
Malam ini, langit bertabur dengan sang rembulan yang bersinar terang. Nampak kebahagiaan menghiasi keluarga kecil Gilang dan Amanda. Begitupun dengan Rama dan Tania. Meskipun tadi siang telah melewati hari yang sulit, tetapi Langit ikut bersuka cita dengan kabar yang dibawa oleh orang tuanya sepulang dari rumah sakit.
Amanda terus tersenyum bahagia melihat kekompakan anak-anaknya dengan Gilang dan Rama. Hal yang dia tidak lihat saat bersama dengan Apandi, kini dia bisa melihatnya saat bersama dengan Gilang. Saat semua daging, sosis dan bakso sudah selesai di bakar, kini keluarga kecil itu sedang duduk melingkar di atas karpet yang sengaja dipasang di taman belakang rumahnya.
"Bunda, ini baso buat dede bayi," LAngit menyimpan satu tusuk baso di piring Amanda.
"Ini sosis dari Teteh Kia buat dede bayi," Kia pun ikut-ikutan menyimpan satu tusuk sosis ke piring bundanya.
"Ini dari Aa Aka." Azka pun ikut-ikutan menyimpan satu tusuk baso ke piring Amanda.
"Makasih ya, anak-anak Bunda yang hebat." Amanda yang merasa terharu dengan perhatian ketiga anaknya dan langsung mencium kening ketiga anaknya.
Selesai memakan hasil panggangan, kini keluarga kecil itu memeriahkan suasana dengan bernyanyi bersama diiringi petikan gitar yang dimainkan oleh Rama. Gilang yang memiliki suara lumayan bagus akhirnya menyumbangkan sebuah lagu yang selalu dinyanyikan saat ada acara kemping bersama teman-temannya semasa sekolah dan kuliah.
Suatu hari, di kala kita duduk di tepi pantai
Dan memandang ombak di lautan yang kian menepi
Burung camar terbang bermain di derunya air
Suara alam ini, hangatkan jiwa kita
Sementara, sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa tercurah saat itu
Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu
__ADS_1
Kemesraan ini, inginku kenang selalu
Hatiku damai, jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai, jiwa ku tentram bersamamu
Amanda terus melihat tak berkedip ke arah Gilang. Hatinya dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang siap terbang membawanya ke nirwana. Sampai akhirnya Gilang selesai menyanyikan sebuah lagu, barulah dia tersadar kembali.
A Gilang begitu sempurna dengan semua hal yang dia miliki, tapi kenapa Melisa tidak melihatnya. Dia justru memilih untuk meninggalkan anak dan suaminya demi seseorang yang sekarang justru mencampakkannya karena dia tidak bisa memliki anak lagi, batin Amanda.
Selesai bernyanyi, Gilang langsung memberikan ciuman di pipi Amanda yang terlihat sedang melamun. Membuat Amanda terkaget dengan bibir yang membentuk bulan sabit.
"Bumil dilarang melamun!" tegur Gilang.
"Aku teringat pas terakhir ospek harus bermalam di kampus. Saat acara ramah tamah senior dan mahasiswa baru, aku melihat seorang senior yang terlihat berbeda dengan yang lainnya. Dari situ aku selalu mencari tahu tentang dia. Tapi ternyata dia sudah memiliki seorang kekasih. Akhirnya, Aku mulai mengubur perasaanku dan memberi kesempatan pada hati yang lain untuk mendekat." Kenang Amanda.
"Apa dari situ kamu mulai menyukaiku? Lalu kenapa kamu sampai jadian sama lelaki yang sekarang menjadi mantan suami kamu?" tanya Gilang.
...***...
Hari-hari pun terus berlalu, kini usia kandungan Amanda sudah memasuki bulan ke empat. Dia yang tidak mengidam parah masih bisa bekerja seperti biasanya. Gilang dengan setia selalu mengantar jemput istrinya. Bahkan setiap jam makan siang, pasti dia yang datang ke konveksi untuk makan bersama.
