
Sesuai dengan apa yang direncanakan oleh Amanda, akhirnya dia pun mendiskusikan tentang rencana peluncuran produk baru pada Gilang. Setelah mendapatkan dukungan dari suami sekaligus partner bisnisnya, akhirnya Amanda pun mempersiapkan segala sesuatu. Mulai dari menentukan model, kain, corak, warna dan sasaran pasarnya pun di pertimbangkan baik-bak oleh ibu tiga anak itu. Sampai akhirnya, peluncuran pertama Adzkiya Collection mendapat sambutan baik dari para pecinta gamis.
"Mbak, ada yang nanyain sarimbitnya nih," keluh Seto.
"Ya sudah, kita rancang juga untuk model sarimbitnya," ucap Amanda.
"Mbak Manda memang fleksibel, selalu mengerti keinginan pasar. Makanya gak heran, penjualan tiap bulan selalu meningkat," puji Seto.
"Jangan memuji Seto! Aku takut jadi orang sombong," sanggah Amanda.
"Aku kembali ke tempatku, Mbak!" pamit Seto.
Seto pun langsung kembali ke mejanya untuk menyusun kembali laporan penjualan. Sementara Amanda disibukkan dengan pensil dan kertas karena dia akan membuat rancangan baju sarimbit yang sekiranya diminati oleh banyak orang.
Amanda terus larut dalam pekerjaannya, sampai tidak terasa hari sudah beranjak sore. Dia pun segera membereskan pekerjaannya karena sebentar lagi pasti suaminya datang menjemput. Benar saja apa yang Amanda pikirkan. Kini Gilang sudah ada di ambang pintu ruangannya dengan melipat tangan dada dengan badan menyender di kusen pintu.
"Sudah jam lima, masih sibuk saja," tegur Gilang.
"Maaf, A! Aku lagi bikin rancangan untuk sarimbit, kata Seto banyak yang nanyain." Amanda masih saja membereskan mejanya yang terlihat berserakan.
"Kalau kamu masa kerepotan, kenapa gak rekrut karyawan lagi biar ada yang bantu desain model yang akan kau luncurkan. Lagipula, semakin hari semakin banyak permintaan pasar akan daster dan gamis yang kamu produksi. Aku pikir, kita juga perlu tempat yang lebih besar dari ini," ucap Gilang seraya mendekat pada Amanda.
"Mungkin nanti aku hitung-hitung dulu dengan keuangan konveksi A," sahut Amanda.
"Kenapa aku jadi gemas sekali sama kamu. Padahal kamu punya suami seorang CEO, kenapa tidak minta sama aku untuk tambahan modalnya? Aku pasti akan memberikannya," ucap Gilang.
"Apa boleh minta uang sebanyak itu?" tanya Amanda dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
"Tentu saja sayang, asal setiap malam otong dan nyai bertemu, apapun yang kamu minta, pasti akan aku kasih," bisik Gilang.
"A, kenapa jadi omes gitu sih?" tanya Amanda. "Udah yuk pulang! Kita beli nasi padang yang di sukaresmi dulu ya A," lanjutnya.
"Siap ratu!" seloroh Gilang.
Amanda hanya tersenyum mendengar candaan suaminya. Dia merasa sangat senang karena Gilang selalu memperlakukannya dengan manis. Sangat berbeda dengan Apandi yang selalu sibuk dengan ponselnya.
Aku tidak pernah menyangka, A Gilang yang dulu selalu terlihat dingin pada perempuan akan bersikap manis padaku. Padahal saat jaman kuliah dulu, sedikit pun dia tidak pernah melirikku, batin Amanda.
Aku sangat bahagia setiap hari bisa bersamanya. Dulu, saat dia selalu menonton pertandingan aku, aku selalu bersemangat untuk mencetak poin.Tapi saat aku tahu dia dekat dengan lelaki itu, aku merasa sangat kesal dan tidak ingin lagi diam-diam memperhatikannya, batin Gilang.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Amanda dan Gilang terus saja saling bercerita sampai ada sebuah motor yang melaju dengan kecepatan tinggi membuat keduanya menjadi kaget.
"Untung saja, bawa mobilnya tidak ngebut. Motor itu kenapa ugal-ugalan sekali?" Baru saja Gilang selesai bicara, terdengar suara dentuman yang cukup kencang di depan sana.
