
Semenjak kedatangan Apandi malam itu, Amanda menjadi lebih sering termenung. Dia tidak habis pikir dengan apa yang mantan suaminya itu lakukan. Apandi telah begitu tega merendahkan harga dirinya sebagai seorang perempuan.
Flashback on
Mendengar apa yang Amanda katakan, Apandi menjadi gelap mata. Dia tidak terima Amanda menyalahkan atas perceraian mereka. Tanpa bicara lagi, dia langsung menyerang Amanda dan memaksanya untuk melayani napsu bejatnya. Amanda terus meronta ingin keluar dari kungkungan mantan suaminya. Akan tetapi, tenaganya yang tidak sebanding dengan Apandi membuat dia akhirnya menyerah dan pasrah membiarkan mantan suaminya itu memuaskan hasrat terlarangnya.
"Maaf Manda, kamu sendiri yang menginginkan aku untuk berbuat kasar. Aku sudah bicara baik-baik mengajakmu rujuk tapi kamu malah bicara yang tidak-tidak." Apandi terus memakai bajunya.
Dia membiarkan begitu saja Amanda yang tanpa sehelai benangpun terkulai lemas di sofa. Terlihat lelehan air mata di sudut mata Amanda. Sedari tadi, ibu dari dua anak itu hanya menangis mendapat perlakuan seperti binatang dari mantan suaminya.
"Manda, aku pulang dulu! Kamu pikirkan baik-baik permintaanku atau kamu ingin aku bertindak kasar seperti tadi lagi?" Apandi menatap dalam mantan istrinya yang terus saja menangis. Dia lalu memunguti daster Amanda yang sudah terlihat koyak karena kelakuannya.
Tanpa memperdulikan mantan suaminya, Amanda beranjak pergi menuju ke kamar mandi. Meskipun hari sudah malam, dia langsung mandi besar untuk menghilangkan bekas kebejatan mantan suaminya.
Sementara Apandi, melihat Amanda pergi begitu saja, dia pun langsung pulang ke rumahnya. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Dia begitu senang bisa menikmati lagi tubuh mantan istrinya.
Flashback off
"Manda jangan melamun terus! Kenapa sih sekarang kamu banyak bengong?" tanya Tania saat dia berkunjung ke ruko.
"Gak papa, Tan! Aku hanya ingin pindah rumah. sepertinya aku butuh suasana baru agar tidak terus teringat dengan kegagalanku. Aku ingin menghapus semua kenanganku bersama Apandi." terdengar suara Amanda sedikit bergetar saat dia mengatakan nama mantan suaminya.
"Kalau kamu ingin pindah secepatnya, pindah ke rumahku saja. Setelah nikah, mungkin aku pindah ke rumah A Rama yang di dekat si Bos." Tania merangkul pundak sahabatnya. Meskipun dia tidak tahu dengan masalah yang sebenarnya. Akan tetapi, Tania bisa merasakan kalau Amanda sedang memikul beban yang sangat berat. Namun, sahabatnya itu tidak bisa mengatakannya.
"Boleh, aku besok pindah ke rumahmu? Sekalian mindahin sekolah Kia juga," tanya Amanda.
"Sore ini pun boleh kalau kamu sudah siap," ucap Tania.
__ADS_1
"Sore ini aku gak bisa, aku belum membereskan bajuku.Aku juga belum bilang pada Bi Isah. Kalau dia mau, aku akan membawanya. Boleh kan, Tan?" tanya Amanda lagi.
"Boleh, siapa saja boleh kamu ajak asalkan rumahnya muat." Tania terkekeh geli membayangkan rumahnya yang hanya type 45 harus menampung banyak orang.
"Tan, memang rumahny Rama di daerah mana? Jauh gak dari rumahmu?" tanya Amanda.
"Masih satu kawasan, yang dari rumah sakit internasional itu belok kiri. Dekat dengan danau buatan," jelas Tania.
"Itu kan daerah elit ya? Kamu beruntung bisa mendapatkan suami yang sayang sama kamu, calon mertuamu juga sangat perhatian," ucap Amanda.
"Kamu juga beruntung Manda, sudah memiliki dua malaikat kecil yang akan selalu setia padamu. Kita akan menemukan yang baik setelah terlebih dahulu bertemu dengan yang tidak baik. Mungkin Apandi bukan jodoh yang baik untukmu. Nanti juga kamu pasti bertemu dengan jodoh yang sesungguhnya." Tania mengelus punggung Amanda saat melihat mata sahabatnya sudah berkaca-kaca.
