Harga Sebuah Daster

Harga Sebuah Daster
Bab 49 Hukuman orang jahat


__ADS_3

Berita tentang kematian warga negara asing karena tendangan maut wanita penghibur kini memenuhi semua media televisi dan cetak. Banyak orang yang penasaran dengan perempuan yang telah tanpa sengaja membunuh teman ranjangnya. Sementara Citra yang tanpa sengaja melihat berita di televisi menjadi ketar ketir ditengah menahan rasa sakitnya karena terjadi infeksi di daerah intinya akibat dari benda asing yang masuk ke lubang terlarang itu.


Polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan itu akhirnya menemukan bukti setelah melihat CCTV hotel dan jalan kalau Apandi terlibat setelah melacak pemilik plat mobil yang Apandi kendarai, sehingga polisi segera mendatangi kediamannya. Setelah mendapatkan keterangan dari Apandi, polisi pun segera mendatangi Citra di rumah sakit.


"Permisi, dengan Ibu Citra?" tanya polisi dengan name tag Firman.


"Iya, Pak kenapa?" tanya Citra.


"Ibu Citra Melawati, Anda ditangkap atas kasus pembunuhan Mr. Sinchano." Firman memperlihatkan surat penangkapan kepada Citra yang sukses membuat badan Citra menjadi bergetar. Dia tidak menyangka akan terlibat dalam kasus pembunuhan padahal dia hanya ingin menyelamatkan diri dari kegilaan orang yang telah menyewa jasanya.


"Tapi-tapi aku tidak bersalah, Pak. Aku hanya menyelamatkan diri," bela Citra.


"Maaf, Bu! Semua bukti mengarah pada Anda, sebaiknya Anda mengaku agar hukumannya tidak berat."


Polisi terus saja menginterogasi Citra di dalam ruang perawatannya. Sementara Roni hanya menguping di balik pintu. Dia tidak berani masuk ataupun membela selingkuhannya itu karena itu akan berbuntut pada karirnya sebagai seorang Jaksa, sehingga dia hanya membiarkan saja Citra diinterogasi.


Setelah kepergian polisi itu, barulah Roni masuk ke dalam ruang perawatan Citra yang memang sengaja datang untuk membawa makanan dan baju ganti Citra. Roni menyimpan bawaannya dia atas nakas sebelum akhirnya dia berbicara.


"Citra, aku minta maaf! Mungkin ini terakhir kalinya aku datang menjenguk kamu. Aku tidak bisa berada di sisimu karena itu akan membahayakan karirku," ucap Roni.


"Kamu kho tega sih Mas sama aku? Bukannya membantuku malah ingin meninggalkanku." Citra marah karena merasa dicampakkan oleh Roni di saat dia sedang terpuruk.


"Itu salah kamu sendiri! Kenapa kamu mau melayani pria hidung belang itu, padahal aku sudah memberi kamu uang bulanan," sentak Roni.


"Kamu tahu, Mas! Uang bulanan dari kamu tidak cukup untuk aku membeli skin care. Padahal aku setiap saat selalu memuaskan hasrat kamu." Citra tidak kalah geram dari Roni.


"Oh, begitu! Ya sudah, hubungan kita putus mulai dari sekarang." Roni langsung berlalu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Sialan, laki-laki gak punya hati. Aku terbaring sakit juga tidak ada pedulinya. Awas saja kalau aku sudah sehat lagi. Akan aku buat hancur keluargamu dan kamu, akan aku buat bertekuk lutut di kakiku," sungut Citra.


...***...


Sementara di lain tempat, Bu Sopiah begitu terkejut saat melihat wajah Citra yang terlibat kasus pembunuhan. Dia merasa tidak percaya, menantu yang dia anggap baik, anggun, modis dan cantik menjadi seorang kriminal. Karena dia terus memikirkan Citra yang menurutnya tidak mungkin melakukan hal seperti itu, membuat darah tingginya menjadi naik.

__ADS_1


"Tidak mungkin orang secantik Citra seperti itu. Pasti telah terjadi salah tangkap," gumam Bu Sopiah.


"Bu, bicara apa sih dari tadi terus ngomong sendiri?" tanya Dimas yang baru datang.


"Kamu sudah pulang, Dimas?" tanya Bu Sopiah.


"Iya, Bu! Aku ke kamar dulu," pamit Dimas.