Pengendara motor yang tadi mengebut tidak bisa mengendalikan kecepatannya sehingga dia menabrak sebuah mobil truk yang baru keluar dari jalan gang. Benturan yang cukup keras membuat si pengendara motor terpelanting jatuh ke jalan yang berlawanan arah. Tepat di depan ban sebuah mobil box yang sedang melaju cepat, sehingga tanpa bisa menghindar lagi pengendara motor yang terjatuh itu terlindas oleh mobil box dengan kondisi isi perutnya yang berhamburan ke luar.
Warga yang melihat kejadian itu langsung mendekat ke arah korban kecelakaan yang ternyata masih hidup. Dia terus meminta tolong pada orang-orang yang mengerumuninya. Namun, warga tidak ada yang berani mengambil tindakan selain menelpon polisi dan mengamankan korban kecelakaan agar tidak menghalangi laju lalu lintas.
"Tolong Pak! Tolong aku! Aku tidak mau mati seperti ini, aku tidak mau perutku berhamburan begini. Tolong selamatkan aku! Aku harus segera pergi dari sini sebelum mereka menangkapku."
"Citra," lirih Amanda.
"Kamu, kamu cepat selamatkan aku! Aku tidak akan mengganggu kamu lagi kalau kamu menyelamatkan aku. Amanda cepat selamatkan! Aku tidak mau mati seperti ini," Citra terus saja meminta tolong sampai akhirnya dia menghembuskan napas yang terakhir dengan mata melotot dan lidah menjulur ke luar.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucap orang-orang yang berada di situ saat tahu Citra sudah tak bernyawa lagi.
__ADS_1
Baru saja Citra menghembuskan napas terakhirnya, Polisi dan mobil ambulance datang secara bersamaan sehingga tanpa menunggu waktu lama, jasad Citra sudah dibawa menuju ke rumah sakit.
Amanda yang syok dengan apa yang dilihatnya langsung Gilang bawa ke pinggir jalan. Dia meminta tolong kepada warga untuk membelikannya sebotol air mineral. Amanda pun langsung meminumnya setelah Gilang memberiny sebotol air mineral.
"Sayang, jangan diingat dengan apa yang kamu lihat tadi." Gilang mengelus punggung Amanda dengan lembut.
"A, antarkan aku ke ustadz Jalal," pinta Amanda.
"Ya sudah, Ayo!" Gilang langsung memapah Amanda menuju ke mobilnya yang berada di seberang jalan tempat kejadian perkara.
Flashback on
Citra yang sudah sembuh dari sakitnya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya atas kasus pembunuhan warga negara asing. Namun, dia kabur dari rumah sakit saat polisi akan membawanya ke kantor polisi dengan mencuri motor pegawai rumah sakit yang kuncinya masih menempel di motor, sehingga acara kejar-kejaran itu pun terjadi. Namun naas, saat dia berhasil lari dari kejaran polisi, justru dia tertangkap oleh malaikat maut yang mengintainya.
Flashback off
Sesampainya di rumah Ustadz Jalal, Amanda disambut baik oleh guru ngajinya. Pak Ustadz yang sudah tahu dengan apa yang terjadi, tanpa basa basi lagi langsung memberi Amanda air do'a agar lebih tenang dan tidak teringat terus dengan kejadian tadi yang menimpa Citra.
"Terima Pak Ustadz, sekarang aku bisa lebih tenang," ucap Amanda setelah meminum air do'a yang diberikan oleh Pak Ustadz.
"Sama-sama, Manda! Setiap yang bernyawa pasti akan mati hanya saja caranya mungkin yang berbeda. Kita yang masih diberi kesempatan untuk menghirup udara kehidupan, sebaiknya berbenah diri untuk menghadapi kematian yang tidak akan bisa kita hindari meski sembunyi ke dalam gua sekalipun. Karena saat sudah tiba waktunya kita menghadap kepada Sang Pencipta, bukan harta kekayaan ataupun ketenaran yang akan kita bawa, melainkan amal sholeh, ilmu yang bermanfaat dan do'a anak yang sholeh."
Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: "Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya." (HR Muslim).
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...