
Hari-hari pun terus berlalu, semakin hari pesanan akan daster yang dibuatnya semakin bertambah banyak sehingga Amanda merasa kewalahan jika dia sendiri yang membuatnya, sehingga dia berencana untuk bicara dengan Tania sahabatnya.
Amanda pun membawa anaknya untuk main ke rumah Tania.
"Assalamu'alaikum," ucap Amanda.
"Wa'alaikumsalam," jawab Tania yang baru saja saja selesai membuat sarapan.
"Tante!" Kia langsung menghambur ke pelukan Tania. Dibanding dengan neneknya, Kia lebih suka bertemu dengan sahabat bundanya.
"Princess Tante makin cantik aja," puji Tania seraya mencium pipi Kia kiri kanan lalu mencium pipi Azka. "Prince Tante juga tambah ganteng aja nih."
"Ke mana aja Tan, gak pernah main ke rumah?" tanya Amanda.
"Sorry Manda! Aku habis tugas ke luar kota. Ini baru datang kemarin. Ayo kita bongkar oleh-oleh yang Tante bawa!" ajak Tania seraya menuntun Kia untuk masuk ke dalam kamarnya.
Kia sangat senang karena selalu mendapatkan oleh-oleh dari Tania. "Tante, ponselnya nyala terus."
Tania langsung mengangkat panggilan telepon yang masuk ke ponselnya. Dia sedikit menjauh dari Amanda karena takut ketahuan oleh sahabatnya. Untuk masalah perasaan, Tania memang sedikit tertutup pada Amanda. Tidak seperti Amanda yang bisa terbuka pada Tania.
Melihat Tania seperti menyembunyikan sesuatu darinya, Amanda pun langsung menggoda sahabatnya saat Tania sudah selesai menerima telepon.
"Cie ... Pakai sembunyi-sembunyi nih. Gebetan baru, Tan?" goda Amanda.
"Apaan sih Manda? Katanya ada yang mau diomongin sama aku, memang ada apa? Apa Pandi bikin ulah?" tebak Tania mengalihkan pembicaraan.
"Bukan soal Mas Pandi, Tan. Aku tuh bingung, pesanan daster banyak tapi aku gak sanggup buat memenuhi pesanan itu," keluh Amanda.
"Kenapa gak cari karyawan aja?" saran Tania.
__ADS_1
"Itulah masalahnya, aku bingung harus beli mesin baru terus rumahku kan kecil gak cukup untuk nambah mesin baru." Amanda terlihat sangat kebingungan dengan masalah yang dihadapinya.
"Gini aja deh! Kita join aja, kita gabungin tabungan kamu sama punyaku. Nanti kita sewa ruko dan cari penjahit untuk bantu kamu." Tania mengusulkan ide pada sahabatnya yang terlihat kebingungan.
"Bukannya tabungan kamu buat nanti modal nikah? Kalau belum bisa balik modal pas kamu nikah, gimana?" Amanda malah semakin bingung dengan tawaran yang diberikan Tania.
"Elah, Manda! Aku cari suami yang tajir aja tapi harus bucin biar gak nyakitin," seloroh Tania.
"Iya, Tan! Jangan sampai jatuh cinta sama cowok model mantan suamiku, makan ati terus!"
"Enggaklah! Dari awal sebenarnya aku kurang suka sama suamimu, cuma aku menghargai dengan pilihan hatimu." Ceplos Tania yang langsung membuat Amanda terdiam. "Sorry, Manda!"
"Gak apa-apa, Tan! Semuanya sudah lewat. Aku tidak menyesal pernah menikah dengannya karena dari dia, aku mendapatkan dua malaikat kecil yang cantik dan ganteng ini." Meski hatinya perih mengingat kembali pernikahannya dengan Apandi tapi Amanda tetap tersenyum di depan Tania.
"Sudahlah, gak usah bahas cowok itu lagi. Mending kita list gebetan baru. Siapa tahu ada yang nyantol," kekeh Tania.
"Oke, Bu Bos! Sekarang gini aja, aku ada tabungan 20 juta. Kamu boleh pakai aja dulu buat modal sewa ruko dan beli mesin baru. Kamu sekarang pegang uang berapa buat modal?" tanya Tania.
