
Setelah kepergian Apandi, Gilang pun mengajak kedua putranya untuk membersihkan diri. Dia mendadak tidak berselera melanjutkan permainannya saat melihat Amanda menatap sendu mantan suaminya itu. Mungkin berbeda apa yang dipikirkan Amanda dan Gilang. Akan tetapi, orang hanya menyimpulkan dengan apa yang dilihat oleh mata. Begitupun dengan Gilang yang merasa tidak suka saat melihat tatapan sendu Amanda.
Amanda pun merasa ada yang beda pada Gilang, sehingga dia langsung memberanikan diri untuk bertanya saat keduanya sudah berada di kamar untuk tidur. "A, ada masalah apa? Kenapa Aa jadi diam?"
"Aku tidak apa-apa, Manda!" elak Gilang.
"Yakin, tidak apa-apa? Apa aku melakukan kesalahan yang tidak kusadari? Atau anak-anakku mengganggu ketenangan A Gilang? Aku minta maaf kalau kehadiranku dan a ...." Belum sempat Amanda melanjutkan pembicaraannya, Gilang sudah membungkam dia dengan bibirnya. Sampai terjadilah pergulatan lidah dan pertukaran saliva yang membuat keduanya melupakan sesaat dengan apa yang sedang terjadi.
Saat merasa pasokan udara semakin menipis, Gilang dan Amanda pun melepaskan pagutannya. Gilang menempelkan keningnya pada kening istrinya lalu berkata, "Jangan pernah bicara seperti itu lagi, aku tidak suka! Aku bahagia memiliki kamu dan anak-anak. Aku hanya tidak suka melihatmu menatap lelaki lain seperti itu."
"Maksud A Gilang menatap yang seperti apa?" Amanda menjauhkan sedikit mukanya dari Gilang. Dia tidak mengerti dengan apa yang Gilang katakan.
"Aku tidak suka kamu melihat mantan suamimu seperti tadi! Apa kamu masih mengharapkannya dan menyesal karena sudah berpisah?" tanya Gilang.
"Aa cemburu?" tanya Amanda
"Aku cemburu? Mana mungkin?" elak Gilang
"Aku lupa, mana mungkin Pak CEO cemburu! Aku kan hanya ...."
"Hanya apa?" serobot Gilang. "Manda, jangan berburuk sangka terus padaku! Aku memang cemburu, dan kamu harus mendapatkan hukuman karena telah berani membuatku cemburu.
Gilang langsung mengungkung Amanda dan mencumbu istrinya, hingga pergulatan penuh kenikmatan itu mereka lakukan sampai berkali-kali pelepasan.
...***...
Sementara itu, setelah mengantarkan Kia, Apandi tidak langsung pulang ke rumahnya. Hatinya yang terasa sesak membawa dia ke sebuah karaoke yang ada di mall. Lama dia di sana sendiri, bernyanyi seraya menangis dengan minuman bersoda yang menemaninya. Apandi sengaja tidak memakai pemandu lagu ataupun memesan minuman beralkohol. Dia takut, kejadian dulu dengan Ina terulang lagi. Saat hari sudah malam, barulah dia memutuskan untuk pulang.
Namun, Apandi dibuat terkejut saat melihat Citra berjalan sempoyongan ke luar dari hotel. Hati kecilnya merasa tidak tega melihat mantan istrinya seperti yang habis mendapatkan kekerasan. Dia pun segera menepikan mobilnya dan segera menuju ke arah Citra.
"Cit, kamu gak apa-apa?" tanya Apandi.
__ADS_1
"Mas Pandi, tolong bawa aku ke rumah sakit!" pinta Citra.
"Ayo aku papah!" Apandi langsung memapah Citra menuju ke mobilnya. Dia diam membisu melihat Citra yang seperti sedang kesakitan di bawah sana.
Sialan lelaki tua itu, benda apa yang dia masukkan ke dalam organ inti aku? Untung saja tadi aku menendang dengan kuat telur puyuhnya, jadi bisa menyelamatkan diri. Tapi rasanya sakit sekali, keluh Citra dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, mobil Apandi sudah masuk ke depan IGD. Apandi segera meminta tolong pada perawat yang berjaga. Setelah mengurus administrasi, dia pun kembali menemui Citra yang sudah mendapatkan penanganan dokter.
