya menunduk. Namun saat dia mengangkat kepalanya, ternyata orang yang ditabraknya sudah berlalu pergi. Hanya punggung tegapnya saja yang terlihat dari belakang.


Tidak ingin ambil pusing, Amanda pun langsung kembali melangkahkan kakinya ke ruang IGD karena Azka belum memiliki kamar sendiri.

__ADS_1


Sementara di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda, nampak dua anak manusia yang sedang berpacu memompa gairah menuju ke puncak nirwana. Apandi langsung terkulai lemas setelah beberapa kali dia mendapatkan pelepasan bersama dengan Citra. Petualang cinta yang memabukkan membuat dia melupakan anak dan istrinya. Apalagi, Citra tidak hanya menggunakan tubuhnya untuk mengikat Apandi agar selalu bersamanya, dia juga tak segan mengeluarkan uang untuk memikat Apandi dengan cara halus yang susah diprediksi oleh orang awam.


"Honey, tadi ponsel Mas bunyi terus. Ada telpon dari siapa?" tanya Apandi yang sedang memeluk mesra tubuh Citra.


"Gak penting, Mas! Paling Istrimu nanyain, kenapa belum pulang? Sudah Mas, nginep di sini saja! Lihat sudah jam dua pagi. Aku juga masih kangen sama Mas." Citra semakin mengeratkan pelukannya pada Apandi.


"Pinter sekali kamu merayu Mas. Padahal, setiap hari kita bertemu dan bercocok tanam. Ayo kita tidur, Mas juga sudah mengantuk!" Apandi mulai memejamkan matanya sambil terus memeluk tubuh Citra yang toples.


Melihat kekasihnya sudah tertidur lelap, Citra mulai membuka ponsel Apandi dan membaca pesan dari Amanda. Bukannya prihatin mengetahui anak kekasihnya masuk rumah sakit, Citra justru tersenyum puas. Dia pun langsung membalas pesan yang Amanda kirim.


Sent to Bunda


[Mas Apandi tidak bisa pulang, dia ketiduran setelah tadi kita bermain lima ronde. Kamu urus saja anakmu, karena Mas Pandi sudah tidak peduli pada kalian]


Setelah pesannya terkirim, Citra buru-buru menghapus pesan yang telah dikirimnya ke Amanda dari ponsel Apandi. Dia pun segera menyusul Apandi ke alam mimpi.


Aku yang akan jadi Nyonya Apandi, dan kamu secepatnya akan aku singkirkan dari kehidupan Mas Pandi, batin Citra.


Keesokan harinya, Apandi begitu terkejut saat dia membaca pesan dari Amanda, dia buru-buru bangun dan membersihkan dirinya. Dilihatnya Citra yang masih terlelap, pria yang memiliki hati yang bercabang itu hanya mencium bibir Citra sekilas sebelum dia pergi dari kontrakan kekasihnya.


Apandi langsung menuju ke rumah sakit untuk memastikan keadaan putranya. Saat sampai di sana, terlihat Azka yang sedang menangis setelah dia buang air besar karena saat muntahnya berhenti, Azka malah sering buang air besar dan dokter mendiagnosa kalau bocah gempal itu kemungkinan terkena muntaber.


"Manda, bagaimana keadaan Azka?" tanya Apandi seraya mengelus rambut putranya.


"Kata dokter, dia terkena muntaber. Mas, tinggalin uang buat bayar rumah sakit Azka," pinta Amanda.


"Bukannya pake asuransi, kenapa harus bayar lagi?" tanya Apandi heran.

__ADS_1


"Banyak obat yang harus dibeli di luar dan aku tidak bawa uang," jelas Amanda.


"Kamu tuh boros sekali Manda! Memang uang belanja sudah habis? Kenapa tidak pakai uang itu saja dulu," Apandi mengomel seraya mengambil uang di dompetnya. Dia pun memberikan 20 lembar uang kertas berwarna merah muda untuk pegangan Amanda selama di rumah sakit.


"Makasih Mas!" Amanda mencoba menahan untuk tidak marah dengan apa yang dikatakan Apandi. Apalagi saat semalam dia membaca balasan pesan dari Apandi. Hatinya sangat sakit, tapi dia hanya diam dan menangis dalam sujudnya.


"Mas tidak bisa menemanimu, Manda. Di kantor pekerjaan Mas numpuk. Mungkin sore Mas ke sini lagi." Apandi langsung berpamitan setelah memberi Amanda sejumlah uang.


"Iya Mas, gak apa-apa!" jawab Amanda dengan lesu.


Sore harinya, Apandi kembali ke rumah sakit untuk menjenguk putranya. Namun kali ini dia tidak datang sendiri karena ada seorang wanita cantik dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya ikut bersama dengan Apandi. Tanpa rasa malu, Citra terus bergelayut manja di lengan kekar kekasihnya meskipun sudah ada di depan Amanda.


"Bagaimana keadaan Azka, Mbak? Kata Mas Pandi sedang dirawat, jadi saya ke sini untuk menjenguknya," ucap Citra seraya menyimpan buah yang dibawanya kemudian dia kembali menempel pada Apandi.


"Azka baikan!" jawab Amanda ketus. Ingin sekali dia menampar atau menjambak rambut pelakor di depannya. Akan tetapi Amanda terus menahan amarahnya. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya dengan membuat keributan di rumah sakit. Apalagi kondisi Azka yang sedang terbaring lemah karena terus-terusan buang air besar.


Setelah cukup bercakap-cakap dengan putranya, Apandi pun memutuskan untuk pulang karena dia teringat dengan Kia yang dititipkan di rumah tetangganya. Namun sebelum pulang, Apandi pergi ke toilet dulu untuk buang air kecil.


"Mbak tinggal pilih, mau suami atau anak? Asal Mbak tahu, aku tidak akan melepaskan Mas Pandi," ucap Citra yang sarat dengan ancaman.


"Maksud kamu apa? Dasar wanita tidak tahu malu, dengan percaya diri berterus terang ingin merebut suami orang. Dasar medusa!" umpat Amanda yang bersamaan dengan Apandi keluar dari kamar mandi


"Amanda!" bentak Apandi, "Ayo kita pulang!" Apndi pun langsung menarik tangan Citra untuk segera pulang meninggalkan Amanda yang mematung di tempatnya.


Bahkan Mas Pandi membentakku saat aku mengatai pelakor itu medusa. Apa begitu tidak berharganya aku di matamu Mas? Padahal, kelurgaku yang berjasa atas kesuksesanmu. Kalau bukan karena almarhum bapak yang menitipkanmu pada kepala kejaksaaan, mana mungkin kamu secepatnya menjadi jaksa muda. Tapi kini, setelah kamu menjadi orang, kamu malah mencampakkan aku. Mungkin sebaiknya aku melepaskanmu, Mas! Aku tidak ingin terluka lebih dalam lagi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2