
Seperti yang sudah disepakati sebelumnya, Amanda dan Gilang kembali ke rumah sakit tempat di mana Bu Sopiah dirawat. Meskipun mantan mertuanya itu kerap kali menyakiti hatinya dengan kata-kata pedas yang dia ucapkan, tetapi Amanda merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada Bu Sopiah. Apalagi, Apandi sekarang berada di kota lain.
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Amanda saat sudah berada di kamar inap Bu Sopiah.
Bu Sopiah hanya menyahut dengan lirikan matanya. Saat ini tangan dan kakinya kaku sedangkan mulutnya menjadi miring. Amanda menyimpan buah-buahan di atas nakas samping tempat tidur Bu Sopiah.
Tak berapa lama kemudian, Dimas datang seperti terburu-buru. Sepulang dari tempatnya bekerja, Dimas langsung menuju ke rumah sakit. Dia khawatir dengan keadaan ibunya tidak ada yang menjaga. Namun, dia sangat terkejut saat melihat Amanda dan Gilang sudah ada di ruangan ibunya.
"Mbak Manda, Pak Gilang, sudah lama di sini?" tanya Dimas kaget.
"Kami baru saja datang. Dimas, saat kamu kerja siapa yang menjaga Ibu? Apa kamu tidak meminta tolong pada Bude Esih?" tanya Amanda.
"Bude pasti tidak akan mau, Mbak! Ibu dan Bude Esih kan tidak akur karena masalah warisan," sahut Dimas dengan menunduk.
Dia sadar, kalau ucapan ibunya itu sering kali menyingung perasaaan orang lain. Sampai-sampai kakak kandung Bu Sopiah malas berhubungan dengan adiknya yang kalau bicara suka asal, tidak peduli orang lain akan tersinggung atau tidak.
"Semoga ibu cepat sehat lagi ya, maaf Mbak tidak bisa lama soalnya Azka baru sembuh." Amanda pun langsung berpamitan pada Dimas setelah memastikan keadaan mantan mertuanya. "Oh iya Dimas, kalau butuh bantuan Mbak bilang saja, jangan sungkan! Bagaimana juga Ibu tetap neneknya Kia dan Azka."
"Makasih Mbak! Yang kemarin saja, aku belum bisa membayarnya," ucap Dimas.
Setelah kepergian Amanda, Dimas pun langsung berbicara pada ibunya. Meskipun dia sudah tidak bisa bicara, tetapi Bu Sopiah paham dengan apa yang dikatakan oleh orang.
"Ibu lihat kan Mbak Amanda! Dulu ibu sering menghinanya, membanding-bandingkan dia dengan orang lain. Sekarang justru dia yang telah membantu biaya pengobatan Ibu. Mana Mbak Citra, menantu yang selalu Ibu banggakan. Sekarang dia menjadi tahanan rumah karena kasus yang menjeratnya," tutur Dimas.
Bu Sopiah hanya mengeluarkan air matanya sebagai respon dari apa yang Dimas katakan. Dia menyadari kalau apa yang telah dilakukannya pada Amanda memang sangat keterlaluan.
Sementara di tempat yang berbeda. Amanda dan Gilang langsung pulang ke rumah. Dia merasa tidak tenang telah meninggalkan Azka begitu lama. Bagaimana tidak, saat di kantor GIlang mengajaknya bermain satu ronde sehingga mau tidak mau dia pun menuruti apa yang diinginkan suaminya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Amanda saat baru sampai di depan pintu ruang tamu yang terbuka. Dia merasa heran karena tidak biasanya pintu depan di buka lebar.
"Wa'alaikumsalam," sahut Langit dan Kia yang ada di dalam rumah bersama seorang wanita dewasa yang cantik.
"Sepertinya sedang ada tamu," ucap Amanda.
"Bunda, ini Tante Melani, adiknya mama Langit." Langit langsung memperkenalkan wanita cantik itu pada Amanda.
"Selamat sore, Mbak Melani! Saya Amanda, istrinya A Gilang." Amanda mengulurkan tangannya mengajak Melani untuk bersalaman. Namun, Melani hanya melirik tangan Amanda sekilas tanpa berniat untuk menyambut uluran tangan itu.
