
Setelah menyelesaikan pembayarannya di kasir, Amanda pun segera pulang ke rumahnya. Sebenarnya dia ingin sekali membantu Lela, tetapi dia khawatir dituduh bersekongkol mencuri barang di supermarket. Saat sampai rumahnya, nampak Melisa di ruang tamu sedang menemui Langit.
"Assalamu'alaikum," ucap Amanda.
"Wa'alaikumsalam," jawab Langit seraya bangun dari duduknya dan langsung mencium punggung tangan Amanda.
Melisa hanya bengong melihat apa yang Langit lakukan pada Amanda. Saat tadi dia datang, Langit hanya bersikap biasa saja padanya. Bahkan tidak ada acara mencium punggung tangannya.
Kenapa dia malah lebih menurut pada ibu tirinya? Padahal aku yang melahirkannya, batin Melisa.
Melisa pun mengambil tissue dari dalam tasnya sampai tanpa sadar ada sebuah botol yang terjatuh. Langit yang melihat semua itu hanya diam saja tidak berniat untuk memberitahu.
"Mbak Melisa, permisi aku ke dalam dulu," pamit Amanda.
Setelah kepergian Amanda, Melisa pun kembali mendekati Langit dan merayunya untuk ikut dengannya. "Langit, kalau ikut sama Mama, nanti kita main di Disneyland sepuasnya. Di sana juga pendidikannya jauh lebih baik dari di sini."
"Langit tidak mau ikut dengan Mama. Langit hanya ingin ikut dengan papa," jawab Langit.
"Kenapa kamu masih kecil keras kepala sekali? Padahal aku akan memberikan kehidupan yang lebih baik dari apa yang papamu berikan. Papa Jakson lebih kaya dari papa Gilang. Jadi lebih baik kamu ikut saja dengan Mama," sentak Melisa tanpa sadar yang sukses membuat Langit semakin ketakutan saat berada di dekat Melisa.
Amanda yang kembali dengan membawa sepiring brownies yang tadi dibelinya di mall menjadi kaget mendengar apa yang Melisa katakan. Dia pun segera menghampiri Langit dan memeluknya.
"Mba tolong, bicaranya jangan membentak! Lihat, Langit menjadi ketakutan!" tunjuk Amanda.
"Tahu apa kamu mengajari aku? Aku ibunya, dan aku lebih berhak atas anakku. Sebaiknya kamu tidak usah ikut campur karena kamu hanya orang lain buat Langit," ketus Melisa.
"Aku tidak akan ikut campur selama Mbak Melisa bersikap baik pada Langit dan tidak menakutinya," sanggah Amanda.
"Cih! Cewek kampung yang sok-sokan jadi nyonya. Kamu itu tidak cocok jadi istrinya Gilang yang berkelas. Kamu pantasnya jadi ...."
__ADS_1
"Jadi apa? Kamu jangan buat keributan di rumahku Melisa! Apalagi sampai menghina istriku. Satu hal yang harus kamu tahu, Amanda seribu kali lebih baik dari kamu," potong Gilang yang baru datang dari kantor.
Gilang sengaja mempercepat meeting-nya saat tadi Amanda mengirim pesan kalau ada Melisa di rumahnya. Dia menyuruh Rama untuk melanjutkan sisanya.
"Aku malas berdebat dengan mantan suami yang gagal move on." Melisa langsung pulang tanpa memperdulikan apa yang Gilang katakan.
Gilang memejamkan matanya sesaat mendengar apa yang Melisa katakan. Lalu dia pun mendekati Amanda dan Langit yang sedang berpelukan. Langit langsung memeluk Gilang erat, Dia sangat takut jika nanti Melisa membawanya kabur.
"Langit tenang saja, Papa tidak akan biarkan mama kamu menang di pengadilan. Ayo kita sama-sama berdoa agar papa yang mendapatkan hak asuh untuk kamu nak," ucap Gilang dengan memeluk putranya.
"Loh, Kak Langit peluk-pelukan sama Papa gak ajak Azka. Ini permen punya Kakak ya?" tunjuk Azka pada sebuah botol yang dia temui di sofa.
Langit langsung mengurai pelukan papanya dan mengambil botol yang dipegang oleh Azka. "Jangan dimakan, Dek! Ini punya mama Kak Langit."
"Coba Papa lihat!" Gilang langsung mengambil botol obat yang sedang dipegang oleh Langit.