"Makasih, Tan. Kamu selalu ada untuk aku," Amanda pun langsung memeluk Tania. Ada sedikit ketenangan di hatinya setelah dia bercerita dengan sahabatnya itu.
Tak berapa lama kemudian, Rama datang bersama dengan Gilang. Rencananya mereka mau melihat gedung baru untuk usaha konveksi Amanda. Namun, tadi Rama dan Gilang ada sedikit urusan sehingga menyuruh Tania untuk menungunya di ruko bersama dengan Amanda.
"Jadi ngiri, Amanda dipeluk kho Aa gak dipeluk," goda Rama.
"Maklum lah Manda, kita kan calon pengantin milenial. Tidak kenal pingit-pingitan," bela Tania.
"Kalau sudah ngobrolnya. Kita langsung berangkat agar tidak terlalu sore pulangnya," sela Gilang yang sedari tadi diam.
"Selow Lang, serius banget tuh muka." Rama langsung merangkul bahu bos sekaligus sahabatnya itu. Namun, Gilang langsung menghempaskan tangan Rama dengan kasar.
Melihat semua itu, Amanda pun berinisiatif untuk menyuruh gilang duduk. "Duduk dulu Pak Bos, sebentar aku ambil tas dulu di atas."
Gilang langsung mengikuti apa yang Amanda suruh dengan wajah yang sudah mencair dari sebelumnya. Melihat reaksi bosnya, Rama pun langsung saling sikut dengan kekasihnya. Memang, pasangan calon pengantin itu sepakat untuk mendekatkan Gilang dengan Amanda. Apalagi saat melihat reaksi Gilang dan Langit yang seperti welcome dengan Amanda dan anak-anaknya membuat Rama semakin yakin tidak akan sulit untuk menyatukan mereka.
__ADS_1
Setelah semuanya siap, mereka pun berangkat dengan memakai dua mobil. Rama bersama Tania memakai mobil Tania sedangkan Amanda dan Gilang memakai mobil Gilang. Hanya dengan waktu tempuh sekitar lima belas menit, mereka sudah sampai di tempat yang di tuju. Amanda begitu terpukau melihat gedung yang akan dipakai untuk usaha konveksinya. Sebuah gedung yang tadinya bekas gudang barang, kini disulap menjadi tempat yang sangat nyaman untuk usaha konveksi. Apalagi Amanda melihat banyaknya mesin modern di sana yang akan mempercepat kinerja karyawan dalam menghasilkan barang jadi.
"Makasih A!" ucap Amanda penuh haru.
"Ini semua berkat usaha dan kerja kerasnya," bisik Gilang yang sedikit membungkuk di belakang Amanda. "Ayo lihat ke dalam!" ajaknya.
Gilang langsung menarik tangan Amanda untuk mengikutinya naik ke lantai atas yang akan dijadikan kantor. Saat sampai pada sebuah ruangan dengan pintu yang bermotif batik, Gilang pun mengajak Amanda untuk masuk kedalamnya. Nampak di sana sebuah meja kerja lengkap dengan kursinya dan sofa tamu. Di sebelah kanan nampak sebuah lemari dan mesin jahit listrik.
"Ini ruang kerja kamu, Manda! Apa kamu menyukainya? Pintu sebelah sana itu toilet," tunjuk Gilang yang langsung mendudukan bokongnya di sofa.
"Aku suka!" jawab Amanda dengan mata yang berbinar.
"Syukurlah, kamu menyukainya. Bos sendiri loh yang merancang ruangan ini," ucap Rama yang mengikuti Gilang duduk di sofa.
"Kita tinggal menunggu HRD yang sedang seleksi calon karyawan kamu," ucap Gilang yang tidak memperdulikan apa yang Rama katakan. "Mungkin, minggu depan gedung ini sudah bisa beroperasi," lanjutnya.
"Makasih, A! Aku sudah tidak sabar untuk pindah ke sini," ucap Amanda.
"Besok, Manda juga mau pindah ke rumahku. Jadi bantuin pindahannya ya A!" ujar Tania dengan menggoyang-goyangkan tangan calon suaminya.
"Kalau perlu mobil box, nanti aku suruh salah satu mobil perusahaan untuk mengangkut barang." Gilang langsung menyela ucapan Tania.
"Gak perlu, A! Aku hanya membawa baju saja," tolak Amanda.
"Biar besok, aku yang menjemput ke rumahmu." Gilang terus bersikukuh untuk membantu pindahan rumah Amanda. Membuat Rama dan Tania saling mengkode dengan mata.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...