Sementara perebutan hak asuh Langit masih berjalan alot. Gilang dan Melisa yang memiliki kekuatan uang, tak segan untuk menyewa pengacara dengan harga tinggi asalkan hak asuh putranya jatuh ke tangan dia.
"Sayangnya Papa, sekarang udah kelihatan ya perut Bunda buncit." Gilang terus saja menciumi perut istrinya.
Dia selalu merasa gemas melihat perubahan badan Amanda yang menjadi melar. Apalagi, Amanda seperti begitu menikmati kehamilannya. Sangat berbeda jauh dengan Melisa dulu, yang setiap hari mengeluh karena harus muntah-muntah di pagi hari.
"Papa, makan dulu yuk! Dedeknya sudah lapar," rengek Amanda yang menirukan suara anak kecil.
"Anak Papa sudah lapar? Sini Papa suapi!" Gilang langsung mengambil makanan sehat yang sengaja disiapkan oleh pembantunya di rumah. Dia memang sangat perhatian pada istrinya. Apalagi sekarang Amanda sedang mengandung anak kembar hasil tebar benihnya.
__ADS_1
"Makasih, Papa!" Amanda pun tersenyum senang mendapat suapan demi suapan dari suaminya.
Dia tidak tidak pernah menyangka, orang yang terlihat dingin dan kaku saat dia belum begitu dekat mengenalnya, ternyata seorang lelaki yang hangat dan perhatian pada keluarganya. Dia tidak pernah berhenti bersyukur karena Allah telah memberikan jodoh terbaik untuknya. Memang benar apa yang orang katakan, kita akan bertemu dengan orang yang salah dulu sebelum kita bertemu dengan orang yang tepat.
Setelah pasangan suami istri itu menghabiskan makanannya, Gilang pun langsung berpamitan pada Amanda. Dia harus menunda rapatnya selama tiga puluh menit karena masih berada di konveksi milik istrinya.
"Sayang, aku kembali ke kantor dulu ya. Baik-baik di sini, nanti kalau mau pulang telpon Aja saja. Biar supir kantor yang menjemput karena seperti hari ini Aa pulang malam," ucap Gilang sebelum pergi.
"Aku pulang jam empat saja, A." Amanda mencium punggung tangan suaminya sebelum Gilang keluar dari pintu ruangannya.
"Ya sudah, nanti Aa suruh Pak Amir untuk jemput jam empat." Gilang mencium bibir Amanda sekilas sebelum dia mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Selepas kepergian Gilang, Amanda pun kembali dengan pekerjaan. Dia sedang mengecek laporan penjualan daster dan gamis yang ternyata masih stabil. Amanda bisa bernapas lega karena usahanya membuahkan hasil.
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan angka empat. Satpam di depan sudah memberitahukan bahwa Pak Amir sudah menunggu di depan. Amanda pun segera menyudahi pekerjaannya dan membereskan meja kerja sebelum dia pulang. Saat dirasa semuanya sudah terlihat rapi, Amanda pun segera turun untuk menemui Pak Amir dan bergegas pulang..
"Pak, nanti kita mampir dulu ke mall ya. Ada yang mau dibeli," pinta Amanda saat dia sudah duduk di kursi belakang.
"Baik, Bu."
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang karen Giang sudah berpesan agar tidak membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Dia khawatir dengan Amanda dan anak kembarnya ynga ada dalam kandungan.
Tak berapa lama kemudian, mobil Amanda sudah memasuki parkiran sebuah Mall yang letaknya memang berada di tengah-tengah kawasan industri. Amanda pun segera turun dan langsung mencari apa yang akan dia beli. Namun, saat dia mengantri di kasir, terlihat ada sedikit keributan karena satpam memergoki ada seorang wanita muda yang mencuri kosmetik yang harganya lumayan mahal. Amanda begitu terkejut saat melihat langsung siapa orang yang digiring oleh satpam.
"Lela, kenapa dia mencuri?" gumam Amanda
...~Bersambaung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan. Langsung klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terimakasih!...