"Papa, tadi mama menjatuhkan botol obat di sofa. Hanya saja Langit malas untuk memberitahu mama," adu Langit.
Aku jadi semakin curiga pada Melisa. Dia seperti sedang sakit, tapi sakit apa. Semoga ini jadi titik terang untuk hak asuh Langit, batin Gilang.
Gilang pun langsung menghubungi Dokter Mitha dan meminta bertemu secara pribadi dengannya. Tak lupa dia pun meminta Rama untuk menemaninya bertemu dengan Dokter Mitha setelah Rama selesai rapat. Dia tidak ingin menjadi fitnah jika hanya bertemu berdua saja dengan dokter perempuan.
"Sudah yuk kita ke dalam, Bunda habis beli brownies coklat keju. Mau bikin tapi gak keburu waktunya, jadinya beli aja." Amanda langsung menggiring suami dan anaknya untuk masuk ke ruang tengah. Dia sengaja mengurai ketegangan akibat kedatangan Melisa.
"Sayang, kamu habis dari mall?" tanya Gilang saat melihat belanjaan Amanda yang masih teronggok di sofa ruang tengah.
"Iya, tadi ada yang ingin aku beli jadinya minta Pak Amir untuk mampir dulu sebelum pulang ke rumah," jawab Amanda dengan cengengesan.
"Mulai nakal nih, belanja gak bilang-bilang dulu." Gilang langsung mencubit hidung istrinya pelan.
__ADS_1
"Maaf Papa! Twins gak ulang lagi deh," sahut Amanda dengan menirukan suara anak kecil.
"Manda, setelah makan malam nanti, Aa keluar sebentar ya. Mau minta tolong Dokter Mitha untuk periksa obatnya Melisa. Waktu itu, Rama gak bisa dapatkan informasi apapun. Coba kalau Aa yang maju sendiri, kita lihat hasilnya seperti apa," ucap Gilang sebelum dia memasukkan brownies ke mulutnya.
"Hati-hati saja A, Gak boleh jelalatan matanya!" Amanda langsung memberikan peringatan pada Gilang.
"Iya Bunda, Mata dan hati Papa hanya untuk Bunda seorang." Gilang langsung mencium pipi Amanda sekilas.
"Pinter banget nih Papa Gilang rayunya," ucap Amanda dengan pipi yang sudah bersemu merah.
"Kalau gak pinter rayu, ga mungkin ada twins di sini." Gilang langsung mencium perut buncit Amanda yang sudah seperti hamil sembilan bulan. "Bun, kenapa gak ngidam yang aneh-aneh kayak orang-orang. Bahkan ada artis yang ngidamnya ingin beli rumah mewah."
"Kenapa Aa ingin sekali aku repotin?" tanya Amanda heran. "Dari semenjak hamil oleh Kia, Alhamdulillah aku gak pernah aneh-aneh kalau hamil. Kata orang sih bilangnya hamil kebo. Meskipun hamil tapi gak rewel ngidam macam-macam," lanjutnya.
"Padahal aku gak keberatan kalau twins pengen jet pribadi pasti aku belikan," ucap Gilang setelah dia mengetik sesuatu di ponselnya.
"Aku hanya ingin keluarga kita selalu bahagia dan dalam keadaan sehat rohani dan jasmani, itu sudah cukup."
"Istri aku memang baik, Aa mandi dulu ya! Rama nanti mau langsung saja ke tempat ketemuan dengan Dokter Mitha," pamitnya kemudian beranjak menuju ke kamarnya.
Tidak butuh waktu lama, kini Gilang sudah rapi akan pergi ke luar. Dia hanya memakai celana cargo panjang dengan kaos yang berkerah. Setelah mencium sekilas bibir istrinya dan berpamitan pada ketiga anaknya, Gilang segera berangkat untuk menemui Dokter Mitha.
Saat sudah sampai di tempat yang di tuju, sebuah cafetaria yang ada di rumah sakit tempat Dokter Mitha bekerja, Gilang langsung menghampiri Rama yang ternyata sudah sampai di sana.
"Udah lama, Ram? tanya Gilang.
"Belum, Benarkan Mitha?"
"Iya, belum ada satu jam," sahut Mitha
__ADS_1
"Sorry, Aku hanya minta kamu buat periksa obat ini. Sama cari kegunaan dan efek sampingnya.
...~Bersambung~...