Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 45 Tobat


__ADS_3

Sementara di tempat yang berbeda, jauh dari keramaian pesta pernikahan Amanda dan Gilang. Nampak seorang lelaki dewasa yang terlihat gelisah. Sekarang rumah yang dulu dia ditempati bersama dengan Citra sudah terjual sehingga Apandi menumpang di rumah ibunya sebelum berangkat ke kota kecil, tempat tugasnya yang baru. Permohonan mutasi Apandi, tidak membutuhkan waktu lama untuk di acc kepala kejaksaan. Karena di kota tujuannya sedang membutuhkan tenaga tambahan sementara di tempatnya sekarang ada anak magang yang akan menggantikan sementara pekerjaan Apandi yang ditinggalkannya.


"Pandi, kamu kenapa? Dari tadi mondar mandir terus seperti setrikaan," tanya Bu Sopiah merasa heran dengan sikap anaknya. "Lagian kenapa kamu harus minta mutasi segala kalau masih ingin tinggal di kota ini," lanjut Bu Sopiah.


"Aku sudah yakin untuk mutasi, Bu! Aku hanya kepikiran terus Amanda dan anak-anak. Apa keadaannya baik-baik saja?" sahut Apandi seraya bertanya pada ibunya.


Entah kenapa dari semalam aku terus kepikiran Amanda dan sekarang, hatiku terasa perih saat mengingatnya. Manda, apa kamu baik-baik saja?


"Masih saja kamu kepikiran janda gatel itu. Kamu tahu Pandi, kemarin ini Ibu bertemu dengannya. Penampilannya berbeda sekali, sudah gitu dia belanja barang-barang bermerek. Ibu heran, apa usaha konveksi-nya begitu maju sehingga dia mampu membeli barang-barang kelas atas? Atau sebenarnya dia sekarang sudah jadi simpanan mister?" Bu Sopiah terus saja bicara dengan praduga dia.


"Bukan simpanan mister Bu, tapi Amanda menikah dengan CEO Green Textile," jelas Apandi.


"Apa katamu? CEO? Yang seperti di drama-drama itu?" tanya Bu Sopiah melotot tidak percaya.


"Iya, yang punya perusahaan besar itu. Bukankah Dimas melamar ke sana?" tanya Apandi.


"Iya, katanya dia di bagian marketing," jawab Bu Sopiah lemas.


Sudah jadi orang kaya kamu, Amanda. Bagaimana caranya agar dia bisa jadi penghasilan tambahan aku? Sepertinya aku harus baik-baikin dia. Amanda 'kan hatinya selalu tidak tega kalau kita terlihat menyedihkan, batin Bu Sopiah.


"Bu, aku keluar dulu! Ada perlu," pamit Apandi


Bu Sopiah tersadar dari lamunannya saat mendengar Apandi berpamitan. Dia hanya melihat Apandi pergi dari rumahnya tanpa berniat menyahut ucapan putranya. Setelah kepergian Apandi, ibu paruh baya itu langsung pergi ke rumah tetangganya untuk bergosip.


Sementara itu, Apandi langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Tania, tempat di mana Amanda menumpang selama ini. Namun, dia tidak mendapati seorang pun di rumah itu. Mau bertanya pada tetangga Amanda, tetapi dia tidak melihat seorang pun ada yang berkeliaran ataupun ada yang bermain di luar rumah sehingga Apandi memutuskan untuk ke rumah Amanda yang lama yang dulu dia tempati saat masih menikah dengan Amanda.

__ADS_1


Sesampainya di sana, lagi-lagi rumah itu nampak sepi seperti tak berpenghuni. Namun Apandi merasa ingin sekali duduk di teras rumah yang dia tempati lima tahun lebih itu. Ditemani sebatang benda bernikotin, Apandi terus mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling rumah Amanda.


Dulu, setiap hari Amanda selalu menyambut kedatanganku. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi yang menyambut aku di rumah ini. Entahlah, kenapa saat semuanya sudah berubah, aku ingin kembali mengulangnya. Aku yang salah, Aku yang sudah menyia-nyiakan dia. Aku terlalu menurut dengan apa yang ibu katakan, sehingga pandanganku pada Amanda menjadi berubah. Apalagi setelah pertemuanku dengan Citra, membuat aku semakin menjauh dari dia.