"Aku ada 10 juta," jawab Amanda.
"Ya sudah, sekarang kita cari dulu ruko yang mau disewakan. Kalau sudah dapat, kita beli mesin baru. Kira-kira mau nambah berapa orang karyawan? Setelah semua ada, baru kita beli kain. Nanti aku antar ke tanah abang biar dapat kain yang lebih murah lagi."
Setelah sepakat dengan rencana Tania, kedua sahabat itu langsung berkeliling mencari ruko yang sekiranya nyaman untuk usaha konveksi. Berkeliling ke sana ke mari tapi masih juga belum menemukan ruko yang cocok di kantong dan strategis tempatnya. Sampai akhirnya mereka mendapatkan sebuah ruko yang tidak jauh dari pintu masuk kawasan Hyundai setelah Tania menelpon temannya.
"Alhamdulillah, dapat juga. Nanti beli mesin gimana, Tan. Aku gak ngerti soal mesin," keluh Amanda yang merasa lelah seharian berkeliling mencari ruko sedangkan kedua anaknya sudah tertidur di bangku belakang.
"Tenang saja, Manda! Soal mesin biar aku yang cari. Kasian Azka dan Kia diajak berkeliling terus," ucap Tania.
"Makasih ya, Tan! Kamu memang sahabatku yang ter-the best." Amanda memeluk Tania erat. Hatinya bahagia karena masih ada orang yang sayang dan setia padanya di saat dia ada dalam titik terendah hidupnya.
__ADS_1
"Tidak usah berterima kasih, Manda! Aku menyayangimu dengan hatiku bukan karena aku melihat kamu bagaimana dan seperti apa. Aku akan selalu ada untukmu di saat kamu sedih maupun senang." Tania pun membalas pelukan dari sahabatnya.
"Aku minta maaf, karena sempat meragukanmu."
"Gak papa, pasti waktu kamu menghindariku kan? pas kita abis dari salon," tebak Tania.
"Kamu kenapa seperti dukun yang selalu tahu apa yang aku pikirkan?" Cebik Amanda.
"Aku memang dukun, dukun beranak yang gak kesampaian, hahaha ...." Tania jadi teringat dengan cita-citanya yang ingin jadi dokter kandungan, tapi semua itu hanya angan saja, karena biaya untuk masuk kedokteran sangat mahal untuk ukuran keluarganya sehingga dia memilih jurusan akuntansi sama seperti dengan Amanda.
***
Beberapa hari kemudian, kini ruko sudah siap untuk dipakai. Mesin tambahan pun sudah Tania beli berkat bantuan gebetan barunya yang masih dia rahasiakan pada Amanda karena mereka masih dalam tahap pendekatan. Amanda dan Tania pun sudah menyebar brosur lowongan pekerjaan sebagai penjahit. Sambil menunggu penjahit yang akan bekerja padanya, Amanda dan Tania pun membeli kain yang akan mereka pakai untuk membuat daster kekinian. Sampai akhirnya ada dua orang penjahit yang akan bekerja bersama dengan Amanda.
"Manda, bagaimana kalau kita adakan acara syukuran untuk konveksi kita," usul Tania setelah semuanya siap dan ruko akan segera mereka tempati.
"Ide bagus Tania! Kita undang Ustadz Jalal saja untuk mendo'akan usaha baru kita. Semoga diberi kelancaran dan kesuksesan, aaminn." Amanda langsung mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Aamiin," sahut Tania.
Acara peresmian usaha konveksi Amanda pun berjalan dengan lancar. Mereka hanya mengundang Pak Ustadz Jalal dan ibu-ibu pengajian di komplek rumah Amanda. Tanpa disadari ada seseorang yang sedang memperhatikan acara peresmian itu dari balik kaca mobilnya.
"Aku senang melihat usaha kamu sukses, Manda. Meskipun tidak bersamaku, kamu mampu berdiri di atas kakimu sendiri. Maafkan aku! Meski hatiku masih tertuju padamu, tapi entah kenapa kakiku selalu ingin menjauh darimu." gumam Apandi.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1