"Cit, aku sudah menelpon Roni. Mungkin sebentar lagi dia akan segera datang. Maaf, aku harus pergi!" Apandi langsung berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Citra. Hatinya masih sakit saat mengingat pengkhianatan yang sudah CItra lakukan padanya.
"Mas, Mas Pandi!" panggil Citra.
Apandi terpaksa berbalik saat mendengar panggilan dari mantan istrinya. "Kenapa, Cit?"
"Makasih, Mas! Sebenarnya aku ingin rujuk sama Mas. Aku minta maaf dengan apa yang sudah terjadi," ucap Citra.
Aku harus bisa meluluhkan hati Mas Pandi kembali, sepertinya aku tidak ingin melayani pria hidung belang itu lagi. Aku takut kejadian tadi terulang lagi, batin Citra.
Sialan! Mas Pandi mengabaikan aku. Awas saja nanti kalau aku sudah sembuh, akan aku buat Mas Pandi kembali bertekuk lutut di hadapanku.
Citra terus saja bersungut-sungut dalam hatinya. Dia merutuki semua orang yang telah membuatnya menjadi seperti sekarang. Tanpa berniat sedikit pun untuk interopeksi diri. Seandainya dia mengerti tentang hukum sebab-akibat, mungkin dia bisa memperbaiki diri dari semua kesalahannya.
...***...
Keesokan harinya, Amanda terlihat seperti kelelahan setelah semalam dia bertempur dengan Gilang. Berbeda dengan Gilang yang nampak segar bugar. Anak-anak mereka sampai melongo saat melihat papanya yang terus saja tersenyum seperti ada yang lucu menurutnya. Akan tetapi saat melihat Amanda seperti orang yang lemas.
"Bunda, Bunda sakit apa?" Kia langsung menempelkan tangannya di dahi bundanya.
"Bunda gak apa-apa, Sayang! Ayo kita sarapan, biar tidak kesiangan saat berangkat sekolah," ajak Amanda.
"Iya, Bun!" Kompak anak-anak.
__ADS_1
Suasana hening saat keluarga kecil itu sedang menikmati sarapannya. Hanya suara sendok dan piring yang saling beradu. Sampai terdengar samar-samar suara Bi Isah dan Bi Nani di belakang sedang mengobrol.
"Ada-ada saja jaman sekarang, masa mister itu meninggal dengan telurnya yang membengkak," ucap Bi Nani.
"Kasihan sekali orang itu, mati dalam keadaan sudah melakukan hal yang tidak baik," timpal Bi Isah.
"Katanya nih Bi, teman kencannya orang sini. Apa mungkin telurnya mister itu habis ditendang sampai seperti itu," ucap Bi Nani lagi.
"Bisa jadi, sekarang polisi masih ramai di sana. Mungkin mereka sedang menyelidiki kematian orang asing itu," sahut Bi Isah.
Amanda yang sedikit menguping pembicaraan pekerja di rumah suaminya bergidik ngeri. Dia tidak menyangka akan ada orang yang meninggal karena telurnya ditendang. Dan lebih tidak menyangka lagi yang melakukannya teman kencan orang tua.
"Jangan menguping gosip yang belum jelas!" Gilang langsung memperingati istrinya.
"Kedengaran, A. Tapi siapa orang yang mereka bicarakan? Pagi-pagi kho sudah bergosip," tanya Amanda heran.
"Mana, Aa tahu. Kalau makannya sudah selesai ayo kita berangkat!" ajak Gilang.
"Papa, bisa tidak kalau nanti Kia dijemput duluan saja. Aku gak apa-apa pulang naik mobil jemputan," ucap Langit.
"Memang kenapa tidak mau pulang bareng? Kia kan mau nunggu Kak Langit di pos satpam," tanya Kia heran.
"Biar kamu tidak usah menunggu aku. Kamu pulang sendiri saja duluan. Kelasku kan pulangnya telat," sanggah Langit.
"Ya sudah, nanti biar Pak Ujang yang jemput Kia!" Gilang langsung menengahi perdebatan putranya dan putri sambungnya. Dia mengerti, Langit masih kesal dengan kejadian kemarin.
Memang Kia yang salah, karena dia pergi tanpa bilang atau titip pesan pada pak satpam sehingga Langit menjadi kelimpungan mencarinya, batin Amanda.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...