Apandi terus larut dalam pikirannya, matanya tidak lepas dari rumah peninggalan mertuanya, sampai terdengar suara orang memberi salam di belakangnya. Saat Apandi membalikkan badannya, nampak Pak Ustadz Jalal sedang berdiri seraya tersenyum pada Apandi.


"Assalamu'alaikum," ucap Ustadz Jalal mengulang salamnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Apandi dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ustadz Jalal.


"Mari ke rumah, Mas Pandi. Kita ngobrol sebentar," ajak Ustadz Jalal. Dia merasakan aura pekat yang dulu mengelilingi Apandi sepertinya memudar.


"Nanti malah merepotkan Pak Ustadz," tolak Apandi sungkan.


Kini keduanya sedang ngobrol santai di gazebo yang ada di depan rumah Ustadz Jalal ditemani dengan kopi hitam dan cemilan. Setelah Ustadz Jalal bertanya kabar dan basa-basi, akhirnya dia pun berbicara sedikit serius dengan Apandi.


"Mas Pandi, Bapak turun prihatin dengan apa yang terjadi pada keluarga Mas Pandi. Pasti Mas Pandi merasa berat dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini, tapi yakinlah kalau Allah masih sayang pada Mas Pandi sehingga Mas Pandi diberi ujian seperti itu. Semua pasti akan membaik kembali kalau Mas Pandi berniat untuk memperbaiki semuanya. Pintu tobat selalu terbuka untuk orang-orang yang ingin memperbaiki kesalahannya."


"Apa semuanya akan kembali seperti dulu pak Ustadz kalau saya bertobat? Apa Amanda dan anak-anak akan kembali bersama saya?" tanya Apandi.


"Kalau itu Bapak tidak bisa menjawab, karena jodoh itu rahasia Illahi. Hanya saja, kalau Mas Pandi mau bertobat, pasti Mas Pandi akan mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik," ucap Ustadz Jalal.


"Bimbing saya Pak Ustadz! Sebelum saya pergi ke kota yang baru, saya tidak mau membawa keburukan saya sampai ke sana," pinta Apandi sendu.


"In-sya Allah Mas Pandi!"

__ADS_1


...***...


Sementara di tempat yang berbeda dan di waktu yang sama, Citra sedang kelimpungan mencari tas yang berisi alat-alat dia untuk mengerjai orang termasuk foto keluarga Apandi. Dia terus mengobrak-abrik barang-barang yang belum sempat dia bereskan. Namun, sudah berkali-kali dia mencari, tetapi apa yang dicarinya tidak dia temukan.


"Sial! Sepertinya tas itu jatuh saat malam-malam aku pindahan dari rumah itu. Aku harus bagaimana? Cepat pikirkan yang benar Citra, agar uang hasil penjualan rumah itu bisa kamu miliki. Aku sudah tidak butuh sama Apandi lagi, karena sekarang sudah ada banyak cowok yang mampu memberikan uang banyak dalam semalam. Apalagi sekarang Roni sudah bertekuk lutut padaku. Kamu memang hebat Citra, bisa membuat banyak pria mabuk kepayang." Seperti orang gila, terus saja Citra bicara sendiri, memuji semua kegilaannya tanpa berpikir akibat dari semua itu.


Goyang dombret eta goyang dombret


Terdengar bunyi ponsel Citra berbunyi, dia pun segera mencari keberadaan ponselnya yang entah di mana tadi dia menyimpannya. Saat sudah menemukannya, terlihat Roni sedang melakukan panggilan padanya. Citra pun segera menggeser tombol hijau yang terlihat di layar ponsel.


"Hallo, Sayang! Kamu ada waktu gak hari ini?" tanya Roni diseberang sana.


"Kenapa, kamu kangen sama aku?" tanya Citra.


"Iya nih, nanti jam istirahat kantor aku ke kontrakan kamu ya! Kamu mau dibawakan apa?" tanya Roni lagi.


"Hm, apa ya? Cukuplah yang panjang besar dan lembaran uang kertas yang berwarna merah."


...~Bersambung~...


Jangan lupa dukungannya ya kawan! Yang punya vote nganggur bolehlah buat othor biar tambah semangat.


`


... ...

__ADS_1


__ADS_2