
Suasana pesta pernikahan Tania yang diadakan di sebuah Hotel ternama yang ada di kota industri terlihat begitu meriah. Banyak tamu penting yang diundang oleh Rama maupun Tania termasuk orang nomor satu di kota itu beserta jajarannya. Tak terkecuali Apandi.
Tania terlihat cantik dengan kebaya putih dan siger di kepalanya. Amanda pun terlihat begitu cantik setelah ikut di rias oleh MUA. Tak ketinggalan anak-anak yang akan menjadi pengiring. Mereka sudah siap sedari pagi. Terdengar sayup-sayup suara ijab kabul yang dibacakan oleh Rama, membuat Tania bertambah semakin gugup.
"Saya terima nikah dan kawinnya saudara Tania Wijaya binti Randy Wijaya dengan maskawin seperangkat alat sholat dan emas murni seberat 100 gram dibayar tunai."
"Saksi sah?" tanya penghulu.
"Sah!" kompak semua hadirin.
"Alhamdulillah," ucap penghulu dan semua yang hadir.
Terlihat Tania bersama dengan Amanda memasuki gedung tempat berlangsungnya ijab kabul dengan Langit dan Kia berjalan di depannya. Sementara Azka sedari tadi bersama dengan Gilang sudah berada di belakang Rama.
Semua mata begitu terpesona dengan kecantikan pengantin dan pengiringnya yag aura kecantikannya terpancar ke luar. Rama dan Gilang sangat terpesona melihat kekasih hatinya yang beda dari biasanya. Sampai Tania sudah ada di depannya, barulah dia kembali sadar.
"Ayo pengantin wanita cium tangan suaminya dulu," suruh penghulu.
Terlihat Tania malu-malu. Namun, Rama langsung mengulurkan tangannya untuk dicium oleh istrinya. Sampai akhirnya Tania mencium tangan Rama dan suaminya mencium kening istrinya. Melihat Rama yang mencium kening Tania, Gilang pun langsung menghampiri Amanda yang berdiri tidak jauh dari pengantin bersama Kia dan Langit.
"Kita duduk yuk! Kasian anak-anak kalau harus berdiri terus," ajak Gilang seraya menarik tangan Amanda untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Iya Mas, ayo Kia, Langit kita duduk!" Amanda pun langsung menuntun kedua bocah itu.
Azka terus berada dalam pangkuan Gilang, sedangkan Kia dan Langit berada di tengah di antara Gilang dan Amanda. Bagi orang yang belum mengenal mereka pasti mengira sebagai keluarga kecil yang bahagia.
Prosesi demi prosesi berjalan dengan lancar. Dari mulai acara sungkeman, huap lingkung, menginjak telur sampai saweran. Kini saatnya acara melemparkan buket bunga pengantin.
"Sebelumnya kami minta maaf kepada para jombowan dan jomblowati. Untuk pelemparan bunga pengantin, kami sudah sepakat akan memberikannya pada tamu spesial kami. Kami minta bos kami tercinta Bapak Gilang Ramadhan untuk segera naik ke atas panggung," ucap Rama sesaat ketika dia dan Tania harus melemparkan bunga.
"Huhhh ...." Terdengar riuh suara kekecewaan dari para gadis yang sedari tadi menunggu acara pelemparan bunga.
Melihat Gilang tak jua beranjak dari duduknya, MC pun mengulang untuk memanggilnya. "Bapak Gilang Ramadhan yang terhormat silakan naik ke atas panggung!"
Mendengar namanya dipanggil dua kali, mau tidak mau Gilang pun naik ke atas panggung bersama dengan anak-anak yang ingin ikut bersamanya.
"Gak papa, Manda! Cuma sebentar saja," ucap Gilang yang langsung membawa ketiga anaknya.
Awalnya Gilang merasa kesal dengan apa yang dilakukan sahabatnya. Namun, setelah dia memikirkan kembali, Gilang pun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendesak Amanda. Dia yakin, Amanda tidak akan berani menolaknya ketika di depan banyak orang. Rama tersenyum lebar menyambut kedatangan bos sekaligus sahabatnya. Apalagi di ikuti tiga bocah kesayangannya.
"Special bunga ini untuk sahabat sekaligus bosku," Rama dan Tania langsung memberikan buket bunga pada Gilang yang langsung di terima oleh duda beranak satu itu.
"Terima kasih untuk bunganya," ucap Gilang. "Rasanya kurang lengkap jika hanya sendiri yang memilikinya, untuk itu aku meminta kepada saudara Amanda untuk segera naik ke atas panggung.
__ADS_1
"Bunda, Bunda sini!" teriak Kia terus memanggil bundanya. Amanda pun mau tidak mau ikut naik ke atas panggung.
Saat Amanda sudah di atas panggung, tanpa sungkan Gilang berjongkok di depan Amanda. Dia mengulurkan buket bunga pemberian Rama dan Tania pada Amanda seraya berkata, "Manda, aku memang bukan lelaki yang romantis dan pandai merangkai kata. Aku hanya seorang lelaki yang ingin menyempurnakan agamaku. Maukah kamu menjadi Ibu dari anak-anakku? Menjalani hari bersamaku sampai di ujung usiaku? Berbagi tawa dan kebahagiaan serta sedih dan kesusahan?"
"Terima terima terima ...." Terdengar riuh suara hadirin yang hadir di acara pernikahan plus lamaran dadakan.
Amanda awalnya terdiam. Dia bingung harus memberikan jawaban apa. Tidak mungkin juga dia menolak Gilang di tengah-tengah rekan bisnis dan karyawannya. Perlahan Amanda pun menganggukan kepalanya pertanda menerima lamaran CEO Green Textile.
"Terima kasih!" Gilang tersenyum sangat manis seraya berdiri saat Amanda menerima buket bunga dari Gilang.
Tak hanya buket bunga yang Gilang berikan, dia pun mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi cincin berlian dari balik saku jasnya. Perlahan dia pun menyematkan di jari manis Amanda lalu mengecupnya singkat. Amanda hanya diam dengan pipi yang bersemu merah muda. Meskipun sebenarnya dia malu mendapat perlakuan dari Gilang yang di luar dugaannya, tetapi hatinya merasa senang mendapatkan perlakuan yang sebelumnya tidak pernah dia dapatkan. Tanpa sadar setitik air mata jatuh dari sudut matanya.
Semuanya menyambut dengan suka cita bersatunya dua insan ynag ingin saling melengkapi dalam ikatan yang suci. Namun tidak untuk dua orang yang duduk di belakang sana. Kedua orang itu merasa kesal dengan acara lamaran dadakan Gilang pada Amanda.
Sial! Datang kemari hanya untuk melihat mantan istri dilamar oleh lelaki lain. Aku baru tahu kalau lelaki yang selalu bersama dengan Amanda itu seorang CEO, sungut Apandi dalam hati.
Apa sih yang dilihat Pak Bos dari dia? Cantikan juga aku, body-ku juga lebih bagus dari dia. Apalagi cara berdandan dia katrok banget, gak modis kaya aku yang selalu tampil wow. Jangan nyerah Elisa, selama janur kuning belum melengkung Pak Bos masih milik bersama, bisik hati Elisa.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...