Saat Dimas sedang beristirahat di tempat tidurnya, terdengar suara benda jatuh yang begitu kencang dari arah kamar mandi. Dia pun segera berlari menuju ke arah suara. Betapa kagetnya Dimas, saat melihat ibunya sudah telentang di dalam kamar mandi.


"Ibu, Ibu bangun!" Dimas berusaha menolong ibunya dan langsung membawa ibunya ke rumah sakit karena Bu Sopiah tidak sadarkan diri.


Sesampainya di rumah sakit, Bu Sopiah tidak langsung mendapatkan pertolongan karena di ruang IGD sedang penuh sehingga dia dirujuk ke rumah sakit lain. Sudah tiga rumah sakit yang Dimas datangi, tetapi jawabannya tetap sama. Sampai di saat dia sudah merasa putus asa, akhirnya Dimas membawa ibunya ke rumah sakit internasional yang bayarannya lumayan mahal. Namun, disaat dia diminta deposit oleh pihak rumah sakit, uangnya tidak cukup.


"Tolonglah, Mbak! Tangani ibuku dengan benar. Aku pasti akan membayar semua biaya rumah sakit," pinta Dimas.


"Maaf, Mas! Kami hanya menjalani prosedur," jawab Mbak bagian administrasi.


"Om Dimas!" panggil Kia saat melihat Dimas.


"Sama Bunda, Ade, Papa dan Kak Langit," jawab Kia.


"Loh, Dimas! Siapa yang sakit?" tanya Amanda saat dia sudah ada di depan Dimas.


"Mbak Manda tolong pinjami aku uang! Uangku tidak cukup untuk membayar uang deposit perawatan Ibu. Sementara ke rumah sakit lain ditolak terus karena penuh," mohon Dimas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Dia siapa, Bun?" tanya Gilang.


"Adiknya Mas Pandi," jawab Amanda.


"Berarti yang sakit mantan mertuamu yang bicaranya pedas itu?" tanya Gilang lagi.


"Maafkan Ibu, Mbak! Aku mohon tolong bantu aku!" Lagi-lagi Dimas memohon pada Amanda. Dia tidak pedui pada gengsinya, yang penting ibunya dapat diselamatkan.

__ADS_1


"A, tolong lunasi pembayarannya! Aku lupa tidak membawa dompet," pinta Amanda pada Gilang.


"Aku bisa saja membantunya, Sayang. Tapi aku minta bayarannya nanti malam," bisik Gilang.


"Aku pasti membayarnya!" sahut Amanda dengan suara pelan hingga terbit senyum yang mengembang di bibir Gilang.


"Baiklah! Kita tidak harus membalas kejahatan orang dengan kejahatan pula, karena sudah ada tangan Allah yang siap menghukum orang yang telah berbuat jahat," sarkas Gilang.


Gilang langsung melunasi pembayaran Bu Sopiah sehingga dia segera mendapat perawatan yang maksimal. Dimas hanya tertunduk malu dengan apa yang dilakukan ibunya pada Amanda. Di saat dia sedang membutuhkan pertolongan, justru orang yang selalu dihina dan dicaci ibunya yang menolong dia.


"Makasih, Mbak!" ucap Dimas.


"Sama-sama! Maaf Dimas, Mbak harus pulang. Badan Azka sedang hangat," pamit Amanda.


"Iya, Mbak! Azka cepat sehat ya," ujar Dimas.


Amanda langsung pulang ke rumahnya. Dia langsung menidurkan Azka yang memang sedang kurang sehat di kamarnya bersama dengan Gilang, membuat gilang menautkan alisnya heran.


"Sayang, kenapa Azka tidur di sini?" tanya Gilang.


"Azka sedang sakit, A. Malamnya suka kebangun nyariin aku," jelas Amanda.


"Jadi aku harus puasa dulu?" tanya Gilang melas.


"Semalam saja A, besok kalau sudah sehat, Azka tidur dengan Langit lagi," jelas Amanda.


"Sayang, bagaimana aku bisa tidur kalau tidak peluk kamu. Lalu bagaimana otong sama nyai kalau mereka tidak bertemu? Pasti besok aku lemas," keluh Gilang.


"A, kita bisa main di sofa kalau memang Aa tidak bisa puasa dulu," tawar Amanda.


"Itu lebih baik, Sayang! Aa tidak masalah di mana pun, asal otong dan nyai terus saling berkunjung."


...~Bersambung~...

__ADS_1


Sawerannya dong Kakak! Biar othor tambah semangat up.


__ADS_2