
Semenjak hari di mana Amanda diberi tahu oleh Bude Marni tentang gosip yang beredar mengenai dirinya. Semenjak itu pula dia menjaga jarak dengan Gilang. Meskipun Gilang sering kali menawarinya tumpangan, tetapi Amanda selalu mencari alasan untuk menolaknya secara halus. Namun, tetap saja setiap penolakan Amanda itu, Gilang anggap karena Amanda memang tidak menginginkan kebersamaan dengannya
Seperti hari ini, saat Amanda tidak sengaja bertemu dengan Gilang di supermarket ketika sedang membeli kebutuhan bulanan, Gilang sedikit memaksa Amanda untuk makan bersama. Sehingga mau tidak mau Amanda pun mengikutinya.
"Manda, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Gilang saat mereka sudah berada di sebuah restoran yang menyajikan masakan nusantara.
"Iya A, kenapa?" tanya Amanda
"Kenapa kamu menghindari aku?" tanya Gilang dengan menatap lekat wajah Amanda.
"Maaf A, bukan maksudku untuk menghindari. Aku hanya sedang sibuk-sibuknya," elak Amanda seraya mengaduk es teler di depannya.
Tidak menghindari bilangnya, tapi sekarang dia malah membohongiku. Apa mungkin dia merasa tidak nyaman? Ternyata perempuan sama saja, tidak bisa menghargai perasaan orang yang menyukainya, batin Gilang.
Gilang Ramadhan, seorang CEO Green Textile yang terlihat sempurna dari segi fisik dan kekayaan ternyata menyimpan luka yang mendalam karena pengkhianatan istrinya bersama seseorang yang sudah dia anggap saudara. Hal itu menyebabkan dia menjadi lelaki yang arogan dan tidak mau dekat makhluk Tuhan yang berjenis perempuan selain anggota keluarganya sendiri. Namun, di saat dia akan membuka hatinya untuk seseorang yg berjenis perempuan, lagi-lagi dia menelan kekecewaan ketika Amanda seakan-akan menghindarinya.
"Aku mengerti! Maaf, mungkin ini terakhir kalinya aku mengganggu kesibukanmu. Kalau ada masalah dengan konveksi, kamu bicarakan saja dengan Rama." Gilang langsung melahap makanannya hingga habis tak bersisa. Dia luapkan kekecewaan hatinya pada makanan yang ada di depannya.
Amanda pun hanya terdiam dengan terus memakan makanan yang ada di depannya. Meskipun rasanya tidak seenak biasanya. Sampai keheningan di antara keduanya pecah saat terdengar seseorang menyapa mereka.
"Manda, kamu di sini? Anak-anak mana?" tanya Apandi yang baru masuk ke dalam restoran. Dia terpukau dengan penampilan Amanda yang berbeda. Rasanya semakin hari, Mantan istrinya itu malah semakin cantik.
Entah kenapa, setelah perceraian itu Apandi selalu diam-diam memperhatikan Amanda saat sedang di Ruko. Kadang juga, dia berpura-pura menengok anak-anaknya hanya untuk melihat Amanda
"Sedang jalan-jalan dengan Tania dan calon suaminya. Tadi diajak mereka tidak mau ikut," jawab Amanda.
__ADS_1
"Oh, apa ini calon pacar barumu yang selalu dibicarakan oleh ibu-ibu komplek?" tanya Apandi lagi seraya menelisik penampilan Gilang yang hanya memakai kaos pendek berkerah dengan celana cargo pendek. Tak ketinggalan topi hitam yang menambah kesan fresh dan sendal gunung yang membuat Gilang terlihat manly.
Melihat Amanda yang seperti bingung untuk menjawab pertanyaan Apandi, Gilang pun langsung menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Apandi. "Gilang, teman dekat Amanda," ucapnya.
Amanda langsung membulatkan matanya mendengar apa yang Gilang katakan. Dia ingin sekali menyangkalnya. Namun, mulutnya tertutup rapat karena Amanda tidak ingin harga diri Gilang terluka dengan penolakannya. Dia pun hanya tersenyum tipis untuk mengiyakan apa yang Gilang katakan
Biarlah Mas Apandi salah paham, agar dia tidak menggangguku lagi, batin Amanda.