Gilang langsung mengambil tangan Amanda saat melihat Melani tidak menyambut uluran tangan Amanda. "Sayang, jangan mengajaknya bersalaman! Tidak tiak mengerti sopan santun negeri ini," sarkas Gilang.
"Kak Gilang apa kabar?" tanya Melani. "Kak Melisa mau menetap di sini loh Kak. Dia sudah bercerai dengan suaminya."
"Oh ya! Tapi aku tidak tertarik dengan berita yang kamu bawa, Lani. Aku juga ikut prihatin dengan perceraian kakakmu dan aku harap, kamu bisa menghargai istriku selama bertamu di rumahku," tegas Gilang.
"Iya kak, maaf! Aku pikir dia hanya mengaku-ngaku jadi istri kakak. Soalnya penampilan dia sangat tidak cocok menjadi istri seorang CEO dari perusahaan besar," sindir Melani.
"Penampilan bisa dipermak, Lani. Tapi hati dan kepribadian seseorang akan tetap melekat meski penampilannya berubah 360 derajat," bela Gilang. "Bagaimanapun penampilan istriku, tapi aku tetap mencintainya."
Seperti gurun Sahara yang disiram air hujan, hati Amanda merasa adem mendengar pembelaan dari Gilang. Baru kali ini dia dibela saat ada orang yang menghinanya. Amanda pun hanya tersenyum mendengar pembelaan dari Gilang.
"Makasih, A!" lirih Amanda.
Kenapa kesempatan aku untuk mendapatkan Kak Gilang semakin sulit? Gara-gara aku kuliah di luar negeri sehingga aku tidak bisa mengawasi Kak Gilang lagi, batin Melani.
"Lani, kakak ke kamar dulu! Sepertinya istriku sedang ingin dimanja," pamit Gilang. "Langit temani tante dan jaga adik-adik dulu ya, bunda kecapean harus istirahat," lanjutnya.
__ADS_1
"Iya, Pah!" Langit hanya tersenyum samar. Meskipun dia masih kecil tapi Langit bisa merasakan kalau papanya kurang suka melihat Melani ada di rumahnya. Bukan apa-apa, Langit sering melihat kalau Melani suka bersikap manja pada papanya.
Selepas kepergian Gilang dan Amanda, Melani pun melancarkan aksinya untuk menghasut Langit agar tidak menyukai ibu tirinya. Dia yakin kalau anak sekecil Langit akan lebih mudah jika dia pengaruhi.
"Langit, memang kamu tidak takut papamu direbut oleh ibu tiri kamu?" tanya Melani.
"Bunda baik, Tante! Tidak mungkin mau merebut papa. Buktinya papa masih sayang dan tidak ninggalin aku," bela Langit.
"Belum saja kalau sekarang, nanti juga kamu akan nyesel saat papamu sudah meninggalkan kamu karena ibu tirimu." Melani terus berusaha menghasut Langit sampai sebuah suara berat dan tegas mengagetkannya.
"Lani, sebaiknya kamu pulang! Daripada datang ke sini hanya untuk mempengaruhi Langit. Lagipula sebentar lagi gelap, tidak baaik anak gadis keluyuran sampai malam," suruh Gilang.
"Kak Gilang, aku mau menginap di sini. Memangnya tidak boleh menginap semalam saja," rengek Melani.
"Maaf Lani, kamar di sini sudah penuh. Sebaiknya kamu mencari hotel untuk bermalam. Nanti aku minta Rama untuk mencari hotel yang kosong," ucap Gilang.
"Kakak kenapa tega sekali mengusirku? Aku bisa tidur di kamar Langit." Melani tanpa menyerah meminta pada Gilang.
"Maaf, Lani! Langit sudah tidur berdua dengan Azka. Kalau kamu memaksa, kamu bisa tidur bersama Bi Nani," ucap Gilang.
Apa? Bi Nani? Yang benar saja, masa aku tidur dengan pembantu. Bisa gatal-gatal kulitku. Apalagi kalau ternyata Bi Nani kutunya banyak, ikh aku geli membayangkannya.
...~Bersambung~...
...Sawerannya kakak, biar othor semangat up. Cukup dengan klik like, comment, vote, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan favorite...
...Terima kasih!...
__ADS_1