Apandi pun menyambut tangan Gilang yang mengajaknya berkenalan. Meskipun ada rasa kesal di hatinya saat mendengar ucapan Gilang yang mengatakan sebagai teman dekat Amanda. tak urung Apandi pun mengulas senyum sebagai bentuk kesopanannya. "Apandi, mantan suami Amanda," jawabnya.
"Oh, mantan ya!" sinis Gilang seraya melepaskan tangannya dan kembali duduk.
"Manda, aku ke sana dulu! Sudah ditunggu oleh temanku," pamit Apandi.
"Iya, Mas!" jawab Amanda kikuk.
"Bukan! Maaf A, sepertinya aku pulang duluan. Tania sudah menunggu di rumah. Terima kasih untuk makan siangnya. Permisi!" Setelah berpamitan pada Gilang, Amanda pun segera pergi keluar restoran dengan buru-buru karena Azka menangis ingin bersama dengan bundanya.
Sesampainya di rumah, benar saja Azka sedang menangis tersedu-sedu karena tadi tidurnya terganggu saat mobil yang Rama bawa sudah sampai di depan rumah Amanda.
"Maaf, Tan! Aku jadi ngrepot kalian." sesal Amanda. Dia langsung menggendong Azka dan menenangkannya.
"Gak papa, Manda! Hitung-hitung belajar mengasuh anak, agar nanti saat sudah punya sendiri gak kaget." Rama mengerlingkan matanya genit pada Tania. Dia senang sekali menggoda calon istrinya yang suka malu-malu kucing.
"Oh, iya Manda. Aku mau minta ijin, pinjam Kia sama Azka untuk foto prewedding nanti lusa," ucap Tania.
__ADS_1
"Kho pake anak kecil? Bukannya hanya kalian saja?" tanya Amanda heran.
"Kita pengen beda, nanti kamu juga ikut!" seru Tania.
"Oh, iya Manda. Untuk tempat baru konveksi, aku sudah mendapatkannya. Tinggal sedikit dibereskan, minggu depan sudah bisa pindah," ucap Rama.
"Alhamdulillah kalau sudah ada, tinggal kita buka lowongan pekerjaan saja." Amanda begitu senang mendengar apa yang Rama katakan. Dia sangat bersyukur usaha dasternya semakin hari semakin berkembang. "Terima kasih, A!" ucapnya kemudian.
"Jangan berterima kasih padaku, aku hanya menjalankan apa yang bos perintahkan. Setiap hari dia menanyakan terus tempat untuk konveksimu, Manda. Sampai aku bingung harus menjawab apa," keluh Rama.
"Aciee Manda, diperhatikan sama si bos." Tania mencolek dagu Amanda untuk menggodanya.
"Aku senang loh, kalau kamu sampai jadi sama dia. Meski terlihat dingin sebenarnya dia perhatian orangnya," ungkap Rama.
Amanda hanya cengengesan mendengar apa yang Rama katakan karena pada kenyataannya, dia justru sedang menghindari Gilang.
"Aku belum kepikiran untuk menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Rasa sakit pengkhianatan Mas Pandi dan hinaan ibunya masih membekas di hatiku. Untuk sekarang, aku hanya ingin fokus dengan usaha konveksiku. Meski Mas Pandi hanya memberi uang bulanan yang tidak seberapa untuk Kia dan Azka, seenggaknya mereka berdua masih bisa hidup layak dengan hasil kerja kerasku." tutur Amanda.
"Tidak usah buru-buru, tapi kamu juga jangan menutup hati untuk orang yang tulus menyayangimu dan anak-anak. Walau bagaimanapun, mereka berdua masih membutuhkan sosok seorang ayah yang sekarang tidak mereka dapatkan dari Apandi. Semoga saat nanti kamu bertemu lagi dengan jodohmu, dia sosok yang bertanggung jawab dan penyayang tidak seperti mantan suamimu." Tania merangkul pundak sahabatnya untuk menguatkan dan meyakinkan Amanda kalau masih banyak orang yang tulus menyayanginya.
"Makasih, Tan! Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan, favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...